Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 161 : Gelombang Beast


Keputusan Zhou Fan untuk mencari faksi serigala timur tentu bukan tanpa pertimbangan. Lagi pula kematian dua pria paruh baya sebelumnya berhubungan dengannya.


Jika ia meninggalkan masalah ini begitu saja dan faksi serigala timur melimpahkan kemurkaan kepada anak-anak itu. Maka habislah sudah, ia akan sangat merasa bersalah.


"Tuan muda, kemana kita akan mencari?" tanya Ciu San.


Zhou Fan melirik sekilas, kemudian kembali memandang ke depan. "Tentu saja ke daerah ramai, mungkin mereka saat ini tengah berada di sebuah kedai menikmati arak."


Beberapa waktu berlalu dan kini matahari telah bersinar. Menjelang siang ini Zhou Fan hanya duduk di sebuah kedai dengan ditemani arak di meja. Ciu San dan Zhi Long tentu saja tidak hanya diam dan menyaksikan, meneguk arak bahkan langsung dari kendi nya.


Di tengah suasana ramai kedai suara terompet yang memekak telinga terdengar dari angkasa.


Zhou Fan langsung menengadahkan kepala, memasang telinga.


Wrong...


Zhou Fan mengerutkan kening, tak tau ada hal semacam apa sampai terompet kota terdengar dua kali secara beruntun.


Pyar!


Pyar!


Brak!


"Cepat pergi, gelombang beast datang lebih awal dari perkiraan!" Beberapa orang berlarian keluar, sementara Zhou Fan yang mendengar perkataan mereka sontak mengukir senyum di wajahnya.


Jika penduduk lain langsung panik ketakutan begtu mendengar peringatan gelombang beast, tidak dengan Zhou Fan yang malah menantikan gelombang serangan ini. Bukan sekadar pemburuan, melainkan mencari kristal beast tingkat delapan.


Zhou Fan bangkit setelah menempatkan beberapa lembar uang kertas di atas meja. Kemudian ia menuju ke tempat serangan gelombang beast, melesat berlawanan arah dengan para penduduk yang berlarian.


Beberapa waktu kemudian ia melihat beberapa pria mengenakan pakaian senada melesat dengan senjata di tangan mereka. Sekali lihat Zhou Fan langsung tahu jika mereka adalah satu dari banyak kelompok yang akan menghadapi gelombang serangan beast.


"Zhi Long, apakah kau mendapatkan petunjuk?"


Zhi Long menggeleng, Zhou Fan pun memutuskan untuk mengikuti kelompok yang ada di depan. Mereka bergerak menuju ke pusat kota untuk berkumpul dengan kelompok lain yang juga memiliki tujuan sama.


Sampai di pusat kota nampak banyak sekali petarung senior bahkan petarung suci. Seorang pria tua berpakaian hitam dengan aksen emas di bagian dada berdiri di tengah semua kelompok.


"Desa Wen telah hancur diterobos kawanan beast, setelah melintasi Desa Wen kawanan beast pasti akan menuju Desa Lor dan akan terus masuk ke dalam kota. Jika dibiarkan akan menghancurkan lebih dari separuh Kota Zi, kita harus segara menghadang mereka, menghentikan invasi mereka agar tak semakin meluas." Tuan Kota Zi berkata dengan lantang.


Pidato itu sontak ditanggapi dengan semangat oleh seluruh partisipan, termasuk merena yang mengharapkan imbalan dari Tuan Kota. Namun, imbalan hanya diberikan kepada seorang yang sangat berperan dalam upaya mempertahankan kota dalam serangan gelombang beast.


Setelah semua orang paham, Tuan Kota memimpin semua orang menuju ke selatan, menghadang kawanan beast di Desa Lor.


Zhu Fan mengikuti rombongan, meski kebanyakan mereka berkelompok ia tetap dengan hanya Dua Kapak Kembar serya Zhou Jim. Sangat berbanding terbalik dengan kelompok lain yang bahkan mencapai belasan bahkan ada yang terdiri dari tiga puluh orang.


Setelah menempuh perjalanan puluhan mill, rombongan sampai di Desa Lor. Namun, kawanan beast belum menunjukkan keberadaan mereka. Tentu saja ini membuat mereka terheran.


"Berpencar, dari pada menunggu lebih baik kita mencari mereka." Dengan ucapan Tuan Kota seluruh kelompok menyebar, tapi tidak dengan Zhou Fan yang masih bergeming di tempatnya.


