
Zhou Fan menghentakkan kaki, melesat dengan pedang darah malam membentang.
Xuan Yu tak mau ketinggalan, dengan teknik pedang yang dia kuasai pria berumur tiga puluh lima tahun itu menyerang mencoba menjatuhkan. Namun upaya yang dia kerahkan belum mampu membuat Zhou Fan kewalahan, bahkan sekedar menarik serangannya.
Zhou Fan mengeluarkan gerakan teknik dewa pedang, teknik dewa pedang sendiri masing masing tingkatan terdiri dari empat gerakan dan Zhou Fan telah menguasainya dengan sempurna sampai tingkat ketiga.
Saat ini ia masih mengeluarkan teknik dewa pedang tingkat pertama, meski hanya empat gerakan tapi kekuatan yang ditampilkan benar-benar luar biasa.
Memang tidak lebih sempurna jika dibandingkan dengan kombinasi seluruh gerakan teknik dewa pedang, bahkan dapat dikatakan hanya tiga puluh persen dari kekuatan asli teknik tersebut. Namun tetap saja, teknik ini bukan teknik bertarung biasa.
Dentingan pedang terus terdengar, sayatan pun tak dapat terelakkan. Penonton bergemuruh menyaksikan, tak jarang berteriak lantang.
Beberapa waktu berlalu, tapi kedua pihak masih bertahan. Namun kondisi Xuan Yu lebih buruk, dengan beberapa luka sayatan yang bersarang di tubuhnya. Sedang Zhou Fan masih baik-baik saja, meski beberapa sayatan nampak jelas di pakaiannya.
Zhou Fan mengagumi Xuan Yu, tidak disangka teknik pedang milik tuan muda keluarga Xuan itu mampu memaksanya untuk mengeluarkan gerakan teknik dewa pedang tingkat kedua.
Sementara di sisi lain Xuan Yu mengatur nafasnya yang masih memburu. Namun nampak jelas, raut wajahnya sangat puas. Pertarungan seperti ini adalah pertarungan yang telah lama ia nantikan. Kalah memang itu sudah tidak penting baginya, ia hanya ingin mengeluarkan segenap kemampuan dan memberikan pertarungan yang lebih berkesan.
Zhou Fan melihat Xuan Yu menggerakkan pedang, tangan kanannya perlahan terangkat dan kembali menyerang.
Dari sana sudut bibir Zhou Fan terangkat, ia pun memberikan ruang untuk sang lawan menyerang. Namun bukan untuk memberikan kemudahan, dapat dikatakan itu adalah cara baru untuk menghadapi taktik baru lawan.
Xuan Yu menyerang dengan teknik yang sama, tapi ia memulai dengan cara yang berbeda, jika Zhou Fan tak merubah cara menghadapinya, ia akan sangat kewalahan.
Dan benar saja, Xuan Yu ini sangat cerdik. Pertukaran sebelumnya ia tidak hanya menyerang dan bertahan, tapi juga mengamati pergerakan lawan. Saat ini ia menerapkan apa yang sudah ia dapatkan. Namun sayang, Zhou Fan berpikir satu langkah di depan.
Xuan Yu terkejut, ia baru menyadari jika gerakan Zhou Fan berubah total. Sekarang ia tak bisa menggunakan cara yang sama, karena lawan pun telah mengubah pola gerakannya.
"Kau adalah lawan yang sulit, kau sangat cerdik." Zhou Fan berkata tanpa menghentikan serangannya, pedang darah malam terus menebas mengincar tubuh lawan.
Xuan Yu sambil menghindar membalas ucapan Zhou Fan. "Kau sangat jenius, dapat menebak apa yang ingin aku lakukan. Sungguh kehormatan bisa bertarung melawanmu."
Zhou Fan mengeratkan genggaman pedangnya, mengeluarkan gerakan teknik dewa pedang tingkat ketiga. Empat gerakan yang berbeda menghasilkan serangan yang berbeda. Ketika pedang darah malam bersentuhan dengan pedang lawan, getaran yang sedikit kuat membuat telapak tangan Xuan Yu berkeringat.
Namun ia tak mau menyerah, tetap meneruskan pertarungan.
"Sayang sekali aku tak punya terlalu banyak waktu untuk menghadapimu," batin Zhou Fan yang kemudian menebas maju ke depan.
