
"Keras kepala," cibir Jing Tian dengan ekspresi menghina.
Namun Heng Gui hanya menutup telinga, ia sudah memutuskan untuk tetap bertarung walau kekalahan menjadi akhir baginya.
Hng!
"Aku harap kau tidak menyesal!" Jing Tian menungga juri memulai pertarungan babak kedua.
"Mulai!" Ketika pria paruh baya berseru, tanpa membuang waktu lebih banyak keduanya melesat.
Heng Gui tahu ia memiliki peluang rendah untuk memang, tapi ia berpikir, meski harus kalah juga harus kalah dalam pertarungan. Bukan kalah sebelum dimulai.
Trank!
Trank!
Dentingan dua senjata yang saling beradu itu membuat darah para penonton berdesir tak karuan. Tagang tapi menyerukan, begitulah mereka menyaksikan jalannya pertarungan.
"Dia tidak akan bertahan," ucap Zhou Fan sembari menggelengkan kepala.
Gumaman pelan itu membuat Heng Biyu memalingkan pandangan. "Apakah sebegitu besar jarak di antara mereka?"
"Heem, jarak antara petarung suci dengan senior bukan suatu yang dapat diimbangi dengan tekad dan kerja keras. Tanpa mempunyai kelebihan yang jelas, mustahil mengalahkan lawan yang berbeda tingkatan. Terlebih saat ini Heng Gui masih berada di tingkat petarung senior bintang lima, itu terlalu jauh."
Mendengar perkataan Zhou Fan, Heng Biyu termenung.
"Kenapa, apakah kau menyesal karena telah menolak pertunangan dengan Jing Tian?" Zhou Fan tertawa lirih.
Namun jawaban Heng Biyu tidak tepat seperti yang ia bayangkan. "Tidak, seberapa kuat dia, tetap adalah seorang pria tiga puluh delapan tahun. Pilihanku tetap kau," ucapnya sambil tersenyum.
Zhou Fan memalingkan wajahnya kembali ke atas arena. Seolah tak berminat meneruskan pembicaraan.
"Kau tenang saja, posisi pertama akan menjadi milik Klan Heng. Karena itu adalah janjiku--Zhou Fan." Zhou Fan berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan yang masih berlangsung.
Heng Biyu mendengus, bukan jawaban seperti itu yang dia harapkan. Namun ia paham lantaran Zhou Fan memang demikian.
Blam!
Dentuman keras itu membuat semua orang memandang lubang dangkal yang tercipta di atas arena. Di tengah kawah itu terdapat Heng Gui yang terlentang dengan wajah lebam.
Pada akhirnya Jing Tian dinyatakan menang dan berhak lolos ke babak selanjutnya.
Tepat setelah itu, Xuan Yu--tuan muda keluarga bangsawan Xuan yang mewakili Klan Shang naik ke atas arena. Ia mengambil nama sama seperti yang dilakukan Jing Tian, pria berumur tiga puluh lima tahun yang terkenal dengan kehebatan pedangnya itu sangatlah tenang, seolah tak ada masalah yang tak dapat ia selesaikan.
"Zhou Fan, Klan Heng."
Seketika mata semua orang terbuka lebar. Tak ada yang menyangka setelah kehilangan satu perwakilan harus kembali bertarung dengan salah satu kandidat pemenang.
Sungguh sial. Pikir semua orang yang menyaksikan.
Nama Xuan Yu memang sudah malang melintang dalam lingkaran Kota Hong, dia dikenal sebagai kuktivator pedang terbaik. Bahkan dengan hanya menggunakan pedang ia mampu mengalahkan lawan yang satu bintang di atasnya.
Saat ini dia berada di tingkat petarung senior bintang delapan, dengan keterampilan berpedang miliknya, ia mampu menghadapi seorang petarung senior bintang sembilan.
Zhou Fan naik ke atas arena, ia penasaran dengan sosok Xuan Yu, seorang yang diberi gelar kuktivator pedang 'terbaik'. Ia juga merupakan pembudidaya pedang, rasa penasaran spontan muncul begitu banyak orang mengagung-agungkan keterampilan berpedang putra Tuan Besar Xuan tersebut.
"Xuan Yu" Tanpa diduga Xuan Yu memberikan hormat ala seorang yang hendak berlatih tanding, sikapnya cukup ramah dibandingkan dengan perwakilan lainnya bahkan juga dirinya.
Sling...