"Zhi Long, apakah kau mendapat tanda keberadaan mereka?" Zhou Fan menoleh kepada Zhi Long, tentu saja yang dimaksud adalah kawanan beast.


Zhi Long begitu fokus dengan indra pendengarannya, mencari keberadaan beast dari gerakan serta suara mereka.


Beberapa saat pria bertubuh gempal itu hanya diam, tapi sejurus kemudian keningnya bertahap mengerut dan pandangan mata menjadi serius.


"Di sana! ... Setidaknya ada satu kawanan berjumlah puluhan." Zhi Long menunjuk ke depan, ucapan yang begitu yakin membuat Zhou Fan percaya.


Waktu berlalu dan langkah kaki tanpa sengaja membawa mereka melintasi perbatasan desa, memasuki wilayah Desa Wen.


Nampak jelas desa ini telah hancur. Bangunan tak lagi tersisa, menjadi puing-puing. Bahkan jika diperhatikan tak ada satupun penduduk yang bertahan. Sangat sepi dan lengang.


Zhou Fan menurunkan pandangan, melihat jejak tapak kaki yang mencurigakan. Ia pun berjongkok dan memeriksa jejak kaki yang sudah sedikit samar.


"Tuan muda, ini adalah jejak macan kumbang. Melihat dari ukuran kaki jelas jika itu merupakan macan kumbang dewasa." Zhi Long memberikan pengamatannya, dia lalu berjalan ke jejak yang tak jauh dari tempat Zhou Fan.


"Bukan hanya satu, melainkan satu kawanan. Mungkin suara auman yang aku dengar adalah milik satu dari mereka."


Zhou Fan yang masih dalam keadaan berjongkok merasakan punggungnya dingin, seolah ada yang mengamati dengan niat membunuh.


Melihat ke belakang, matanya terbelalak mendapati lima macan kumbang dewasa yang berdiri memandang seperti melihat mangsa.


Groar...


Auman dari arah berlawanan sontak membuat Zhou Fan membalikkan badan. Kening mengerut melihat enam macan kumbang lain.


Sekarang ia bersama dengan Dua Kapak Kembar berada dalam kepungan sebelas macan kumbang. Belum sempat mereka mengeluarkan senjata, Zhou Jim melompat keluar dan langsung menunjukkan wujudnya.


Cahaya kuning samar memancar dari keningnya, perlahan aliran listrik telah mengaliri setiap inci bulu di tubuhnya.


Zhou Fan merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk menjajal kekuatan Zhou Jim, lagi pula kekuatan macan kumbang rata-rata adalah petarung senior bintang tujuh. Membandingkan dengan Zhou Jim terdapat jarak yang sangat lebar.


Grgr...


Zhou Jim menunjukan taringnya, macan kumbang yang telah menunggu langsung melesat menerjang. Bukan hanya satu, melainkan langsung semuanya.


Zhou Jim berlari, kecepatan geraknya sangat luar biasa. Ketika bulunya bersentuhan dengan kulit macam kumbang, satu persatu macan kumbang terlempar.


Aliran listrik melukai mereka, tapi macan kumbang tak mau mundur. Kembali bangkit dan menyerang.


Zhou Jim memburu macan kumbang berukuran paling besar. Menerkam dengan kedua cakar bagian depan.


Cresh..


Aum!!


Auman macan kumbang terdengar menyakitkan. Cakar Zhou Jim menembus tubuh bagian atas macan kumbang, darah mengalir dari sana.


Melihat pemimpin mereka terluka, sepuluh macan kumbang lain nampak murka. Mereka berjalan mendekat dan dalam beberapa langkah langsung melompat menyerang.


Zhou Jim mengibaskan tubuhnya, membuat sepuluh macan kumbang langsung terhempas dan mati dalam keadaan kaku.


Zhou Fan melihat pemimpin kawanan macan kumbang yang akan berdiri menyergap Zhou Jim dari belakang. Tanpa basa basi ia mengayunkan tangan melesatkan sebuah serangan tenaga dalam.


Roar!


Bang!


Macan kumbang itu baru akan melompat, tapi sebuah serangan tak terlihat menghempaskan tubuhnya hingga menghantam sebuah bangunan.


Zhou Fan tersenyum melihat pemimpin macan kumbang tewas, "Ingin bermain curang juga harus tahu keadaan."