Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 122 : Turnamen Klan Besar (8)


Zhuge Huang bersiap dengan dua jarum di kedua tangannya, jarum perak sepanjang satu jengkal itu tidaklah tajam, agak tumpul dengan ukuran lebih besar.


Melihat dua jarum di tangan Zhuge Huang, Zhou Fan merasa aneh. Jarum yang digunakan benar-benar berbeda dari jarum yang pernah dilihatnya, tapi mungkin itu termasuk senjata khusus yang diciptakan untuk nya.


Di sisi lain Jing Tian begitu tenang, ia sama sekali tidak merasa terbebani dengan pertarungan kali ini. Sontak sikap seperti itu memancing kerutan di kening Zhuge Huang.


Akan tetapi apa yang bisa dilakukannya, ia terlalu lemah untuk menilai apa yang dilakukan tuan muda keluarga Jing tersebut.


"Apakah kalian sudah siap?"


Mendengar pertanyaan juri, Jing Tian hanya diam, sementara Zhuge Huang mengangguk dengan ragu.


Juri tak mempermasalahkan, ia sendiri tahu akan bagaimana sikap Jing Tian. Tidak hanya Jing Tian, tapi semua jenius selalu bersikap arogan, karena itu adalah sifat alami mereka.


"Mulai!"


BLAR!


Baru saja terdengar kata mulai, tubuh Zhuge Huang sudah terlempar keluar arena.


Juri tercengang di tempatnya, mulutnya terbuka dengan dagu yang rendah. Turnamen antar klan besar hanya selesai dalam satu serangan, entah ini yang di namakan mengagumkan, atau lebih tepat mengerikan?


"Jing Tian, dari Klan You melaju ke babak selanjutnya!" Juri dengan cepat menutup mulutnya, ia harus meniaga wibawa di hadapan banyak pasang mata yang memandang.


Dengan itu Jing Tian menuruni arena, pencapaian ini adalah sejarah, suatu yang belum pernah terjadi. Setelah ini namanya pasti akan tercatat di tugu prasasti Kota Hong, berdampingan dengan nama-nama yang mendapat tempat pertama.


Tidak banyak yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Zhou Fan dapat melihat dengan jelas.


"Jing Tian ini cukup kejam, sama sekali tak berbelas kasihan." Zhou Fan berkata sambil menggelengkan kepala.


Begitu kata mulai terucap dari mulut sang juri, Jing Tian tak basa-basi, langsung mengeluarkan jurus andalannya--jurus penghancur raga. Dengan jurus milik keluarga Jing, ia mampu menghempaskan Zhuge Huang bahkan sampai pria tiga puluh tahun itu tak sadarkan diri.


Serangan Jing Tian sangat cepat, hingga tak banyak yang dapat melihat. Mungkin juga karena tak ada yang menduga bahwa Jing Tian mengeluarkan serangan mematikan pada gerakan pertamanya, oleh sebab itu banyak penonton yang tak siap dan pada akhirnya harus ketinggalan aksi menakjubkan dari tuan muda Jing tersebut.


Turnamen berlanjut, dan di dua pertarungan yang tersisa, Xuan Yu serta Zhuge Liang berhasil mengalahkan masing-masing lawannya. Keduanya menyusul Zhou Fan serta Jing Tian melaju ke babak empat besar.


Penonton sangat antusias, mengingat empat nama ini sangat menarik perhatian, terutama Zhou Fan yang sudah seperti kuda hitam dalam pertandingan. Sebelum turnamen digelar, tak ada yang tahu identitasnya. Namun sekarang seluruh kota akan mengenal namanya, mengenal wajahnya.


Mereka hanya perlu menunggu, sekali lagi Zhou Fan akan mengejutkan mereka, menjadi pemegang kursi kemenangan dan berdiri di atas semua perwakilan. Pada saat itu namanya akan semakin harum, terutama dalam Kota Hong.


"Perwakilan babak empat besar, silakan naik ke atas arena." Begitu juri berkata, keempat orang ini langsung naik ke atas arena. Wajah mereka sangat tenang, kecuali Jing Tian yang sudah sangat kesalah dengan Zhou Fan.


Setiap saat matanya memandang kepada Zhou Fan, andai sorot mata itu dapat membunuh, entah berapa ratus kali Zhou Fan terbunuh.


