Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 147 : Terkepung


"Tuan muda, mereka telah menyadari penyamaran kita." Ciu San datang sudah dengan kapak di tangannya, begitupun dengan Zhi Long yang tak mau ketinggalan.


Leng Shui datang dengan puluhan wanita di belakangnya, mereka adalah tawanan dari ruang satu, dua, dan tiga. "Jangan diam saja, ikuti aku."


Zhou Fan terdiam di tempatnya, sedang Leng Shui serta Bing Roxue membimbing puluhan orang menulusuri lorong bawah tanah.


Melihat Zhou Fan hanya diam, Leng Shui berseru. "Di sana terdapat jalur rahasia, akan membawa kita pergi dari kediaman keluarga Chen. Cepatlah bergerak, tapi jika kau berniat menyerahkan nyawa juga tak masalah. Diam saja dan tunggu mereka datang."


Ciu San serta Zhi Long melirik Zhou Fan, mendapati anggukan mereka pun mengikuti kemana Leng Shui pergi.


Yin Cun serta Miao Ling tak mau ketinggalan mengikuti rombongan dari belakang.


Zhou Fan masih berpikir, tidak mungkin mereka dapat kekuar dengan begitu mudah. Tidak tahu ada kejutan seperti apa yang akan menyambut mereka.


"Di sana! Itu adalah jalan keluarnya." Leng Shui menunjuk ke sebuah arca patung budha yang memegang sebilah pedang di tangannya.


Tanpa basa-basi ia mengambil pedang itu dan sebuah pintu tercipta di antara dinding.


"Cepat masuk," pinta Leng Shui kepada seluruh wanita. Meski mereka bukan manusia biasa, juga tidak bisa berbuat banyak dengan kultivasi yang begitu rendah.


Leng Shui berdiri di sebelah pintu, memastikan semua telah masuk ke dalam. Ia melihat Zhou Fan yang masih diam nampak enggan untuk masuk.


"Jika kau tidak mau masuk, aku akan menutup pintu ini." Leng Shui membalikkan tubuhnya, benar-benar ingin menutup pintu.


"Kau terlalu meremehkan keluarga Chen. Apakah dengan melintasi jalur ini akan menjamin keselamatan kalian?"


Leng Shui terdiam, tak bisa berkata sepatah kata pun.


"..."


"Jika kau tak mau ikut, aku juga tak akan memaksa." Leng Shui menutup pintu rahasia tersebut, menguncinya dari dalam.


"Cukup kejam," ucap Zhou Fan pelan.


Leng Shui membalikkan tubuhnya, Zhou Fan telah berada di depannya. Keningnya mengerut, sejak kapan pria ini masuk, bukankah ia masih berada di luar?


Hem...


"Hanya masuk saja kau begitu sulit, pada akhirnya juga tetap masuk. Heh!" Leng Shui melesat mengejar rombongan yang sudah terlebih dahulu keluar.


Zhou Fan menggelengkan kepala, ia hanya mengingatkan, bukan berarti tak berniat ikut pergi.


"Junior, kita sampai." Bing Roxue berhenti, puluhan orang di belakangnya pun juga berhenti.


Leng Shui menengadahkan kepala, mengamati dengan seksama. Ketika memastikan bahwa ini memang adalah jalan keluarnya, ia mengeluarkan pedang menyerang langit-langit.


Blar!


Lubang lumayan besar tercipta dan itu jelas adalah jalan keluar. Satu persatu mereka melompat dan dalam waktu singkat hanya tersisa Leng Shui bersama Zhou Fan.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Leng Shui dengan sarkas.


Zhou Fan menggelengkan kepala pelan, "Kau duluan."


Cis...


Leng Shui mendengus, kemudian melompat ke atas menyusul puluhan orang lainnya. Tepat setelah itu Zhou Fan melompat dan keluar. Namun bukannya bebas, mereka malah berada dalam kurungan ratusan orang.


"Tuan besar, itu mereka. Mereka yang telah mencoba menyingkirkan kami, bahkan merebut pakaian kami." Seorang pria tua berkata sambil menunjuk Zhou Fan. Dia mengenakan pakaian brahmana, sangat mirip dengan yang dikenakan Zhou Fan, Yin Cun serta Dua Kapak Kembar.


Zhou Fan memandang ke sekitar, matanya tak berhenti bergerak menelisik kekuatan lawan.


Chen Yang berada di tingkat petarung suci bintang dua. Ia bisa menghadapinya, tapi keberadaan beberapa orang lainnya sangat tidak menguntungkannya. Kasim Jun juga berada di tingkat petarung suci, tepatnya petarung suci bintang satu.


