
Zhou Fan melihat jika kelima pria ini tidak lebih dari petarung suci bintang satu, dibandingkan dengannya yang berada di tingkat petarung suci bintang enam sungguh jauh perbedaannya.
Namun kelima pria berpakaian hitam tak menyadari kekuatan Zhou Fan, berpikir dapat menyingkirkannya dengan mudah.
"Mengrecoki urusan kami, kau memang tak sayang nyawa." Salah satu pria melipat tangan laksana preman, mengambil ancang-ancang dan menyerang.
Zhou Fan menyilangkan tangan, menahan pergelangan hingga pedang tak bisa sampai kepadanya. Dalam waktu singkat Zhou Fan memajukan kaki kanan, memutar tangan dan langsung menghempaskan pria berpakaian hitam dengan tubuhnya.
Keempat pria lainnya terkejut, dengan cepat menangkap tubuh rekan yang sudah akan terlempar keluar balkon. "Bangsat, mati kau!" Tepat setelah itu mereka menyerang, membentangkan pedang hendak menebas diagonal.
Zhou Fan belum mengeluarkan senjata, dengan hanya tangan kosong menghadapi lima orang sekaligus. Gerakan begitu gesit, tak satupun pedang mengenai tubuhnya. Hanya sebatas pakaian, itu pun tak sampai membuat koyak.
Dentingan pedang antar lima rekan terdengar sangat ramai, Zhou Fan benar-benar memanfaatkan medan pertarungan yang sempit.
Beberapa saat kemudian derap langkah kaki terdengar bergemuruh, sontak kelima pria berpakaian hitam ragu meneruskan pertarungan. "Sial, pasukan istana datang. Kita harus pergi!" seru mereka dengan panik.
Namun, sungguh sial nasib mereka karena berhadapan dengan Zhou Fan. Tanpa panjang lebar Zhou Fan melompat, mencekal leher dengan lengan. Kelima pria dibawa berputar, menghempaskan mereka ke pintu balkon.
Brak!
Pintu hancur dan lima pria berpakaian hitam tergeletak di sana. Bersamaan dengan itu Han Li'er datang bersama ayahnya--Kaisar Han serta beberapa puluh prajurit.
Han Li'er tak peduli dengan kelima penyusup, berlari ke arah balkon tapi tak menemukan siapapun di sana. "Di mana dia?" batin wanita muda itu.
Huft...
Sambil menghela nafas berat Han Li'er kembali ke tempatnya, ke dalam ruangan bersama sang ayah dan juga lima penyusup yang masih di sana.
"Buka topeng mereke!" Kaisar Han sangat murka, ruangan putrinya dimasuki penyusup dan tak satupun prajurit ada di tempat. Namun, ia sendiri cukup terkejut melihat lima penyusup telah dikalahkan.
Prajurit memegang kelima pria dengan sepenuh kekuatan, mereka jelas kalah dalam hal kultivasi. Namun beruntung bagi mereka, kelima pria telah tak berdaya.
"Cepat buka topeng mereka!" Kaisar Han sudah tak sabar, ia ingin melihat wajah sosok yang dengan berani menyusup ke dalam istana.
Ketika topeng terlepas dari kepala lima pria, Kaisar Han mengerutkan kening menjumpai wajah mereka. "Siapa yang menyuruh kalian?" Tak satupun dari kelima pria ia kenal, semuanya asing.
Namun seperti pembunuh bayaran, mereka enggan mengungkap identitas dalang di balik layar. Dalam kitab besar pembunuh bayaran, mengungkap identitas siapa yang telah membayar mereka merupakan hal tabu yang sangat dilarang.
Kaisar Han berdecak kesal, melambaikan tangan sambil membalikkan badan. "Kalian bawa mereka ke dalam penjara bawah tanah! Siksa mereka dalam ruangan tanpa cahaya."
Puluhan prajurit pergi dengan menyeret lima pria, tapi sebelum itu mereka memasang cincin pengunci kultivasi agar tak terjadi kemungkinan tak diinginkan.
"Apakah kau yakin bahwa dia yang menahan lima penyusup itu?" Perkataan Kaisar Han yang mengusut kata 'dia' mengarah pada penjelasan sang putri sebelumnya.
