Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 53 : Memasuki Dunia Abadi


Keesokan harinya, Zhou Fan berkumpul dengan keempat orang lainnya. Mereka adalah Shao Mingrui, Cheng Delai, Lan Ning serta seorang pria tua yang tidak lain merupakan ayah Lan Ning-Lan Feng.


"Apakah legenda itu benar benar nyata, aku bahkan tidak pernah berpikir jika itu adalah hal nyata." Cheng Delai-Jendral Besar Kekaisaran Shao meraih gelas di atas meja dan membawanya mendekat ke mulutnya.


"Ayah, itulah mengapa aku mengumpulkan kalian. Karena aku merasa pintu ke dunia abdi akan segera terbuka." Shao Mingrui menunjukkan kertas di tangannya.


Semua menyipitkan mata ketika kertas itu bersinar semakin terang.


Lan Feng tidak lagi bisa berkata, kepala suku itu dibuat mematung oleh kejadian di hadapannya.


Tak lama sebuah pintu tercipta di salah satu sisi ruangan, lebarnya sekitar dua rentangan tangan dengan tinggi menyamai langit langit ruangan.


"Ini -- " Lan Feng serta Cheng Delai menjadi yang paling tidak menyangka, bagaimanapun kedua orang ini telah memakan asam garam lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya.


"Ayah, semuanya, mari kita masuk. Aku khawatir, kesempatan ini tidak akan datang lagi." Shao Mingrui berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu yang perlahan meredup.


Zhou Fan, Lan Ning serta Cheng Delai ikut berdiri, tapi Lan Feng masih duduk di tempatnya dengan raut wajah ragu.


"Semua orang akan mencari kita jika tiba tiba pergi begitu saja. Selain itu keadaan suku tidak terlalu aman, meninggalkan mereka membuatku kurang tenang." Lan Feng kemudian menepuk tangan dua kali, bersamaan dengan itu muncul seorang pria tua berambut putih dengan pakaian serba hitam.


"Biarkan tetua pertama yang mewakiliku, di sini terlalu rawan untuk ditinggalkan." Lan Feng sebenarnya juga ingin ikut, tapi sukunya masih membutuhkan keberadaannya.


"Karena itu keputusan yang kepala suku ambil, maka tetua pertama, ayo berangkat." Shao Mingrui kemudian melompat masuk ke pintu yang kini sudah tertutup setengahnya.


Zhou Fan, Lan Ning serta dua pria tua lainnya melompat masuk meninggalkan Lan Feng sendirian di dalam ruangan.


"Benar benar hanya bisa lima orang?" Lan Feng sempat berpikir, pintu masih bisa dimasukin setelah lika orang masuk, tapi pintu itu langsung menghilang setelah menelan tubuh yang kelima.


Buzst...


Zhou Fan keluar dari sebuah lubang cahaya, pemuda itu berjalan dan menemukan dirinya berada di sebuah lereng gunung.


Ketika mencari di sekitarnya, ternyata tidak ada tanda tanda keempat orang lain yang masuk bersamanya.


"Sepertinya, pintu itu mengirim ke tempat yang terpisah." Zhou Fan bergumam sambil berjalan, tak sempat memperhatikan kaki, di bawahnya ada sesuatu yang empuk.


Dengan cepat pemuda itu memandang ke bawah, ketika melihat seekor ular dengan kulit bercorak laksana papan catur melingkar di bawah kakinya, spontan dia melompat menjauh.


Blar!


Dengan satu kali ayunan tangan, ular itu hancur berkeping-keping.


Hem...


"Beast tingkat lima? Apakah ini seperti makam kuno, jika begitu bukankah akan ada barang berharga di setiap tempatnya?"


Belum sempat Zhou Fan memikirkan lebih dalam tentang dunia abadi, tiba tiba tanah bergetar dan seekor beast melata keluar dari lubang yang tercipta.


Ular ini tidak seperti ular pada umumnya, kepalanya mirip singa dengan sedikit rambut yang menyelimuti moncongnya.


"Ular tipe api ini merupakan beast tingkat ketujuh." Zhou Fan menelisik kekuatan ular hitam dengan garis kuning yang melingkar tubuhnya, dia sangat yakin jika kekuatan ular ini tidak lemah, mungkin setara dengan petarung senior bintang tujuh.


"Tapi karena kau telah keluar, biar aku hadiahkan daging serta kristal beastmu kepada Zhou Jim."


