
"Siapa yang merindukanku, apakah itu Lin'er?" Zhou Fan menggosok hidungnya yang tiba tiba terasa gatal.
Hem...
"Pak tua itu lumayan juga, tanaman herbal nya benar benar bisa dimanfaatkan." Zhou Fan memasukkan beberapa tanaman herbal ke dalam tungku awan hitam, kemudian mengolahnya menjadi pill.
Beberapa waktu kemudian, Zhou Fan menggenggam dua butir pill kultivasi tingkat kesepuluh.
"Dengan dua pill ini aku tak percaya masih tidak bisa menembus tingkatan petarung suci." Zhou Fan menelan satu butir, sedang sisanya ia simpan dalam botol.
Tak menunggu waktu lama, Zhou Fan mengambil sikap kultivasi. Pancaran energi dapat dirasakan berputar di tubuhnya.
Tujuh hari berlalu, Zhou Fan masih dalam keadaan duduk berkultivasi, perlahan matanya mengerjap dan seketika terbuka.
Tch!
"Ternyata satu saja memang tidak bisa." Zhou Fan menelan sebutir pill kultivasi yang tersisa.
Sama seperti sebelumnya, perlahan pancaran energi bergejolak menyelimuti tubuhnya. Namun kali ini sedikit berbeda, karena ada semburat cahaya merah tipis yang bersinar seolah membungkus tubuh Zhou Fan.
Beberapa hari berlalu, tapi Zhou Fan tidak kunjung membuka mata.
Di luar goa, beberapa beast tingkat enam mengitari seorang wanita yang terlihat dalam kondisi buruk. Jika Zhou Fan melihatnya, mungkin dia akan langsung mengenalinya, karena dia adalah Lan Ning.
"Ugh... Serigala serigala ini menekan dengan jumlah mereka yang lebih banyak." Lan Ning membawa pedang besar di tangan kanannya, meski terlihat berat, wanita itu sama sekali tidak kesulitan mengayunkannya.
Arg...
Seekor serigala menggeram dan melompat menerjang, kuku yang tajam sudah siap mencakar mangsanya.
Namun Lan Ning masih bisa berkelit, tubuh ramping itu meliuk menghindari setiap cakaran yang kemungkinan besar merobek pakaiannya.
Dia tidak hanya melakukan serangan pasif, ayunan pedang senantiasa mengiring gerakannya.
Grr...
Serigala yang melihat temannya terkena serangan langsung menerjang dan menyerang dengan kawanan. Tidak hanya dua atau tiga, melainkan delapan serigala.
"Setidaknya mereka berada di tingkat petarung kaisar bintang empat sampai lima, itu sama dengan kekuatanku." Lan Ning membatin dengan wajah buruk, dia tidak bisa bertahan lebih lama jika mereka terus menyerang bersamaan.
Srat!
Cakaran tiga kuku tajam, membekas pada pakaian Lan Ning, beruntung dia sempat menarik diri ke belakang sehingga cakaran tidak mengoyak tubuhnya.
Namun serangan serigala belum berakhir, kedelapan serigala maju menyerang dari berbagai arah.
Melihat hal ini, Lan Ning spontan merunduk dan mengangkat pedang sebagai perlindungan. Wajahnya nampak meringis membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Slash
Bugh... Bruak!
Lan Ning mengerutkan kening, dia penasaran sebenarnya apa yang terjadi, dan mengapa dia masih baik baik saja?
Menengadahkan kepala, dia melihat sesosok pemuda yang nampak tak asing.
"Guru, kau?"
Lan Ning berdiri, memandang pemuda di hadapannya dengan tatapan berbinar.
"Aku sudah mengatakan, jangan panggil aku guru." Zhou Fan menggantung tombak di balik punggungnya.
"Lagi pula, aku lebih muda dari pada kau, tidak etis jika aku memliki murid yang lebih tua." Zhou Fan berbicara dengan suara lirih, jika tidak dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepadanya.
Pemuda itu sangat menekankan kepada diri sendiri, pertama jangan memanggil seorang wanita dengan sebutan tua, kedua jangan pernah sekalipun memanggil mereka gemuk atau kurus.
"Apa kau tidak bersama dengan yang lain?"
Lan Ning menggeleng mendengar perkataan Zhou Fan, dia sendiri juga bingung mengapa hal itu bisa terjadi kepadanya.
