Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 77 : Hanya Satu Pukulan


Di salah satu klan Kota Chen, Zhou Fan serta Song Dayi duduk berbincang dengan patriark serta tetua klan tersebut.


"Senior, kita semua tahu jika Klan Song merupakan klan teratas di Kota Chen. Senior datang sendiri itu jelas merupakan niat tulus yang sangat murni, tentu kami akan ikut bergabung dengan pasukan pangeran ketiga."


Patriark begitu senang kedatangan orang nomor satu di kediamannya, mungkin ini adalah kali pertama terjadi, seorang Song Dayi mendatangi kediaman klan kecil seperti mereka.


"Pria tua ini begitu tersanjung dengan ketersediaan patriark klan, jika seperti itu kita mohon pamit, harus mendatangi lainnya." Song Dayi berdiri sambil menyatukan tinju, meski dia adalah orang nomor satu di kota, sikapnya benar benar pantas menjadi acuan.


"Tetua, sudah lima klan kita datangi, mereka semua setuju untuk bergabung, tapi keseluruhan itu adalah klan kecil. Tujuan kita selanjutnya adalah Klan Bu, salah satu klan besar." Zhou Fan mengamati peta yang merupakan denah klan di Kota Chen.


"Ya, dibandingkan dengan klan kecil, klan besar lebih mempunyai pendirian, tidak mudah meyakinkan mereka." Song Dayi melesat cepat, meninggalkan Zhou Fan yang masih bertahan dengan kecepatan sedang.


"Jim, saatnya kau keluar, kau terlalu lama bersantai." Zhou Fan menarik anjing kecil dalam saku jubahnya, seketika anjing kecil itu berubah menjadi serigala merah yang gagah.


Awu...


Zhou Fan mengendarai Zhou Jim, berlari mengimbangi kecepatan Song Dayi.


"Ternyata itu yang kau sembunyikan di balik jubah hitammu, meski aku menebak ada aura samar yang berbaur dengan tubuhmu, aku tak mengira itu adalah seekor beast serigala." Song Dayi melirik sambil melesat.


Zhou Fan menyipitkan mata, pria tua ini tidak terlalu terkejut atas keberadaan Zhou Jim, seolah kemunculan itu sudah diperkirakan sebelumnya.


"Pengalaman berbicara." Zhou Fan membatin sambil memalingkan pandangan ke depan.


Sekitar ribuan meter, dapat terlihat gerbang klan yang terbuka sebagian. Di atasnya terdapat tulisan 'Bu' yang tertera rapi dengan warna perak.


"Itu adalah Klan Bu, mungkin ini tidak akan segampang lima klan sebelumnya." Song Dayi menahan lajunya kakinya, tapi tak berhenti bergerak.


"Siapa?" Penjaga bertanya tanpa banyak bicara.


"Klan Song," ucap Song Dayi dengan tenang. Zhou Fan sekilas melihat wajah penjaga seketika berubah pucat, kemudian dengan cepat membuka gerbang selebar lebarnya.


"Siapa yang datang sampai begitu gaduh?" Seorang pria tua datang bersama dengan pria muda di sampingnya.


"Patriark Bu, lama tidak bertemu." Song Dayi tersenyum begitu hangat, bahkan langsung merubah air muka Patriark Klan Bu menjadi gugup.


"Ada hal penting apa sampai senior datang kemari?" Patriark Bu bertanya dengan tangan terbuka.


Song Dayi mengelus jenggotnya. "Tidakkah seharusnya kita mencari tempat yang lebih sesuai?"


Patriark Bu tertawa canggung. "Kau benar Senior Song, mari masuk, kita perbincangkan semua di dalam."


Song Dayi masuk bersama Zhou Fan, mengikuti Patriark Bu bersama seorang pria muda yang terlihat seperti putranya.


"Patriark Bu, aku langsung saja. Kedatanganku kali ini ingin mengajak Klan Bu bergabung dengan pasukan cucuku, pangeran ketiga. Bagaimana menurutmu?" Song Dayi menaikkan sedikit alisnya ketika Patriark Bu tak kunjung menjawab.


"Bukannya aku menolak, hanya saja kekuatan pangeran ketiga di antara pangeran lain adalah yang terlemah, jika kita diperkenankan memilih tentu tidak akan berpihak pada pangeran ketiga." Patriark Bu memperhalus perkataannya, setiap kata begitu hati hati agar tidak menyinggung Song Dayi.


