Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 124 : Turnamen Klan Besar (10)


Setelah Zhou Fan dinyatakan lolos ke babak terakhir, semua anggota Klan Heng seketika bergembira. Mereka begitu senang lantaran untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir pada akhirnya menginjakkan kaki ke babak final.


Patriark Heng mengangkat wajahnya, sangat berterima kasih kepada langit karena telah mengirimkan Zhou Fan untuk membantu klannya.


Takhta raja dalam turnamen memang belum dapat dipastikan, tapi setidaknya dengan Zhou Fan mengalahkan Xuan Yu, membuka lebar harapan mereka. Biarkan mereka berharap, lagi pula tidak ada peraturan yang melarang siapapun untuk berharap.


"Selamat, karena kau melaju ke babak selanjutnya." Heng Biyu tersenyum sambil mendekat ke tempat Zhou Fan berada.


Zhou Fan hanya memandang datar, "Ucapan selamat seharusnya kau tujukan kepada klanmu."


Heng Biyu menyipitkan mata, memikirkan ucapan Zhou Fan.


Apa maksud perkataannya, apakah Klan Heng begitu bergantung kepadanya?


Namun dipikir kembali, Klan Heng memang sangat bergantung kepada Zhou Fan. Tanpa keberadaannya, dapat dipastikan Klan Heng tak akan bisa sampai pada babak terakhir.


Di sisi lain, Jing Tian telah naik ke atas arena. Belasan langkah dari tempatnya berdiri seorang pria tiga puluh lima tahun, pria itu bernama Zhuge Liang. Mereka berdua merupakan lawan yang telah ditetapkan, akan saling mengalahkan dalam pertarungan.


Siapa yang menang akan melakukan ke babak final, sedang yang kalah akan menyandang gelar pecundang.


"Apakah kalian siap?" Juri melirik kedua perwakilan secara bergantian, mendapati anggukan dari mereka, perlahan tangan kanannya meraih sebuah kain yang menggantung di pinggangnya.


"Mulai!"


Whut...


Tanpa menunggu lebih lama, Zhuge Liang melesat dengan sebuah kapak di tangannya. Wajahnya nampak tenang, seperti air danau yang dalam.


Pria tiga puluh lima tahun itu sebenarnya memiliki wajah yang tampan dengan alis mata yang tebal. Rambut hitam panjang dengan garis wajah yang tegas membuat siapapun akan terlena akan parasnya yang menawan.


Namun sangat disayangkan ciptaan yang sempurna itu tak bisa bicara, atau bisa dikatakan tunawicara.


Seluruh Kota Hong mengetahui fakta ini, meski tak ada yang tahu penyebab pastinya.


Jing Tian yang melihat Zhuge Liang menuju ke arahnya langsung membentangkan senjata. Pedang rank mitick dengan kualitas terbaik tentu saja sangat mudah menangkis serangan yang dikeluarkan Zhuge Liang.


Namun serangan Zhuge Liang belum berakhir, dia menarik kapak dan langsung mendaratkan sebuah tebasan.


Kapak bergerak melayang, mengincar pinggang. Namun sebelum menyentuh pakaian milik Jing Tian, dengan secepat kilat tuan muda keluarga Jing itu menahannya. Tentu saja tidak sekedar menahan, dalam satu kesempatan ia mendorong pedangnya, mengepalkan tangan kiri menghantam tubuh Zhuge Liang.


Zhuge Liang mundur, mencoba menghindar. Namun ia sedikit terlambat, pukulan Jing Tian masuk mengenai dadanya.


Hem...


Hanya dengusan yang terdengar dari mulut Zhuge Liang. Perwakilan Klan Zhuge itu memutar kapak di tangannya dan berkelebat dengan cepat.


Langkah kakinya seperti angin, tak ada suara yang terdengar.


Berada dalam jarak tiga langkah, Jing Tian masih bergeming, padahal kapak telah menghunus mengancam keselamatannya.


Penonton yang menyaksikan ikut berdebar, berpikir Jing Tian telah melakukan kesalahan.


Namun dalam satu kedipan mata, Jing Tian menarik kepalanya menunduk. Kapak melintas di atas kepalanya, begitupun dengan Zhuge Liang yang tak berhasil menyentuh seujung rambutnya.


Keduanya membalikkan badan, mereka bertukar posisi.


