Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 95 : Pasukan Pangeran Pertama


"Lambat,"


Zhou Fan menyipitkan mata, memutar tubuhnya dan menjumpai Leng Shui yang berdiri di samping Tetua Yan.


Hem...


"Jika itu kau, tak tahu lagi sudah berapa kali kau terbunuh di tangan nya."


Zhou Fan menyimpan pedangnya, kemudian berjalan meraih cincin penyimpanan yang masih tersemat di jemari pria tua.


Leng Shui mendengus kesal, sementara Zhou Fan mengalihkan pandangan kepada Tetua Yan. "Aku menemukan keberadaan mereka, ayo kita ke sana."


Mata Tetua Yan sedikit berkedut, kemudian bertanya. "Bagaimana kau bisa berkata sangat yakin, juga bagaimana caramu menemukan keberadaan mereka?"


Dia sejak tadi memperhatikan Zhou Fan, tak ada gerakan mencurigakan ataupun suatu yang diluar nalar. Namun dapat mengetahui keberadaan lawan, bukankah terlihat sulit dipercaya?


Namun Zhou Fan tak mempedulikan ekspresi tersebut dan menjentikan jari. Bersamaan dengan itu datang seekor serigala yang melompat dari atas atap.


"Jim, tunjukkan jalannya."


Dengan itu serigala berbulu merah itu langsung melesat dan bergerak menuju ke salah satu penjuru.


"Ikuti serigala ku," ucap Zhou Fan kepada Tetua Yan serta Leng Shui.


Dia sebelum ini telah memberi tugas kepada Zhou Jim untuk mengintai beberapa tempat, dan mengingatkan untuk kembali jika menemukan keberadaan mereka--pasukan pangeran pertama.


Dengan merasakan keberadaan Zhou Jim, tentu Zhou Fan tahu jika serigala nya menemukan leberadaan mereka. Oleh karena itu dia bisa berkata dengan yakin.


"Apakah serigala ini dapat dipercaya?" Leng Shui berkata lirih, tapi ucapannya tak luput dari pendengaran Zhou Fan.


"Jika kau tak percaya, jangan mengikuti nya." Zhou Fan berkata tanpa memalingkan pandangannya, netra hitam itu lurus memandang ke depan.


Leng Shui diam tak menanggapi ucapan Zhou Fan, wanita muda itu melesat mengikuti sang guru yang bergerak tepat di depannya.


Setelah beberapa lama bergerak, Zhou Jim berhenti dan dengan itu seketika menahan langkah kaki Zhou Fan.


Zhou Fan berdiri di atas atap, ketika pandangannya menatap jauh ke depan dapat terlihat puluhan bahkan ratusan orang berkumpul. Hal ini sontak membuat keningnya berkerut.


"Ternyata seluruh pasukan pangeran pertama berkumpul di sini." Zhou Fan mengelus dagunya sambil memperhatikan ratusan orang yang tengah berkumpul.


Dapat dipastikan jika hanya ada satu petarung suci, sementara untuk petarung senior mungkin lebih dari lima puluh orang. Petarung kaisar ke bawah lebih banyak lagi.


"Itu dia! Guru, dia adalah pangeran pertama." Leng Shui menunjuk seorang pria yang berdiri di tengah kerumunan.


Wanita itu sangat tahu jelas wajah itu, wajah yang membuatnya kehilangan kedua orang tua serta keluarga lainnya.


Tetua Yan sejenak berpikir, kemudian berkata. "Baiklah, setelah ini selesai kau harus mengikutiku kembali ke Sekte Menara Es."


Leng Shui sejenak berpikir, namun pada akhirnya tetap mengangguk meski ada sedikit perasaan yang mengganjal.


Tetua Yan mengeluarkan sebuah topeng kulit, ia memakai untuk menyembunyikan identitasnya.


Meski dengan kekuatannya ia bisa menghadapi mereka semua yang hanya ada satu petarung suci, dia tak bisa bertindak sembarangan mengingat ini bukan wilayah kekuasaan Kekaisaran Han.


...


"Pangeran pertama, mengapa kelompok lain belum berkumpul? Mungkinkah mereka menghadapi beberapa masalah, karena tidak mungkin lebih dari separuh pasukan belum kembali jika tidak ada masalah yang terjadi." Seorang pria tua berkata dengan nada cemas sekaligus khawatir.


"Kasim, di mana Penatua Lie?"


Mendengar pertanyaan pangeran pertama, pria tua itu diam tak bicara. Sikap tersebut sontak memancing kerutan di kening pangeran pertama.


