
Setelah proses yang cukup memakan waktu perlahan aura petir di dalam kristal dewa beast berkurang sangat banyak. Semua kekuatan keluar seolah diserap oleh Dua Kapak Kembar yang sangat rakus dan tak membiarkan kekuatan petir terbuang sia-sia.
"Kalian berdua bersiap, ini akan lebih kuat!" Sian Lou memberikan sedikit dorongan dan seluruh kekuatan petir telah keluar sepenuhnya.
Kristal dewa beast terhempas oleh tekanan kekuatan petir, Zhou Fan dengan cepat melesat menangkap kristal seukuran kepala orang dewasa tersebut.
"Benar-benar murni, sekarang tak ada jejak kekuatan petir dalam kristal dewa beast ini." Zhou Fan memandang dengan mata berbinar, sekarang ia tak perlu khawatir karena sepuluh kristal beast elemen es telah terkumpul dan semua memenuhi kriteria dan dapat digunakan.
Zhou Fan beralih kepada Dua Kapak Kembar yang masih duduk bersila. Melihat mereka tengah menaikkan kultivasi Zhou Fan menghampiri sang guru yang tak jauh darinya. "Guru, apakah kau tak apa?"
Sian Lou mengangkat tangannya, "Melakukan pemurnian membutuhkan banyak tenaga dalam. Namun dengan beberapa pill pemulihan akan kembali normal, ini bukan masalah."
"Omong-omong, apakah setelah ini kau langsung kembali ke daratan Tuan Lei?"
"Aku harus kembali guru, karena tujuanku datang kematian telah tercapai." Zhou Dan menyimpan kristal dewa beast, melirik ke tempat Ciu San dan Zhi Long.
"Setelah mereka bangun aku akan kembali," tambahnya yang membuat Sian Lou menghela nafas. Dia tak mungkin menahan Zhou Fan, terlebih muridnya itu memiliki suatu urusan yang tak lagi bisa ditunda.
Pagi berganti malam, tapi Dua Kapak Kembar masih duduk bergeming sambil menyerap kekuatan petir yang sudah semakin lemah. Tak berselang lama aura kuat menyelimuti tubuh mereka, semakin kuat seiring waktu berjalan.
"Mereka akan naik tingkat," ucap Sian Lou yang duduk bersama Zhou Fan di bawah pohon.
Zhou Fan menantikan sampai mana mereka akan menerobos, meski hanya satu tingkatan itu juga merupakan suatu yang luar biasa.
Kecepatan angin semakin tak terkendali, aura yang terpancar semakin kuat. Dalam satu waktu keduanya membuka mata, hembusan angin sangat dahsyat sampai mampu menumbangkan pohon.
"Adik, kau naik menjadi bintang empat?" Ciu San dapat merasakan kekuatan Zhi Long meningkat pesat.
"Kau juga tak jauh berbeda, ini semua karena kekuatan petir yang melimpah. Membantu kita menerobos." Zhi Long bangkit, melihat tuan mudanya tanpa berlama-lama langsung mendekat.
"Guru, karena mereka telah menyelesaikan proses kultivasi aku langsung saja berangkat." Zhou Fan bangkit memberikan salam hormatnya kepada Sian Lou.
Perkataan Zhou Fan yang tiba-tiba membuat Sian Lou terkejut, meski telah mendengar niat muridnya tetap saja ia tak mentangka akan langsung di detik ini juga. Namun, tak ada kata yang dapat ia ucapkan selain harapan agar tiba dengan selamat.
"Mungkin tak ada yang bisa melukaimu, tapi kau harus tetap hati-hati. Kau tak akan bisa menggunakan kekuatan formasi karena medan magnet yang teramat kuat di sana."
Zhou Fan mengangguk, dia akan mengingat dan tak akan menggunakan formasi selama berada di atas laut kematian.
...
"Tuan muda, kau bisa beristirahat. Biar kami yang mengendalikan kapal." Sudah satu hari mereka berada di atas kapal, selama itu juga Zhou Fan menjadi nahkoda.
Ciu San yang merasa tak enak merasa harus menggantikan tuan mudanya, tapi beberapa kali menawarkan sama sekali tak dihiraukan.
"Kalian saja yang istirahat, aku akan mengemudikan kapal." Bagi Zhou Fan saat ini tak ada rasa lelah atau jenuh, pikirannya hanya ada keluarga dan kampung halaman yang telah ia tinggal selama kurang lebih empat tahun.
