Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 135 : Markas Bajak Siluman


"Cepat katakan!" desak Zhou Fan kepada pria paruh baya.


Pria paruh baya berkeringat dingin, merasakan kakinya masih gemetar. Bagaimana tidak, keempat rekannya yang mempunyai kultivasi setara dengannya dihabisi dalam satu kali gerakan. Hal semacam itu bukan suatu yang dapat dilakukan orang biasa.


Glek!


Sambil meneguk ludahnya pria paruh baya mengatur nafas. Tidak ada pilihan lain selain mengatakan keberadaan markas mereka. Kematian adalah satu hal yang paling menakutkan.


"Markas kami berada di Pulau Rote, masih wilayah Kota Dianlan. Berada sekitar lima belas mil dari bibir pantai." Pria paruh baya melirik wajah Zhou Fan, ketika nampak ketidakpuasan, dia dengan cepat menyambung perkataannya.


"Pulau ini sangat mudah ditemukan, karena terdapat banyak sekali pohon kelapa, bahkan setiap jengkal tanah di sana ditumbuhi pohon kelapa." Sekali lagi pria paruh baya melirik Zhou Fan, helaan nafas lega terdengar ketika memastikan jawabannya cukup memuaskan.


Untuk beberapa waktu Zhou Fan hanya diam, tak memberikan tanggapan. Namun pria paruh baya sudah tidak tahan, ia seolah menahan buang air ketika bertatapan dengan Zhou Fan. Harapannya adalah agar bisa pergi secepat mungkin dari tempat ini.


"Tuan, aku telah mengatakan semua yang engkau butuhkan. Dapatkan pria tua ini pergi?" Akhirnya ia memberanikan diri untuk berkata setelah menunda cukup lama.


Zhou Fan melirik sekilas, kemudian menggeleng. "Tidak sampai kau menunjukkan jalannya, bawa kami ke sana."


Pria itu langsung berkeringat mendengar ucapan Zhou Fan. Tidak mungkin baginya membawa musuh untuk berkunjung ke markas persembunyian, dia bisa mati mengenaskan di tangan ketuanya.


Ini jelas adalah pilihan yang sulit, bagai makan buah simalakama tidak ada pilihan membuatnya terhindar dari masalah.


"Kenapa diam, kau tak mau menunjukkan di mana markasnya?" Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, membuat pria paruh baya itu menggelengkan kepala dengan cepat.


"Tidak tuan tidak tuan, aku akan menunjukkannya." Pria paruh baya berpikir nyawanya lebih penting, masalah berhadapan dengan ketuanya, ia dapat memikirkan masalah itu saat terlepas dari pria ini


Zhou Fan melirik ke belakang, Yin Cun bangun dan berdiri dengan beberapa luka di tubuhnya. "Dasar sialan, sekarang kau tahu rasanya takut?!"


Pria paruh baya menggertakkan giginya dengan kesal. Andai tidak ada bantuan, nyawa pria ini telah tiada di tangannya.


Ugh...


Yin Cun meringis, menengadahkan kepala. "Itu menyakitkan," keluhnya kepada Zhou Fan.


"Jika kau tidak diam aku akan menekannya lebih keras."


Mendengar ancaman Zhou Fan, Yin Cun menepikan tubuhnya, menyembunyikan luka di balik kedua tangan.


Zhou Fan kembali beralih ke pria paruh baya, "Sekarang tunjukkan tempat markas berada!"


Pria paruh baya mengangguk dengan cepat, kemudian mengajak Zhou Fan kembali ke pesisir pantai.


"Tuan, kita membutuhkan kapal."


Mendengar perkataan pria paruh baya, Zhou Fan menyipitkan mata. "Ciu San, Zhi Long, kalian cari kapal. Mungkin di sekitar pesisir kalian akan mendapatkannya."


Dua Kapak Kembar mengangguk, kemudian berpencar mencari kapal. Zhi Long bergerak ke kanan, sementara Ciu San ke arah kiri.


Selama beberapa lama Zhi Long kembali, nampak dari wajahnya yang nesu Zhou Fan dapat menebak jika ia tak mendapatkan kapal. Namun mereka masih memiliki harapan, akan tetapi yang diharapkan tidak kunjung datang.


"Kemana saudaramu itu?" tanya Zhou Fan kepada Zhi Long.


Zhi Long mengangkat kedua bahunya, ia benar-benar tak tahu di mana Ciu San.


Zhou Fan berdecak kesal, sudah cukup lama Ciu San pergi tapi tak kunjung kembali. "Zhi Long, kau cari -- "


"Tuan muda!"


