
Hari demi hari berlalu, Zhou Fan masih berada di kediaman Sian Yu sambil menunggu kabar sang guru yang masih berusaha menerobos tingkatannya.
Namun, ketenangan pagi menjadi kacau setelah kedatangan puluhan orang dari kota seberang. Zhou Fan yang belum mengetahui ada hal apa langsung bergegas keluar, ketika sampai di gerbang kediaman Klan Sian Timur, melihat satu kelompok terdiri dari puluhan orang berusaha masuk meski dihalangi oleh penjaga.
Bersamaan dengan itu tetua Klan Sian Timur berdatangan, tak ketinggalan Sian Hui yang saat ini memegang kuasa utama dalam struktur klan. Akan tetapi seolah tidak takut sama sekali, Sian Ying bergeming di tempatnya sambil mengeluarkan senyum sinis.
"Sian Ying, apa tujuanmu datang kemari dengan membawa begitu banyak orang!" Sian Hui memasang sikap waspada, ia harus bersiap jika bertarung karena lawan ada dua petarung tingkat dewa.
"Sian Hui, tak kusangka kau semakin berani. Apakah begini caramu berkata kepada keturunan utama?"
Mendengar perkataan Sian Ying, Sian Hui langsung terdiam. Yang dikatakan Sian Ying tidak salah, peraturan klan mengatakan jika berhadapan dengan keturunan utama harus menundukkan kepala dan berbicara dengan nada rendah.
Namun itu dulu, sebelum Klan Sian terpecah menjadi dua. Ia hanya akan melakukan hal itu kepada Sian Lou--orang yang talah ia pilih sebagai pemimpin.
Zhou Fan mengamati keadaan dari jauh, dia bisa melihat kekuatan mereka tidak lemah dan dua orang memiliki kultivasi sama dengannya. Petarung dewa bintang satu.
"Hem... Lupakan masalah itu, aku datang untuk mengembalikan segel giok kepada kalian." Sian Ying melempar segel giok, langsung ditangkap oleh Sian Hui.
Setelah itu mereka pergi, hal ini sontak membuat meraka yang ada di sana terkejut.
"Kenapa mereka pergi begitu saja, apakah memang hanya berniat mengembalikan segel giok?"
Beberapa pertanyaan masih belum mendapat jawaban, Sian Hui pun tak tahu apa niat Klan Sian Barat sebenarnya.
"Patriark, nampaknya memang benar jika Sian Lou tengah menutup diri. Bahkan kabar kedatangan kita tak membuatnya keluar."
Sian Ying terus berjalan, melirik gerbang kediaman Klan Sian Timur dengan tatapan tajam. "Jika begitu lakukan segera!"
"Baik patriark!"
"Apa yang mereka rencanakan?" Zhou Fan memperhatikan Sian Ying yang nampak berbicara dengan suara lirih. Pria tua di sampingnya juga nampak mencurigakan. Pasti mereka telah menyusun sebuah niat buruk terhadap Klan Sian Timur.
"Hei, kau!"
Zhou Fan seketika menoleh, menunjuk diri sendiri menggapai panggilan Sian Hui.
"Ya, kau."
"Ada apa tetua?" tanya Zhou Fan setelah sampai di hadapan Sian Hui.
"Kau simpan segel giok itu, kau adalah murid patriark, kau yang pantas membawanya." Sian Hui bukan tak mau menyebut nama Zhou Fan, hanya saja ia lupa nama pria di hadapannya dan terlalu enggan untuk bertanya.
"Tetua, engkau merupakan orang kepercayaan guru. Jika ada yang lebih pantas, engkaulah orangnya." Bagaimanapun ia adalah orang baru di kediaman Klan Sian Timur, membiarkannya menyimpan segel penting apakah tidak terlalu cepat.
Namun Sian Hui memiliki pemikiran sendiri, lagi pula segel giok itu sekarang tak akan diincar karena sudah tidak ada kelebihan lain selain sebagai tanda kekuasaan.
Setelah beberapa waktu terus didesak, Zhou Fan pun menerima dan menyimpan segel giok di dalam cincin penyimpanan.
"Apakah kau baru berkultivasi?" tanya Sian Hui tiba-tiba.
