
Di kediaman tetua agung...
"Kau kah itu? Benar, itu kau. Aku mengingat wajahmu." Song Dayi semula agak ragu, tapi ketika melihat dari dekat dia sepenuhnya yakin jika pemuda yang baru datang adalah yang menyelamatkannya.
"Kakek, dia adalah saudaraku. Dia juga yang telah menyelamatkanmu." Shao Mingrui duduk di samping tempat tidur, memperkenalkan Zhou Fan kepada kakeknya.
Song Dayi mengangguk, dia tahu bahwa memang pemuda ini yang menyelamatkannya, karena saat jiwanya terjebak dalam ilusi, dia bisa melihat jelas jika pemuda ini yang menyadarkannya.
"Nak, sepertinya kau berkemampuan, entah mengapa aku merasa kau lebih kuat dari yang terlihat. Siapa namamu?" Song Dayi sampai lupa menanyakan nama penolongnya.
"Pemuda ini bernama Zhou Fan, tetua." Zhou Fan kemudian duduk setelah pelayan datang membawakan tempat duduk.
"Zhou Fan, aku tak ingat ada marga Zhou di Kekaisaran Shao. Apakah kau berasal dari luar?" Song Dayi merupakan seorang yang hidup ratusan tahun, dia sudah berkecimpung dengan seluk beluk Kekaisaran Shao.
"Benar yang tetua pikirkan, memang junior bukan bagian dari Kekaisaran Shao." Zhou Fan mengatakan apa yang sebenarnya, memang dia bukan bagian dari Kekaisaran Shao.
"Cucuku mengatakan jika aku sudah tak sadarkan diri berbulan bulan, banyak yang mencoba membangunkanku tapi tidak bisa. Namun kau sekali coba dapat berhasil, aku penasaran dengan cara kau melakukannya." Song Dayi duduk tegak menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur.
Zhou Fan menggaruk kepala bagian belakang. "Tetua terlalu berlebihan, mereka yang gagal menyembuhkan tetua itu karena mereka salah mengetahui keadaan yang sebenarnya. Mereka mengira tetua terkena racun es akibat serangan balik jurus yang dikeluarkan, tapi sebetulnya tetua berada dalam sebuah segel ilusi."
Song Dayi mencoba mengingat pertarungan terakhir kali yang menguatnya tak sadarkan diri. "Aku mengingat jika lawan yang aku hadapi, petarung suci milik pangeran pertama, mengeluarkan sebuah kotak hitam, ketika kotak dibuka seberkas cahaya putih melesat masuk melalui dahi."
" ... Aku rasa itu yang membuatku terjebak dalam ilusi sampai kau datang dan memprovokasiku dengan membunuh cucu serta putriku." Song Dayi tertawa lirih ketika mengingat ekspresi marahnya saat itu.
Zhou Fan pun tertawa lirih, dia juga merasa hal itu sungguh konyol jika di ingat dari sekarang. Tapi saat masih berada dalam ilusi, Zhou Fan benar benar tak berpikir kemarahan itu konyol, sangat mengerikan.
Sementara Shao Mingrui yang tidak tahu apapun hanya bisa memandang dengan pandangan aneh sekaligus heran. Dia bertanya tanya apa yang terjadi diantara kakek dan juga saudaranya.
"Emn... Saat itu kau berkata, jika cucuku sudah memiliki putra, apakah itu benar?" Song Dayi memandang Shao Mingrui.
"Kakek, sebenarnya apa yang kalian bahas di sana?" Shao Mingrui penasaran, Song Dayi hanya terkekeh.
"Saat itu dia tiba tiba datang, aku menyambut baik kedatangannya, tapi siapa sangka dia malah membunuhmu dan ibumu. Aku langsung marah dan menyerangnya dengan brutal, tapi dia bersikukuh meyakinkanku jika itu hanyalah ilusi."
Shao Mingrui mangut mangut. "Dan kakek, kau percaya?"
"Tentu saja tidak, aku terus mencecarnya dengan serangan mematikan, tapi dapat diatasi dengan begitu mudah. Aku mulai serius, dan ingin mengeluarkan teknik bertarung, tapi dia mengatakan jika kau masih hidup, bahkan telah memiliki putra. Seketika energi yang meluap luap itu menghilang, tak tahu mengapa aku sudah berada di sini."
Shao Mingrui kembali mengangguk. "Itu benar kek, aku memiliki putra, saat ini dia berada di Kota Bei Xian."
Mata tua Song Dayi seketika membulat mendengar perkataan cucunya. "Apa! Kau meninggalkannya di sana, bagaimana kau bisa melakukan itu?"
