Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 170 : Sosok Berjubah Hitam


Laba-laba berwajah manusia menempelkan dua kaki bagian depan ke mulut, dia mengunyah sesuatu.


Zhou Fan yang melihat gelagat laba-laba berwajah manusia pun menempatkan pedang di depan tubuhnya. Kening mengerut menantikan apa yang akan dilakukan beast tingkat delapan tersebut.


Beberapa lama menunggu, beast laba-laba berwajah manusia menarik sebelah kakinya, menunjukkan sebuah benang berwarna kehijauan.


Pupil mata Zhou Fan sedikit melebar, "Itu adalah jaring!"


Warna hijau itu pasti berasal dari racun miliknya, dia mengekuarkan benang untuk menjerat mangsa.


Ssh...


Laba-laba berwajah manusia menembakkan benang itu, seperti anak panah benang melesat dan menempel di sebuah batang pohon.


Andai Zhou Fan tak dengan cepat menghindar, dapat dipastikan tubuhnya yang menjadi sasaran.


Sekilas Zhou Fan melirik ke belakang, matanya menyipit melihat batang pohon yang semakin lama kehilangan akar kehidupan dan mati kering dengan daun berguguran.


Serangan tidak sampai di sana, laba-laba berwajah manusia kembali menembakkan benang yang melesat mengincar Zhou Fan. Namun seperti sebelumnya, serangan dapat dihindari.


Tes...


Cairan hijau menetes dari benang yang tepat berada di sampingnya, tanah di bawah langsung menghitam seolah kehilangan kesuburan.


Zhou Fan meneguk ludah, secepat kilat melompat menjauh. "Apakah racunnya berevolusi?" batinnya dengan heran.


Beberapa saat lalu ia sangat yakin jika racun laba-laba berwajah manusia tidak semengerikan ini. Meski sifat korosif sudah sangat mengerikan, tetap tidak sebanding dengan racun yang sekarang.


Hanya satu tetes bisa menghilangkan hawa kehidupan, bukankah ia akan mati saat cairan itu mengenainya?


Laba-laba berwajah manusia melesat, dengan delapan kalinya ia melayang seperti burung yang memanfaatkan benang dari mulutnya.


Zhou Fan terkejut dengan apa yang beast laba-laba ini lakukan. Ketika kaki beast laba-laba menghantam tubuh Zhou Fan terlempar beberapa langkah, darah mengalir samar di antara bibirnya.


Sial!


Belum sempat bergerak, laba-laba berwajah manusia kembali menyerang laksana seekor kera yang bergelantungan di sebuah dahan pohon.


Zhou Fan tak mau banyak berpikir, sambil bersalto mundur ke belakang. Empat lima lompatan ia kembali berdiri tegak sembari menempatkan pedang darah malam di depan tubuhnya.


Blam!


Delapan kaki panjang nan besar itu menghantam permukaan tanah, langsung amblas dan menumbangkan pohon di sekitar.


Laba-laba berwajah manusia yang melihat Zhou Fan menghindar pun memburu dan membidik dengan benang di mulutnya.


Shut...


Zhou Fan berkelit, berputar dengan posisi terlentang, tubuhnya seolah melayang.


Laba-laba berwajah manusia menyerang, Zhou Fan tak hanya diam. Tebasan demi tebasan terus ia keluarkan, tapi kulit luar laba-laba berwajah manusia sangat kokoh seperti cangkang kura-kura.


Namun Zhou Fan tak kehilangan akal, melihat bagian bawah tubuh laba-laba yang nampak berwarna putih pucat. Ia merasa bahwa itu adalah titik lemahnya.


Tanpa banyak berkata Zhou Fan melesat, tapi laba-laba berwajah manusia seolah mengetahui niat Zhou Fan dan langsung menutup jalan dengan empat kaki depannya.


Zhou Fan meliuk-liuk, melewati kaki laba-laba yang mencoba menghalanginya.


Setelah melintasi empat penghalang, Zhou Fan berada tepat di bawah perut laba-laba berwajah manusia. Perlahan tangan mulai terangkat dan mendorong pedang ke atas.


Jleb!


Suara laba-laba berwajah manusia menggema di seluruh hutan, pedang darah malam menembus perut dan darah kehitaman mengalir keluar dengan deras.


