
Auk...
Zhou Jim berhenti di sebuah goa, letaknya terbilang jauh dari wilayah keluarga Chen.
Mereka yang berjumlah belasan orang itu masuk ke dalam. Di sana mereka memulihkan diri dengan mengkonsumsi pill pemulihan.
"Terima kasih," Leng Shui menghampiri Zhou Fan, tapi wajahnya seolah enggan memandang ke depan, selalu mengarah ke sampai atau juga ke arah yang lain.
Belum sempat Zhou Fan menanggapi, Leng Shui berjalan ke sudut goa untuk memulihkan diri.
Setelah beberapa lama, mereka semua mulai membuka mata. Satu orang wanita mendekat ke tempat Zhou Fan. "Tu-tuan, terima kasih karena telah menyelamatkan kami. Tapi kami harus kembali," ucapnya dengan suara yang agak ragu.
Zhou Fan diam berpikir. Belasan wanita ini juga memiliki keluarga, mungkin keluarga mereka juga sangat khawatir. Lebih baik biarkan mereka kembali dan menemui keluarga masing-masing.
"Baiklah, lagi pula ini sudah tidak berada di wilayah kekuarga Chen. Tapi kalian harus hati-hati." Zhou Fan tidak mau usaha yang telah ia lakukan sia-sia karena mereka tak selamat atau kembali ditangkap oleh kelompok bandit atau semacamnya.
"Terima kasih tuan," ucap wanita itu sambil membungkukkan tubuhnya.
Satu persatu wanita mulai meninggalkan goa, tapi saat wanita yang merupakan putra pelayan yang ia temui waktu itu, ia tak membiarkannya pergi begitu saja. "Kau, tunggu sebentar."
Wanita yang ditunjuk nampak cemas, ia berpikir terlalu jauh. Memang wajahnya termasuk ke dalam golongan wanita cantik, tapi di mata Zhou Fan tidak ada bedanya dengan wanita lainnya.
"Aku mengenal ibumu, kau tetaplah di sini dan kau akan kembali bersamaku." Zhou Fan mengeluarkan sebuah gulungan, itu adalah lukisan wajah sang wanita dari ibunya.
Melihat lukisan itu, tak ada alasan lagi baginya untuk khawatir ataupun cemas. Ia sangat mengenal lukisan ini, itu adalah milik ibunya.
Goa menjadi agak sepi, hanya tersisa delapan orang termasuk Zhou Fan. Mereka adalah Yin Cun, Miao Ling, Leng Shui, Bing Roxue, Ciu San, Zhi Long serta wanita putri pelayan.
Leng Shui bangkit dari duduk bersila nya, kemudian menghampiri Zhou Fan. "Meski kali ini aku berhutang nyawa kepadamu, aku belum membalas tindakanmu waktu itu. Suatu saat, aku akan membalasnya!"
Setelah berkata Leng Shui berjalan pergi, bahkan tanpa menoleh sedikit pun. Namun saat di mulut goa dia berhenti, "Aku hanya berpesan, jangan mati. Setidaknya sebelum aku membalas dendam kepadamu."
Zhou Fan mengerutkan kening, melihat kepergian Leng Shui serta Bing Roxue.
Ia tak tahu apakah sebegitu besar kedongkolan wanita itu kepadanya, hingga ia tak bisa melupakan dendamnya. Memang apa yang telah ia lakukan, bahkan ia tak sadar apa yang ia lakukan saat itu.
Haih...
Zhou Fan menghela nafas, mengalihkan pandangannya ke samping. Namun, Miao Ling menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa?" Zhou Fan menaikkan satu alisnya.
Miao Ling mendengus, "Aku hanya menjaga perasaan adik seperguruan ku. Jangan sampai suaminya mencari wanita lain."
Zhou Fan tak menghiraukan, berjalan keluar kemudian mengajak semua orang menuju ke rumah makan sebelumnya.
...
"Ibu!"
Setelah sampai putri pelayan itu langsung bergegas menemui sang ibu.
Mendengar suara yang tidak asing pelayan wanita sontak keluar, mendapati putrinya berdiri di hadapannya ia langsung menerjang dan memeluknya.
Pertemuan antara ibu dan anak ini sungguh membuat orang iri, mereka saling memeluk untuk beberapa waktu yang lama.
"Tuan, terima kasih. Terima kasih karena telah menyelamatkan putriku."
Zhou Fan mengangguk, kemudian meninggalkan rumah makan.
"Ibu mengapa kau menjadi pelayan di sebuah rumah makan?" Setelah kepergian Zhou Fan serta yang lain, putri sang pelayan bertanya kepada ibunya.