Zhou Fan mengeluarkan tombaknya, meski itu adalah tombak biasa, dengan penguatan tenaga dalam yang telah diajarkan Zen Yoan, tombak itu bisa sebanding dengan senjata rank legend.


Ssttt


Ular itu bergerak mendekat, gerakan yang seperti huruf 'S' itu terlihat agresif di mata Zhou Fan.


Ular berkepala singa seolah mengerti, tapi tetap tidak berusaha menghindar, malah menerjang dengan moncongnya.


Ketika tombak beradu dengan moncong, keduanya terpental, tapi tak berselang lama keduanya saling menyerang.


Zhou Fan memutar tombak, dia melompat dan mengincar kepala lawannya. Akan tetapi ular itu tidak hanya diam, dia menggerakkan ekor menyambar tombak.


Blar...


Zhou Fan tak jadi menyerang, dia menarik tubuhnya berguling menghindari lesatan ekor yang seperti cambuk.


Bercak garis tercipta di setiap permukaan yang terkena lesatan ekor, sementara Zhou Fan berdiri dengan kedua kakinya.


"Hem..., ular ini tidak sederhana. Mungkin seorang petarung senior bintang delapan pun tidak akan sanggup menghadapinya." Zhou Fan merasa kekuatan ular ini benar benar diluar nalar, selain kulitnya yang keras, serangannya juga cepat dan mematikan.


Grah...


Ular itu bergerak mendekat, mulutnya terbuka seakan ingin mengeluarkan sesuatu.


Zhou Fan mengerutkan kening, dia menelisik masuk ke dalam mulut ular sepanjang tiga meter tersebut.


Ular itu memiliki dua taring yang setiap ujungnya terdapat sebuah lubang, melihat hal ini Zhou Fan langsung paham jika ular kepala singa itu akan menyemprotkan bisanya.


"Aku ingin lihat apakah gerakanmu bisa secepat gerakan tombakku." Zhou Fan maju, tombak dia pegang dengan dua tangan.


Bang...


Zhou Fan menghantamkan tombak dengan kuat, dan itu tepat di antara kedua mata ular kepala singa.


Kepala ular langsung terjatuh, mulut yang semula terbuka dipaksa tertutup karena hantaman yang sangat keras.


Tidak sampai di sana, Zhou Fan yang melihat lawan tengah dalam kondisi yang sulit, langsung merapalkan sebuah gerakan. Bersamaan dengan itu tenaga dalam sudah terpusat di ujung tombak.


Zhou Fan mengayunkan tombaknya, dan serangan tombak yang kuat melesat ke arah tubuh ular kepala singa.


BANG!!


Tubuh ular sepanjang tiga meter itu terpental dan ambruk, luka di tubuhnya benar benar buruk dan darah terus mengucur keluar dari setiap inci kulitnya.


Zhou Fan mendekati tubuh ular yang sudah dalam kondisi tak bernyawa, wajahnya dipenuhi dengan kepuasan.


"Sayang sekali, aku sudah berada di tingkat petarung senior bintang sembilan. Salahkan saja nasib burukmu yang mempertemukan kita."


Setelah mengeluarkan kristal beast, Zhou Fan tak ketinggalan menyimpan daging ular tingkat tujuh itu. Bagaimanapun beast tingkat tujuh dapat menutrisi Zhou Jim yang sekarang masih menjadi beast tingkat keenam.


BHOMM!


Terdengar ledakan yang sungguh memekakkan telinga, spontan Zhou Fan melihat ke atas, karena gumpalan asap tinggi dari sisi lain lereng gunung.


"Mungkinkah ada suatu yang menarik di sana, jika begitu aku tidak akan diam saja di sini." Zhou Fan melesat menuju ke sumber suara, tapi begitu dia sampai tidak ada suatu yang menarik selain bekas pertarungan telah ditinggalkan.


Zhou Fan mengendus udara yang sedikit terasa tak asing dalam ingatannya, dia mengetahui betul apa yang bisa mengeluarkan aroma semerbak seperti ini.


"Tidak salah lagi!" Zhou Fan membuka mata lebar dengan semangat.


Zhou Fan kemudian melesat mengikuti kemana aroma tak asing itu membawanya. Ternyata aroma itu berasal dari goa, terlihat ada beberapa orang yang tengah berjaga di luarnya.


"Rumput ganggang jiwa, akan aku dapatkan bagaimanapun caranya."