
Wajah Kasim Bo semakin buruk mendengar pernyataan wanita tua di hadapannya. Namun dia sadar tak ada jalan memutar, nampaknya hanya bisa berjuang agar dapat selamat dari kematian.
Pria tua itu memegang erat tombak di tangannya, "Semuanya, serang dia. Dengan jumlah kita, percayalah masih ada harapan mempertahankan nyawa!"
Tetua Yan tersenyum sinis.
Harapan? Itu jika dirinya masih berbelas kasihan. Namun tidak untuk sekarang, karena kematian orang orang ini telah ditetapkan.
"Teknik Pedang Kehidupan!" Tetua Yan bergumam pelan, bersama dengan itu pedang di tangannya mulai bergerak.
"I -- itu... " Mata Kasim Bo berkedip beberapa kali, "Itu adalah Teknik Pedang Kehidupan, ka -- kau dari Sekte Menara Es?!"
Tetua Yan terkejut saat kasim tua ini mengetahui teknik yang ia gunakan. Tak menyangka ada seorang di Kekaisaran Shao yang memiliki pengetahuan luas mengenai Sekte Menara Es.
Namun keterkejutan itu hanya bertahan sesaat, Tetua Yan kembali menggerakkan pedang dan melesat mengincar lawan.
Sling...
Desingan itu terus terdengar diiringi kepala yang satu per satu mulai meninggalkan tempatnya. Yang semula berjumlah ratusan kini terisa puluhan. Tak ayal hal ini membuat Kasim Bo panik bukan main.
"Pangeran, sebaiknya engkau pergi dari sini. Sementara aku akan menahan nya."
Pangeran pertama menggigit bibir bawahnya, ia tak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Ia tak tahu bagaimana bisa seorang dari Sekte Menara Es mempunyai hubungan guru-murid dengan salah seorang dari Klan Leng.
Ia sangat menyesal karena telah mengambil keputusan yang salah. Sekarang bukan hanya keselamatannya, tapi juga posisi pewaris takhta tak akan dapat dipertahankan. Nampaknya ia harus merelakan tempat tersebut kepada dua saudara lainnya.
"Pangeran, cepat pergi dari sini. Atau wanita itu menyadarinya dan akan buruk bagimu." Kasim Bo mengatakan dengan suara tertahan, dia tak mau memancing keributan dan membuat wanita tua di hadapannya mengetahui niatnya.
Pangeran pertama langsung mengeluarkan token teleleportasi, "Kasim Bo, aku tak akan menyiakan pengorbananmu. Aku akan -- "
Plash!
Sebuah lesatan angin menghempaskan token teleleportasi dari tangan pangeran pertama.
"Pangeran pertama?" Kasim Bo terkejut dan bahkan hendak melesat. Namun pangeran pertama mengangkat tangan.
"Aku tak apa, tapi token teleleportasinya... " Sembari berkata ia mencari kemana perginya token teleleportasi tersebut.
"Apakah kau mencari sesuatu?" Seorang pria muda berdiri membawa sebuah token di tangan kanannya.
Pangeran pertama yang melihat token teleleportasi langsung menengadahkan kepala memandang wajah pemuda di hadapannya. Namun siapa sangka jika wajah itu tidaklah asing.
"Kau -- "
Pangeran pertama menyipitkan mata, kemudian menunjuk dengan perasaan marah. "Kembalikan token teleleportasi milikku!"
"Setelah aku memberikannya, kau akan pergi? Itu akan terjadi jika aku cukup bodoh. Akan tetapi sangat disayangkan, aku tidak sebodoh itu."
"Zhou Fan, itu kan namamu?"
Pria muda itu mengangguk, "Apakah ada masalah, pangeran pertama?" ucapnya dengan senyum simpul.
"Baiklah, aku mengingatmu!" tukas pangeran pertama, wajahnya sudah memerah karena marah.
"Untuk itu harus lihat kemampuanmu." Zhou Fan mengeluarkan pedang dan langsung menyerang.
Kesempatan sudah di depan mata, bagaimana mungkin dia akan membiarkan pergi begitu saja.
Tetua Yan terkejut saat Zhou Fan ikut campur dalam pertarungannya, akan tetapi ia langsung mengerti saat melihat token teleleportasi di tangan nya. Andai tudak ada Zhou Fan, mungkin ia akan kehilangan lawan.
"Guru, biarkan aku membantu." Dari belakang Leng Shui melesat dan langsung menerjang puluhan orang yang masih tersisa.
"Sekarang hanya kau sendiri," Tetua Yan memandang Kasim Bo, pria tua itu sontak menggeram kesal.
