
Mereka kembali berpindah tempat, mungkin lebih tepatnya latar suasana berganti menjadi sebuah altar yang megah. Pandangan Zhou Fan tanpa sengaja tertuju pada sebuah bongkahan batu dengan tulisan kuno di permukaannya.
Perlahan kedua kaki melangkah, mendekati bongkahan batu besar yang ada di hadapannya.
"Apakah itu adalah prasasti yang sesungguhnya?" Leng Shui mencoba membaca tulisan kuno yang ada di sana, tapi lidah dan pikiran seolah tak bisa disatukan. Semua kacau tak dapat dikendalikan.
Namun Leng Shui tak patah semangat, ia kembali memusatkan indra persepsi untuk mengurai isi di dalam prasasti. Namun tetap sama, pikiran seolah kosong dan kata yang ia gumamkan sama sekali tidak beraturan.
Zhou Fan menyatukan alis hingga hampir bertautan. Jika memang benar di hadapan mereka ini adalah prasasti yang dimaksud, tentu tak akan semudah membalikkan tangan untuk memecahkannya.
Sambil terus menengadahkan kepala, Zhou Fan duduk bersila berusaha memahami makna inti dari prasasti.
Mereka di sana untuk waktu yang lama. Sementara di altar peninggalan dekat tugu batu, perselisihan mulai memanas dan konflik semakin menjadi. Sian Ying sangat berambisi mengambil tugu batu yang ia kira adalah prasasti, tapi Sian Hui dan juga kelompok sekte menara es menjadi tembok besar yang menghalangi tujuannya.
"Tetua Yan, Shui'er tak ditemukan keberadaannya. Apakah mungkin dia tak sampai ke tempat ini?" Seorang tetua yang datang bersama Yan Yu menyampaikan hasil pencariannya.
Yan Yu yang mendengar hal ini sontak menoleh dengan terkejut. "Bagaimana mungkin!" Leng Shui merupakan calon matriark sekte menara es, jika sampai terjadi sesuatu terhadapnya akan ada hukuman untuknya.
"Kalian semua dengar, bagaimana jika tugu batu ini kita bagi dengan adil. Masing-masing dari kita diberikan waktu untuk membawanya kembali." Sian Ying tak punya pilihan lain, lebih baik memikirkan cara agar dua pihak lain setuju kemudian cari cara lain untuk manipulasinya.
Sian Hui berpikir itu hanya trik Sian Ying, tapi dia juga tak punya pilihan lain karena jika bertarung pigaknya yang paling tidak diuntungkan. Sementara Yan Yu tak begitu mendengar karena perhatiannya hanya kepada keberadaan Leng Shui yang masih belum ditemukan.
"Tetua Yan, bagaimana menurutmu?" Pertanyaan Sian Ying membuat Yan Yu tersadar, tapi ia yang tak mendengar tentu tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Tiga bulan tugu batu akan ada di kediaman ku, kita masing masing mendapat jatah tiga bulan. Bagaimana?"
Perkataan Sian Ying membuat Yan Yu terdiam, saat akan menjawab tugu batu kembali bersinar dan nampak semburat garis halus yang semakin menyebar dan menyelimuti seluruh permukaan tugu batu. Sontak hal ini membuat mereka semua yang ada di sana membelalakkan mata.
"Tugu batu akan hancur, tugu batu akan hancur!" ucap salah seorang dari mereka.
Benar saja, baru beberapa saat ratakan di tugu batu semakin jelas dan hancur berkeping-keping. Wajah semua orang termasuk Sian Ying mematung tak percaya, perasaan marah serta kesal merasuki tubuhnya. Mereka telah lama menunggu di sini, tapi tugu batu hancur. Apakah mareka harus kembali dengan tangan kosong!
Kembali ke tempat Zhou Fan, dia masih berusaha memahami tulisan kuno yang ada di permukaan prasasti.
Wosh... Wosh...
Udara di sekitar prasasti melonjak tinggi, Zhou Fan yang masih memandang batu prasasti pun seolah mendapat pencerahan dan bertahap bisa mengerti tulisan yang ada di sana. Ekspresi nampak terkejut, tapi tak ada waktu untuk bertanya, lebih baik segera menyelesaikan sekarang juga.
Leng Shui melihat Zhou Fan yang duduk dengan tenang, kemudian pandangan kembali ke batu prasasti. Mata terbelalak karena tulisan kuno yang ada di permukaan batu prasasti tak lagi terlihat. "Di mana tulisannya?" batinnya sambil bangkit dari duduk.
