Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 169 : Pertarungan Sengit


Grah...


Beast laba-laba berwajah manusia mengeluarkan suara dari mulut bercapit miliknya.


Tuan Kota mematung di tempatnya, begitupun dengan keempat patriark yang tak lagi memiliki kekuatan untuk bertarung.


Kemunculan laba-laba berwajah manusia bisa dikatakan belum pernah terjadi, ini adalah yang pertama kali. Bahkan sebelum ini tak ada yang percaya jika beast ini benar-benar ada.


Penampakan sosok beast ini bisa dibilang sangat unik lantaran merupakan perpaduan tiga makhluk, yakni manusia, laba-laba dan juga semut. Namun, bagi sebagian besar orang mungkin sedikit mengerikan.


Tuan Kota memandang dengan ragu, tak disangka akan ada kemunculan beast tingkat delapan yang setara dengan petarung suci bintang lima dalam gelombang serangan beast.


Apakah ini adalah akhir dari Kota Zi?


Pertanyaan itu melintas begitu saja dalam pikiran Tuan Kota. Petarung suci bintang lima merupakan keberadaan langka, bahkan tak ada satupun orang yang telah mencapai tingkatan itu dalam wilayah Kota Zi.


Andai ia dan empat patriark masih dalam situasi terbaik mereka, mungkin menahan beast laba-laba berwajah manusia bukanlah sesuatu yang mustahil.


Zhou Fan mengedarkan pandangannya, nampak sekali jika pasukan Kota tak lagi memiliki kekuatan untuk meneruskan pertarungan.


Hem... Tidak ada pilihan lain.


"Tuan Kota, engkau bawa semua orang kembali ke kota."


Mata Tuan Kota terbelalak mendengar ucapan Zhou Fan.


"Junior, apa maksudmu? Apakah kau akan mengdapinya sendiri, jangan bercanda!" Tuan Kota tentu tak bisa pergi begitu saja, jika sampai laba-laba ini memasuki kota maka kehancuran Kota Zi sudah dapat dipastikan.


Zhou Fan memalingkan pandangan sekilas, kemudian kembali memandang beast laba-laba berwajah manusia. "Jika kalian tetap di sini apa yang dapat kalian lakukan? Lebih baik kembali dan oukihkan diri. Kalian bisa berjaga di gerbang kota sebagai bentuk pencegahan."


Mendengar ucapan Zhou Fan semua orang merasa kesal, termasuk Tuan Kota sendiri. Namun apa yang dikatakan tidak salah sama sekali. Bertahan hanya akan mengantar kematian.


"Tuan Kota, cepat bawa semua orang pergi, terlalu lama membuat keputusan bisa berakibat fatal." Zhou Fan tetap tak bergeming, ucapannya mampu membuat Tuan Kota bimbang.


"Tuan Kota, kita jangan sia-sia pengorbanan junior ini. Setidaknya kita harus mempertahankan kota." Perkataan Patriark Gang membuat Tuan Kota menghela nafas panjang.


Dengan berat hati Tuan Kota menginstruksikan kepada semua orang untuk kembali ke kota. Banyak yang heran kenapa kembali padahal laba-laba berwajah manusia datang dengan kekuatan besar, lantas siapa yang menghadapi beast tingkat delapan itu?


Meski banyak pertanyaan, mereka tetap mengikuti Tuan Kota kembali ke Kota Zi sementara di sana tersisa Zhou Fan, Dua Kapak Kembar serta Zhou Jim.


"Tuan muda, apa yang akan kita lakukan?" tanya Ciu San, ia sangat yakin tuan mudanya telah mempertimbangkan semuanya. Menyuruh Tuan Kota serta pasukannya kembali jelas Tuan mudanya ini yakin dapat mengalahkan laba-laba berwajah manusia.


Tidak seperti yang Ciu San pikirkan, Zhou Fan sama sekali tidak tahu apakah bisa menghadapi beast laba-laba berwajah manusia atau tidak. Namun ia ingin menjajal kekuatannya dengan memaksakan dirinya menghadapi lawan yang ada di atas tingkatannya.


"Aku akan menghadapinya, kalian tak perlu ikut campur."


Ciu San dan Zhi Long termenung. "Tuan Muda, bukankah itu terlalu berbahaya. Dan lagi laba-laba ini terlihat marah, mungkin berpikir kita telah mengusir mangsanya."


"Kalian menjauhlah, aku akan menghadapinya."


Ciu San dan Zhi Long saling pandang, mereka tak lagi bisa mempengaruhi keputusan Zhou Fan. Hanya bisa berharap tak terjadi apapun terhadapnya.