Zhou Fan yang sejak awal hanya menyimak berkata. "Tetua bisa tenang, sebenarnya Kota Bei Xian sudah berada di tangan kami, hanya saja orang luar tidak tahu masalah ini."
Terdengar hela nafas lega dari Song Dayi, di umurnya yang sudah semakin tua tidak ada lagi harapan selain bisa menyaksikan cucunya mempunyai anak dan anaknya mempunyai anak lagi.
Dia berharap di sisa hidupnya bisa melihat wajah wajah bahagia keturunannya, tapi sepertinya hal itu akan sulit mengingat siapa identitas cucunya.
Pangeran kekaisaran, bagi seorang pangeran tidak ada kata damai selama kursi takhta belum ditentukan, bahkan setelah ada penerus masih harus bertahan dari saudara yang menginginkan kekuasaan.
"Aku mengingat jika setahun lalu kau mengirim kembali Penatua Song, dia berkata jika kau menyuruhnya untuk mengumpulkan orang. Entah sampai sejauh mana dia bisa melakukan tugasnya, andai aku tak berada dalam kondisi seperti ini mungkin seluruh Kota Chen sudah berada di dalam genggaman."
Ucapan Song Dayi bukan sekedar bualan, dia yang merupakan orang nomor satu di Kota Chen tentu memiliki kemampuan untuk menyatukan klan klan yang ada di bawah kendalinya, terlebih dengan nama pangeran ketiga sebagai cucunya.
"Penatua mengatakan setidaknya hampir separuh sudah bersedia, setengah dari jumlah keseluruhan masih ragu karena kabar kakek yang tak sadarkan diri." Song Dayi menghela nafas mendengar perkataan Shao Mingrui, dia tahu tanpanya Klan Song tidak akan memiliki tempat di mata setiap klan di Kota Chen.
Namun saat ini dia sudah kembali bisa bangkit, meski tubuhnya perlu memulihkan diri beberapa hari.
"Tetua, jika berpikir untuk menyebarkan kabar kesembuhan, aku rasa itu bukan pilihan yang tepat. Jika sampai terdengar oleh pangeran pertama bukan tidak mungkin dia akan kembali datang." Zhou Fan berpikir harus menunggu beberapa waktu sampai kondisi Song Dayi benar benar pulih, selain itu membiarkan lawan terlarut dalam kepercayaan diri dapat membuat mereka lengah dan tak waspada.
Song Dayi diam untuk beberapa saat, dia perlahan mengangguk. Dia merasa itu sangat masuk akal, biarkan Kota Chen berdiri tanpa ancaman untuk beberapa waktu, pangeran pertama terlalu menilai rendah Kota Chen tanpa dirinya.
***
"Tuan muda, ini adalah air roh yang kau pesan." Zhi Long memberikan satu botol air roh.
Zhou Fan mengamati air roh yang baru saja didapatkan, setidaknya itu ada puluhan tetes. "Baiklah, kalian bisa kembali ke ruangan kalian." Setelah berkata Zhou Fan menutup kembali pintu ruangan.
Hem...
Zhou Fan mengayunkan tangan mengeluarkan intisari beast, meski telah melihatnya belum lama ini, kilauan itu terlalu silau ketika melihat dari dekat.
Zhou Fan duduk bersila, ketika dia mulai fokus sebuah energi panas mulai tercipta. Perlahan tapi pasti percikan api mulai membakar, udara di sekitar seolah tertarik masuk ke dalam pusaran api.
Beberapa saat kemudian Zhou Fan memasukkan intisari beast. "Tidak, masih kurang!" Zhou Fan menaikkan suhu api, mencoba melebur intisari beast yang masih memadat.
Sekitar satu jam, yang semula padat itu berubah menjadi cair. Cairan kuning mengambang di depan wajah Zhou Fan, merasa waktunya telah tiba, dia mencampurnya dengan air roh. Setelah itu dia sedikit menurunkan suhu, membuat api lebih stabil.
Untuk beberapa lama dua cairan yang saling menolak itu hanya berputar putar, Zhou Fan kemudian menambahkan air spiritual. Dua cairan tersebut perlahan membaur dan menyatu, seolah air spiritual adalah lem yang bisa mengikat dua cairan menjadi satu.
Tapi itu belum berakhir, Zhou Fan masih harus menunggu sampai cairan mengeluarkan aroma khas. Itu yang dia ketahui.
Beberapa jam kemudian aroma harum nan manis menyeruak hingga ke lubang hidung, senyum tercipta di antara bibirnya. "Tidak ada yang tidak mungkin selama memiliki Kitab Emperor."