Andai hanya dua orang itu, ia masih mampu. Namun keberadaan ratusan orang lainnya, serta para wanita di belakangnya, membuat ia tak tahu harus bagaimana.


"Aku tak mengira mereka akan menunggu di sini, ini jelas adalah jebakan." Leng Shui menggelengkan kepala, jelas keadaan sangat tidak menguntungkan mereka.


"Aku sudah mengatakannya, ini tidak akan mudah."


Leng Shui memandang Zhou Fan, "Baik, keputusanku memang salah dan kau benar." Meski sangat enggan ia juga harus mengakui bahwa ini karena ia salah perhitungan.


Zhou Fan terkejut, tak menyangka jika wanita ini bisa mengaku salah.


"Menyerahlah! Jika kalian menyerah, aku akan melupakan masalah ini dan menganggap tak ada yang terjadi. Tapi jika kalian melawan maka akhir yang sangat buruk kalian dapatkan," ucap Chen Yang dengan suara lantang.


Puluhan wanita seketika ragu, tak mungkin bagi mereka untuk melawan dan hanya ada satu pilihan agar tetap bertahan. Mengikuti kemauan Tuan Besar Chen.


Satu wanita maju ke depan, "Tuan besar, aku menyerah."


Chen Yang tertawa, kemudian melirik ke salah seorang penjaga. "Tangkap dia dan bawa kembali ke ruangan bawah tanah."


Pria tua itu beralih ke puluhan wanita lainnya. "Aku akan memberikan kalian satu kesempatan lagi, setelah itu akhir dari kalian adalah kematian."


Satu persatu wanita maju ke depan, dengan itu belasan penjaga maju dan membawa mereka kembali ke ruangan bawah tanah.


Leng Shui menggeram kesal, ia mengutuk para wanita itu yang tidak mau berjuang dan lebih memilih pasrah menerima keadaan. Sangat sia-sia ia menyelamatkan mereka.


Sekarang hanya ada sekitar belasan orang saja, termasuk Zhou Fan, Leng Shui, Yin Cun, Miao Ling, Dua Kapak Kembar, serta Bing Roxue.


Dari salah seorang wanita yang memilih untuk tetap bertahan, Zhou Fan mengingat wajah satu di antara mereka. Wajahnya sama persis dengan lukisan yang ditunjukkan pelayan kedai waktu itu. Tidak salah lagi, dia pasti putri pelayan kedai.


"Waktu habis!" Chen Yang mengangkat tangan, kemudian menunjuk belasan orang yang masih kekeh ingin melawan. "Karena kalian tidak menyerah, maka tanggung lah akibatnya."


Tepat setelah berkata, Chen Yang mengayunkan pedang. Seluruh pasukan menyerang, seratus melawan delapan belas orang, sungguh perbandingan yang tidak masuk akal.


Namun mereka terlalu meremehkan Zhou Fan, tiga petarung suci termasuk Chen Yang hanya diam di tempat. Mereka sangat yakin dengan ratusan orang penjaga.


Begitu seratus orang mendekat, Zhou Fan mengeluarkan tombak dan melakukan gerakan yang begitu dahsyat. Pusaran angin berhembus kencang, perlahan semakin besar.


Para penjaga tak menganggap pusaran angin berbahaya dan mencoba menerobos paksa. Namun yang terjadi membuat mereka menyesal, tubuh langsung terhempas dengan luka yang sangat parah.


Mata Chen Yang terbuka lebar, ekspresi wajahnya nampak murka. "Bajingan, aku meremehkanmu!" Pria tua itu memutar pedangnya, melesat ke tempat Zhou Fan berada.


Kasim Jun serta seorang pria tua berpakaian merah menerjang mengikuti tuan mereka. Zhou Fan yang melihat pergerakan tiga pria tua, langsung mendorong tombak mengeluarkan salah satu jurus andalannya.


"Tombak naga!" Kepala naga muncul di ujung tombak, bergerak menghujam Chen Yang yang masih melesat.


Kepala keluarga Chen itu mendengus, mengangkat pedang lalu mengeluarkan jurus. "Pengguncang semesta!"


Siluet tebasan sangat besar menghujam kepala naga. Ketika dia jurus bertemu ledakan maha dahsyat terdengar.


BLAR!


Tanah berhamburan, asap menutup pandangan.


Ketika pandangan kembali normal, Zhou Fan tidak berdiri dengan membawa tombak, melainkan pedang berwarna merah kehitaman. "Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai."