
Jing Tian menggeram kesal, amarah nampak jelas dalam ekspresinya. Sekali lagi Zhou Fan merebut miliknya. Perhatian seluruh penonton seharusnya terpusat kepadanya, tapi karena Zhou Fan, keberadaannya di anggap semu oleh semua orang.
"Kau akan menyesalinya!" Jing Tian mengepalkan tangan, api yang membalut pedangnya semakin besar.
Zhou Fan berdiri begitu tenang, hal ini membuat Jing Tian semakin kesal.
"Hyat!"
Jing Tian berteriak lantang, ia maju sambil menegaskan pedang sejajar. Begitu pedang bergerak api langsung menyambar.
Melihat hal ini Zhou Fan memberikan serangan balasan, mengayunkan pedang darah malam.
Blar!
Dua api yang bertubrukan seketika menimbulkan ledakan, kilatan cahaya yang tercipta membuat beberapa orang menyipitkan mata.
Setelah adu serangan tersebut, Jing Tian melesat dan menggempur Zhou Fan dengan teknik bertarungnya.
Zhou Fan mengeluarkan teknik dewa pedang, gerakan tingkat ketiga sudah cukup untuk menghadapi serangan pedang Jing Tian.
Tuan muda keluarga Jing itu belum mengeluarkan kekuatan penuhnya, tapi tak bertahan lama sampai ia merasa tak mampu menghadapi teknik pedahg Zhou Fan.
Zhou Fan merasakan tiba-tiba kekuatan serangan Jing Tian meningkat, ia mulai menarik tekniknya dan mengganti dengan teknik dewa pedang yang sesungguhnya, merupakan kombinasi dari ketiga tingkatan.
Jing Tian kewalahan, gerakan pedang Zhou Fan benar-benar tidak berada di tingkat yang sama dengannya.
"Bajingan, aku tidak akan kalah darinya!" Jing Tian mundur, memutar pedangnya perlahan.
Nampak bibirnya merapalkan sebuah bacaan, sementara pedang di tangannya bersiap melakukan sebuah gerakan. "Pedang Pembalik!!" teriak Jing Tian dengan lantang.
Mata Zhou Fan berkedut, ia tahu jika jurus yang dikeluarkan sama dengan sebelumnya, tapi entah mengapa ada perasaan yang asing dalam jurus ini.
Tak mau memikirkannya terlalu dalam, Zhou Fan mundur beberapa langkah untuk mencari ruang. Begitu mendapatkan tempat berpijak yang pas, ia melakukan tebasan dua kali secara beruntun.
"Tebasan Ganda!" gumamnya pelan.
Tepat setelah itu dua tebasan melesat menerjang jurus pedang pembalik milik Jing Tian.
Jing Tian tersenyum percaya diri, dalam benaknya ia berkata. "Jurus ku ini mempunyai kekuatan dua kali lebih besar dibandingkan sebelumnya. Mencoba melawannya, kau akan hancur berkeping-keping."
BLAR!!
Jurus pedang pembalik milik Jing Tian hancur tak bersisa, seolah kaca yang dihantam sebuah batu besar.
Mata Jing Tian melebar, mulutnya terasa kelu. "Ti-tidak mu-mungkin!"
Itu adalah jurus terkuat miliknya, tingkat sempurna dari jurus pedang pembalik. Namun tetap tak bisa menembus jurus milik Zhou Fan.
"Serangan belum berakhir."
Jing Tian yang mendengar suara samar langsung menengadahkan kepala, melihat sebuah siluet tebasan yang mengarah ke arahnya.
"Ti-tidak, ini mustahil!" Jing Tian melirik ke belakang, batas arena telah berada tepat di bawah kakinya. Namun jurus Zhou Fan masih melesat, tidak mungkin untuk menghindar.
Dengan terpaksa ia membentangkan pedangnya, menahan jurus yang sudah di depan mata.
Blar!
Sekali lagi ledakan terdengar, semua orang menahan nafas, menantikan siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Akan tetapi asap tebal itu masih menghalangi pandangan, mereka tak bisa melihat dengan jelas.
Beberapa saat asap terhempas oleh ayunan tangan sang juri, nampak Zhou Fan berdiri dengan sebuah pedang di tangannya, sementara Jing Tian duduk di antara satu kaki dengan pedang terbentang di depan tubuhnya.
Keduanya masih berada di atas arena, tidak satupun dari mereka yang kehilangan kesadaran.
"Pertarungan belum berakhir!" Beberapa orang berseru dengan serentak.
Krak...
Krak...
Jing Tian pun melirik pedangnya.
Pyar!
Baru saja dia akan menggerakkan tangan, pedang sudah hancur berkeping-keping.
Semua penonton terbelalak dengan kejadian ini. Tak ada yang tak tahu bahwa pedang Jing Tian merupakan salah satu senjata rank mitick, bahkan kualitasnya termasuk kualitas terbaik yang ada di Kota Hong.