Kasik tua itu menggeoengkan kepala dengan pasrah, "Penatua Lie belum kembali pangeran. Bahkan kabar pun tak terdengar sejak beberapa waktu lalu."


"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa malah seperti ini?!" Pangeran pertama sangat murka, sungguh tak menyangka keputusannya membagi kelompok malah menjadi boomerang baginya.


"Hem... Juga, di mana tetua klan Song itu? Bukanlah dia membawa pasukan, apakah dia juga belum kembali?"


Sekali lagi kasim tua itu diam di tempatnya, sejutus kemudian dia berkata dengan sangat menyesal. "Nampaknya dia belum kembali pangeran.


Blar!


Serangan itu sontak membuat kasim tua itu terlonjak kaget, matanya mengarah kepada pangeran pertama yang berdiri sembari membawa pedang di tangan kanannya.


"Sial! Kerugian ini, jika diteruskan hanya akan mendatangkan kekalahan. Kita harus mundur." Pangeran pertama membalikkan badan, tapi ia dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita tua berpakaian biru.


"Tidak satupun di antara kalian yang akan pergi dari sini," ucap wanita tua itu yang tidak lain adalah Tetua Yan.


"Pangeran, dia sangat kuat. Mungkin lebih kuat dari kasim ini." Kasim tua mengingatkan pangeran pertama.


"Senior, adakah yang kau butuhkan dari pangeran ini? Jika iya, maka katakan saja dan pangeran ini akan berusaha mendapatkannya." Pangeran pertama tudak bodoh, ketika mengetahui wanita tua berpakaian biru bukan tandingan mereka, ia bersikap ramah dan berusaha mendapatkan simpati dari senior tua ini.


Namun yang tidak diketahui pangeran pertama adalah, dia datang ingin menjemput nyawanya. Akankah ia masih dapat berkata demikiam jika tahu maksud yang sebenarnya?


"Kalian semua, tak akan aku biarkan lolos begitu saja." Setelah berkata demikian Tetua Yan mengeluarkan Teknik Aura Dewi Es.


Seketika beberapa orang terhempas meski banyak juga yang bertahan.


Leng Shui memandang dari kejauhan, di sampingnya berdiri Zhou Fan yang juga menyaksikan.


"Apakah kau dapat melihatnya, itu adalah bentuk sempurna teknik tersebut. Apa yang kau terapkan merupakan bentuk sederhana dari teknik tersebut. Namun dengan bakatmu, aku yakin tak akan sulit untuk kau menguasainya."


Leng Shui menatap Zuou Fan dengan tatapan yang rumit. Dia tak percaya bahwa pria ini baru saja memujinya. Bahkan ia sempat mengira itu adalah telinganya yang salah menangkap ucapan. Namun nampaknya tidak, karena ia tidak salah dengar.


"Sepuluh dua puluh tahun itu sudah cukup cepat untukmu,"


Mendengar ini ekspresi Leng Shui kembali kesal, dia pun memalingkan muka memandang sang guru.


Trank!


Trank!


Dengan pedang di tangannya, Tetua Yan menggempur ratusan orang. Walau kalah jumlah tak membuat tetua Sekte Menara Es itu kewalahan, bahkan ia terlihat sangat dominan.


"Senior, bisakah kau jelaskan terlebih dahulu masalah di antara kita. Engkau tak bisa menindas kami begitu saja." Kasim Bo--petarung suci milik pangeran pertama itu tak sanggup menghadapi serangan Tetua Yan.


Padahal mereka sama-sama petarung suci, namun jarak di antara mereka sabgatlah jauh bak langit dan bumi. Selain itu aura dingin yang menyebar membuat gerakan sedikit lebih lambat, aliran darah di tubuh mereka seolah membeku dan itu menghambat aliran tenaga dalam.


"Kau ingin tahu apa masalahnya?" tanya Tetua Yan.


Kasim Bo mengangguk, "Jika senior tidak keberatan, mohon beri petunjuk pria tua ini."


Hem...


"Apakah kau mengingat Klan Leng?"


Mendengar nama Klan Leng, wajah Kasim Bo berubah terkejut. Dalam benaknya dia bertanya tanya, apakah ini ada hubungannya dengan klan tersebut. Namun bagaimana mungkin, bukanlah klan tersebut hanyalah klan kecil.


"Kedatanganku ingin meminta pertanggung jawaban kalian, membalaskan dendam muridku!"