Xuan Yu masih sempat membentangkan pedang menahan serangan Zhou Fan. Akan tetapi serangan Zhou Fan terlalu kuat, membuatnya terhempas hingga jatuh ke bawah.
Juri mengangkat tangan, mengesahkan Zhou Fan sebagai pemenang.
Xuan Yu membalas, meski kalah ia sama sekali tidak masalah. Karena ia kalah dari seorang yang akan meraih posisi pertama. Entah mengapa dia sangat yakin jika Zhou Fan yang akan memegang gelar juara, padahal masih ada Zhuge Liang dan juga Jing Tian yang merupakan kandidat kuat dalam turnamen antar klan.
Zhou Fan turun dan berdiri di samping Heng Biyu, mengabaikan tatapan semua orang yang memandang kagum ke arahnya.
"Mulai saat ini namamu akan semakin terkenal, dan mungkin setelah kau menjadi juara banyak wanita yang akan mendekatimu. Namun sayang, mereka akan kembali dengan menyesal." Heng Biyu menahan tawa saat berbicara, membuat Zhou Fan menyipitkan mata.
Namun Zhou Fan tetap diam, mencoba tak menghiraukan Heng Biyu.
Cih!
Heng Biyu berdecak kesal, ia tidak tahu apakah pria di sampingnya ini adalah pria normal. Jika memang benar-benar normal, apakah seorang pria bisa mengabaikan wanita yang jelas jelas berada di sampingnya. Terlebih dirinya termasuk wanita cantik, bukan hanya dia yang berkata demikian, tapi seluruh kota mengakuinya.
Turnamen berlanjut, satu persatu perwakilan bertarung demi memperebutkan tempat yang tersisa. Meski mereka telah berjuang sekuat tenaga, yang lolos juga hanya setengah dari mereka.
Akan tetapi yang telah kalah dalam babak kedua masih bisa berharap. Jumlah perwakilan pada babak kedua adalah tiga belas orang, jika dua belas saling bertarung akan mendapatkan enam kandidat yang melaju ke babak selanjutnya.
Satu orang yang tersisa akan langsung lolos ke babak ketiga, sementara perwakilan yang telah kalah dalam babak kedua masih dapat berharap dengan memperebutkan tempat kedelapan, dengan syarat mengalahkan seluruh perwakilan yang telah tersingkir dalam pertarungan bebas setelah babak kedua berakhir.
"Menurutmu siapa yang pantas mendapatkan tempat kedelapan?" Heng Biyu melirik Zhou Fan, kemudian memandang ke atas arena pertarungan yang sudah ada enam perwakilan yang akan bertarung dalam pertarungan bebas.
Zhou Fan melirik sekilas, kemudian menjawab dengan kalimat yang jelas dan padat. "Dia yang dapat bertahan sampai akhir pertarungan."
Heng Biyu menyipitkan mata, memandang dengan tidak suka. Siapa yang tidak tahu itu, bahkan anak kecil pun tahu dalam pertarungan bebas siapa yang bertahan dia akan menang.
Namun juga tidak dapat menyalahkan Zhou Fan, dia sendiri yang salah dalam bertanya.
"Aku harap Heng Gui dapat melaju ke babak selanjutnya," ucap Heng Biyu pelan.
Zhou Fan menggelengkan kepala, "Dengan kemampuannya, itu tidak mungkin. Namun jika dia mampu memanfaatkan keadaan, itu juga bukan tidak mungkin."
"Jika dia memiliki kesempatan yang rendah, lantas siapa yang akan lolos?" Heng Biyu bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tempat arena.
Sejenak Zhou Fan diam, membuat Heng Biyu terheran. Beberapa saat kemudian dia berkata. "Xuan Yu."
Mendengar nama Xuan Yu, Heng Biyu semakin tak mengerti. Mungkin Xuan Yu sempat menjadi kandidat juara, tapi setelah mendapatkan luka yang lumayan parah, ia ragu jika tuan muda keluarga Xuan itu dapat bertahan dalam pertarungan bebas.
"Mengapa kau berpikir jika dia yang akan mendapatkan tempat kedelapan?" tanya Heng Biyu ingin tahu.
Namun Zhou Fan malah tersenyum, "Karena aku memilihnya, dia yang akan melaju ke babak ketiga."