Bahkan Lan Ning mendarat di sebuah gurun tandus yang luas, butuh beberapa hari untuk keluar dari daratan tanpa air tersebut.
Ketika telah keluar, berharap akan ada ketenangan dan suatu yang menakjubkan, tapi yang ada hanya beberapa serigala menatapnya sebagai makanan, benar benar mengenaskan.
Zhou Fan mangut mangut mendengar cerita Lan Ning, pemuda itu terlihat berpikir ketika Lan Ning menyelesaikan ceritanya.
Meski dunia abadi tidak perlu khawatir akan kehilangan nyawa, sangat rugi jika meninggalkan tempat yang kaya seperti ini begitu saja.
"Baiklah, kau ikut saja denganku, bukankah kau tidak menemukan apapun selain beberapa serigala itu?" Zhou Fan menyimpan daging serigala, mendekati Lan Ning dan mengajaknya melanjutkan perjalanan.
"Tunggu, aku memang tidak mendapatkan apapun. Tapi saat pertama keluar gurun, aku melihat beberapa beast berkumpul di sebuah rawa, karena merasa berbahaya, aku lebih memilih untuk pergi, siapa sangka jika ada delapan serigala yang mengejar."
Zhou Fan mengerutkan kening, dia yang sebelumnya sudah akan melenggang pergi, mengurungkan niatnya dan kembali menatap wanita di belakangnya.
"Kita harus memeriksanya." Mendengar ini, Lan Ning membuka mata lebar lebar.
"Aku mengatakan seperti itu agar kau tidak mendekati mereka, tapi kau malah akan pergi ke sana? Jangan bercanda, setidaknya mereka ada yang merupakan beast tingkat ketujuh." Lan Ning tidak akan pernah berpikir jika Zhou Fan sudah berada di tingkat petarung suci bintang satu, mungkin jika dia tahu akan seketika pingsan.
Tidak menghiraukan ucapan Lan Ning, Zhou Fan langsung melesat menuju ke arah jam tiga, karena saat bercerita Lan Ning menunjuk ke arah jam tiga, menandakan keberadaan tempat itu berada di sana.
Lan Ning bahkan belum sempat memperingati lebih jauh, tapi Zhou Fan sudah tidak bisa dia rasakan keberadaannya, sudah melesat bahkan tidak lagi dapat terlihat gambaran punggungnya.
Haih...
Sambil menggerutu Lan Ning mengikuti kemana Zhou Fan pergi, kembali ke tempat dia sebelumnya meski bayang bayang kekhawatiran terus saja menghantuinya.
Wajar jika dia khawatir, tingkatannya masih berada di tingkat petarung kaisar, tidak sebanding dengan kawanan beast yang bahkan ada yang setara dengan petarung senior.
Bagi Zhou Fan, peristiwa seperti ini sangat memorial. Pasalnya, saat di Kota Kapur Putih tepatnya kota tetangga tempat tinggalnya, sempat ada penjelajahan makam kuno.
Dalam penjelajah itu dia juga menemukan beberapa kawanan beast tengah mengerumuni sebuah kolam, dan dari sana dia mendapatkan sebuah barang berharga.
Zhou Fan berpikir pasti ada suatu yang menarik di rawa itu, bisa menarik banyak kawanan sekaligus, itu jelas bukan perkara gampang.
Beberapa jam Zhou Fan dapat melihat hamparan pasir yang membentang, tapi bukan itu yang menjadi fokus utamanya.
Tepat di sebelah kanan, ada sebuah rawa yang dikelilingi oleh beberapa kawanan beast, di antaranya adalah serigala perak, seperti yang mengejar Lan Ning sebelumnya.
"Guru, sebaiknya jangan mendekat. Mungkin beberapa langkah lagi para beast itu mulai menyadari keberadaan kita." Lan Ning menahan Zhou Fan, tapi pemuda itu hanya tersenyum.
"Kau tunggu di sini, jangan keluar sampai aku kembali." Zhou Fan melompat dan melesat ke arah kawanan beast.
Lan Ning terkejut bahkan tak sempat untuk bereaksi. "Apa yang akan kau lakukan?"
Zhou Fan melirik sambil mengambil tombak dari balik punggung, senyum seringai menghiasi wajahnya.
"Tentu saja menghadapi mereka!"