Mendengar perkataan sang ibu, wanita itu memalingkan muka. "Ayah terus mengurung ku dalam kediaman, tak membiarkanku keluar. Siapa sangka saat aku mencoba keluar malah bertemu dengan bajingan itu."
"Sudahlah, kita harus cepat kembali atau ayahmu akan curiga." Tanpa menunggu jawaban putrinya, wanita paruh baya itu melesat pergi.
...
Di sisi lain, Zhou Fan berada di pusat perdagangan kota Dianlan. Hendak membeli bahan bahan pill pemulihan tingkat sepuluh, dengan kekayaan melimpah yang ia miliki sekarang tidak tahu seberapa banyak tanaman herbal yang ia dapatkan.
Jika dihitung bersama dengan kekayaan milik Tuan Besar Chen, Zhou Fan memiliki kekayaan setara dengan satu juta uang kertas.
"Saudara Zhou, apa yang kau lakukan di sini? Apakah membeli pill?" Yin Cun mengerutkan keningnya, sementara Miao Ling hanya meggangguk anggukkan kepala.
Mata Zhou Fan berkedut, membeli? Mengapa ia harus membeli sedang ia adalah alkemis bintang lima.
"Aku hendak membeli bahan untuk membuat pill kultivasi."
Mendengar jawaban Zhou Fan, mata Yin Cun terbuka lebar. "Ka-kau adalah alkemis?!" Ia nampak sangat terkejut, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan saudaranya ini.
Bukan hanya Yin Cun, tapi juga Miao Ling.
"Tuan muda Yin Cun, engkau jangan terkejut. Tapi tuan muda adalah alkemis bintang lima. Kemampuannya tak bisa diragukan lagi dalam mengolah pill." Ciu San membusungkan dadanya, seolah yang ia jelaskan adalah dirinya.
Mulut Yin Cun semakin terbuka sungguh tak menyangka jika saudaranya ini adalah seorang alkemis. Dan itu adalah alkemis bintang lima, sangat luar biasa.
Seorang pelayan datang menyambut, dari wajahnya nampak berusia tiga puluhan tahun.
"Aku mencari beberapa tanaman herbal," ucap Zhou Fan sambil mengeluarkan sebuah kertas.
Pelayan itu membaca satu persatu daftar yang ada di tangannya, matanya tak berhenti menelisik tulisan bertinta hitam tersebut. Keningnya terus semakin mengerut, dan ketika selesai ia langsung memandang pria muda di depannya dengan heran dan terkejut.
"Tuan, beberapa bahan tak masalah, tapi untuk teratai bintang, gagang air berusia sepuluh tahun serta akar roh kami tidak bisa menyediakannya."
Mendengar perkataan wanita ini, Zhou Fan mengerutkan kening. "Apakah ketiga bahan tersebut kamar dagang tidak memilikinya?"
Pelayan itu dengan cepat menggeleng. "Bukan seperti itu tuan, tapi bahan-bahan tertentu tidak bisa dijual dengan bebas."
Benar saja, tidak mungkin kamar dagang terbesar di Kota Dianlan tidak memiliki bahan-bahan tersebut.
"Namun jika memang tuan sangat membutuhkan tanaman herbal tersebut, tuan dapat mencari wakil ketua."
Zhou Fan seketika menemukan harapan. "Baiklah, jika memang harus seperti itu."
Pelayan itu mengangguk, kemudian menjelaskan letak posisi ruangan wakil ketua. "Di lantai dua, ruangan pertama. Tuan bisa langsung ke sana."
"Baik, terima kasih." Zhou Fan hendak naik ke lantai dua, tapi pelayan itu kembali berkata.
"Tuan, untuk tanaman herbal yang lain, berapa jumlah yang tuan butuhkan?"
Zhou Fan sampai lupa belum mengatakan jumlah yang ia butuhkan. "Lima, setiap bahan berikan aku lima."
Pelayan itu mengangguk, kemudian berpamit pergi menyiapkan pesanan Zhou Fan.
Zhou Fan bersama yang lain menyusuri tangga, naik ke lantai dua. Ruangan pertama sudah ada di depan mereka.
Masuk ke dalam, Zhou Fan melihat seorang wanita duduk membelakanginya. Ia mendekat dan wanita itu perlahan memutar tempat duduknya, ketika dia berbalik mata Zhou Fan menyipit.
Wanita itu juga terkejut, tapi dengan cepat mengembalikan ekspresinya. "Tuan, apa yang engkau butuhkan?"