Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 125 : Turnamen Klan Besar (11)


Setelah pertukaran itu, Zhuge Liang benar-benar putus asa. Ia sendiri merasa bingung ada apa dengannya. Gerakan yang dia keluarkan seolah telah menjadi makanan bagi sang lawan.


Jing Tian tak perlu menggunakan banyak tenaga, dengan menerapkan cara bertarungnya, ia mampu mengendalikan setiap gerakan yang akan dikeluarkan Zhuge Liang.


Itu bukan sebuah teknik, ataupun sebuah jurus. Ia juga tidak bisa menebak gerakan seperti apa yang akan dikeluarkan Zhuge Liang. Namun ia bisa mengarahkan Zhuge Liang untuk melakukan gerakan seperti yang dia inginkan.


Namun cara seperti ini tidak bisa langsung diterapkan, membutuhkan pemahaman tentang bagaimana cara bertarung lawan. Oleh sebab itu ia harus terlebih dahulu menahan serangan Zhuge Liang.


Cara seperti ini sebenarnya juga sangat riskan, karena bisa saja lawan menyadari dan mengubah cara bertarungnya. Namun sampai detik ini Zhuge Liang belum menyadari dan Jing Tian memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memberikan serangan mematikan.


"Tak lama lagi pertarungan akan berakhir," gumam Zhou Fan yang membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya.


Apakah Zhuge Liang yang akan menang?


Mungkinkah Jing Tian akan kalah?


Pertanyaan ini menjadi perdebatan semua penonton yang berada di sekitar Zhou Fan.


Melihat dari pertarungan memang seperti Zhuge Liang yang mendominasi, sedang Jing Tian hanya bertahan. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya dialami oleh Zhuge Liang.


Bayangkan saja, dia menyerang puluhan kali tapi tak satupun yang tepat sasaran. Ia kini kehilangan hampir seluruh tenaga dalamnya, mungkin hanya dengan serangan ringan dirinya akan tumbang.


Heng Biyu memandang ke tempat arena, ia tak bertanya kepada Zhou Fan karena tahu tak akan ada jawaban untuknya. Ia mengamati dengan seksama, menerka siapa yang akan menjadi lawan Zhou Fan di babak final.


"Sudah pasti jika Zhuge Liang yang akan masuk ke babak final." Heng Biyu sangat yakin dengan pendapatnya, ia menoleh ke samping untuk melihat ekspresi Zhou Fan.


Namun yang ia lihat hanya sebuah ekspresi pasrah, jelas jika pria muda ini tengah menertawakannya dalam hati. Memangnya apa yang salah, sudah pasti jawabannya adalah benar.


Bruk!


Baru sesaat ia menebak, suara seorang perwakilan jatuh pun membuatnya menengadahkan kepala. Melihat siapa yang berdiri di atas arena, matanya seketika terbuka.


Bukan Zhuge Liang, melainkan Jing Tian.


Semua orang tercengang, termasuk Heng Biyu yang melirik Zhou Fan di sampingnya. "Apakah kau sudah menebaknya?"


"Ini tidak sulit untuk orang berakal." Ucapan Zhou Fan membuat Heng Biyu merasa sangat bodoh.


Apakah maksud perkataan itu adalah mengatasinya tidak berakal? Tapi bukan hanya dirinya yang salah menebak, hampir semua orang berpikir serupa.


"Telah dipastikan, dua perwakilan yang melaju ke babak final adalah ... Zhou Fan dari Klan Heng serta Jing Tian dari Klan You!" Ketika juri mengumumkan namanya, Jing Tian memandang ke tempat Zhou Fan berada.


Seperti sebelumnya, tatapannya nampak tajam dengan perasaan penuh dendam.


Zhou Fan dapat merasakannya, tapi ia memilih diam dan tak menghiraukan. "Pupuklah dendam itu sampai menjadi gunung. Saat kau kalah dalam babak final nanti, rasa sakit dan malu akan bercampur. Pada waktu itu kau akan merasakan apa itu yang disebut pecundang!" batinnya dengan wajah licik.


Memang apa salahnya, ia sama sekali tidak bersalah. Bukan salahnya karena pertunangan antara dia dan Heng Biyu dibatalkan. Salahkan saja karena dia terlalu tua untuk mengharapkan seorang wanita muda menjadi istrinya.


