
"Kau tak tahu apa yang terjadi, bagaimana itu mungkin?" Song Dayi mengelus dagu yang sudah penuh dengan rambut putih panjang.
Zhou Fan hanya menggeleng, meski dia mendapatkan sebuah pemikiran, hal ini masih belum dipastikan.
"Tetua, patriark meminta agar para tetua berkumpul di aula."
Mendengar suara itu, Song Dayi langsung berdiri. "Ayo ke aula, pertemuan ini pasti akan membahas masalah perang yang dapat dipastikan akan pecah dalam waktu dekat."
Zhou Fan mengikuti Song Dayi, begitu sampai di aula, di sana sudah ada para tetua dan juga beberapa orang lainnya. Patriark berada di tempat duduk utama, bersama dengan Shao Mingrui, satu tempat duduk utama lain masih kosong, karena itu dikhususkan untuk tetua agung.
"Tetua agung sudah datang, kita langsung saja." Song Zi tak basa basi, dia ingin pertemuan berakhir dengan cepat, karena ada banyak hal yang perlu diurus.
"Menurut perkiraan, jumlah pasukan pangeran kedelapan hampir mencapai seribu, dengan dua puluh persen dari mereka adalah petarung senior ke atas ...." Patriark mengungkap semua informasi yang telah didapatkan.
Zhou Fan meski terlihat diam terus mencermati setiap informasi yang ada. "Jika pasukan kedua pangeran bergabung, meski masih memiliki harapan untuk menang itu hanya sekitar empat puluh persen, itu termasuk bantuan Sekte Hati Surgawi."
Namun satu fakta yang tidak bisa dilewatkan adalah, kedua pangeran tidak mungkin bergabung, meski mereka bergabung, pada akhirnya tetap akan saling menerkam. Hal itu dikarenakan tipisnya kepercayaan di antara mereka.
"Patriark, kita tidak mungkin membagi pasukannya untuk menghadapi mereka, jika hal itu terjadi maka kehancuran sudah dapat dipastikan." Zhou Fan berdiri, dia yang duduk di tempat duduk tetua membuat semua orang mengalihkan pandangan kepadanya.
Song Zi menyipitkan mata, siapa pemuda ini? Itu adalah pertanyaan pertama yang melintas dalam kepalanya.
Sosok Zhou Fan sangat asing untuknya, terlebih dia baru saja keluar, tidak banyak berinteraksi dengan wajah wajah baru di kediaman Klan Song.
Song Dayi seolah paham, dia tanpa sungkan memperkenalkan Zhou Fan kepada patriark klan. "Dia adalah Zhou Fan, saudara angkat Mingrui."
Song Zi mengangguk, dia sebenarnya tidak terlalu berminat kepada Zhou Fan, tapi melihat bagaimana tetua agung sendiri bahkan bersedia membantu memperkenalkan diri, tentu hal ini tidak biasa.
"Perkataanmu memang masuk akal, tapi jika tidak dengan membagi pasukan bukankah itu sama saja dengan mempersilakan mereka memasuki kota?" Song Zi menaikkan sebelah alisnya, dia penasaran bagaimana tanggapan pemuda yang bahkan sampai membuat tetua agung begitu peduli.
"Kota Chen sudah dapat dipastikan berada dalam kepungan dua pasukan, mungkin mereka lebih unggul dalam jumlah orang, tapi kita berada di wilayah sendiri, setiap jengkal kota sudah menjadi pijakan sehari hari ...."
Zhou Fan mulai menjelaskan, setiap kalimat membuat yang mendengar mengangguk dengan ekspresi wajah kagum, tak terbayangkan jika seorang pemuda yang bahkan tak sampai setengah umur mereka dapat berpikir begitu cepat, memanfaatkan segala keuntungan dan menciptakan sebuah rencana.
Pertemuan berakhir, Patriark Klan serta semua yang hadir sangat puas atas rencana itu, sudah dipastikan jika mereka akan menerapkan rencana tersebut untuk melawan pasukan dia pangeran.
Pagi malam berlalu begitu cepat, tak terasa dua hari berlalu, persiapan pun sudah mendekati kata sempurna. Tak ada lagi jejak ragu dalam wajah orang Kota Chen, mereka memiliki harapan tinggi untuk bisa mengalahkan dua pasukan yang menyerang.
