Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 97 : Gejolak di Perbatasan Selatan


Setelah kepergian Leng Shui dan juga Tetua Yan, Zhou Fan dibiarkan sendiri bersama pangeran pertama yang tak sadarkan diri di tempatnya.


Zhou Fan sesungguhnya berharap jika Tetua Yan dapat membantu lebih banyak dengan menghadapi pasukan pangeran kedelapan, memudahkannya dalam mendapatkan kristal beast tingkat kesembilan yang tersimpan di ruang harta istana.


Namun harapan itu tidak akan pernah terpenuhi lantaran tetua Sekte Menara Es itu telah melesat pergi.


Awu...


Mata Zhou Fan seketika berpendar, dia mengedarkan pandangan dan menyisir sekitar. Suara itu tidak lain adalah lolongan Zhou Jim, pasti serigala itu menemukan sesuatu.


Awwwuuuuu...


Lolongan semakin panjang, membuat sorot mata Zhou Fan berubah tajam.


Wush...


Tanpa banyak bicara Zhou Fan melesat, ketika melintasi sebuah bangunan dapat melihat Zhou Jim tengah memburu sesosok berjubah hitam.


Zhou Fan mempercepat langkah kakinya, dia memburu sosok berjubah hitam.


Pergerakan Zhou Fan lebih cepat, dalam beberapa puluh tarikan nafas jarak keduanya hanya lima enam langkah.


Sosok tersebut nampaknya mengetahui jika tidak akan bisa kabur jika terus berlari, dia memutar tubuhnya dan melompat sembari mengeluarkan jarum jarum kecil dari lengan pakaian.


Slap!


Slap!


Zhou Fan berkelit dengan sempurna, tak satupun jarum bersarang di tubuhnya.


Namun serangan belum berakhir, sosok berjubah hitam mengeluarkan kantung hitam dari balik pakaian kemudian melemparkannya kepada Zhou Fan.


Zhou Fan tak tahu apa isi kantong hitam tersebut, sehingga ia berusaha tak menangkapnya dan lebih memilih menghindar.


Akan tetapi sosok berjubah hitam mengetahui niatnya dan melembar sebuah jarum meledakkan kantong hitam tersebut.


Plash!


Bubuk merah menyebar menghalangi pandangan, selain itu aromanya yang harum hampir membuat Zhou Fan terlena. "Sial, ini racun!"


Tangan Zhou Fan mengibas dengan kuat, bubuk tersebut seketika terbang tersapu angin.


Sejenak Zhou Fan hanya berdiri sambil memandang sosok berjubah hitam yang melesat. Dia tak khawatir kehilangan jejak lantaran Zhou Jim masih mengikuti nya.


Zhou Fan mengeluarkan pill pemulihan, menelannya sekali tegukan. "Andai aku terlambat menyadari, mungkin dampaknya akan buruk."


Racun milik sosok berjubah hitam memiliki aroma yang harum, hal inilah yang malah membuat racun semakin mematikan. Jika telat menyadari satu dua tarikan nafas, mungkin Zhou Fan sudah terpengaruh efek racun tersebut.


Awu!


Lolongan Zhou Jim sekali lagi terdengar, serigala berbulu merah itu nampaknya tahu harus berbuat apa. Melihat Zhou Fan membutuhkan petunjuk ia langsung memberikan suaranya.


Tak mau terlalu lama membuang waktu, Zhou Fan mengejar sosok berjubah hitam dengan bantuan Zhou Jim. Tak butuh waktu lama nampak di depan mata seorang pria tua, dia mengerang kesakitan dengan luka cakaran di bagian punggung.


Jarak lima langkah dari pria tua, terlihat gagah seekor serigala berwarna merah. Tentu saja serigala itu adalah Zhou Jim, yang telah berhasil melumpuhkan sosok berjubah hitam.


Zhou Fan berjalan menghampiri Zhou Jim, mengelus kepala serigala yang mempunyai tubuh setinggi pinggangnya.


"Kerja bagus, setelah kembali aku akan menyiapkan daging bakar untuk mu." Zhou Fan kembali mengelus kepala Zhou Jim, membuat setigala itu menyalak tiga kali.


Auk... Auk... Auk...


Zhou Fan menarik tangannya, menghampiri pria tua yang perlahan mengambil langkah mundur darinya.


"Siapa kau?" tanya Zhou Fan sembari menyetarakan tinggi tubuhnya tergadap pria tua.


Namun pria tua itu tetap bersikukuh untuk menjauh, walau dengan keadaan dirinya yang terduduk serta luka di punggung.