"Tidak ada yang lain ayah, dia yang datang menolongku sebelumnya. Itu pasti dia!" Han Li'er kemudian pergi, membuat Kaisar Han yang masih dalam ruangan mengangkat kedua alisnya.
Kaisar Han menghela nafas pasrah, entah bagaimana lagi ia dapat mengatur putri bungsunya ini.
"Yang mulia! Di mana Li'er?" Selir Yue datang dengan terburu-buru.
Kaisar Han memandang langit-langit ruangan, kemudian mendekati istrinya. "Dia mungkin menemui pria muda yang ada di kediaman perdana menteri." Saat mengatakannya, dalam hati Kaisar Han ada sedikit perasaan mengganjal.
Di sisi lain, kediaman perdana menteri...
"Kau dari mana?" Perdana menteri yang tengah berada di halaman depan melihat Zhou Fan henfak masuk kediaman.
Zhou Fan terdiam beberapa saat, dia lupa jika saat pergi langsung melompat dari balkon ruangannya. Namun ia kembali melintasi pintu depan, bukankah ini sedikit konyol?
Perdana menteri masih menunggu jawaban Zhou Fan, tapi yang ditanya hanya diam dan berjalan mendekat kepadanya. "Perdana menteri, ak -- "
Belum sempat ia menjawab, dari belakang terdengar seruan memanggilnya. "Tunggu!"
Zhou Fan sontak membalikkan badan, melihat Han Li'er datang sambil berlari. Perdana menteri mengerutkan kening, bingung dengan situasi yang terjadi.
Sejak kapan dia menarik perhatian tuan putri kedua? Mungkin itulah yang mengganjal dalam pikirannya. Hanya dalam satu pertemuan sudah mampu membuat tuan putri kedua datang mencari. Jangan melupakan fakta jika selama ini Han Lier telah menolak banyak sekali lamaran yang datang untuknya.
"Kenapa kau begitu cepat pergi, seharusnya kau mendapat imbalan. Dan juga, perdana menteri, ayah kaisar menunggu di ruangan." Setelah sampai di hadapan Zhou Fan, Han Li'er langsung berkata.
Mendengar perkataan Han Li'er, Zhou Fan agak bingung, sementara perdana menteri mengambil cangkir teh dan bangkit dari tempat duduknya.
"Jika demikian, pria tua ini pamit dahulu." Perdana menteri pergi tersisa Zhou Fan dan juga Han Li'er di sana.
"Tuan putri, apa yang engkau butuhkan?" Zhou Fan dengan terpaksa mengukir senyum, ia sudah sangat malas sejak acara perjamuan di istana. Dalam kepalanya sekarang hanya ada pikiran untuk kembali ke ruangan dan hari akan berganti, kemudian meninggalkan istana dan menuju Kota Lu.
Namun, rencana itu harus kandas bersamaan dengan datangnya Han Li'er.
"Siapa namamu?" Sejak dalam perjamuan ia selalu memikirkan nama pria muda ini, tapi sangat sulit mendapatkan nama darinya.
"Tuan putri, ini sudah malam. Sebaiknya engkau kembali ke kediaman dan tak lagi keluar." Zhou Fan berniat membalikkan badan, tapi Han Lier menahan.
"Katakan dulu siapa namamu." Han Li'er sangat bersikukuh, tak juga membiarkan Zhou Fan masuk ke dalam.
Zhou Fan menjepit kening dengan frustasi, "Ciu San, sekarang bisakah tuan putri membiarkan aku ini pergi?"
Han Li'er yang merasa menang melepaskan Zhou Fan dengan senang, dia kembali ke kediaman dengan perasaan gembira. Andai ia tahu bahwa itu bukan nama asli pemuda yang telah menarik perhatiannya, mungkin ruangannya akan hancur berantakan dengan semua barang berserakan di lantai kamar.
Sementara Zhou Fan yang telah memperdaya Han Li'er tanpa rasa bersalah masuk ke dalam kediaman dan kembali ke ruangannya. Tak peduli bagaimana reaksi putri kaisar itu saat mengetahui kebenaran dari namanya, yang terpenting sekarang ia dapat terbebas dan dapat menikmati lembutnya kasur tempat tidur.