Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 171 : Kediaman Tuan Kota


Di Kota Zi, Ciu San dan Zhi Long menanti kedatangan tuan mudanya. Tak ketinggalan Zhou Jim yang dengan setia memandang ke wilayah perbatasan hutan tanpa berpaling sekalipun.


Beberapa orang juga hadir di sana, termasuk tuan kota dan juga empat patriark klan besar. Selain harus berjaga dari kemungkinan serangan, mereka juga menantikan kemunculan Zhou Fan.


Namun sampai malam datang tak nampak satupun sosok yang keluar, entah itu beast laba-laba berwajah manusia ataupun Zhou Fan.


"Apakah mungkin dia mati di dalam, kemungkinan besar laba-laba berwaiah manusia juga tiada. Keduanya tiada dan tak satupun akan datang."


Suara itu datang dari seorang pria tua, merupakan penduduk Kota Zi.


Ciu San yang mendengar ucapan buruk mengenai Zhou Fan langsung mengepalkan tangan, kaki dengan tegas melangkah mendekati pria tua bermulut kotor. "Katakan sekali lagi aku akan menarik lidahmu keluar!"


Tatapan mata Ciu San sangat tajam, ia paling tidak suka saat ada seorang yang membicarakan hal buruk mengenai Zhou Fan. Jika sampai ia mendengar, tanpa ragu ia akan menjadi yang pertama menentangnya.


Pria tua mundur perlahan, merasakan kaki tangan gemetar. "Ak-aku hanya berkata, mu-mungkin saja itu benar."


Ciu San yang sempat berbalik menghentikan langkah kakinya. "Apakah kau tak paham apa yang aku katakan?" Suaranya terdengar dingin, menyimpan sebuah peringatan yang tidak main-main.


Pria tua akan kembali berkata, tapi dengan cepat Tuan Kota menghentikannya. "Kau kembalilah, kekuargamu mungkin mencarimu."


Kemudian Tuan Kota beralih kepada Ciu San. "Kau benar tuan mudamu pasti baik-baik saja, tapi -- "


"Dia pasti baik-baik saja!" sela Ciu San dengan tegas.


Di sisi lain Zhou Jim yang semula hanya diam sambil memandang ke depan, menyalak beberapa kali.


Tuan Kota tak paham dengan arti isyarat Zhou Jim, mengira akan ada serangan. Namun beberapa saat kemudian, serigala berbulu kuning keperakan itu melesat masih dengan suaranya.


Auk!


Auk...


Tuan Kota menjadi siaga, mengeluarkan pedang berniat menyambut musuh. Begitupun dengan empat patriark serta semua penduduk yang berkumpul, mereka mengeluarkan senjata dan memasang kuda-kuda.


"Tunggu! Ini bukan serangan." Zhi Long mengangkat tangan, ia mendengar suara langkah kaki. Tidak banyak, hanya satu pasang.


Kenyataan ini membuat lengkungan senyum nampak jelas di antara bibirnya.


Tepat setelah itu, seorang pria muda keluar dari hutan. Sosok yang memang mereka nantikan kedatangannya. Siapa lagi jika bukan Zhou Fan.


Auk...


Auk...


Baru keluar dari hutan Zhou Fan langsung disambut dengan Zhou Jim.


Zhou Fan mengelus kepala Zhou Jim, kemudian menengadahkan kepala dan mendapati ratusan orang ada di depan matanya.


"Tuan Muda?"


"Junior?"


Ciu San, Zhi Long, Tuan Kota dan juga empat patriark datang kepadanya. Dalam wajah mereka terungkap perasaan senang, tapi juga heran lantaran Zhou Fan dapat keluar setelah berhadapan dengan beast tingkat delapan yang setara dengan petarung suci bintang lima. Sulit dipercaya!


"Junior, bagaimana dengan beast laba-laba berwajah manusia?" Tuan Kota khawatir jika beast itu akan datang ke kota, mungkin kekacauaan besar akan terjadi dan korban akan berjatuhan.


"Tuan Kota dapat tenang, beast itu sudah mati."


"Tak apa, kau dapat kembali saja sudah cukup baik ...." Tuan Kota sejenak terdiam, menyimak kembali ucapan Zhou Fan.


Beberapa saat otaknya berpikir, kemudian memandang Zhou Fan dengan terkejut. "Apa yang kau katakan?"


"Beast laba-laba berwajah manusia mati," ucap Zhou Fan dengan sedikit nada heran.


Bukan hanya Tuan Kota yang terkejut, tapi juga empat patriark bahkan Ciu San dan juga Zhi Long.


"Junior, kau yakin?" tanya Tuan Kota yang masih sedikit tidak percaya, dia bertanya untuk meyakinkan dirinya.


Zhou Fan mengangguk, kemudian mengayunkan tangan mengeluarkan mayat beast laba-laba berwajah manusia.