Zhou Fan sebenarnya mengetahui jika Jing Tian mengamatinya dengan penuh kebencian. Siapa yang tak menyadari jika ia tak sekalipun mengalihkan pandangan sejak naik ke atas arena.


"Zhi Long, lihat! Itu tuan muda." Dari bawah arena, dua pria paruh baya berdiri sambil memandang ke atas arena.


"Nampaknya tuan muda telah berhasil masuk ke babak empat besar. Aku penasaran, apakah kita akan mendapatkan seorang nyonya muda ketika tuan muda memenangkan turnamen ini?" Ciu San tersenyum, membayangkan akan mendapatkan nyonya muda.


Bug!


Pukulan Zhi Long sontak membuyarkan khayalan Ciu San. "Jangan berpikir macam-macam," ucap Zhi Long kepada sang kakak.


Ciu San mendengus, tapi tak meneruskan pembicaraan. Ia mengalihkan pandangan kepada empat perwakilan, termasuk Zhou Fan.


"Menurutmu siapa yang akan menang?" Cou San menyenggol siku Zhi Long, membuat saudaranya itu berpikir.


"Tentu saja tuan muda yang akan menang. Meski aku tak tahu kekuatan mereka, aku dapat merasakan kekuatan tuan muda yang paling mencolok."


Mendengar jawaban Zhi Long, Ciu San mencoba mengamati dengan teliti. "Apanya yang mencolok, aku tak melihat apapun. Seolah itu adalah jurang yang sangat dalam."


"Bodoh," ucap Zhi Long pelan, sangat pelan sampai Ciu San hampir tak mendengar.


"Apa! Kau mengatai ku?!" Ciu San mengepalkan tangan, menunjukkan kepalan itu kepada Zhi Long.


Zhi Long tersenyum, "Memang apa yang kau dengar?"


Ciu San terdiam, ia tak mendengar jelas apa yang dikatakan Zhi Long. Namun ia sangat yakin jika adiknya ini baru saja memakinya.


"Aku juga tak bisa melihat kekuatan mereka, terlebih tuan muda. Namun insting ku mengatakan bahwa tuan muda yang akan menang." Zhi Long memandang Zhou Fan, entah mengapa jika ia memandangnya, ada semacam perasaan yang seolah terus menghasutnya untuk selalu percaya kepadanya.


Oleh sebab itu ia dengan mudah mengatakan bahkan Zhou Fan akan menang.


Ciu San tak mengerti, otaknya belum mampu untuk memahami masalah masalah rumit seperti itu.


Sementara di atas arena, Zhou Fan maju untuk mengambil nama.


Semua orang berharap dia akan bertemu dengan Jing Tian, termasuk Jing Tian sendiri yang sangat berharap agar dipertemukan dengan Zhou Fan.


Setelah mendapatkan nama, Zhou Fan menyerahkannya kepada juri. Juri tak langsung menyebutkan, membuat semua orang penasaran.


"Xuan Yu, Zhou Fan akan berhadapan dengan Xuan Yu--perwakilam Klan Shang."


Mendengar ini ekspresi Jing Tian seketika memburuk, ia meninggalkan arena dengan amarah terpendam. Namun ia mencoba untuk tenang, ia akan menunggu Zhou Fan di babak selanjutnya.


Namun terlebih dahulu ia harus mengalahkan Zhuge Liang. Menghadapi sesama jenius sama sekali bukan masalah gampang, meski ia unggul dalam kultivasi, belum cukup untuk menjamin kemenangan.


Di atas arena kedua perwakilan telah bersiap. Seperti sebelumnya, keduanya mengeluarkan pedang yang menjadi teman bertarung mereka. Namun pertarungan kali ini tidak akan sama, keduanya telah sepakat untuk menggunakan tenaga dalam, berbeda dengan pertemuan pertama yang hanya beradu teknik serta pemahaman.


"Langsung keluarkan teknik bertarungmu, aku juga akan melakukannya. Pertarungan ini, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkanmu." Xuan Yu sangat percaya diri, ia telah mendapatkan beberapa kunci atas pertarungan Zhou Fan sebelumnya.


Namun ia tak bisa serta merta mengeluarkannya, karena Zhou Fan akan dapat mengetahuinya. Bukankah akan sangat sia-sia jika sampai rencana gagal bahkan baru beberapa saat diterapkan?