Malam hari, suasana begitu tenang, bahkan angin pun seolah berhenti membuat keadaan begitu hampa.
Zhou Fan memandang bulan, ketika bulan bersinar menerangi langit yang gelap, dia merasakan ketenangan yang begitu sunyi. "Ketenangan datang sebelum badai, apakah akan ada yang menyerang malam ini?"
Zhou Jim melolong panjang, hal ini membuat Zhou Fan langsung melompat keluar ruangan melalui jendela.
Berdiri di atas bangunan paling tinggi, Zhou Fan memandang ke arah utara. Sinar keputihan yang membumbung tinggi itu seperti ledakan.
"Celaka!"
Zhou Fan melesat masuk ke dalam ruangan, mengambil bom asap yang telah dia siapkan.
Boom!
Di perbatasan bagian utara...
"Pangeran, lihat! Itu seperti sebuah sinyal." Seorang pria paruh baya berkata sembari menyerang penduduk desa yang menghadang.
Pangeran pertama yang melihat menyipitkan mata, dia penasaran dengan ledakan yang sanggup terdengar hingga perbatasan. Namun dia mencoba tak menghiraukan, melanjutkan perluasan kekuasaan yang baru saja dimulai.
"Meski itu adalah sinyal bantuan, mereka tidak akan bisa berhadapan dengan kita, mereka hanya memiliki satu orang petarung suci." Pangeran pertama sangat yakin, dengan dua petarung suci yang dia punya, Kota Chen akan menjadi miliknya.
Sementara di perbatasan bagian selatan...
Hem...
"Sepertinya pihak lain sudah tidak sabar." Seorang pria memandang ke atas dengan warna merah menghiasi langit Kota Chen.
"Pangeran kedelapan, apa yang harus kita lakukan?" Seorang pria tua bertanya.
Pangeran kedelapan mengeluarkan pedang. "Sudah lama aku tak bertemu dengan saudaraku, kita tak boleh hanya diam ketika dua saudaraku bertarung."
"Siapkan pasukan!" Pria tua berteriak dengan suara serak, jakunnya bahkan bergoyang ketika dia memberikan perintah.
Satu persatu pasukan mulai berkumpul, mereka sudah siap dengan senjata masing masing di tangannya.
"Berangkat!" Dengan kata itu semua pasukan berbondong-bondong melakukan pergerakan, mereka masuk ke perbatasan Kota Chen dan mulai menebar ancaman.
***
"Tuan muda, dari arah utara selatan mulai terlihat pergerakan. Mungkin mereka akan sampai di pusat kota dalam waktu beberapa jam." Zhi Long datang dengan membawa laporan hasil pengamatan.
Zhou Fan mengangguk. Kemudian dia pergi ke tempat berkumpul, dia yakin dengan sinyal yang dia berikan sudah banyak orang yang berkumpul.
Dan benar saja, di sana sudah ada ratusan orang dengan berbagai pakaian.
Sebelum ini atas pertimbangan rencananya, semua orang dikumpulkan di pusat kota, mereka akan berada di sana sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Sekarang sinyal sudah terlihat, mereka semua mulai melakukan apa yang telah direncanakan.
"Apakah ini rencanamu?"
Zhou Fan membalikkan badan, melihat seorang wanita tua berjalan mendekatinya.
"Senior Ni, junior hanya memberikan beberapa pandangan, semua yang ada diputuskan bersama." Zhou Fan mengatakan apa yang sebenarnya.
Ni Quero tertawa lirih. "Aku tak tahu lagi harus berkata, kau sangat muda, tapi dari kekuatan ataupun pemikiran kau seperti senior tua."
"Aku anggap itu sebagai pujian. Senior, bukankah kau akan pergi ke bagian utara, jika seperti itu aku akan bersamamu." Zhou Fan memanggil Zhou Jim, kemudian bersama dengan Ni Quero serta beberapa orang lainnya menuju ke utara bersiap menghadapi pasukan pangeran pertama.
Mereka tidak akan berhadapan langsung, memanfaatkan wilayah sendiri dengan membuat begitu banyak jebakan serta tempat untuk melakukan penyergapan. Dengan itu Zhou Fan tak percaya tak bisa mengatasi pasukan pangeran pertama.