"Senior, anda baru saja pulih, meski telah bisa bertarung aku tidak berpikir kau sudah cukup mampu menghadapi orang orang dari dua pangeran lainnya." Patriark Bu sekali lagi menolak.


"Patriark Bu, bagaimana kau bisa berpikir bahwa kekuatan kami sangat lemah, apa karena pihak lain masing masing memiliki tiga petarung suci?" Zhou Fan tak tahan hanya diam menyaksikan kejadian ini di depan mata kepalanya.


"Tidak ada yang lain? Apakah kau mau bertaruh, jika setuju kau harus menjadi bawahan yang patuh, jika kalah maka terserah apa keputusan yang kau buat."


Mata Patriark Bu menyipit mendengar perkataan Zhou Fan. "Bertaruh? Bagaimana kita bertaruh?"


"Mari kita bertarung." Zhou Fan mengatakan tanpa ekspresi wajah ragu, dia benar-benar yakin dengan apa yang dia lakukan.


"Aku tidak menindas junior, lawan putraku, jika kau kalah, maka maka segeralah pergi, jika kau menang seperti yang kau katakan." Patriark Bu melirik putranya yang duduk di sampingnya.


"Apa perlu pergi ke arena pertarungan?" Bu Qiong memandang Zhou Fan datar, ekspresi meremehkan terlukis di bibirnya.


"Tidak, ini akan berakhir dengan cepat." Zhou Fan tersenyum penuh arti, tapi perkataannya disalah artikan oleh Bu Qiong, mengira Zhou Fan telah menyerah bahkan sebelum pertarungan dimulai.


"Ayo mulai," ucap Zhou Fan yang sudah berdiri di bagian ruangan yang kosong.


Bu Qiong mendengus, kemudian mengeluarkan pedang. "Keluarkan senjatamu!" teriaknya ketika Zhou Fan hanya diam seolah meremehkan keberadaannya.


"..."


Zhou Fan tidak berkata apapun, ketika Bu Qiong melesat Zhou Fan menarik diri dan membuat Bu Qiong menerjang angin.


Trank!


Tebasan pedang hanya menebas permukaan lantai, serangan bahkan tak sekalipun mengenai tubuh Zhou Fan.


Bu Qiong menggeram marah, dengan teknik pedangnya dia mulai menyerang Zhou Fan yang sejak tadi hanya menghindar.


"Hahaha... Qiong'er telah mengeluarkan teknik bertarungnya, aku ingin lihat sampai sejauh mana pemuda itu dapat bertahan." Patriark Bu terlihat menikmati pertarungan antara putranya dengan seorang pemuda.


"Dia belum serius, jika ingin mengakhiri, hanya butuh satu serangan dan putramu akan jatuh." Song Dayi menggeleng sambil mengamati pertarungan.


Patriark Bu yang mendengar perkataan Song Dayi tentu tidak percaya, putranya adalah jenius yang mencapai petarung senior di umurnya yang ke tiga puluh dua tahun, itu sudah merupakan anugrah bagi klannya.


Pemuda yang melawan putranya terlihat lebih muda, apakah mungkin bisa mengalahkan putranya dengan satu kali gerakan seperti yang dikatakan Song Dayi, itu terdengar sulit dipercaya.


"Qiong'er, cepat selesaikan. Tak perlu bermain main lagi." Patriark Bu berseru dari tempatnya, dia tidak mengetahui jika Bu Qiong menghadapi kesulitan tersendiri.


Wajah Bu Qiong tampak pucat dengan keringat memenuhi wajahnya. Ketika terdengar seruan Patriark Bu, Zhou Fan tak lagi bermain main. "Ayahmu ingin kau segara menyelesaikan, biar aku bantu."


Bugh!


Zhou Fan mendorong telapak tangan, pukulan itu melesat masuk menghujam perut Bu Qiong. Tubuhnya terpental dan jatuh tepat di hadapan Patriark Bu, darah pun merembes dari sudut bibirnya.


Ekspresi Patriark Bu tampak aneh sekaligus bingung, bagaimana mungkin putranya dikalahkan oleh seorang pemuda. Perlahan dia melirik ke Song Dayi, dia mengingat perkataan yang mengatakan putranya akan kalah dalam satu kali gerakan.


Hal itu memang terjadi, kekuatan putranya tak sebanding dengan pemuda itu.


"Bagaimana, apakah kalian masih memandang rendah kami?" Zhou Fan berjalan dan duduk di tempat duduk semula.


Patriark Bu dengan cepat menggeleng. "Klan Bu memutuskan bergabung."