Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 42 : Cegatan Orang Berpakaian Hitam


Tanpa terasa pagi telah menyapa, Zhou Fan keluar ruangan dan melihat Shao Mingrui hendak mengetuk pintu ruangan. Dia lantas bertanya, mengapa pangeran ketiga tersebut mencarinya.


"Ayo kembali, lebih cepat kita kembali itu lebih baik." Shao Mingrui langsung pergi setelah berkata, Zhou Fan mengerutkan kening, dia tidak tahu apa yang terjadi terhadap saudara angkatnya.


Ingin bertanya, sepertinya Shao Mingrui baru saja mendapatkan sebuah kabar tentang Kota Bei Xian. Oleh sebab itu dia dengan tergesa mengatakan akan kembali.


Padahal rencananya mereka akan menatap satu hari lagi di istana, sepertinya semua itu berubah dan mereka harus kembali saat ini juga.


Shao Mingrui langsung melompat ke atas kuda yang berada di tempat sebelumnya dia menitipkan pada dua penjaga, karena lompatannya, kuda sampai memekik ketika tiba tiba merasakan sesuatu berada di atas punggungnya.


Tak mau ketinggalan, Zhou Fan melompat dan memacu kuda mengikuti Shao Mingrui yang sudah terlebih dahulu melesat.


Zhou Jim mengikuti dari belakang, serigala merah itu berlari cepat tanpa peduli halang rintang di depan.


Sampai siang mereka terus melaju tanpa berhenti, Zhou Fan yang masih penasaran apa yang membuat Shao Mingrui begitu gelisah pun tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Sebenarnya apa yang kau dapatkan, sepertinya ada suatu yang buruk akan terjadi."


Shao Mingrui melirik Zhou Fan, dia kemudian berkata tanpa mengurangi kecepatan kudanya.


"Si brengsek itu, dia mengirim pembunuh ke Kota Bei Xian. Sebelumnya mereka mengincarku, tapi aku berada di sini sekarang, bukan tidak mungkin mereka akan menculik Yu'er." Shao Mingrui semakin menghentakkan kakinya, pikirannya semakin kacau ketika membayangkan wajah istrinya yang dikepung oleh puluhan orang berpakaian hitam.


Zhou Fan yang mendengar tentu juga merasakan kepanikan, bagaimanapun Cheng Liyu merupakan istri saudaranya, terlebih wanita itu dalam kondisi hamil, hal ini mengingatkan keadaan istrinya yang juga dalam kondisi sama.


Keduanya melaju semakin cepat. Namun ketika melintas kota He, tiba tiba saja muncul puluhan orang berpakaian hitam.


Spontan Shao Mingrui menarik tali kekang kuda hingga membuat kuda itu mengangkat kedua kaki depan tinggi tinggi.


"Ini adalah jalur yang sebelumnya, jika tidak salah, merekalah bandit yang menghabisi kelompok saudagar. Sekarang mereka menghadang jalan, pengarang kedelapan bergerak sangat cepat." Zhou Fan membatin, wajahnya menelisik setiap orang berpakaian hitam.


Ketika tidak melihat ada seorang yang lebih tinggi dalam kultivasi, Zhou Fan dengan tenang berkata. "Mingrui, sebaiknya kau pergi dan selamatkan istrimu. Mereka semua biar aku yang menahannya."


Shao Mingrui tidak langsung pergi meninggalkan Zhou Fan, meski tingkatan mereka masih berada di bawahnya, jumlah mereka ada puluhan orang, tidak mudah mengalahkannya.


Melihat Shao Mingrui yang hanya mematung du tempatnya, Zhou Fan kembali berkata. "Jika kau tidak segera kembali, kau akan menyesal setelah istrimu tidak berada di sana."


Zhou Fan tidak mau Shao Mingrui menyesal karena tidak dapat melindungi istrinya, jika tidak itu akan sama sepertinya yang telah gagal melindungi Qing Yuwei.


Meski Qing Yuwei masih ada kesempatan untuk bertahan, tetap saja apa yang menimpa nya dikarenakan ketidakmampuannya sebagai seorang suami.


Ini semua adalah salahnya!


Zhou Fan memejamkan mata, kini pikirannya penuh dengan penyesalan. Pemuda itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri, jika semua ini akan kembali baik baik saja.


Dia tidak bisa terus menyalahkan diri sendiri, semakin dia terpuruk, semakin kecil harapan yang dia miliki. Lebih baik berusaha menemukan sisa kristal beast tingkat kedelapan agar dapat menyelamatkan istrinya.


"Kau hati hatilah, aku akan menunggu di Kota Bei Xian." Shao Mingrui melesat tanpa peduli lagi dengan kudanya.


Ketika beberapa orang hendak mengejar, sebuah formasi tercipta dan menghalangi niat mereka.


