Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 189 : Klan Chu Terdiam


Zhou Fan berkelebat cepat menuju kediaman Klan Chu, tak sekalipun ia mengalihkan pandangan, menatap ke depan dengan sorot mata tajam.


Dalam beberapa waktu ia telah menginjakkan kaki di wilayah Klan Chu. Di depan gapura terdapat dua orang penjaga, tanpa basa-basi menyerang menghempaskan mereka.


Blar!


Bangunan hancur tertimpa tubuh dua penjaga, beberapa orang berlarian karena mendengar suara keributan.


Mata Zhou Fan berpendar, melihat beberapa penjaga datang langsung mengeluarkan serangan. Tak main-main, satu tebasan empat lima orang terlempar.


"Laporkan kepada patriark serta tetua klan." Seorang penjaga berkata kepada rekannya, satu rekan pergi melapor masalah ini.


Zhou Fan mengayunkan pedang, penjaga yang hendak melapor terhempas puluhan langkah jauhnya.


"Katakan kepada Chu Tian, aku--Zhou Fan telah datang!" Sorot mata sangat kelam, amarah sudah mencapai titik didih dalam kepala.


"Kau siapa, tidak semua orang dapat bertemu dengan tuan muda." Penjaga berkata marah, mencaci Zhou Fan.


Zhou Fan mengepalkan tangan, melesatkan serangan menghujam penjaga yang banyak bicara. "Cerewet! Panggil saja Chu Tian datang kemari."


Penjaga itu bangkit dengan mulut mengeluarkan darah, meski berjalan pincang pergi melaporkan masalah ini kepada Chu Tian. Tapi tidak terbatas pada Chu Tian, tentu saja tetua serta patriark harus mengetahuinya.


Beberapa saat kemudian puluhan orang datang, Zhou Fan mengenali mereka sebagai patriark Klan Chu--Chu Xiang. "Kau siapa, beraninya mencari masalah dengan Klan Chu!"


Zhou Fan tak menanggapi perkataan Chu Xiang, dengan senyum sinis dia berkata. "Chu Tian--putramu, panggil dia!"


"Lancang! Perhatikan ucapanmu, atau kau tak akan keluar dari wilayah Klan Chu dalam keadaan selamat." Seorang tetua menunjuk Zhou Fan dengan murka, harga diri klan tengah dipertaruhkan di hadapan banyak pasang mata.


Sementara Chu Xiang sendiri wajahnya telah memerah kesal, bagaimana mungkin dia yang seorang patriark diabaikan oleh seorang pria muda. Sungguh tak bisa dibiarkan!


Hem...


Zhou Fan meremas kertas di tangannya, melempar ke arah Chu Xiang. "Jika putramu tak keluar juga, jangan salahkan aku tak menjamin keselamatannya."


Chu Xiang menangkap kertas yang melayang ke tempatnya, perlahan ia membuka dan membaca dengan sekilas. Kening bertahap mengerut, ia kemudian membuang kertas itu. Saat akan berkata, sebuah suara membuat kalimat menggantung di ujung bibirnya.


"Ayah, tunggu!"


Itu adalah Chu Qingyin, dia tertinggal begitu jauh dengan Zhou Fan. Hal ini mengungkap sebagian kecil kekuatan Zhou Fan di matanya.


Chu Xiang yang melihat sang putri datang dengan tergesa-gesa pun menoleh untuk memandangnya.


Chu Qingyin telah berada di samping ayahnya, menjelaskan jalan cerita menurut pandangannya. Kemudian tak lupa menjelaskan tentang identitas Zhou Fan yang memiliki hubungan dengan gedung alkemis.


Mata Chu Xiang melebar, dia memandang lekat mata sang putri. "Yin'er, apakah kau yakin?"


Chu Xiang memijit kening, kemudian menarik nafas dalam-dalam. "Panggil Tian'er kemari!" perintahnya kepada beberapa orang penjaga, mereka langsung ketar-ketir kembali ke kediaman Klan Chu memanggil Chu Tian.


Sementara Zhou Fan bergeming di tempatnya, pedang telah memancarkan aura mencekam yang siap memenggal kepala lawan. Dia tak masalah jika harus bertarung menghadapi mereka semua, persetan dengan patriark klan. Maju bersama sekalipun ia tak akan gentar.


"Ini hanya kesalahpahaman, aku akan membantumu mendapatkan serigalamu." Chu Qingyin mencoba menenangkan Zhou Fan, masih teringat jelas dalam ingatan aura mematikan yang membuatnya sesak bernafas. Kekuatan itu mungkin lebih kuat dari ayahnya yang kini berada di tingkat petarung suci bintang enam.