"Babak final akan dilaksanakan sebentar lagi, tapi sebelum itu kedua perwakilan yang akan bertarung dapat memulihkan diri masing-masing."


Mendengar perkataan juri, beberapa penonton nampak kecewa. Babak final merupakan pertarungan yang paling mereka nantikan. Akan tetapi mereka harus menunggu lebih lama demi menyaksikan pertarungan terakhir dalam turnamen antar klan besar Kota Hong.


Memanfaatkan masa rehat ini, beberapa orang menghampiri Zhou Fan. Di antara mereka ada Patriark Klan Heng, Patriark Klan Hei, Tuan Besar Keluarga Xuan, Xuan Yu serta tak ketinggalan Heng Biyen.


"Apakah kau membutuhkan sesuatu?" tanya patriark klan dengan antusias, ia akan memberikan pelayanan terbaik bagi Zhou Fan agar dapat memberikan penampilan terbaiknya.


Ia tak berharap bisa mendapatkan tempat pertama, tapi setidaknya ia berharap Klan Heng memberikan kenangan dalam gelaran ini.


Zuou Fan menggeleng, ia tak membutuhkan apapun. Jika pun ada ia membutuhkan empat kristal beast elemen es tingkat kedelapan, tapi ia tahu di Kota Hong tidak ada lagi yang memilikinya.


"Menantu, kau sangat hebat. Jika kau mampu mendapatkan tingkat pertama, aku akan memberikanmu seluruh cincin penyimpanan ini." Heng Biyen mengatakan dengan senang, ia menepuk pundak Zhou Fan sembari menunjukkan sembilan cincin di kedua tangannya.


Mata Zhou Fan langsung menyipit mendengar perkataan Heng Biyen. Pria tua ini sangat pandai mencari muka, bahkan mencoba mengakalinya dengan menjanjikan kesembilan cincin yang ada di jari tangannya.


Namun Zhou Fan telah mengatahui satu fakta, semua cincin itu hanya pengalihan, harta sesungguhnya berada pada liontin di kalungnya.


"Ayah mertua, engkau snagat murah hati. Namun bagaimana mungkin aku menerima semua ini," ucap Zhou Fan dengan nada sungkan.


Heng Biyen tertawa, "Tidak tidak, itu sama sekali tidak ada artinya dengan kau yang telah mengangkat martabat Klan Heng di mata penduduk kota."


Zhou Fan menarik sudut bibirnya, senyuman itu nampak samar. "Jika ayah mertua memaksa, aku akan menerima kalungmu saja. Mana bisa aku menerima semua cincin ini, labih baik kalung itu, meski tidak terlalu berharga, sangat pas dijadikan kenang-kenangan."


Heng Biyen mangut-mangut, tapi ekspresi wajahnya berubah kaku ketika menelisik kembali ucapan Zhou Fan.


"Ada apa tetua kedua, hadiahkan kalungmu kepadanya. Bukankah kau mendapatkan menantu yang sangat baik, ia masih memikirkanmu sehingga tak menerima kesembilan cincinmu." Patriark Klan berkata begitu enteng, dia tak tahu jika semua harta berharga berada di sana.


"Ak -- aku ... " Melihat tatapan semua orang yang seolah menunggunya memberikan kalung, Heng Biyen sangat frustasi. Dalam hati dia mengutuk Zhou Fan, benar-benar bocah kurang ajar!


Dengan sangat terpaksa Heng Biyen melepas kalungnya, memberikannya kepada Zhou Fan.


Zhou Fan menerima dengan senang hati, tapi begitu ingin mengambil tangan Heng Biyen enggan untuk melepaskannya.


"Ayah mertua, apakah ada yang ingin kau katakan?" tanya Zhou Fan menggerakkan lengannya naik turun.


Heng Biyen melepaskan cengkeraman tangannya pada kalung itu. Dia sangat kesal karena harus kehilangan seluruh harta kekayaannya.


Zhou Fan tak peduli hal itu, yang terpenting saat ini ia meraup keuntungan besar. Biarkan saja pria tua itu merasakan akibat dari ingin memanfaatkannya.


Ingin menarik perhatian dengan memanfaatkan keberadaannya, tentu saja ada harga yang harus dibayar.