"Auramu sedikit berbeda dari sebelumnya, entah mengapa aku merasakan kau lebih kuat dari pada kultivasimu sebenarnya." Sian Hui hanya dapat melihat jika Zhou Fan berada di tingkat petarung suci bintang satu. Andai dia mengetahui bahwa tingkat kultivasi Zhou Fan setara dengannya, mungkin saat ini juga ia terbaring dengan mulut penuh busa.
"Tetua, aku akan kembali ke kediaman." Karena tak ada hal yang dapat dilakukan, Zhou Fan lebih memilih kembali ke kediaman Sian Yu. Sampainya di sana ia melihat sesosok berjubah hitam berdiri di depan pintu tengah membelakanginya.
Di dalam kediaman empat orang masih berkultivasi, lima beserta Zhou Jim. Keberadaan sosok berjubah hitam ini tak tahu ada niat apa sampai berdiri di depan pintu dan sama sekali tak mengeluarkan gerakan.
Zhou Fan tanpa berkata langsung mengeluarkan senjata. Aura sosok berjubah hitam sangat kuat, lebih kuat dari pada Sian Hui. "Kau siapa?"
Perlahan sosok berjubah hitam membalikkan badan. Masih dengan tudung hitam menutupi wajah, ia mulai mengamati Zhou Fan. Tak berselang lama ia menunjukkan tangan, bersiap akan menyerang.
Zhou Fan siaga, ia tahu kekuatan sosok di hadapannya tak bisa dipandang sebelah mata.
Wosh...
Berkelebat dengan kaki menapak udara, kecepatan geraknya sangat luar biasa. Zhou Fan menarik tubuh menghindar dan mengambil jarak terlebih dahulu. Namun pandangannya tak sekalipun lepas dari sosok berjubah hitam, "Siapa kau, apakah kau dari Klan Sian Barat?"
Tak ada jawaban, soson berjubah hitam malah melesat dan kembali menyerang dengan dua tapak.
Zhou Fan menangkis setiap serangan, tapi tangan sosok berjubah hitam begitu kokoh seolah itu adalah senjata pusaka. Namun Zhou Fan tak kehilangan akal, merubah cara menyerang dengan serangan jarak jauh.
Berpikir dapat memberikan tekanan, serangan jurus penebas awan dapat dihalau begitu mudah. Hanya satu ayunan tangan jurus seketika lenyap. Itu menunjukkan perbedaan kekuatan di antara mereka.
Zhou Fan mendengus, mengatur posisi ganti mengeluarkan serangan tebasan terkuatnya. "Tebasan ganda!"
Dua tebasan bergerak bersamaan, siluet yang ganas dan mengerikan.
Sosok berjubah hitam seolah tahu bahwa itu adalah serangan yang mematikan. Tak mau meremehkan ia mengeluarkan tongkat dan langsung membentangkannya.
BLAR!!
Lesatan angin yang ditimbulkan sangat kencang, kaki pun sedikit terasa karena menahan serangan Zhou Fan. Jika lebih diperhatikan, tempat berpijak amblas seolah menahan beban begitu besar.
"Serangan yang sangat kuat, kau telah meningkat dengan pesat."
Zhou Fan terkejut melihat serangan jurusnya tak memberikan luka sedikitpun bahkan noda pada pakaiannya. Namun, yang lebih membuat kening mengerut adalah kata dari sosok berjubah seolah telah berjumpa dengannya.
Zhou Fan baru saja akan mengeluarkan teknik penghancur bintang, sosok berjubah kembali berkata.
"Peningkatanmu sangat cepat, hanya beberapa tahun sudah berada di tingkat petarung dewa."
Tangan Zhou Fan gemetar, pedang menghilang dan masuk ke dalam cincin penyimpanan.
"Guru!"
Sosok berjubah membuka tudungnya, memperlihatkan wajah tua yang selama ini dia cari. Sang guru--Sian Lou.
"Keajaiban seperti apa yang dia dapatkan sampai bisa menembus tingkat petarung dewa dalam usia begitu muda?" gumam Sian Lou yang seolah sulit untuk percaya bahwa di hadapannya ini adalah pria muda yang beberapa tahun lalu hanya di tingkat petarung kaisar. Jika tidak mengenalnya dan mengetahui sendiri, mungkin ia tak akan percaya.