Zhou Fan sama sekali tak memberi tanggapan, hanya diam menunggu kedatangan Chu Tian. Baginya yang dikatakan Chu Qingyin sama sekali tak berarti, selama Zhou Jim belum kembali maka tak ada hal yang perlu dibicarakan.


"Zhi Long, apakah itu tuan muda?" Ciu San meletakkan kendi arak di tangannya, berdiri dengan terburu-buru.


Zhi Long mengangkat bahu, tapi tetap berdiri mengikuti Ciu San. "Kita harus memeriksanya!"


Bukan hanya Dua Kapak Kembar, Huo Yu yang mendengar kabar ini seketika menghentikan proses pembuatan pill. Ia tak peduli walau kehilangan bahan-bahan berharga, dengan cepat menuju keriaman Klan Chu.


Dia berpikir tidak ada pria muda lain yang dengan berani datang ke wilayah Klan Cu membuat keributan. Hanya Zhou Fan, sosok yang paling ia hormati. Juga tentang serigala, ia tentu ingat saat menunggu tiga bulan di depan pintu ruangan Zhou Fan. Saat itu ia duduk bersama dengan seekor serigala yang merupakan beast tingkat delapan.


"Ketua, engkau hendak kemana?" Cing Xu menghentikan Huo Yu yang nampak cemas, selain dirinya ada juga beberapa alkemis yang kebetulan melintas.


"Kabar pemuda menyerang Klan Chu, tidak salah lagi, dia adalah junior Zhou. Aku akan ke sana untuk melihatnya."


Mendengar ini Ching Xu menyipitkan mata, dengan tekad kuat ia berkata. "Ketua, aku akan ikut bersamamu. Meski sempat terjadi perselisihan di antara kami, aku telah mengakui keberadaannya."


Beberapa alkemis lain pun setuju, berniat ikut menuju ke kediaman Klan Chu.


Kembali ke wilayah Klan Chu...


Zhou Fan yang lama menunggu mulai tak sabar, dia memandang Chu Xiang. "Di mana putramu, jika dia tidak muncul. Maka dia akan merasakan akibatnya!"


Chu Xiang mengeratkan gigi tak bisa menjawab, bersamaan dengan itu Chu Tian datang bersama dengan beberapa peniaga yang menjemputnya.


"Ayah, ada apa?" Chu Tian belum menyadari keberadaan Zhou Fan, berjalan menuju ke tempat sang ayah.


"Di mana serigala ku?!"


Chu Tian memalingkan pandangan, melihat Zhou Fan yang berdiri di seberang. Senyum sinis keluar, kemudian berkata. "Ternyata kau berani datang, jangan pikirkan serigalamu. Hari ini adalah hari kematianmu!"


"Tuan muda?" Dari belakang Ciu San dan Zhi Long muncul, mereka langsung berdiri di samping Zhou Fan.


Zhou Fan hanya melirik sekilas, kemudian kembali memandang Chu Tian dengan tajam.


"Hanya dengan kau dan dua orang itu, tetap tidak akan mampu -- "


Plak!


Tamparan keras menghujam pipi bagian kanan Chu Tian. Pria berusia tiga puluhan tahun itu terdiam memandang tangan sang ayah. "A-ayah, kau?!"


"Diam kau! Di mana serigala itu?!" tanya Chu Xiang dengan marah. Ia tak habis mengerti bagaimana bisa putra sulungnya mencari masalah dengan orang yang memiliki hubungan dengan gedung alkemis, ini jelas merupakan hukuman pancung bagi seluruh klan.


"Ayah, dia hanya bertiga. Apa yang kau khawatirkan. Lihat, jumlah kita begitu banyak, kau adalah petarung suci bintang enam." Chu Tian mengelus pipi yang merah, masih tak percaya ayahnya menamparnya hanya karena masalah sepele.


Namun, masalah yang ia anggap sepele itu merupakan bom ranjau yang dapat menghancurkan Klan Chu.


"Bertiga? Hitung kami juga, mungkin dapat merubah pandanganmu." Belasan orang datang, mata semua orang terbelalak melihat siapa mereka.


"Junior, pria tua ini datang membantu." Sikap Huo Yu yang begitu hormat membuat Chu Xiang serta tetua lain Klan Chu terkejut.


Bahkan kaisar saat bertemu dengan Huo Yu pun harus berhati-hati dalam berkata, tapi ketua gedung alkemis itu bersikap begitu hormat kepada seorang pemuda. Identitas seperti apa yang dimilikinya.