
"Guru, sebenarnya ada di tingkat mana engkau sekarang? Aku yakin bukan di tingkat petarung dewa bintang tiga seperti yang semua orang pikirkan." Zhou Fan sangat yakin dengan analisanya. Yang dapat menangkis serangan tebasan ganda dengan mudah pasti lebih dari bintang tiga bahkan empat.
Sian Lou terkekeh, kemudian meraih cangkir di atas meja. Saat ini mereka berada di ruang tengah kediaman Sian Yu.
"Kekuatanku saat ini telah berada di tingkat petarung dewa bintang delapan."
Jawaban Sian Lou membuat Zhou Fan tersedak, pandangan seolah tak percaya.
"Jangan bahas aku dahulu, bahas kau yang kini telah berada di tingkat petarung dewa. Hanya beberapa tahun dari tingkat kaisar naik ke tingkat petarung dewa. Pencapaianmu sungguh di luar batas normal."
Zhou Fan hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk kepalanya. "Ini semua karena berkah yang aku dapatkan di dalam altar peninggalan. Dari tingkat petarung suci langsung naik ke tingkat petarung dewa. Meski sulit untuk dipercaya, tapi memang inilah kenyataannya."
"Altar peninggalan? Apakah itu memang benar adanya? Bukankah semua orang kembali karena tak menemukan apapun?"
Perkataan Sian Lou membuat Zhou Fan mengerutkan kening. "Guru, bukankah engkau menutup diri. Bagaimana bisa mengetahui semua itu?"
Sian Lou menyandarkan tubuhnya, tertawa sambil meneguk arak di tangannya. "Sebenarnya aku tak melakukan kultivasi, semua kejadian di luar aku mengetahuinya. Bahkan saat kau datang pun aku sudah tahu."
Zhou Fan hanya diam, dia menebak apa yang dilakukan gurunya merupakan salah satu bentuk upaya untuk menyelesaikan konflik Klan Sian.
"Katakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi di dalam altar peninggalan?"
Tak berlama-lama Zhou Fan mulai menjelaskan semua hal yang terjadi di dalam altar peninggalan. Bahkan mengenai teknik penghancur bintang tak lupa dia ceritakan.
"Kau memang diberkahi langit, bahkan dari sebegitu banyak orang kau yang dipilih." Sian Lou menggelengkan kepala, tak memungkiri perasaan iri menyelimuti pikirannya. Namun hal itu sangat wajar, karena semua orang pasti menginginkan hal semacam itu.
"Kau mengatakan teknik penghancur bintang, aku tak pernah mendengar nama teknik ini. Bisa kau tunjukkan?"
Zhou Fan bangkit berdiri dari tempat duduk, mengambil posisi kemudian melakukan beberapa gerakan. Sinar biru memancar dari tangan, perlahan menyebar hingga menutup seluruh tubuh. Bersamaan dengan itu aura Zhou Fan semakin kuat, naik dua tingkat dari tingakatan aslinya.
Mata Sian Lou tak bisa beralih, begitu takjub dengan teknik penghancur bintang. Namun, ia sadar karena tak semua orang dapat menguasainya.
"Kakek, kau sudah keluar?" Dari belakang Sian Yuezhi datang, cukup terkejut melihat sang kakek telah keluar dari pengasingan.
Sementara Zhou Fan mematung mendengar Sian Yuezhi memanggil gurunya dengan sebutan kakek. "Yuezhi, kau ... ?"
Wanita itu tersenyum tanpa rasa bersalah, "Kakek Sian Lou adalah kakekku, meski tak ada ikatan darah dalam hubungan ini."
Kakek? Tak ada ikatan darah?
Zhou Fan tak paham, jika memang adalah kakeknya, mengapa tak ada ikatan darah?
"Yuezhi adalah putri dari anak temanku. Karena tak lagi memiliki keluarga aku membawanya ke kediaman ini dan mengurusnya laksana seorang kakek." Bukan Sian Yuezhi yang berkata, melainkan Sian Lou.
"Fan, pill mu sangat luar biasa. Andai tak mendengar suara kakek mungkin aku akan melanjutkan kultivasi."
Pill?
Sian Lou mengerutkan kening, menatap Sian Yuezhi seolah meminta penjelasan. Sian Yuezhi kemudian mengeluarkan botol pill pemberian Zhou Fan. "Lihat kakek, ini adalah pill kultivasi tingkat sembilan buatannya. Bukankah sangat murni?"
