Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 134 : Kalian Tidak Pantas!


"Apakah kau mengetahui di mana letak keberadaan markas mereka?"


Yin Cun menggelengkan kepala, membuat Zhou Fan tersenyum.


Bodoh!


Mungkin kata itu yang akan ia lontarkan jika tak mengingat keadaan cukup serius. Bagaimana bisa mereka menyelamatkan Miao Ling tanpa mengetahui markas bajak siluman berada. Sungguh konyol.


"Baiklah, sebaiknya kita bergerak cepat." Zhou Fan melirik ke arah Dua Kapak Kembar, mereka mengangguk dan sudah bersiap untuk melakukan perjalanan.


Yin Cun terheran, dia pun bertanya. "Apakah kau mengetahui markas mereka?"


"Tidak," jawab Zhou Fan singkat.


Yin Cun melompat dan menghalangi Zhou Fan, "Jika begitu kemana kita akan pergi?"


Zhou Fan tak menjawab, melempar tubuh Yin Cun agar diam di atas punggung Zhou Jim. "Duduklah dengan tenang, atau kecepatanmu akan memperlambat kita."


"Kejam sekali ucapanmu," celetuk Yin Cun sambil mendengus. "Setidaknya katakan kepadaku, kemana kita akan mencari markas bajak siluman?"


Sekali lagi Zhou Fan tak menghiraukan, melesat dengan langkah cepat. Yin Cun berpegangan, tak mengira kecepatan Zhou Fan, dua pria paruh baya serta serigala ini sungguh luar biasa.


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan mereka berhenti di pesisir pantai. Zhou Fan mengedarkan pandangan, tapi tak menemukan apa yang dia cari.


Yin Cun baru paham apa yang hendak dilakukan Zhou Fan, ternyata saudaranya ini mencari keberadaan kapal bajak siluman. Namun sayang, kapal tersebut telah kembali berlayar.


Huft...


Helaan nafas Zhou Fan terdengar pasrah, Ia tak bisa mengharapkan kapal bajak siluman yang sebelumnya datang, ia harus mencari cara lain.


Mereka kembali memasuki kota, berjalan sambil mengamati keadaan. Tanpa sengaja mata Yin Cun mengarah ke beberapa orang yang ia kenal, matanya memerah begitu melihat wajah mereka.


Zhou Fan mengamati perubahan wajah Yin Cun, kemudian mengikuti kemana pria itu memandang, lima pria berwajah garang tengah duduk di dalam kedai.


"Apa kau mengenal mereka?" tanya Zhou Fan kepada Yin Cun.


Yin Cun langsung turun dari punggung Zhou Jim, dia berjalan menuju kedai. "Mereka bagian dari bajak siluman!"


Kening Zhou Fan mengerut, kemudian menelisik kekuatan lima pria patuh bayar itu. "Petarung kaisar bintang lima, ada juga petarung senior bintang dua."


Mereka berlima termasuk petarung tangguh, Yin Cun tak akan sanggup mengalahkan mereka. Namun melihat wajah Yin Cun penuh tekad, ia ingin melihat apa yang dilakukan pria itu demi Miao Ling--tunangannya.


Langkah Yin Cun begitu tegas, masuk ke dalam sambil membawa tongkat di tangannya.


Brak!


Meja terguncang dan semua makanan di atasnya jatuh ke permukaan. Wajah kelima pria paruh baya menghitam, penuh kekesalan. "Bajingan, siapa kau!"


Yin Cun bergeming di posisinya, matanya sudah gelap, tak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Jelas kelima pria ini berada di atas tingkatannya, ia datang mencari masalah sama saja dengan mengantarkan nyawa.


Namun beruntung ia memiliki Zhou Fan yang akan menjamin keselamatannya, atau dapat dipastikan ia tak akan kaluar dari kedai ini dalam keadaan bernyawa.


Zhou Fan sendiri duduk di meja dekat tempat kelima pria paruh baya, menyaksikan keributan yang ditimbulkan oleh temannya.


Yin Cun ini memang gila, tanpa memandang siapa lawannya dia rela bertarung demi tunangannya. Zhou Fan mengakui bahwa sikap Yin Cun sangat berani, tapi berani sampai bertindak tanpa berpikir sama saja dengan bodoh.


"Tuan muda, apakah aku perlu membantunya?" Ciu San bersiap mengeluarkan senjata, tapi Zhou Fan mengangkat tangannya.