Laba-laba berwajah manusia melompat tinggi, tusukan seketika terlepas.


Zhou Fan yang melihat laba-laba berwajah manusia masih berdiri pun dengan cepat kembali menyerang, mengeluarkan teknik dewa pedang dan berusaha mencari celah untuk menyerang perut bagian bawahnya.


Pedang tak berhenti bergerak, dentingan nyaring yang ditimbulkan pedang dan juga cangkang super keras milik laba-laba berwajah manusia membuat pertarungan nampak begitu sengit.


Zhou Fan berusaha menekan dan membuat laba-laba ini mengangkat sedikit tubuhnya. Begitu ia mendapat kesempatan, serangan kuat akan menjadi akhir buruk bagi laba-laba berwajah manusia.


Pedang mengayun dari bawah ke atas, hendak menebas kepala. Laba-laba mengangkat tubuhnya demi menggapai serangan Zhou Fan.


Kesempatan ini akhirnya datang. Zhou Fan secepat kilat melesat, mengayunkan pedang mengeluarkan tebasan mengincar perut bagian bawah laba-laba berwajah manusia.


"Penebas awan!"


Dalam jarak yang begitu dekat, Zhou Fan memaksa mengeluarkan serangan yang dahsyat, tubuh laba-laba berwajah manusia terlempar begitupun dengan tubuhnya yang terkena tolakan jurus milik sendiri.


Namun ia baik-baik saja, berbeda dengan beast laba-laba berwajah manusia yang harus tergeletak dengan perut terkoyak. Cairan hitam kehijauan merembes keluar dari mulutnya, darah agak kehitaman mengalir dari luka tusukan pada perutnya.


Gra...


Laba-laba itu berusaha bangkit, tapi belum sempat mengangkat tubuhnya, Zhou Fan melompat dan menindih tubuh laba-laba berwajah manusia.


Blam!


Laba-laba tingkat delapan itu kembali terjerembab dan tak bisa bangun. Suaranya pun terdengar lemah, tak bisa berteriak seperti sebelumnya.


Zhou Fan melihat mata laba-laba di bawah kakinya masih bergerak-gerak, pedang terangkat dan langsung menusuk kepala laba-laba berwajah manusia.


Jleb!


Laba-laba berwajah manusia mati seketika, pedang darah malam hampir tak bisa menembus tempurung kepalanya. Sangat keras.


Namun dengan tambahan kekuatan serta tenaga dalam tusukan itu mampu menebus kepala, bahkan hampir menumpahkan isi di dalamnya.


Setelah memastikan kematian beast laba-laba berwajah manusia, Zhou Fan langsung terduduk di atas tubuh beast tersebut. Dia menyilangkan kaki dan memulihkan diri dengan mengkonsumsi beberapa pill pemulihan.


Selang beberapa lama Zhou Fan membuka mata, keadaan tubuhnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Meski tidak mendapatkan luka yang cukup serius, tetap harus dipulihkan.


Zhou Fan berdiri dan langsung turun setelah menyimpan pedang darah malam. Tak lupa ia menampung seluruh mayat beast yang ada di sekitar, hari ini adalah panen yang sangat besar, ia mengumpulkan lebih dari seribu mayat beast dari tingkat tujuh sampai delapan. Ia bahkan membutuhkan beberapa cincin untuk menampung mayat beast.


Sangat disayangkan tak satupun dari mereka adalah beast tipe es, sehingga tak menambah jumlah koleksi kristal beast yang masih bertahan tujuh buah.


...


Di kedalaman hutan flores, sesosok berjubah hitam duduk di atas sebuah batu besar.


"Bagus sekali! Puluhan tahun aku bersenang-senang, baru kali ini ada seorang yang menghentikan pasukanku bahkan sebelum masuk kota." Dengan sedikit perasaan marah sosok berjubah hitam bangkit dari duduknya, memandang ke arah Kota Zi.


"Nampaknya aku harus mencari tempat lain untuk bersenang-senang."


Tepat setelah itu sosok berjubah hitam pergi, tapi ia masih mengingat aura milik pengacau yang telah megacaukan kesenangannya. Ia bertekad, suatu saat nanti ia akan membalas dan menyelesaikan masalah di antara mereka.


"Suatu hari kita akan bertemu!"