
Mata Yin Cun terbuka lebar, bagaimana bisa bertarung adalah cara yang terpikir dalam kepala Zhou Fan. Temannya ini benar-benar gila!
Namun Zhou Fan dengan pedang di tangannya menerjang begitu gagah berani, mengayunkan pedang menebas lawan. Satu persatu pria berorot besar terbang menghantam bangunan di sekitar, bahkan ada beberapa yang hancur akibat tertimpa tubuh mereka.
Mata Yin Cun terbelalak, tak menyangka jika kekuatan Zhou Fan telah berada jauh di atas tingkatannya. Ia bisa memperkirakan kekuatan puluhan penjaga ini berada di atas petarung kaisar, tapi Zhou Fan dengan sangat mudah mengalahkan mereka.
Hanya dalam waktu singkat Zhou Fan telah menumbangkan meteka semua. Namun di saat bersamaan suara lolongan terdengar.
Awu...
Zhou Fan bersiaga, tepat setelahnya muncul puluhan orang menembus atap gudang.
Bles...
Bles...
Bles...
Tak terhitung berapa kali atap itu akblas diterjang pukuhan orang. Kini dalam gudang terdapat sekitar lima puluh orang termasuk Zhou Fan.
Yin Cun berdiam di balik punggung Zhou Fan, ini bukan skala pertarungannya. Jika ingin membantu ia hanya bisa diam, karena mencoba membantu malah akan menyusahkan.
Zhou Fan menelisik puluhan orang di depannya, kekuatan mereka tak jauh berbeda dari kelompok peniaga yang datang pertama. Atau mungkin lebih tinggi karena kebanyakan dari mereka adalah petarung senior bintang tujuh.
"Tuan muda!"
Dua Kapak Kembar datang bersama Zhou Jim, di tangan mereka telah bersemayam kapak yang sudah siap menebang apapun yang menghadang.
Penjaga berpakaian hitam mengamati Zhou Fan begitu dalam, tapi mereka tak melihat apapaun darinya, seolah ada dinding yang begitu besar berdiri di depan wajahnya.
"Aku akan menghadapi pria itu, nampak dia yang paling berbahaya. Kalian hadapi tiga orang lainnya." Pria tua yang merupakan kepala penjaga berkata kepada anak buahnya, menunjuk Zhou Fan ingin melawannya.
Zhou Fan diam di tempatnya, tak mengira seorang petarung senior meremehkannya. Apakah dengan seorang diri akan mampu menghentikannya, tidak mungkin!
Pria tua bersiap menyerang, menempatkan pedang di depan wajahnya. Dia cukup serius, dia tahu Zhou Fan adalah lawan yang sulit. Namun ia tidak akan pernah mengira jika Zhou Fan terlalu sulit baginya, terdapat jarak yang begitu besar di antara mereka.
Trank!
Baru satu serangan tapi tangannya sudah gemetar akibat adu pedang dengan Zhou Fan. Ia menautkan kedua alisnya, mengambil jarak sejauh mungkin.
"Aku tak boleh kalah!" Pria tua mengingat kembali tujuannya, menguatkan tekad dan kembali bersemangat.
Pertarungan antara Zhou Fan dengan pria tua berjalan sengit, meski Zhou Fan hanya bertahan dari serangan perang sangat pria tua.
Berniat menahan lebih lama, mata Zhou Fan tak sengaja mengarahkan ke tempat Ciu San serta yang lain. Tentu mereka kewalahan, mengingat kultivasi mereka hampir setara. Bahkan dengan bantuan Zhou Jim mereka hanya dapat memberikan luka ringan, sama sekali tidak berdampak besar.
Jika diteruskan pukuhan orang ini akan mengalahkan Dua Kapak Kembar.
"Pak tua aku tak punya banyak waktu untuk menemanimu." Tepat setelah berkata Zhou Fan mengayunkan pedang darah malam begitu ganas, dengan hanya satu kibasan pria tua terhempas.
Zhou Fan beralih ke tempat Dua Kapak Kembar, langsung melesat dan membantai puluhan orang itu. Satu gerakan satu nyawa melayang, serangan benar-benar mematikan.
Yin Cun terperangah, betapa menakjubkan Zhou Fan di matanya. Andai ia tak mengenal siapa Zhou Fan sebenarnya, ia mungkin akan berpikir pria yang membantai puluhan orang dengan hanya menggunakan pedangnya adalah seorang senior tua yang tengah menyamar.