Ia bingung mencari, ketika melihat Zhou Fan yang duduk bergeming pun merasa curiga. "Apa ini ada hubungannya dengannya?" Tak ada orang lain selain mereka. Jelas bukan dirinya, jika bukan Zhou Fan siapa lagi.
Leng Shui menunggu Zhou Fan membuka mata karena tak mau mengganggu. Namun menunggu adalah hal yang paling membosankan, karena yang ditunggu tak segara membuka mata.
Waktu terus berlalu meski langit di tempat mereka tak sekalipun berganti. Entah sudah berapa lama sejak Zhou Fan duduk di tempatnya, mungkin sudah satu atau dua hari ia di sana. Leng Shui sama sekali tak beranjak, memanfaatkan waktu dengan berkultivasi.
Perlahan mata Zhou Fan terbuka, melihat Leng Shui yang duduk bersila dengan kondisi mata terpejam. Sekali lihat ia tahu bahwa wanita di hadapannya tengah berkultivasi.
Zhou Fan menengadahkan kepala, melihat tulisan di batu prasasti lenyap tak bersisa. "Mana ku tahu. Kau juga ada di sini, seharusnya kau tahu kemana hilangnya tulisan dalam batu prasasti."
Zhou Fan bangkit kemudian merapikan pakaiannya. Dia berjalan mendekati batu prasasti, menoleh kepada Leng Shui. "Ayo kita keluar,"
Leng Shui menyipitkan mata, "Keluar? Apakah kau mengetahui caranya?"
Zhou Fan mengeluarkan plakat segitiga, kemudian menempelkannya di batu prasasti. Dengan ajaib sebuah cahaya seperti portal tercipta di sana.
Leng Shui terheran, tak tahu dari mana Zhou Fan mengetahui cara keluar. Meski begitu ia mengikuti Zhou Fan dan berjalan keluar.
Blush...
Uh!
Zhou Fan bangun sambil mengekus kepala, melihat ke sekitar ternyata mereka kembali ke tempat sebelumnya. Tapi tak lagi terlihat orang-orang di sekitar, keduanya berada di ruangan yang tidak terlalu luas.
Auk!
Zhou Fan membalikkan badan, melihat Zhou Jim yang begitu senang menjumpai dirinya telah bangun. Tak lagi menghiraukan serigala itu, Zhou Fan kembali mengeluarkan plakat segitiga dan mengangkatnya setara dada.
Tak berselamg lama cahaya kebiruan menelan tubuh mereka dan hilang seketika.
Wosh...
"I-ini ... !" Leng Shui tak percaya, sebelumnya mereka berada di sebuah ruangan, tapi kali ini ada di sebuah hutan. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya kepada Zhou Fan.
"Kita sudah keluar." Jawaban yang santai membuat mata Leng Shui terbelalak.
"Apa! Bagaimana mungkin! Lalu bagaimana dendengan mereka yang sebelumnya masuk ke dalam altar peninggalan, mereka ... Apakah mereka baik-baik saja?"
"Mereka sudah keluar, mungkin juga telah kembali." Sekali lagi jawaban Zhou Fan sangat meyakinkan, seolah tahu apa yang terjadi sebelumnya. Hal ini menarik kecurigaan dalam benak Leng Shui.
"Sekarang aku yakin, tulisan kuno yang hilang ada hubungannya denganmu. Kau tiba-tiba tahu bagaimana cara keluar, juga tahu keadaan mereka yang masuk ke dalam altar peninggalan."
Zhou Fan diam tak menjawab, membuat Leng Shui semakin yakin atas pendapatnya.
"Memang ada hubungannya denganku, tapi keberadaan teknik ini tak ada yang boleh mengetahuinya atau suatu yang buruk akan terjadi." Zhou Fan berkata dalam hati.
"Sekarang kita berada di mana?" Langit hutan sudah gelap, cahaya hanya datang dari sinar bulan. Andai kata pohon di sini sangat lebat, mungkin tak ada cahaya yang sampai ke tempat mereka.
"Kita berada di sekitar Desa Huan, tak jauh dari munculnya gerbang masuk menuju altar peninggalan." Mata Zhou Fan tiba-tiba menjadi siaga, dia merasakan kedatangan seseorang. Tanpa banyak berkata menarik Leng Shui untuk bersembunyi.
"Apa yang kau lakukan!" Leng Shui memberontak, tapi Zhou Fan menyuruhnya untuk diam. Mau tak mau dia harus diam karena kekuatan mereka terlalu jauh perbedaannya.
Tak lama suara langkah kaki semakin jelas terdengar, terlihat seorang wanita mengenakan cadar berjalan bersama belasan orang lainnya.