Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 105 : Tak Tahu Diri!


"Lepaskan mereka!"


Zhou Fan muncul dengan gagah berani, berdiri tegak dengan wajah galak. Sikapnya yang demikian sudah seperti ksatria berkuda yang datang menyelamatkan korban pelecehan.


Di samping kiri dan kanan sudah bersiap Zhi Long dan juga Ciu San, keduanya bak penjaga yang mengawal raja.


Belasan pria sontak terlonjak kaget, mereka satu persatu mulai membalikkan badan.


"Siapa kalian?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut salah seorang pria.


Bukan menjawab, Zhou Fan melirik kepada dua pria paruh baya di sebelahnya. "Kalian hadapi mereka."


"Anggap saja sudah selesai, tuan muda." Ciu San meraih kapak di punggungnya, perlahan ia berjalan ke depan.


"Sombong!"


Belasan pria mendengus marah, perkataan Ciu San telah berhasil menyulut api kemarahan dan kini kobaran itu semakin besar.


"Meski kalian berada di tingkat petarung senior bintang enam, aku juga sama. Dan masih ada temanku lainnya yang berada di tingkat yang sama." Seorang pria tua berkata sembari menunjukkan kekuatan yang tersimpan dalam tubuhnya.


Ia berharap dengan menunjukkan kekuatannya ketiga pria itu langsung gemetar ketakutan sehingga tak perlu lagi membuang waktu. Namun apa yang terjadi diluar dugaan, bukan hanya tak takut, tapi satu pria lain maju dan berdiri sejajar dengan satu pria lainnya.


Amarah semakin memuncak, "Kawan-kawan, mari kita tunjukkan kekuatan kita. Mereka yang berani mencari masalah dengan Bandit Bahtera Bulan akan mendapatkan pelajaran."


Belasan orang itu mengeluarkan senjata, mulai dari kapak, pedang dan juga tombak.


"Adik, mari kita bertaruh. Yang berhasil membunuh pak tua itu, akan mendapatkan dua ratus. Apakah kau berani?" Ciu San mengedipkan mata beberapa kali.


Zhi Long melirik sekilas, kemudian kembali memandang kepada belasan pria tua. "Setuju," ucapnya dengan wajah tak berubah, masih tetap tenang tak gegabah.


Pria tua yang juga sebagai kepala Bandit Bahtera Bulan langsung murka mendengar kedua pria ini malah bertaruh terhadap nyawanya.


Apakah ia begitu mudah dibunuh?!


Kepalanya memerah memikirkan hal ini. "Serang mereka, aku menginginkan nyawa keduanya!" Dengan menggenggam pedang pria tua itu menyerang bersama belasan rekan.


Zhi Long melirik sang kakak, kebetulan Ciu San juga meliriknya.


Tanpa menunggu hitungan ketiga mereka melesat dengan kapak di tangan.


Wosh...


Ciu San menyerang bandit yang berada di kanan, sementara Zhi Ling yang berada di kiri. Mereka bergerak seperti sayap yang terus mengepak mencoba terbang setinggi mungkin.


Krak...


Pyar!


Ketika dua logam beradu, ketahanan senjata milik kelompok Bandit Bahtera Bulan tidak setangguh milik Dua Kapak Kembar. Namun tidak semua, seperti kepala bandit yang masih bertarung dengan sebilah pedang di tangannya.


Ciu San tak memberi ruang bagi para bandit ini bergerak bebas, setiap serangan kapaknya mampu menumbangkan satu lawan. Dalam waktu singkat hanya kepala bandit yang tersisa.


Zhi Long juga telah menyelesaikan bagiannya. Kini pandangannya tertuju pada pria tua yang harus bertahan sendiri lantaran semua anak buah telah tiada.


Bagaimana mungkin!


Wajah pria tua nampak pucat. Padahal dari kultivasi mereka tidak jauh berbeda, bahkan di antara anak buahnya ada empat petarung senior bintang enam, tapi tetap tak bisa mengalahkan dua pria ini.


"Nampaknya kau akan membayar dua ratus lembar uang kertas kepadaku, kakak." Zhi Long melesat memburu pria tua.


"Kau curang, kau mengambil kesempatan saat aku lengah." Ciu San melipat tangannya di dada, berjalan mendekati mayat pria tua.


Zhi Long menyipitkan mata, "Kalah tetaplah kalah, jika tak mau membayar jangan bertaruh."


