Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 177 : Tuan Muda Klan Besar


"Singkirkan tanganmu." Ciu San maju menepis tangan pria yang mencengkeram bahu tuan mudanya.


Pria muda berpakaian mewah itu menampilkan senyum sinis, kemudian tanpa peduli ucapan Ciu San beralih ke pelayan wanita yang sudah berada di sampingnya. "Bukankah sudah aku katakan, jangan dekat dengan pria menapun selain aku."


Pelayan wanita meringis, tangannya dicengkeram kuat tanpa belas kasihan. Air mata menetes tanpa bisa mengeluarkan suara.


"Kau tak berhak memperlakukannya seperti itu, lihat dia, apakah kau yang seorang petarung senior bintang sembilan begitu tak tahu malu dengan mengintimidasinya? Apakah menindas seorang wanita membuatmu hebat, jika kau benar-benar pria, cari lawan yang pantas. Jangan seorang wanita yang berada jauh di bawah tingkatanmu." Zhou Fan menulis pesanannya pada sebuah catatan yang ada di meja pesanan, kemudian berjalan menuju meja kosong.


Pria muda berpakaian mewah menatap Zhou Fan dengan tidak suka, tapi tetap melepaskan cengkeraman pada tangan pelayan wanita. "Kau tahu dengan siapa kau berbicara, setelah kau mengetahui siapa aku, aku berani bertaruh kau akan langsung bersujud minta ampun dariku."


"Siapa dia, apakah dia tidak tahu bahwa yang ada di depannya adalah tuan muda Klan Chu?"


"Klan Chu merupakan klan besar yang ada di Ibukota, dia datang setiap hari untuk mendapatkan pelayan wanita itu. Aku rasa pria itu menjerumuskan dirinya ke lubang kesengsaraan."


Beberapa pengunjung tak tahan untuk hanya menyaksikan, mulai berkomentar tentang nasib Zhou Fan yang dirasa akan sial.


Hem...


Zhou Fan menundukkan kepala, ternyata di hadapannya adalah seorang tuan muda klan besar, pantas saja sikapnya begitu arogan dan penuh kesombongan.


"Apakah kau menyesal? Jika berlutut sekarang dan merangkak di bawah kakiku, aku tak akan mengingat masalah ini." Dengan sangat percaya diri Chu Tian melebarkan kaki, menunjuk ke bawah meminta Zhou Fan merangkak.


Namun mimpi jika Zhou Fan melakukan seperti yang dikatakan Chu Tian, tidak ada yang pantas memerintahkannya, kecuali orang tua serta ibu dari anak-anaknya.


Chu Tian menggeram murka karena perkataannya hanya dianggap angin lalu, mengangkat tangan hendak memberi pelajaran.


Akan tetapi sebelum tangan menghantam wajah, Zhou Fan menahannya dengan satu tangan.


Chu Tian kesakitan, mencoba menarik tangan tapi seolah tersangkut. Cekalan Zhou Fan sangat kuat, membuat Chu Tian tak berdaya.


"Lepaskan! Atau kau akan menyesal." Chu Tian menyembunyikan mukanya yang memerah karena malu, dia yang seorang petarung senior bintang sembilan dihentikan dengan satu tangan. Jangan lupa, di hadapan banyak orang.


Sebagai generasi muda Klan Chu, ia merasa terhina. Melihat tatapan dari semua pengunjung, membuat dirinya merasa semakin buruk.


Zhou Fan memasang wajahnya acuh tak acuh, mengabaikan ucapan Chu Tian. Bahkan ketika tuan muda Klan Chu itu meraung-raung menyebutkan nama juga identitasnya, Zhou Fan tetap tidak peduli.


Chu Tian tak lagi bisa menahan rasa malu, ia mengeluarkan pedang dan langsung mengayunkan tangan kirinya.


Trank!


Tak perlu menggunakan senjata, Zhou Fan meraih piring tembaga dan menghalau serangan pedang.


Sontak hal ini membuat semua mata terbelalak. Piring tembaga biasa, menghalau serangan pedang rank mitick, bukan orang biasa yang dapat melakukannya.


Chu Tian akhirnya berhasil melepaskan tangan kanannya, mundur empat langkah ke belakang. "Bajingan, aku akan mengingatmu!"


Setelah berkata Chu Tian pergi dengan malu, meski begitu sifat seorang tuan muda membuatnya tetap mengangkat dagu dalam situasi apapun.


Zhou Fan beralih kepada pelayan wanita, "Apa hubunganmu dengannya?" Pertanyaan Zhou Fan sedikit aneh, membuat pelayan wanita memandang dengan heran.