Drap... Drap... Drap...
"Kemana kau akan pergi?" Zhou Fan sudah berada di depannya, matanya seperti sebuah mata pedang, begitu tajam.
Bangsawan itu mundur perlahan, tapi ia malah terjatuh karena tak menyadari sebuah tanjakan. Meski begitu pria tua gemuk itu tak menyerah, berusaha menjauh.
"Siapa kau, kenapa berada di kediamanku?" Saat mengatakan ini mulut pria itu bergetar, menahan sebuah rasa takut yang mendebarkan.
Penjaga kediamannya begitu banyak, rata-rata mereka adalah petarung senior dan yang paling tinggi adalah petarung senior bintang tujuh. Tapi telah dikalahkan.
"Kau jangan macam-macam, segel budak masih ada padaku."
Mendengar perkataan bangsawan gemuk ini, zhou Fan menarik sedikit sudut bibirnya. Ia hampir saja melupakan tentang segel budak. Jika mereka pergi tanpa menghancurkan segel budak, itu sama saja percuma.
Zhou Fan mendekati pria tua, langkah demi langkah kakinya bergerak. "Katakan, di mana kau menyimpan segel budak itu."
Bangsawan itu hanya diam, mencoba bertahan dari siksaan. Namun ia tak sanggup, siksaan terlalu menakutkan.
"Baiklah baiklah, akan aku serahkan. Tapi lepaskan aku." Pria gemuk itu mengayunkan tangan, mengeluarkan puluhan giok di tangannya.
"Siapa namamu, ...."
"Tak perlu banyak omong, kemarikan semua giok segel yang ada." Zhou Fan merebut giok dari tangan bangsawan lokal itu, membuat ekspresinya semakin buruk.
"Kenapa, tak mau?" tanya Zhou Fan yang langsung membuat bangsawan lokal menggelengkan kepala.
Pria tua gemuk itu hanya bisa pasrah. Dia berpikir hanya akan melepaskan salah satu budak saja, tapi pria ini menginginkan semua budaknya.
Budak-budak ini dibeli dengan harga yang sangat mahal, melepas mereka begitu saja tentu terdapat perasaan mengganjal. Namun ia mengingat keselamatan jauh lebih penting dari segalanya, ia bisa membeli lagi budak lain kali.
Zhou Fan yang telah menerima giok segel budak tanpa panjang lebar menghancurkannya.
Yin Cun merasakan sebuah perasaan yang menyejukkan, seolah ada guyuran air yang datang dari atas, membasuh seluruh tubuhnya.
Mereka keluar, ternyata puluhan budak lainnya menunggu di sana. Mereka langsung membungkuk dan berterima kasih kepada Zhou Fan.
Zhou Fan hanya tersenyum, menanggapi dengan ringan. Mungkin ini adalah takdir, karena niat awalnya adalah menyelamatkan Yin Cun, kebetulan mereka berada satu kapal, jadi sekalian menyelamatkan.
"Tuan, sekali lagi terima kasih. Kami mohon undur diri, karena harus kembali ke tempat kami." Zhou Fan tak menahan mereka, karena mereka memiliki tujuan masing-masing.
Keadaan menjadi sepi, Zhou Fan melirik Yin Cun. Namun ekspresi temannya itu nampak gelisah, seperti ada suatu yang mengganggu pikirannya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Zhou Fan.
Yin Cun semakin sedih, kemudian dia berkata. "Ling'er, dia ... Selamatkan dia, saudara Zhou."
Mata Zhou Fan terbuka lebar, ia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Yin Cun. "Jangan katakan jika kau datang bersama dengannya?!"
Yin Cun mengangguk, membuat Zhou Fan menyipitkan mata. "Sekarang di mana dia?"
Yin Cun menundukkan kepala, meremas pakaian dengan kedua tangannya. Wajahnya penuh penyesalan dan juga dendam. "Dia masih berada di tangan bajak siluman. Selamatkan dia," mohon Yin Cun dengan frustasi.
Dia merasa sangat tidak berguna. Sebagai seorang tunangan ia malah membawa Miao Ling ke dalam masalah, bahkan saat ini nyawanya dalam bahaya.