Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 210 : Ular Permata Es


Zhou Fan perlahan masuk ke dalam, dengan membentang sebuah senjata dia memasang sikap siaga. Tak tahu yang apa yang ada di dalam, entah itu jebakan atau memang benar ada sebuah keajaiban.


Suara tak lagi terdengar, tapi energi memancar semakin besar. Hal ini membuat Zhou Fan merasakan aura dingin di sekujur tubuhnya. Setelah sampai di mana pusat alergi berkumpul, bayangan hitam besar menjulang tepat berada di depan mata.


Zhou Fan tak memejamkan mata, hanya fokus dengan sosok makhluk yang mengeluarkan serpihan es di sekitarnya. Terkejut, tapi juga senang seolah menemukan harta paling berharga.


Namun suara dari makluk besar itu membuatnya terlonjak kaget, "Tak kusangka ada manusia yang memiliki aura begitu murni, kau sangat cocok bila dijadikan santapan ku."


"Ka-kau ... !" Lidah terasa kelu, mulut enggan untuk berkata.


Belum hilang keterkejutan, makhluk besar itu kembali bersuara. "Apakah kau tak pernah mengetahui bahwa beast dapat bicara? Kami--para beast akan dapat berbicara ketika naik ke tingkat sembilan. Akan dapat berubah menjadi manusia begitu naik menjadi dewa beast."


Zhou Fan memang tahu bahwa dewa beast dapat berubah menjadi manusia, hanya saja tak tahu bahwa beast tingkat sembilan bisa bicara.


"Kau tak perlu banyak berpikir, karena setelah ini kau akan menjadi nutrisi yang akan membantuku berevolusi."


"Memangsaku? Itu harus melihat apakah kau mampu atau tidak." Zhou Fan mengeratkan pedang, api seketika berkobar dan menyala besar.


"Beast ular permata es ini setidaknya memiliki kekuatan setingkat petarung dewa bintang tiga, meski sulit aku akan berusaha mengalahkannya!" batin Zhou Fan penuh tekad. Bukan demi dirinya, tapi demi kristal beast elemen es dan keselamatan Qing Yuwei--istrinya.


Ular permata es mendengus, mengeluarkan energi dingin dari dua lubang hidungnya. Zhou Fan tak banyak berkata, langsung menyelimuti tubuh dengan api, menghalau energi dingin yang bisa membekukan darah bahkan tulang.


Melihat serangan tak berguna, ular permata es melesatkan ekor yang bergerigi laksana ekor naga. Pecutan menyimpan energi dingin yang sangat luar biasa.


Zhou Fan menghindar, melompat sambil melirik tempat berpijak sebelumnya. Lantai goa hancur, terdapat kawah dengan permukaan berubah menjadi es. "Seluruh serangannya mengandung energi dingin, jika tak berhati-hati akan ada harga yang harus dibayar mahal."


Zhou Fan menodongkan pedang, mulai bergerak mengeluarkan teknik dewa pedang gerakan ketiga. Kobaran api menyambar seperti kilatan petir, tak ada celah untuk menghindar.


Namun ular permata es hanya diam seolah tak terkena dampak serangan. Zhou Fan menaikkan kekuatan pada serangannya, merubahnya menjadi teknik dewa pedang tingkat kesempurnaan. Dari sana ular permata es mulai merasakan serangan Zhou Fan berhasil menembus kulitnya yang tebal, dia menyemprot sebuah air dari mulut dan membentuk sebuah dinding yang melindungi tubuhnya.


"Apakah hanya ini kekuatanmu?" Seperti mengejek ular permata es tak melakulan serangan.


Zhou Fan menarik sudut bibirnya, menyatukan tangan melakukan beberapa gerakan. Aura yang terpancar dari tubuhnya semakin kuat, satu tingkat dua tingkat, kekuatan Zhou Fan sekarang berada di tingkat petarung dewa bintang tiga.


Itu adalah teknik penghancur bintang, sebuah teknik rahasia yang ia pelajari dari prasasti peninggalan.


Ular permata es merasakan perubahan pada lawannya, dia menghancurkan dinding es buatannya dan menyerang dengan dengan lesatan ekor tanpa belas kasihan. "Manusia, tak kusangka kau memiliki kelebihan seperti itu. Aku lebih bersemangat dalam menyantapmu."