Semua mata tercengang, memandang dengan perasaan takjub yang tentunya tertuju kepada Zhou Fan seorang.


Beast laba-laba dengan ukuran yang besar terbaring di hadapan mereka. Penampakan yang seram dan menakutkan membuat beberapa orang bergidik mengingat betapa tangguh beast itu.


Jangan lupakan fakta jika beast laba-laba berwajah manusia memiliki racun yang mematikan.


Luar biasa!


Sangat kuat!


Pemberani!


Beberapa kata itu sontak keluar dari mulut ratusan orang yang ada di sana, tanpa disengaja Zhou Fan telah menjadi pilar penting dalam mengatasi gelombang beast tahun ini. Membuatnya pantas mendapatkan imbalan yang telah dijanjikan.


"Junior, jika kau tidak keberatan bisa berkunjung ke kediaman tuan kota. Selain untuk menerima hadiah, alangkah baiknya bermalam di kediaman tuan kota karena hari juga sudah malam."


Mendengar perkataan Tuan Kota, Zhou Fan melirik kepada Ciu San dan juga Zhi Long. "Baiklah jika Tuan Kota tidak keberatan."


"Tidak tidak, ... Bagaimana mungkin itu terjadi. Justru merupakan kehormatan dapat menerima tamu seperti junior ini."


Zhou Fan mengembalikan mayat beast laba-laba berwajah manusia ke tempat semula, mengikuti Tuan Kota untuk menuju kediamannya. Sementara yang lain pun juga memutuskan kembali, termasuk empat patriark yang harus kembali ke wilayah kekuasaan mereka.


Sekejap mata suasana perbatasan menjadi tenang, sama sekali tak ada aktivitas. Hanya terdengar suara angin berhembus, begitu halus dan menghanyutkan.


Di kediaman Tuan Kota, Zhou Fan dijamu laksana tamu istimewa. Mungkin juga seperti seorang pangeran istana.


"Junior, mari mari, jangan sungkan." Di dalam ruang makan Zhou Fan benar-benar dimanjakan, Tuan Kota terus menyodorkan makanan ke dalam piringnya.


Di dalam ruang makan tidak hanya Zhou Fan dan Tuan Kota, juga ada Ciu San, Zhi Long. Bahkan ada istri serta putri Tuan Kota yang duduk bersama mereka.


Sikap Tuan Kota yang begitu berlebihan membuat sang istri dan juga putrinya merasa heran. Sebenarnya siapa pria ini sampai suami-ayahnya bersikap dekikian. Keduanya belum mengetahui tentang siapa Zhou Fan, sosok yang berperan besar dalam upaya pertahanan kota dari gelombang serangan beast.


Mereka makan sambil memperhatikan Zhou Fan, begitu lekat sampai memasukkan makan pun tak mengalihkan pandangan.


Zhou Fan tersenyum canggung, sambil berdehem mengangkat tubuhnya bangkit dari kursi makan. "Tuan Kota, kami sudah selesai."


Tuan Kota langsung bangkit, hendak mengantar kembali ke ruangan. Namun dengan cepat Zhou Fan mencegah, "Tuan Kota tak perlu mengantar, kami sudah mengetahui di mana ruangan masing-masing."


Tuan Kota terdiam, kemudian mengangkat tangan dan kembali duduk.


Setelah kepergian Zhou Fan, sang putri--Wang Yudie bertanya. "Ayah, sebenarnya siapa dia? Mengapa kau begitu peduli terhadapnya?"


Tuan Kota Wang menoleh sekilas, "Tahukah kau jumlah korban dalam gelombang serangan tahun ini merupakan yang paling sedikit dari tahun-tahun sebelumnya?"


Wang Yudie menyimak dengan seksama, menantikan jawaban dari sang ayah.


"Itu semua berkat dia, dia mengalahkan seekor beast harimau yang setara dengan petarung suci bintang empat sendirian. Bukan hanya itu, dia juga membawa kembali mayat beast laba-laba berwajah manusia. Setidaknya kekuatan beast itu setara dengan petarung suci bintang lima."


Mata Wang Yudie terbelalak begitupun istri tuan kota yang merasa hal ini sangat sulit untuk diterima.


Sementara di ruangannya, Zhou Fan memurnikan racun kelabang kaki panjang. Bahan yang sangat berguna bagi pertumbuhan fisik dan tulang. Ia akan menyimpan itu untuk diberikan kepada Zhou Xia, tentu saja juga untuk anak ke-dua nya yang bahkan tak ia ketahui jenis kelaminnya.


Dia adalah ayah yang buruk, mungkin saat kembali ia harus menerima amarah dari mereka--dua anaknya.


Mengingat mereka, Zhou Fan mengelap kening sambil tersenyum. "Tunggu sebentar lagi, ayah akan kembali!"