Ciu San melirik Zhi Long, masuk ke dalam bilik tempat beristirahat. Kapal sendiri tidak terlalu besa, hanya ada dua ruangan. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk membawa mereka melintasi laut kematian.
Zhou Fan membuka peta, itu merupakan gambaran jalur yang dibuat oleh Sian Lou. Gurunya telah lebih banyak melintasi Laut kematian, tentu mengingat mana jalur terbaik yang dapat dilalui.
Zhou Fan menundukkan pandangan, melihat Zhou Jim berada di bagian depan kapal. Dia membusungkan dada, angin berhembus membelah bulunya.
Hari demi berlalu, Zhou Fan yang mengamati peta mengukir senyum di wajahnya. "Daratan Tian Lei mungkin akan terlihat dalam waktu tempuh dua tiga hari."
Ciu San yang berada di samping Zhou Fan berusaha memandang ke depan, tapi tak ada apapun yang dapat ia lihat kecuali hamparan air laut dan langit yang membentang memisahkan dua bagian.
Dia sangat tidak sabar melihat kampung halaman sang tuan muda. Dapat memunculkan sosok seperti Zhou Fan pasti merupakan tempat yang luar biasa. Namun yang tidak ia ketahui adalah kepekatan energi di sana jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang ada di daratan Tian Hu.
...
Sementara itu di Kota Batu Hitam, Kediaman Klan Zhou.
"Ibu! Ibu!"
Zhou Xia menarik lengan Qing Yuwei sambil menangis histeris. Sontak tangisan anak perempuan empat tahun itu membuat beberapa orang mulai berkumpul.
"Xia'er, apa yang terjadi?" Wei Guanlin datang dengan terburu-buru, di belakangnya Zhou Qian menyusul sambil menggendong Zhou Ya.
"Ibu pertama? Ibu kedua ...." Masih menangis Zhou Xia menunjuk ibunya--Qing Yuwei yang nampak kejang-kejang.
Wei Guanlin yang baru masuk melihat keadaan Qing Yuwei langsung memeriksa. Air muka Zhou Qian nampak cemas. "Lin'er, kau tetaplah di sini. Ibu akan memanggil tabib."
Setelah tabib datang tak ada yang boleh berada di dalam ruangan. Semua orang berkumpul di luar ruangan menunggu kabar. Bukan hanya Wei Guanlin dan juga Zhou Qian, tapi juga Zhou Hu serta beberapa orang lainnya.
Sekitar dua batang dupa tabib tak kunjung keluar, begitu pintu terbuka semua orang menjadi tegang dan menanti apa yang akan disampaikan tabib wanita.
"Patriark, ini sangat serius. Kondisi tubuh tidak stabil, pancaran aura panas semakin kuat. Jika tidak kunjung melakukan penyembuhan maka akan berakibat fatal."
Mendengar kata tabib wanita semua orang di sana terdiam seribu bahasa.
"Tabib, apakah kau tidak bisa menemukan cara untuk ...."
"Maaf sekali patriark, tapi tabib ini tak bisa berbuat banyak." Tabib wanita menggelengkan kepala dengan menyesal.
"Jika dalam waktu satu bulan juga tidak mendapatkan sepuluh kristal beast tingkat delapan elemen es, tabib ini tak bisa menjamin apa yang akan terjadi." Zhou Qian menutup mulut dengan terkejut, bagaimana mungkin mereka mengumpulkan sepuluh kristal tingkat delapan. Dan lagi Zhou Fan--putranya masih mencari sepuluh kristal itu, entah dia berhasil atau tidak.
Sementara di dalam ruangan, Zhou Xia menyelinap masuk bersama Zhou Ya--sang adik yang masih berusia tiga tahun. Dia memeluk Qing Yuwei meski ibunya masih berbaring di atas tempat tidur.
"Ibu... Xia'er sayang ibu, jangan pergi!" Zhou Xia, anak perempuan berusia empat tahun itu menangis sampai wajahnya yang putih bersih sedikit merah. Meski tak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi, sedikitnya ia tahu bahwa ibunya sedang sakit.
"Kakak?" Zhou Ya menarik pakaian Zhou Xia, meski sedih ia tetap menampilkan senyum kepada sang adik.
"Kata ibu pertama, ayah akan kembali dan membangunkan ibu kedua. Ayah pasti kembali." Zhou Ya dapat melihat kakaknya tidak sebaik yang terlihat, menahan terlalu banyak kesedihan.
Anak laki-laki itu perlahan mengepalkan tangan. Meski tak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan, terdapat insting khusus untuk melindungi sang kakak.