Cih!


Zhou Fan mendengus, kembali mengeluarkan serangan teknik dewa pedang. Gerakan pedang begitu dahsyat sehingga ular permata es mulai merasakan luka di tubuhnya.


Pertarungan antar keduanya berjalan lama, Zhou Fan yang menggunakan teknik penghancur bintang berhasil menekan ular permata es sampai harus menggulung tubuhnya laksana trenggiling. Dalam kesempatan ini Zhou Fan sama sekali tak mengendorkan serangan, dengan pedang darah malam ia membumi hanguskan beast tingkat sembilan itu.


"Arg!! Manusia sialan, aku akan membunuhmu!" Ular permata es tak lagi bersembunyi dalam lipatan tubuhnya, dia bangkit dan melebarkan tubuh bagian atas.


"Racun tulang dingin?" Zhou Fan mengetahui jenis racun ini, racun yang sangat mematikan. Bahkan konon katanya, tak ada penangkal yang dapat menyelamatkan seseorang dari racun tulang dingin.


Ular permata es kembali menyemprotkan racun tulang dingin. Zhou Fan melompat ke samping, racun untuk yang kedua kalinya hampir tepat sasaran.


Zhou Fan tak membiarkan ular permata es terus memberondongnya dengan serangan racun. Mengambil ancang-ancang Zhou Fan mengincar kepala ular permata es dan melakukan serangan.


"Tebasan ganda!"


Dua siluet tebasan bergerak bersama, aura panas menyebar yang seketika menaikkan suhu goa.


Ular permata es mengangkat ekor meletakkannya di depan berniat menerima serangan Zhou Fan. Namun yang tak dia sangka, serangan tebasan ganda memiliki daya hancur tak terbayangkan.


BLAR!!


Suara menggelegar membuat goa terguncang, ledakan yang sangat keras terdengar sampai keluar.


Di bagian lain hutan belakang kediaman Klan Ma, beberapa orang yang tengah menanam tanaman herbal terkejut mendengar suara ledakan dari dalam hutan. Mereka langsung menghentikan pekerjaan dan bangkit sambil memandang jauh ke atas.


"Bukanlah itu berasal dari goa terlarang? Apakah ada yang terjadi di sana?" Mereka saling tanya, tapi tak satupun dari mereka memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.


"Kita harus memberitahu patriark serta yang lain, jika terjadi sesuatu kita tak akan dapat menanggung akibatnya." Salah satu pria menyimpan cangkul, langsung melesat bersama dengan teman lainnya.


Sementara di dalam goa Zhou Fan dengan serangan tebasan ganda berhasil memukul mundur ular permata es.


"Manusia, bagaimana jika kita mengakhiri pertarungan ini. Aku mengaku kalah, aku akan mengikutimu, menjadi budakmu." Ular permata es sudah terluka parah, dua kali jurus tebasan ganda membuat kulit pertahanannya hancur.


Andai ia tak memandang remeh lawan, mungkin akhirnya tak akan buruk seperti ini. Namun inilah dampak sebab akibat, penyesalan selalu datang di akhir.


Zhou Fan bergeming dengan membawa pedang di tangan kanannya, mengeluarkan teknik penghancur bintang dan juga tebasan ganda menguras hampir seluruh tenaga dalamnya.


"Aku akan mengikutimu dan menyembahmu sebagai tuan, bagaimana menurutmu manusia?"


Zhou Fan berjalan pelan mendekati ular permata es. "Maaf sekali, aku tak tertarik dengan tawaranmu."


Jlebb!


"Sialan kau manusia!!"


Pedang menembus kepala bagian belakang ular permata es, perlahan tapi pasti beast sepanjang puluhan kaki itu mati.


Pandangan Zhou Fan turun melihat mayat beast ular permata es. Sebenarnya memiliki beast tingkat sembilan juga merupakan keuntungan, tapi ia sudah memiliki Zhou Jim. Selain itu kristal beast tak bisa didapatkan bila tak membunuh beast tersebut.


Beberapa saat memejamkan mata Zhou Fan membelah tubuh bagian depan ular permata es, mengambil kristal beast tingkat sembilan dan memandangnya dengan penuh rasa senang. "Tersisa dua lagi!"