"Zhuge Liang memang tidak bisa diremehkan, terlebih kecepatannya saat menyerang begitu mematikan." Jing Tian membatin sambil memasang sikap waspada, andai ia tak menebak terlebih dahulu kemana Zhuge Liang akan menyerang, mungkin tak akan sempat menghindar.


Jing Tian mengerutkan keningnya, sejurus kemudian ia menggeser pedang ke depan tubuhnya. Ia mengetahui jika Zhuge Liang akan mengeluarkan teknik bertarung miliknya--Kapak Penghancur.


Tentu ia tidak akan diam saja, dia akan mengeluarkan teknik bertarung andalannya--Pedang Pembalik.


Wosh...


Tanpa mengeluarkan sepatah kata Zhuge Liang melesat. Dengan kapak di tangan ia menebas lawan. Namun Jing Tian telah bersiap sejak tadi, setiap serangan dapat dipatahkan.


Trank!


Trank!


Trank!


Ketika kapak bergerak semburat cahaya itu menciptakan sebuah garis memanjang, penonton yang menyaksikan pun dibuat takjub akan keindahannya.


Setelah belasan serangan, keduanya mundur mengambil jarak yang lebar. Entah sudah direncanakan, keduanya dengan serempak mengeluarkan jurus yang mestinya merupakan serangan pamungkas mereka.


Yang dikeluarkan Jing Tian adalah jurus penghancur raga, jurus yang sebelumnya mampu menghempaskan Zhuge Huang dalam satu serangan.


Jurus milik Zhuge Liang tak kalah hebat dari milik Jing Tian. Tentu saja merupakan jurus milik Klan Zhuge--Pembakar!


Dinamakan pembakar karena jurus ini akan menyemburkan api begitu melakukan tebasan. Jurus ini sangat unik, lantaran dapat diterapkan pada senjata apapun, termasuk kapak yang menjadi senjata utama Zhuge Liang.


Kedua jurus bergerak bersamaan, ketika dua titik bertemu.


BLAR!!


Lantai arena pertarungan bergetar, bahkan sampai terasa ditempat kursi kehormatan yang lokasinya sangat dekat dengan bibir arena pertarungan.


Dentuman yang tak ringan tentu dibarengi oleh ledakan uap, menimbulkan asap yang menutup pandangan semua orang.


Penonton bertanya, siapa yang menang. Namun tak ada yang berani mengambil kesimpulan, karena dua perwakilan masih berada di atas arena pertarungan.


Juri mengayunkan tangan, mengusir asap yang berkumpul di tengah arena. Pandangan kembali menjadi normal, nampak jelas jika kedua perwakilan masih berdiri bahkan bersiap kembali mengeluarkan serangan.


Tidak menunggu juri untuk memulai, keduanya melesat dan pertarungan jarak dekat terjadi begitu hebat. Dentingan terus terdengar, memenuhi pendengaran semua orang.


Semakin lama bertarung, tak terhitung keringat yang menetes dari wajah mereka. Mungkin penonton dapat menerka jika pertandingan berjalan seimbang, tapi sesungguhnya Jing Tian berada di atas awan, ia mengandalikan penuh alur pertarungan.


Pertarungan masih terus berlanjut, tapi puluhan gerakan selanjutnya nampak kontras perbedaannya. Zhuge Liang terus menyerang, sedang Jing Tian hanya menghindar.


Apa yang terjadi?


Semua orang memiliki pertanyaan yang sama, bagaimana bisa pertarungan yang semula seimbang berubah sangat tidak wajar. Seolah mereka bukan dua sosok yang sama.


"Apakah yang terjadi, kenapa Jing Tian tiba-tiba tak bisa menghadapi Zhuge Liang?" Heng Biyu mengamati dengan serius, hal ini memancing ekspresi tak berdaya di wajah Zhou Fan.


"Jangan menilai hanya dengan mata, terkadang apa yang terlihat tidak sama dengan kenyataan yang ada."


Mendengar tutur kata Zhou Fan, Heng Biyu menyipitkan mata. Ia menoleh meminta penjelasan lebih lanjut, tapi Zhou Fan hanya diam sebagai jawaban.


"Jangan banyak bicara saat kau tak mau menjelaskannya," dengus Yang Biyu dengan kesal.


Zhou Fan melirik sekilas, menggelengkan kepala kemudian kembali ke atas arena. "Kebanyakan wanita tidak berpikir menggunakan akal mereka."