Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 113 : Menantang Tanpa Sungkan


Patriark Klan Heng mengedutkan bibirnya, tak ia sangka ada pria yang begitu memandang tinggi diri sendiri.


Namun jika diperhatikan, memang pria ini tampan rupawan, seperti yang dia bilang. Bahkan lebih tampan jika dibandingkan dengannya kala masih muda.


"Ya, namamu Zhou Fan. Tapi kenapa kau naik altar pertarungan?"


Zhou Fan menarik sedikit sudut bibirnya, "Patriark, pemilihan belum selesai. Aku akan mewakili Klan Heng dalam turnamen antar klan besar di Kota Hong."


"Lancang!"


Dari bawah seorang pria tua berseru dengan lantang, menunjukkan Zhou Fan dengan geram. "Siapa kau berhak memutuskan keputusan yang diambil oleh patriark. Lima kandidat telah diputuskan, itu tidak bisa diganggu gugat."


Zhou Fan melirik pria tua yang nampaknya adalah salah satu tetua. Belum sempat ia berkata, Heng Biyen mendahuluinya. "Tetua ketiga, mengapa kau begitu panik. Apakah kau khawatir posisi putramu akan tergeser?"


Mata Heng Ziya--tetua ketiga memerah marah. "Diam kau tetua kedua. Ini tak ada hubungannya denganmu."


Heng Biyen malah tertawa. "Tetua ketiga, lihatlah ia datang bersama siapa? Dia adalah tunangan putriku, dia akan mewakili Klan Heng dalam turnamen antar klan."


Heng Ziya menatap ganas Zhou Fan, sambil mengajati ia mencoba mencari tahu kekuatan pria yang diklaim sebagai tunangan Heng Biyu--putri Heng Biyen.


Ketika tak mendapati apapun selain lorong yang gelap gulita, pria tua itu menyipitkan mata. "Ada apa denganku, mengapa aku tak bisa melihat tingkat kultivasinya?"


Heng Ziya tak percaya, dia mencoba mengalihkan pandangan ke salah satu pemuda, dan ia dapat dengan jelas melihat tingkatan kultivasinya yang berada di petarung kaisar.


Sekali lagi pria tua itu memandang ke tempat Zhou Fan, tapi hasil yang dia dapatkan tak berubah, hanya sebuah lorong yang gelap, seolah ia berdiri di hadapan dinding yang tinggi dan besar.


"Dia pasti menggunakan sebuah benda pusaka yang dapat menghalangi penglihatan semua orang tentang basis kultivasinya." Heng Ziya mengangguk, kemungkinan ini yang sangat masuk pola pikirnya.


"Kau adalah tunangan Yu'er?"


Saat patriark klan bertanya, dengan ragu Zhou Fan mengangguk.


Huft...


Helaan nafas terdengar keluar dari dua lubang hidung patriark klan. "Pemilihan telah selesai, lima kandidat pun telah ditentukan. Sangat tidak adil jika menggantikan satu di antara mereka."


"Apakah kepentingan klan tidak begitu penting. Lagi pula siapa yang bertindak tidak adil, bukankah pemilihan adalah untuk memilih kandidat yang tepat. Jika begitu mengapa tidak menentukan dengan bertarung? Siapa yang terbaik akan terlihat saat 'berbincang' di atas altar pertarungan."


Mendengar ini patriark klan terdiam, dia sebenarnya juga penasaran tentang seberapa kuat Zhou Fan--seorang yang diagung-agungkan oleh tetua kedua.


"Baiklah, ini juga demi kebaikan klan. Oleh karena itu aku mengijinkan kau untuk menantang salah satu dari kelima kandidat." Mendengar patriark klan, seketika terbit senyum di wajah Zhou Fan.


Dengan begini kesempatan untuk mengikuti turnamen terbuka lebar dan yang paling utama jalan menuju kristal beast keenam semakin lancar.


"Aku memilih dia," ucap Zhou Fan sembari menunjuk salah satu kandidat dengan asal.


Setelah mengamati kelima kandidat, mereka tak lebih dari petarung senior, bahkan yang paling tinggi adalah petarung senior bintang lima. Memilih salah satu dari mereka secara asal juga tidak akan masalah baginya.


"Sial! Tetua kedua, kau pasti sengaja!" Heng Ziya sangat marah saat melihat putranya yang ditunjuk oleh Zhou Fan.