Baru saja Zhou Fan akan menyuruh Zhi Long mencari saudara kembarnya. Tapi dari arah pantai sebuah teriakan terdengar. Mereka mengalihkan pandangan, melihat seorang pria berdiri di atas kapal sambil melambaikan tangan.


Zhi Long menutup wajahnya, sementara Zhou Fan menggelengkan kepala.


"Tuan muda, aku telah mendapatkan kapal." Ciu San sekali lagi berteriak dan kapal semakin mendekat.


Zhou Fan melompat, meski jarak masih lumayan jauh sama sekali bukan masalah bagi seorang kultivator sepertinya.


Yin Cun mengikuti Zhou Fan, sama halnya dengan Zhi Long serta Zhou Jim. Tak ketinggalan pria paruh baya yang tak berani untuk melarikan diri, dia sadar tak akan bisa lari walau dia ingin, jadi satu-satunya harapan dengan mengikuti apapun perkataan Zhou Fan.


"Kau, tunjukkan jalannya." Zhou Fan menunjuk pria paruh baya yang langsung mendekat ke tempat nahkoda kapal.


Kapal berangkat, menuju pulau rote--markas bajak siluman.


Kapal memang tidaklah besar, bahkan dapat dikatakan kecil dan hanya muat untuk belasan orang. Namun, itu lebih dari cukup untuk mengantar Zhou Fan serta yang lain menuju tempat tujuan.


Waktu terus berlalu dan kapal mendarat di sebuah pulau yang dipenuhi pohon kelapa. Memang seperti penjelasan pria paruh baya, hampir setiap jengkal pulau terdapat pohon kelapa.


Kapal menunggu di sana, sementara Zhou Fan serta yang lain turun. "Di mana letak markasnya?"


Pulau rote bukan pulau yang kecil, tanpa petunjuk akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari keberadaan markas bajak siluman.


Pria paruh baya sedikit ragu saat menunjukkan jalan, ia masih khawatir bagaimana nasibnya jika harus berhadapan dengan kelompok bajak siluman. Terlebih ia datang dengan membawa kejutan.


Dalam keraguan tanpa sadar langkahnya telah membawa mereka semua ke depan sebuah gerbang yang tinggi. Zhou Fan mengamati dengan seksama, ia mengangguk membuat pria paruh baya tersenyum senang.


"Tuan, karena telah sampai. Dapatkah aku pergi?" Dia sangat buru-buru


Hem...


"Kau buka gerbangnya," pinta Zhou Fan kepada pria paruh baya itu, tapi ia ragu untuk melakukannya.


Namun desakan Zhou Fan serta bayangan kematian membuat pria paruh baya itu menyerah, perlahan membunyikan lonceng yang ada di gerbang. Beberapa saat sebuah celah dari gerbang terbuka, ukurannya hanya selebar telapak tangan.


"Siapa?" tanya penjaga gerbang.


"Ini aku," ucapnya sambil menunjukkan sebuah token yang membuktikan bahwa ia adalah bagian dari bajak siluman.


Pria yang berjaga percaya begitu saja, ia membuka gerbang. Namun yang terlihat adalah, di belakang rekannya, ada satu kelompok yang berdiri dengan senjata di tangan mereka.


Crash!


Tak sempat untuk menghindar pria itu terjatuh dengan tusukan tepat di bagian dada. Nafasnya sudah tak teratur, meski begitu sorot matanya menatap tajam pria paruh baya.


"Kau penipu, kau pengkhianat!" Darah menyembur dari mulutnya, tepat setelah itu ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Zhou Fan masuk, menerjang gerbang hingga hancur berantakan.


Matanya berpendar mengintai keadaan, kemudian berpencar membagi pasukan. Ia bersama dengan Yin Cun serta Zhou Jim bergerak ke arah kanan, sementara Dua Kapak Kembar bergerak ke kiri.


"Siapa kalian?!"


Baru beberapa puluh langkah Zhou Fan bergerak dari tempat berpisah, belasan orang menghadang perjalanannya.


"Mereka pasti penyusup, serang mereka!"


Zhou Fan melesat dengan dua tapak yang sudah bersiap menyerang, satu dua pukulan satu lawan terlempar. Gubuk gubuk kayu yang berdiri kokoh langsung ambruk begitu sebuah tubuh menerjang dengan keras.


Yin Cun berkelebat dengan tongkat andalannya, menyabet lawan memukul kepala. Hanya dalam waktu singkat belasan orang dapat dikalahkan.


"Terlebih dahulu kita cari tempat di mana mereka menempatkan tawanan." Zhou Fan mengingatkan Yin Cun, kemudian kembali menelusuri markas yang ternyata sangat luas.