"Masalah di antara kita belum selesai, jangan berharap bisa pergi setelah datang kemari." Zhou Fan sudah memegang pedang darah malam, pemuda itu telah bersiap akan menyerang.


"Cepat selesaikan bocah ini dan kejar pangeran ketiga!" Seorang pria berwajah tua dengan luka sayatan di bagian pipi berkata lantang kepada semua orang di sekitarnya.


Dengan itu semua bersiap melawan Zhou Fan, tapi sebelum itu terjadi, kobaran api mulai menyebar dan menutup area dalam formasi.


Wajah beberapa orang perlahan berubah, tidak setenang sebelumnya, bahkan sudah ada yang terlihat panik karena api itu semakin lama semakin menggila.


"Tahan dengan tenaga dalam, maju serang bersamaan!"


Zhou Fan yang sudah siap dengan pedangnya, melesat maju sambil mengeluarkan jurus 'Penebas Awan'. Dia tidak menggunakan 'Tebasan Ganda' karena jangkauan 'Penebas Awan' lebih dapat diandalkan ketika melawan banyak orang.


Ketika siluet tebasan laksana bulan sabit menerjang ke arah puluhan orang, kecepatannya menjadi dua kali lipat karena kekuatan api yang ada di dalam formasi.


Tidak hanya kecepatan, tapi juga kekuatan penghancurnya juga bertambah.


Puluhan orang itu tidak memandang jurus milik Zhou Fan, mereka mengeluarkan jurus masing masing dan dengan yakin mengarahkannya ke tebasan yang sudah ada di depan mata.


Namun ketika jurus mereka beradu, dentuman keras terdengar. Beberapa orang terpental dan menghantam dinding formasi, tapi ada juga yang masih bertahan meski dengan kaki gemetar.


"Apa itu?"


Semua orang bertanya dengan wajah terkejut, baru pertama kali mereka menyaksikan sebuah jurus yang sangat mengerikan.


Zhou Fan tidak hanya diam, dia mengeratkan genggaman pedang darah malam dan maju menerjang.


Slash...


Kepala seorang pria berpakaian hitam jatuh menggelinding di atas permukaan tanah. Melihat hal ini pria tua pemimpin kelompok bandit menggeram marah, sekali lagi dia berteriak sambil mendorong tubuhnya maju.


Zhou Fan mendengus dingin tanpa mengeluarkan ekspresi, pemuda itu memandang lawan yang mempunyai kultivasi satu tingkat di bawahnya.


Menghadapi mereka semua memang membutuhkan waktu, tapi bukan berarti tidak mungkin bagi seorang Zhou Fan. Terlebih sekarang mereka semua berada dalam kurungan formasi dunia api, menambah tingkat kepercayaan diri pemuda itu.


Crebs...


Zhou Fan berhasil memutuskan lengan pria tua yang menyerangnya, sebenarnya dia mengincar kepala, tapi karena pria tua itu tiba tiba berkelit membuat pedang darah malam menebas lengan kanannya.


Pria tua itu meringis nyeri, pedangnya masih berada di tangan kanan, tergeletak dengan darah bercucuran.


Wajah pria tua benar benar buruk, ini jelas bukan hasil akhir yang mereka inginkan. Mereka hanya bertugas mengulur waktu, tidak mereka sangka jika akan berhadapan dengan seorang seperti Zhou Fan.


Ini jelas merupakan sebuah kesialan!


Setelah menebas lengan, Zhou Fan kembali bergerak, sekarang dia tidak akan menahan diri, mengeluarkan teknik dewa pedang dan membabat semua orang yang ada di dalam.


Teriakan teriakan terdengar bersahutan, mereka menjerit sangat keras ketika pedang darah malam menebas bagian tubuh mereka.


Mereka mati bahkan tanpa melawan, mata mereka menatap Zhou Fan dengan ngeri bahkan setelah kepala mereka terlepas dari tempatnya.


Darah memenuhi sepetak tanah dengan luas puluhan kilo meter, semua permukaan yang sebelumnya terkurung formasi kini berubah merah karena darah.


Zhou Fan dengan wajah penuh darah berjalan sambil melambaikan tangan, formasi pun hilang dalam sekejap mata.


Ketika merasa semua telah berakhir, tiba tiba matanya melotot tajam. Dia merasakan sebuah sinyal bahaya dari arah belakang.


Ketika dia berbalik, dia melihat sebuah belati melesat cepat ke arahnya.


Jlebs...


Zhou Fan melompat sambil melirik belati yang berhasil menembus sebuah batang pohon.


Bersamaan dengan itu seorang pria tua berambut putih keluar dari balik batu besar.


"Memang seperti yang dikatakan pangeran kedelapan, seorang yang hebat berdiri di samping pangeran ketiga."