"Hahaha, apakah kau takut jika putramu kalah?" Heng Biyen tertawa begitu bahagia, dia sangat yakin jika Zhou Fan dapat mengalahkan Heng Su--putra Heng Ziya.


Zhou Fan sendiri tak tahu menahu, dia hanya asal menunjuk. Tak disangka itu adalah putra tetua ketiga, terua yang sejak tadi berkoar-koar tidak jelas.


Hal ini membuatnya semangat, seolah memilih lawan yang tepat.


"Kau tenang saja ayah, menghadapi seorang sepertinya aku hanya membutuhkan beberapa gerakan." Pria yang ditunjuk Zhou Fan melompat ke atas altar pertarungan.


Hanya petarung senior bintang tiga, begitu lantang mengatakan akan mengalahkannya dalam beberapa gerakan. Konyol!


Bukannya sombong, hanya saja melihat dari tingkat kultivasi itu sangatlah mustahil.


Sementara di bawah altar pertarungan Heng Biyen menahan tawa sekuat tenaga. Bayangkan saja, ia saja harus menyerah di tangan pemuda ini, tapi Heng Su sangat percaya diri akan menang. Sungguh tak tahu dalamnya lautan.


Meski sangat sulit untuk mengakui, memang Zhou Fan ini memiliki kekuatan tak terbayangkan, bahkan menyandingkan dengan patriark klan pun ia tak bisa menebak siapa yang akan memang jika keduanya bertarung.


"Apakah kalian siap?" Pertanyaan itu seketika menarik semua kata untuk memandang ke tengah altar pertarungan, kali ini yang menjadi penengah adalah patriark klan sendiri.


Zhou Fan mengangguk, begitupun dengan Heng Su.


"Aku akan mengalahkanmu dalam beberapa gerakan," ucap putra tetua ketiga itu sembari menarik pedang dari sarungnya.


Zhou Fan diam tak menanggapi, tapi sikapnya yang tenang itu malah membuat Heng Su semakin geram.


Mulai!


Ketika kata itu keluar dari mulut patriark klan, Heng Su tanpa segan menyerang. Dia mengeluarkan sebuah jurus yang ia sebut 'guntur penghancur'.


Namun serangan itu seketika hilang saat padang Zhou Fan bergerak menebasnya.


Mata Heng Su terbelalak. Namun ia menolak untuk percaya dan menipu diri dengan mengatakan 'hanya kebetulan'.


Trank!


Trank!


Duel pedang itu berjalan sengit, meski saat ini Zhou Fan sama sekali tak mengekuarkan serangan, ia sepenuhnya bertahan.


Lima enam tujuh delapan bahkan puluhan serangan telah berlalu, tapi tak satupun dari upayanya dapat meninggalkan goresan di pakaian sang lawan.


Wajah Heng Su berubah buruk, tapi ia tetap menyangkal jika dirinya tak cukup mampu untuk berhadapan dengan Zhou Fan.


"Kenapa, bukankah kau berkata dapat mengalahkanku dengan hanya beberapa gerakan." Zhou Fan tersenyum sinis, ia ingin menunjukkan kepada lawannya ini apa itu arti kekuatan. Jangan pernah menilai lawan sebelum mengetahui jelas kekuatannya.


Wosh...


Zhou Fan merangsek maju ke depan, Heng Su masih dalam keterkejutan, kecepatan Zhou Fan tidak berada dalam jangkauannya.


Whut...


Brak!


Dengan hanya satu serangan putra tetua ketiga itu terhempas keluar altar pertarungan. Semua mata terpusat lepada Zhou Fan, selain Heng Biyu serta ayahnya tidak ada yang mengira jika Heng Su akan kalah dengan telak.


"Su'er!" Heng Ziya langsung melesat ke tempat Heng Su berada, ia memangku kepala putranya itu.


Sejenak Heng Ziya memeriksa keadaan putranya, setelah memastikan hanya cedera biasa, dia bangkit dan naik ke atas altar pertarungan.


Patriark klan yang melihat kedatangan tetua ketiga langsung memasang badan. "Tetua ketiga, dalam pertarungan selalu ada kalah dan menang."


Heng Ziya melirik sekilas, kemudian mendengus dan kembali turun. "Seseorang dapat melukaiku, tapi melukai putraku, aku tak akan melepaskannya begitu saja!"


Bukan takut atau cemas, Zhou Fan tersenyum. "Tak bisa menerima kenyataan adalah sikap seorang pecundang!"