"Jangan meremehkanku!"
Whut...
Trank!
Serangan itu dapat di hentikan dengan mudah, bahkan dengan hanya satu tangan.
"Aku tak meremehkanmu, hanya saja kau yang tak tahu diri." Setelah berkata, Tetua Yan mengibaskan tangan, membuat tubuh Kasim Bo jauh terlempar.
Di sisi lain, Zhou Fan berhadapan dengan pangeran pertama. Jauhnya jarak di antara mereka membuat pertarungan tidak seimbang.
"Mengapa dia bisa menjadi sekuat ini, padahal satu pertemuan dahulu dia masihlah petarung kaisar." Pangeran pertama membatin dengan wajah pucat, tubuhnya sudah tersemat banyak luka yang ditimbulkan pedang darah malam.
"Pangeran pertama, sebaiknya kau menyerah."
"Apakah jika aku menyerah akan tetap hidup?" Pertanyaan itu membuat Zhou Fan termenung.
"Tentu saja tidak, tapi setidaknya kau dapat berpulang dengan tenang." Zhou Fan tersenyum, memanggul pedang di pundak sebelah kanan.
Cih!
Pangeran pertama meludah ke samping, "Jika begitu apa bedanya!" Sambil berkata ia melesat membentangkan pedang.
Heh...
Zhou Fan menarik sedikit sudut bibirnya, padahal ia sudah memberikan keringanan. Namun upaya itu disia-siakan. Dasar tidak berperasaan!
"Karena itu yang kau pilih, maka aku tak perlu menahan." Pria muda itu melesat setelah berjata demikian. Pedang darah malam menodong ke depan, berkas merah samar terpancar keluar.
BLAR!!
Ketika dua senjata beradu, ledakan yang dahsyat terdengar. Tubuh pangeran pertama terhempas jauh menghantam dinding bangunan, sementara Zhou Fan masih berdiri dengan pedang di tangan.
"Pangeran pertama!"
Kasim Bo berteriak dari tempatnya, wajahnya tak bisa dijelaskan.
"Pak tua, kau masih memiliki lawan. Beraninya kau berpaling!"
Jleb!
Sebuah pedang menembus tubuh Kasim Bo, darah mengucur keluar dari perut pria tua tersebut. "Ka -- kau!" Matanya melotot marah, perlahan ia membalikkan pandangan, menatap wanita tua yang berdiri tepat di depan tubuhnya.
Crash...
Tetua Yan menarik pedangnya, seketika tubuh Kasim Bo jatuh ke tanah. "Pengabdian terlalu dalam juga bukan merupakan kebaikan."
Di sisi lain Leng Shui telah berhasil menyelesaikan bagiannya. Pasukan yang berjumlah ratusan orang dibantai oleh tiga orang, sungguh di luar nalar.
"Mengapa tidak membunuhnya, selama dia masih bernyawa, dendam ini masih tersisa." Leng Shui melirik tubuh pangeran pertama yang masih bernafas.
Wanita muda itu berniat membunuh pangeran pertama dengan sebilah pedang di tangannya. Namun hal itu dihentikan Zhou Fan. "Aku mengerti dendammu, tapi kau tak bisa membunuhnya."
Leng Shui menyipitkan mata, menatap Zhou Fan dengan tatapan sengit. "Apa maksudmu, apakah kau berniat melindunginya?"
"Tidak, aku tidak melindunginya. Dan dia akan mati, tapi tidak untuk saat ini."
Mendengar jawaban Zhou Fan, Leng Shui berdecak kesal. Dia kemudian beralih kepada sang guru. "Guru, ...."
"Shui'er, bagaimanapun dia adalah pangeran Kekaisaran Shao. Juga percayalah kepada junior Zhou, dia pasti akan menapati ucapannya."
Jawaban Tetua Yan sangat tidak memuaskan bagi Leng Shui, bagaimana dia bisa percaya terhadap Zhou Fan yang notabene pernah menyekapnya semalaman. Bahkan dia belum memperhitungkan masalah tersebut sampai sekarang.
"Tiga bulan, dalam kurun waktu tersebut kau akan mendengar kabar kematian nya. Itu adalah janjiku sebagai seorang petarung. Untuk saat ini dia masih berguna, jadi biarkan aku membawanya." Zhou Fan mengangkat tangannya untuk bersumpah.
Hal ini membuat Leng Shui termenung, tak lama dia membalikkan badan. "Baiklah, aku harap kabar kematian itu akan menyebar sampai ke Kekaisaran Han."