"Tidak perlu, biarkan dia bertarung. Meski babak belur, selama belum mati biarkan saja."


Ciu San menggaruk tengkuk kepala yang tak gatal, ia menjadi ragu bahwa hubungan tuan mudanya dengan pria bernama Yin Cun itu adalah teman. Tuan mudanya terlalu kejam.


Namun apa yang ada dalam kepala Zhou Fan tidak akan ada yang mengetahuinya, ia membiarkan Yin Cun bertarung karena ingin menyadarkannya agar tidak bertindak tanpa berpikir. Daratan Tian Hu berbeda dengan Daratan Tian Lei, yang terkuat di daratan Tian Lei hanya seperti semut di sini.


Yin Cun mungkin masih belum menyadari perbedaan itu dan Zhou Fan ingin membuatnya sadar.


Kembali ke tempat Yin Cun...


"Di mana markas kalian?"


Yin Cun tertawa sinis, "Kalian jangan berpura-pura, kalian adalah bajak siluman. Tidak perlu lagi banyak bicara, di mana markas kalian?"


Air muka kelima pria paruh baya seketika berubah, nampak mereka kembali saling pandang.


"Kau mengetahui siapa kami, tapi tetap mencari masalah. Kau memang mencari kematian!" Tepat setelah berkata lima pria paruh baya meraih senjata yang tergeletak di atas meja.


Hem...


Tak ada kata yang terucap dari mulut Yin Cun, membuat kalima bajak siluman menggeram murka. "Bajingan, ku bunuh kau!"


Mereka langsung membalikkan meja, menendang kursi. Namun, dengan cepat Yin Cun hempaskan menggunakan tongkatnya.


Kelima pria paruh baya saling melirik, lalu memberikan serangan mematikan. Yin Cun berusaha menahan, tapi kekuatannya terlalu lemah, tubuhnya pun terlempar.


Bruak!


Dinding kedai berlubang, meja meja hancur berantakan. Beberapa pengunjung langsung keluar, tak ingin terlibat dalam pertarungan. Yang ada di dalam hanya beberapa orang, termasuk Zhou Fan serta Dua Kapak Kembar.


Yin Cun bangkit setelah mendapat serangan, tapi salah seorang pria paruh baya melesat mengayunkan kaki menyambar.


Blam!


Tubuh Yin Cun kembali menghantam dinding kedai. Serangan belum berakhir, dengan kekuatan mereka yang berada di atas mengeluarkan jurus mematikan.


Yin Cun tak bisa bergerak, dari mulut keluar darah segar. Memang ia sangat bodoh, melawan lima petarung yang jelas berada di atas tingkatannya. Namun ia rela melawan mereka hanya karena satu alasan, menyelamatkan seorang yang berarti baginya.


Sebuah serangan melesat dengan cepat. Yin Cun melihat serangan itu, tapi tak bisa untuk menghindar.


Blar!


Serangan menghujam dengan keras, menimbulkan ledakan yang memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu tawa puas terdengar dari mulut kelima pria paruh baya. "Bajingan, salahkan dirimu yang terlalu bodoh. Tidak tahu diri!"


Asap perlahan memudar, memperlihatkan seorang pria muda berdiri dengan sorot mata mengancam.


"Dasar bodoh, jika kau tak ingin nyawamu. Aku akan membantumu dengan tanganku sendiri." Sambil melirik Yin Cun ia berkata, membuat Yin Cun mendengus.


Cih!


"Sejak tadi kau hanya diam, aku menyesal memiliki saudara sepertimu."


Dia adalah Zhou Fan, perlahan mengalihkan pandangan kembali ke depan. "Sebelum bertarung, pikirkan baik-baik konsekuensinya. Setidaknya kau harus mengetahui tingkat kekuatan lawan."


"Siapa kau? Datang ingin menolong, kau akan berakhir sama sepertinya!" Sambil menunjuk Yin Cun mereka berkata dengan arogan.


"Hanya dengan lima orang, kalian tidak pantas!"


Wosh...


Bruk!


Bruk!


Bruk!


Dalam satu serangan empat orang jatuh tak bernyawa, tersisa satu orang dan tubuhnya kini gemetar bahkan tangan tak mampu menggenggam pedang.


"Di mana markas kalian?" tanya Zhou Fan.


Pria itu mundur, wajahnya pucat pias. Benar-benar ketakutan. "Ka-ka... Kau siapa?"


Zhou Fan berjalan maju, pedang darah malam nampak berkilau samar. "Katakan atau mati!"