"Tingkat sembilan? Ternyata kemampuan alkemismu sudah sejauh ini." Sian Lou sudah tahu bahwa Zhou Fan merupakan alkemis, tapi tak mengira jika sudah bisa membuat pill kultivasi tingkat sembilan.
"Yuezhi, kau harus melanjutkan kultivasimu. Mungkin tak lama lagi kau akan naik tingkat menjadi petarung suci." Aura di tubuh Sian Yuezhi sudah nampak mengalami perubahan, semacam ada energi yang meluap-luap menandakan peningkatan.
Namun Sian Yuezhi yang baru saja keluar dari kultivasi enggan untuk kembali. "Nanti saja kakek, lagi pula pill kultivasi sudah ada di tangan. Bukanlah sama saja naik sekarang atau nanti."
Zhou Fan tak setuju dengan pendapat Sian Yuezhi, "Jika kau menunda-nunda, maka itu dapat menghalangi peningkatanmu. Tanpa keinginan yang kuat kau tak akan mendapat kemajuan yang berarti."
"Yang dikatakannya benar, selama ada kesempatan gunakan sebaik mungkin atau kau akan menyesal." Mendapat teguran dari dua pria di hadapannya, Sian Yuezhi terdiam tak mampu bersuara. Dengan sedikit perasaan enggan dia kembali ke ruangan untuk melakukan kultivasi.
"Dia tak terlalu tertarik dengan kekuatan, jika bukan karena paksaan ku mungkin dia tak pernah mendalami teknik bertarung." Sian Lou menghela nafas. Padahal bakat Sian Yuezhi termasuk baik, jika tak berlatih sungguh sangat disayangkan.
"Oh ya, guru. Segel giok ini sudah seharusnya kembali ke tanganmu." Zhou Fan menggeser tangannya, menyodorkan segel giok kepada Sian Lou.
"Kau simpan saja, aku masih harus berdiam dan tak muncul di hadapan semua orang. Hanya kau dan Yuezhi yang mengetahui bahwa aku tak berkultivasi, jangan sampai orang lain mengetahuinya." Setelah berkata Sian Lou bangkit dan mengenakan kembali tudung jubahnya.
"Guru, apakah ini ada hubungannya dengan Klan Sian Barat?" Zhou Fan tak mengerti, padahal dengan kekuatan gurunya sudah mampu menbereskan Klan Sian Barat tanpa sisa, tapi mengapa masih menahannya.
"Masalah utama bukan pada Klan Sian Barat. Meski berselisih mereka juga masih bagian dari Klan Sian." Perkataan Sian Lou membuat Zhou Fan termenung. Jika bukan masalah Klan Sian Barat lantas apa lagi sampai membuat sang guru bersikap begitu hati-hati.
Belum sempat Zhou Fan bertanya Sian Lou telah menghilang dari tempatnya, kecepatan geraknya sangat luar biasa satu kedipan mata telah lenyap dari pandangan.
Zhou Fan duduk sambil memegang gelas arak, memikirkan masalah yang dimaksud gurunya. Namun sejauh kepala berpikir, sama sekali tak mendapatkan petunjuk menganai jenis masalah tersebut.
Hari demi hari berlalu, di aula Klan Sian Timur Tengah ramai dengan puluhan orang berkumpul. Mereka adalah penduduk perbatasan yang datang meminta penjelasan.
"Tetua, penduduk Kota Lentera sudah tidak bisa ditoleran. Jika dibiarkan maka mereka akan semakin menjadi."
"Kami harap tetua dapat menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini karena banyak penduduk tak bersalah yang menjadi korban."
Sian Hui berdiri di hadapan semua orang, dengan keringat mulai membasahi pakaiannya dia berusaha menenangkan penduduk. "Kalian semua tenang, kami pasti akan mencari solusi."
Namun ucapan Sian Hui sama sekali tak bisa membuat mereka tenang, keluarga juga sanak saudara di tempat tinggal mereka selalu tidur dengan rasa was-was. Ancaman bahaya dari bandit atau kelompok sejenisnya terus berdatangan silih berganti.
Seluruh tetua berusaha menenangkan, meski tetap mendapat kritik pedas dari penduduk perbatasan. Zhou Fan yang ada di dalam aula berjalan keluar. "Tak salah lagi, ini pasti ulah mereka!"