Namun pedang rank mitick itu hancur berkeping-keping setelah menahan serangan Zhou Fan. Benar-benar serangan yang mematikan!
"Nampaknya pemenang pertarungan telah dipastikan."
"Tidak aku sangka, Jing Tian kalah. Padahal dia adalah kandidat utama dalam turnamen tahun ini."
Jing Tian menundukkan wajahnya, perasaan marah malu serta benci bercampur dalam kepalanya.
"Apakah mau melanjutkan pertarungan?" Zhou Fan menurunkan pedangnya, bertanya kepada Jing Tian.
Namun pria tiga puluh delapan tahun itu hanya diam.
Zhou Fan melirik ke tempat juri, juri pun mengangguk. "Posisi pertama turnamen klan besar, Zhou Fan--dari Klan Heng."
Patriak klan langsung berdiri dari tempatnya, tanpa peduli banyak mata memandang ia melompat ke atas arena. Tidak hanya dia, tapi juga Heng Biyen, Heng Biyu, serta beberapa orang lainnya.
"Berkah bagi klan Heng, ini adalah berkah bagi Klan Heng." Patriark klan begitu senang, dia beberapa kali bersujud mengungkapkan rasa bahagianya.
Kemenangan ini bukan sekedar mendapatkan tempat pertama, tapi adalah hak pemilik tambang mineral sementara. Dengan hak itu, dapat dipastikan Klan Heng akan kembali berjaya setelah beberapa tahun mengalami kemunduran.
"Selamat untukmu saudara Zhou, kau pantas menjadi yang terbaik." Xuan Yu menjabat tangan Zhou Fan.
Zhou Fan membalas dengan senyum. "Kau juga, teknik pedangmu tidak kalah hebat dari ku."
Xuan Yu tertawa canggung, ia tahu kemampuannya. Membandingkan dengan Zhou Fan, sungguh ia hanya butiran debu.
"Selamat Patriark Heng," Beberapa kepala keluarga bangsawan kecil serta patriark klan tingkat kedua ketiga datang bergantian memberikan selamat, tentu saja mereka berusaha menjalin hubungan dengan Klan Heng yang beberapa tahun ke depan akan memegang hak atas tambang mineral.
Setelah basa-basi yang cukup membuat bosan, berangsur arena pertarungan kembali kosong.
Zhou Fan yang hendak turun melihat Jing Tian, tatapan menatap pria itu nampak dongkol. "Hem... " Namun ia hanya menghembus nafas pelan, tak peduli dengan tuan muda keluarga Jing tersebut.
"Tuan muda?"
Zhou Fan mencari, ia seperti mendengar suara Ciu San. Tapi bukankah dua saudara itu tidak berada di sini?
"Tuan muda?!"
Tiba tiba muncul dua pria paruh baya di hadapannya, hampir saja ia menampar kedua orang ini jika tidak dengan segera mengenali mereka.
"Kalian, mengapa kalian di sini?" tanya Zhou Fan kepada Dua Kapak Kembar.
"Hehe, kami mendengar ada turnamen. Kami datang ingin melihat keramaian, tak menyangka malah bertemu tuan muda." Ciu San menggaruk tengkuk kepalanya, kemudian beralih pada seorang wanita yang berjalan menuju mereka.
"Patriark klan mengundangmu dalam perjamuan, bisakah kau menghadirinya?" Wanita itu adalah Heng Biyu, dia datang menyampaikan pesan patriark klan.
"Aku sudah mengatakan kepadamu, aku akan pergi setelah turnamen berakhir." Zhou Fan menggelengkan kepala.
"Tuan muda, tidak ada salahnya jika kita pergi menghadiri perjamuan. Kita tak bisa makan tanpa mengeluarkan modal." Ciu San sangat berterus terang, membuat Heng Biyu menyipitkan mata.
"Tidak ada yang mengundangmu, kenapa kau begitu percaya diri." Ucapan Zhou Fan cukup menusuk, membuat Zhi Long tertawa, sedang Ciu San memalingkan muka.
"Kalian juga diundang, jadi ayo kembali ke kediaman." Mendengar ucapan Heng Biyu, Ciu San langsung mengambil langkah besar. "Kita berangkat," ucapnya dengan senang.
Zhou Fan menghela nafas panjang, hanya bisa melihat kelakuan Ciu San yang tak masuk akal. Jelas jika perkataan Heng Biyu agar ia mau hadir dalam perjamuan, bagaimana mungkin Ciu San serta Zhi Long diundang jika patriark klan saja tak mengetahui keberadaan mereka.
Namun pada akhirnya Zhou Fan mengikuti dari belakang. Lagi pula tidak ada salahnya menyanggupi undangan makan tanpa membayar. Itu menghemat pengeluaran.