Ciu San mendengus kesal. "Akan aku bayar," Seraya berkata pria paruh baya itu menundukkan tubuhnya, meraih cincin penyimpanan pria tua.


"Aku yakin di dalamnya terdapat lebih dari dua ratus." Ciu San tersenyum, kemudian berjalan kembali menuju tempat Zhou Fan.


Zhi Long termenung sambil memandang cincin pria tua yang telah berada di tangannya.


Bukankah memang seharusnya cincin ini menjadi miliknya, yang membunuh pria tua ini adalah dia, menggunakan kapak di tangannya.


Pria bertubuh gempal itu hanya bisa menghela nafas panjang, seharusnya ia tahu akhir dari pertaruhan dengan Ciu San--sang kakak.


Zhi Long baru saja akan mengambil seluruh cincin yang ada, namun semua telah berada di tangan Ciu San. Hal ini membuatnya geram.


"Kita adalah saudara, mulikmu adalah milikku, milikku adalah milikku." Ciu San menepuk pundak Zhi Long, sedang Zhi Long masih memikirkan ucapan saudara kembarnya.


Matanya melotot ketika menyadari kejanggalan kalimat tersebut. Namun tak ada yang bisa ia katakan lantaran Zhou Fan telah berjalan menghampiri para korban.


Zhi Long merasa bodoh. Padahal dia adalah pribadi yang tenang dan pertimbangan matang, terkenal dengan kecerdasannya. Namun saat berdebat dengan kakaknya ini ia selalu tak bisa berkata, dan harus mengakui kekalahannya.


"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Zhou Fan setelah sampai di depan keempat wanita.


Empat wanita ini terlihat masih berumur dua puluhan, mereka mengenakan pakaian biru muda dipadukan dengan ikat pinggang putih yang melintang di tubuh mereka.


Zhou Fan melirik ke belakang dan Ciu San serta Zhi Long membantu keempat wanita melepas ikatan.


Setelah ikatan terlepas keempat wanita bangkit, wajah mereka masih terlihat pucat dengan beberapa luka yang membekas di sekitar tangan dan kaki.


"Apakah kau tidak bisa melihat, masih bertanya 'apakah kalian baik-baik saja'!" dengus salah seorang wanita sembari menepuk pakaian yang agak kotor.


Mendengar jawaban wanita ini Zhou Fan mengerutkan kening. Apa yang salah dari pertanyaannya, dia hanya basa basi, tidak menjawab juga tidak masalah baginya.


Mengapa harus marah? Jika bukan karena kedatangannya, mungkin keempat wanita ini telah berada dalam cengkeraman para bandit.


"Nona, jaga mulutmu atau aku akan merobeknya dengan kedua tanganku." Ciu San memandang wanita muda itu dengan marah. Sudah baik Zhou Fan mau membantu mereka, tapi mereka bukan hanya tak terimakasih kasih malah membentak dengan kasar.


Jika tahu begini dia tidak akan sudi mengeluarkan tenaga membantu, lebih baik menyaksikan bagaimana para bandit melakukan aksi mereka. Pasti menyenangkan!


"Maaf tuan-tuan, adik seperguruan ku memang sedikit kasar. Terlepas dari itu, kami sungguh berterima kasih karena tuan telah menyelamatkan kami." Wanita yang berkata lebih dewasa, dia tahu menempatkan dirinya di tempat yang benar.


Namun Zhou Fan sudah tidak minat untuk bercakap dengan mereka. Meski bukan dirinya yang turun tangan, tetap saja ia merelakan waktunya yang berharga, mendapatkan sikap yang tidak semestinya membuat ia sedikit menyesal.


"Ayo kita pergi," Zhou Fan membalikkan badan tanpa menjawab ungkapan terima kasih dari wanita tersebut.


Ciu San masih memandang wanita yang sempat mengecam tuan mudanya. Sorotan matanya terlihat tajam.


Zhi Long pun demikian, ia sangat tidak suka terhadap sikap wanita ini. Namun hanya sebatas itu, kemudian pergi menyusul Zhou Fan.


Semen Ciu San masih memberikan tatapannya, membuat wanita muda itu merinding ketakutan.


Hem!


"Kau beruntung tuan muda masih berbelas kasihan. Wanita sepertimu tak pantas diselamatkan!"