Ketika Zhou Fan mengeluarkan pedang, semua mata yang menyaksikan tercengang.
Bukankah ia adalah seorang petarung tangan kosong, mengapa sekarang menggunakan pedang? Mereka tak habis mengerti, mungkinkah pemuda ini menguasai dua teknik bertarung?
Itu sangat mengagumkan!
Semua orang memandang dengan tatapan kagum. Zhou Fan telah berhasil menarik perhatian semua orang, padahal niatnya hanya ingin bertukar serangan dengan Xuan Yu.
"Aku tak menyangka bahwa kau adalah pengguna pedang, jika demikian apakah kau ingin beradu teknik bertarung?" Xuan Yu juga merasakan hal serupa, niatnya begitu murni sehingga setiap ada seorang yang menurutnya pantas, ia dengan senang hati melawannya.
"Baiklah, aku juga sangat ingin merasakan teknik pedang yang telah terkenal di Kota Hong ini." Zhou Fan mengangguk, inilah kalimat yang sejak tadi ia nantikan.
Pemahaman sesungguhnya akan teknik pedang hanya dapat diukur jika seorang kultivator mengeluarkan teknik pedangnya tanpa sedikitpun tenaga dalam.
"Apakah kalian siap?" Ketika juri bertanya, keduanya mengangguk. Nampak wajah mereka berseri seolah tidak ada hasrat untuk saling mengalahkan.
"Mu -- "
Wosh!
Juri baru saja berkata 'mu', perkataannya masih menggantung di ujung lidahnya tapi kedua perwakilan ini telah melesat dengan cepat. Memang tidak bisa dibandingkan dengan kecepatan jika menggunakan tenaga dalam, tapi kecepatan keduanya sungguh diluar nalar.
Trank!
Ketika pedang darah malam menahan pedang hitam milik Xuan Yu, percikaan api nampak jelas menyilaukan mata. Dua logam itu benar benar tangguh, bukan senjata biasa.
Zhou Fan awalnya tak menyangka, tapi mengingat ini adalah Kekaisaran Han. Tentu saja sangat wajar memiliki senjata rank mitick, terlebih Xuan Yu adalah tuan muda keluarga terkemuka.
Sling...
Setelah menahan serangan Xuan Yu untuk beberapa lama, Zhou Fan menarik pedang ke belakang dan secepat kilat memberikan tebasan. Gerakannya sangat cepat, hingga memaksa Xuan Yu untuk memelentingkan tubuhnya demi menghindari serangan pedang darah malam.
Duel pedang tanpa tenaga dalam terus berlangsung, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang luar biasa. Keduanya nampak menari dengan pedang di tangan mereka, seiring dentingan logam yang seolah menjadi alunan musik penuh ketegangan.
Banyak yang menahan nafas saat keduanya saling menebaskan pedang, tak sedikit pula yang membuka lebar kedua mata agar tak ketinggalan setiap gerakan yang dikeluarkan.
Sungguh hebat!
Tuan Besar Xuan sampai berdiri dengan wajah membeku, tanpa sadar tangannya mulai bergerak dan bertepuk tangan.
"Mengagumkan!" ucap pria tua itu yang kemudian memancing patriak klan yang ada. Terkhusus adalah Patriark Klan Heng serta Patriark Klan Hei, keduanya ikut berdiri dan memberikan tepuk tangan sebagai tanda apresiasi mereka.
"Dia adalah lawan yang tangguh, pemahaman terhadap teknik pedang tidak lebih rendah dariku." Xuan Yu membatin dengan perasaan kagum. Selama ini ia mencari seorang yang dapat dijadikan rival dan sekarang orang itu telah datang. Ini membuatnya semangat.
Zhou Fan sendiri mengakui kehebatan Xuan Yu, dalam benaknya ia berkata. "Teknik pedang miliknya sangat dalam, tidak mungkin aku dapat mengalahkannya jika tak mengeluarkan teknik dewa pedang."
Setelah itu Zhou Fan mengambil beberapa langkah mundur, dia memasang kuda kuda dan bersiap mengeluarkan teknik dewa pedang. "Kau adalah kultivator pedang yang tangguh, oleh sebab itu aku ingin mengerahkan seluruh kemampuanku dalam bidang seni pedang."
Xuan Yu tersenyum samar, dia memutar pedangnya pelan. "Jika demikian aku juga akan mengeluarkan seluruh kemampuanku."
Zhou Fan membalas tersenyum, "Aku tidak akan sungkan."