Dua saudara kembar itu menjauh puluhan mill jauhnya, tak ada keinginan untuk mendekat atau sekedar menyaksikan. Hal itu tidak lain karena khawatir terkena imbas serangan yang tak sengaja menyasar. Selain itu juga racun laba-laba berwajah manusia sangat berbahaya, bahkan mampu menjangkau jarak bermil-mil jauhnya.


Sekarang Zhou Fan berhadapan dengan laba-laba berwajah manusia, tapi di antara mereka belum ada satupun yang bergerak lebih dulu.


Laba-laba berwajah manusia masih memandang dengan sorot sang pemangsa, menganggap Zhou Fan adalah makanan untuknya.


Sash...


Suara itu sekali lagi terdengar dari mulut bercapit miliknya, maju dengan delapan kaki menyerang mengeluarkan sebuah racun dari mulut.


Zhou Fan menarik tubuhnya ke samping, menghindari racun berwarna hijau kehitaman tersebut.


Racun sangat mengerikan, begitu mengenai daun kering di atas permukaan tanah langsung lenyap terkikis perlahan.


"Racunnya bersifat korosif, aku harus hati-hati." Zhou Fan menggenggam pedang darah malam, bersiap mengeluarkan teknik dewa pedang.


Laba-laba berwajah manusia yang melihat serangan tak mampu melumpuhkan lawan sontak mengangkat kaki menghantam Zhou Fan dengan kuku yang runcing.


Zhou Fan tak jadi mengeluarkan serangan, membentangkan pedang darah malam menahan lesatan kaki beast laba-laba.


Trank!


Ketika beradu serangan Zhou Fan merasakan tekanan yang luar biasa. Meski kekuatan serangannya setara dengan petarung suci bintang lima, tetap saja tak bisa dibandingkan dengan beast petarung suci tingkat lima yang memiliki fisik luar biasa.


Namun, kelebihan seorang manusia dibandingkan dengan beast adalah memiliki akal yang dapat dimanfaatkan. Dengan mengamati serangan beast laba-laba berwajah manusia, perlahan Zhou Fan mulai mengerti alur serangan dari beast berkaki delapan tersebut.


Laba-laba berwajah manusia mengayunkan kaki, setiap hantaman menyebabkan guncangan yang sangat terasa. Bagaikan tombak kakinya yang runcing menusuk melesat masuk ke dalam tanah.


Zhou Fan melihat ini adalah ini adalah kesempatan, tanpa pikir panjang melesatkan tebasan.


Pedang darah malam bergerak cepat, menebas kaki yang masih terjerembab dalam tanah.


Trank!


Laba-laba berwajah manusia kehilangan keseimbangan dan dengan kaki yang masih terperangkap jatuh terguling.


Bum!


Tanah terguncang, beberapa pohon tumbang tertimpa tubuhnya yang besar. Namun ini bukanlah akhir dari laba-laba berwajah manusia, tepat setelah itu beast tingkat delapan tersebut bangkit dan menampilkan ekspresi yang menyeramkan. Wajahnya yang menyerupai manusia dipadukan dengan mulut bercapit laksana semut memang mengerikan.


Plash...


Laba-laba berwajah manusia untuk yang kedua kalinya menyemprotkan racun hijau yang memiliki sifat korosif.


Zhou Fan langsung menghindar, telat sedikit saja pakaian bahkan kulitnya yang akan menjadi korban.


Namun, serangan beast laba-laba berwajah manusia masih berlanjut. Dengan dua kaki depannya ia menyerang Zhou Fan, seperti dua sumpit yang mencoba meraih makanan.


Zhou Fan melompat ke sana kemari, sesekali menahan dengan menggunakan pedang.


Trank!


Dua kaki berada di atas kepalanya, hanya dipisahkan pedang darah malam yang mencoba menahan.


Zhou Fan menghentak tangan mendorong ke atas yang seketika memaksa laba-laba berwajah manusia menarik kedua kakinya.


Pedang darah malam berputar, mulai bersiap mengeluarkan serangan. "Tebasan Ganda!"


Pedang melakukan tebasan dua kali secara beruntun. Siluet tebasan pun nampak jelas bergerak ke tempat laba-laba berwajah manusia.


Sementara beast laba-laba berwajah manusia menyilangkan kedua kaki depan menahan serangan. Tapi yang tidak ia ketahui jurus tebasan ganda bukanlah jurus biasa.


Dua siluet tebasan terlalu kuat, tubuh laba-laba berwajah manusia terhempas dan menumbangkan puluhan pohon di belakangnya.


Zhou Fan menggenggam erat pedang darah malam, nafasnya mulai memburu dan keringat mulai menginvasi setiap lekuk tubuhnya. Melihat laba-laba berwajah manusia kembali bangkit, Zhou Fan menyeka keringat di keningnya.


Hem...


"Beast yang setara dengan petarung suci bintang lima memang berbeda."