"Siapa kau?" Sekali lagi Zhou Fan bertanya.


"Ak -- aku, aku adalah salah satu pasukan pangeran pertama."


Zhou Fan menyipitkan mata, apakah terlalu menakutkan saat mengakui dirinya adalah pasukan pangeran pertama? Namun itu sangat wajar, mengingat pasukan oangeran pertama ditumpas habis tanpa belas kasihan.


Mata Zhou Fan tak sengaja mengarah ke sela pakaian pria tua di hadapannya. Melihat sebuah giok yang menggantung di sana, ia melengkungkan senyum samar. "Kau yakin adalah pasukan pangeran pertama?" tanya Zhou Fan.


Sejenak pria tua meragu, tapi tak lama dia mengangguk dengan yakin. "Aku adalah salah satu pasukan pangeran pertama, bukankah aku berada di sini saja sudah cukup membuktikan?"


Zhou Fan mangut mangut, "Kau benar juga, tapi... "


Srak!


"Seharusnya kau menyembunyikan giok ini dengan benar." Zhou Fan membandul giok di depan wajah pria tua.


"Apa yang kau lakukan?!" Pria tua meraih giok tersebut dan kembali memasukkan ke kantong pakaiannya.


"Kau adalah orang pangeran kedelapan, tapi berada di antara pasukan pangeran pertama. Tak ku sangka pangeran kedelapan berpikir cukup maju." Zhou Fan menepuk tangan beberapa kali, kemudian menarik tubuhnya untuk bangkit.


"Apa yang kau katakan, ak -- "


Crash!


"Aku tak peduli dengan apa yang kau katakan." Zhou Fan memotong ucapan pria tua, bersama dengan itu pedang kenebas kepala pria tua.


Hem...


Mata hitam itu memandang ke sekitar, "Dalam pasukan pangeran pertama terdapat orang pangeran kedelapan, dia pasti memiliki orang orang hebat di sampingnya. Entah bagaimana keadaan pasukan yang tengah bertarung di perbatasan bagian selatan."


Perbatasan selatan Kota Chen...


"Patriark Song, tak ku sangka kau telah naik tingkat menjadi petarung suci bintang satu?"


Seorang pria tua berpakaian biru mengatakan dengan nada sinis. Matanya memandang Patriark Song dengan tatapan meremehkan.


"Patriark Hao, lama tidak bertemu ternyata kau tidak naik tingkat juga. Jika tidak salah umurmu sudah seratus tahun lebih, bisa mencapai tingkat petarung suci bintang satu sungguh merupakan bakat yang besar." Kalimat ini keluar dari mulut Patriark Song.


Huh!


Patriark Hao mendengus, ia tahu maksud pria tia di hadapannya ini adalah membandingkan potensi di antara mereka. Sialnya dia kalah dalam hal ini.


"Ternyata di kubu kalian juga terdapat tiga petarung suci. Sangat mengejutkan." Senyum Patriark Song semakin jelas, cukup mampu membuat kesal Patriark Klan Hao tersebut.


Dalam pertempuran ini kubu pangeran kedelapan sebenarnya sangat yakin dapat menang, mengingat mereka memiliki tambahan seorang petarung suci yang baru saja naik tingkat. Namun tidak disangka jika Klan Song memiliki dukungan dari Sekte Hati Surgawi dan terlebih Patriark Song telah naik tingkat menjadikan jumlah petarung suci sama-sama tiga.


"Pangeran, apakah kita hanya diam dan saling memandang?" tanya Patriark Hao yang sudah mulai kesal dengan kata-kata Patriark Song.


"Mengapa bertanya, langsung saja maju jika kau memiliki keberanian." Patriark Song tersenyum menghina, dia dan juga Patriark Hao saling kenal. Meski tidak berada pada satu generasi tetap mereka pernah berjumpa dalam sebuah turnamen.


"Pangeran... " Patriark Hao menatap dengan serius, membuat pangeran kedelapan menghela nafas panjang.


"Majulah dasar pengecut, apakah setelah tua nyalimu semakin kecil?" Patriark Song tertawa, dia sudah membawa ledang di tangannya.


Mendengar ini amarah Patriark Hao semakin memuncak. Namun Patriark Song belum selesai dan terus mengeluarkan kalimat yang tajam. "Umur boleh berkurang, tapi tekad harus selalu membara."


"Banyak omong!"


Patriark Hao melesat dengan golok di tangannya, tanpa kenal sungkan ia menebaskan senjata mengincar kepala.


Trank!


Senyum nampak jelas di wajah Patriark Song, "Terlalu cepat, pak tua!"