Apakah pria ini menyukaiku? Mungkin itu yang ada dalam kepala pelayan wanita, menengadahkan kepala menelisik wajah pria muda di hadapannya.


Diperhatikan secara mendalam, ternyata wajah pria ini sangat tampan. Senyum pun tanpa sadar terukir di bibirnya.


Dia bertanya, tapi yang ditanya hanya diam seolah tak mendengar apa yang dikatakannya. Ia pun berlalu pergi, juga bukan masalah penting jawaban dari pelayan wanita.


"Tunggu, tuan tunggu." Pelayan wanita berlari kecil mengikuti Zhou Fan.


Zhou Fan yang telah duduk, memutar wajahnya mendapati pelayan wanita yang kini berdiri di samping meja berada. "Terima kasih," ucap pelayan wanita dengan gugup.


Kedua alis Zhou Fan hampir menyatu, setelah diam beberapa saat dia mengangguk tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.


Pelayan wanita menjadi bingung, "Jika demikian, pelayan ini akan menyiapkan pesanan tuan sekalian." Dia pergi dengan cepat, sementara Zhou Fan fokus dengan pemandangan jalan dari luar jendela.


Tak berselang lama, pelayan wanita datang dengan tiga kendi arak surgawi. Juga terdapat satu potong daging yang merupakan bagian Zhou Jim.


"Mengapa kau tidak berteriak atau meminta bantuan? Jika kau hanya diam, orang berpikir kau tak masalah dengan keadaanmu." Zhou Fan menerima kendi arak surgawi, berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.


Pelayan wanita hanya bisa tersenyum kecut, sambil menghela nafas dia berkata. "Bagi seorang pelayan rendahan sepertiku, melawan atau tidak sama saja. Pada akhirnya nasib buruk akan menimpa."


Mendengar perkataan pelayan wanita Zhou Fan mengangkat wajahnya. "Jika kau berpikir seperti itu, hidupmu tak akan berubah. Sejatinya musuh yang paling berbahaya adalah pola pikir. Kau tak akan maju selama kau tak ada keinginan untuk maju."


Pelayan wanita termenung, kemudian dia langsung bersujud. "Terima aku sebagai muridmu."


Zhou Fan melebarkan mata sekilas, kemudian menggeleng kepala. "Mengapa kau berpikir aku pantas menjadi gurumu?"


Pelayan wanita tak menarik sujudnya. "Karena tuan kuat, bisa dibilang usia tuan sama denganku, tapi secara kekuatan berada jauh, sangat jauh di atasku."


Zhou Fan tersenyum, "Lantas mengapa kau berpikir kau pantas menjadi muridku?"


Pelayan wanita terdiam, dia tak punya jawaban atas pertanyaan itu.


Melihat pelayan wanita hanya diam, Zhou Fan kembali tertawa. "Aku tak punya banyak waktu untuk mengangkat murid, meskipun punya juga aku tak ingin mengangkat murid."


Perkataan Zhou Fan sontak membuat pelayan wanita kecewa, dia bangkit tapi wajahnya masih menunduk.


"Ini untukmu,"


Pelayan wanita melihat sebuah botol di bawah wajahnya, perlahan ia mengikuti tangan yang mengulurkan botol kepadanya. Tak ada kata yang dapat ia berikan, hanya diam dengan pertanyaan besar.


"Mungkin itu dapat membantumu, selain itu kau harus meninggalkan tempat ini jika ingin berkembang."


Mendengar kalimat yang Zhou Fan keluarkan, pelayan wanita menggenggam botol giok dengan erat. "Terima kasih!" ucapnya sembari mengelap sudut matanya yang basah. Ia kembali ke belakang, meninggalkan Zhou Fan untuk menikmati arak surgawi yang terkenal.


Arak surgawi sangat menakjubkan, ketika mengalir di antara tenggorokan rasa nyaman sangat memabukkan. Zhou Fan tak mau berhenti meneguk arak dalam kendi, enggan menyisakannya walau hanya satu tetes.


Namun itu sebanding dengan harga yang dikeluarkan, ada kualitas ada harga. Seribu uang kertas untuk satu kendi arak surgawi, itu setara dengan lima puluh arak biasa.


Sementara di belakang, pelayan wanita membuka botol giok pemberian Zhou Fan. Ketika mencabut tutup botol, aroma harum menyeruak. Matanya terbuka lebar, memandang beberapa pill kultivasi tingkat tujuh yang sekarang telah ada di atas telapak tangannya.


Meski pill kultivasi tingkat tujuh tidaklah langka, masih termasuk pill tingkat tinggi. Bisa memberikan pill kultivasi tingkat tujuh dengan begitu mudah, tentu bukan orang biasa.


"Sebenarnya siapa dia?"