
"Apakah tidak ada jalan keluar? Lantas apakah semua orang yang masuk ke dalam altar peninggalan juga mengalami hal serupa?" Leng Shui berjalan di belakang Zhou Fan, memperhatikan langit-langit lorong yang gelap.
Zhou Fan tak menanggapi gumaman Leng Shui, berpikir keras berusaha memecahkan masalah labirin yang sangat sulit dilewati. Kemudian pandangannya menatap dinding, beralih ke atas kemudian ke bawah.
"Apa yang akan kau lakukan?" Leng Shui mengerutkan keningnya, melihat Zhou Fan akan menyerang lantai dengan tangan kosong.
Namun sekali lagi Zhou Fan tak memberi penjelasan, menghantam lantai membuat beberapa goncangan.
Krak...
Retakan lantai labirin membuat mata Zhou Fan berbinar, untuk yang kedua kalinya menghantam dengan dua kepalan tangan.
Blam!
Sebuah lubang seukuran lingkar badan tercipta, semakin memperjelas ukiran senyum di wajahnya. Leng Shui yang melihat langsung mendekat. "Ternyata jalan keluar berada di bawah, pantas saja tak bisa menemukannya."
"Cepat melompat!" Tanpa basa-basi Zhou Fan melompat diikuti Leng Shui dan juga Zhou Jim.
Mereka mendarat di depan sebuah istana, istana yang sudah runtuh termakan usia.
"Bagaimana kau dapat yakin jika jalan keluar ada di bawah?" Leng Shui tak bisa mengerti bagaimana Zhou Fan melakukannya, ia bahkan tak sempat berpikir jalan keluar itu berada di bawah lantai.
Zhou Fan menoleh sekilas, "Hanya tebakan yang beruntung."
"Apa!" Jawaban Zhou Fan membuat mata Leng Shui terbelalak. Bagaimana bisa itu hanya tebakan, jika lubang di lantai membawa mereka menuju kematian siapa yang patut dipersalahkan.
Ingin sekali Leng Shui mengeluarkan kata-kata kesalnya, tapi sudahlah. Lagi pula salahnya sendiri yang mengikuti Zhou Fan tanpa memikirkan dampak terburuknya. Juga beruntung ternyata memang benar lubang itu membawa mereka kekuar dari labirin, jadi tak perlu memperpanjang suatu yang tak penting.
Hem...
Zhou Fan hanya melirik Leng Shui, ekspresi wanita itu saat terkejut sungguh membuat orang ingin tertawa. Sebenarnya keputusan untuk melompat juga telah dipikir matang-matang, bagaimana mungkin hanya tebakan yang beruntung.
Dari samping jelas tidak akan membawa mereka menuju jalan keluar, depan belakang juga tidak mungkin. Jadi hanya ada pilihan atas atau bawah dan Zhou Fan lebih memilih bawah. Dikatakan tebakan juga tidak salah karena ia harus memilih tanpa tahu apa yang mungkin terjadi.
"Ambil ini!"
Zhou Fan menangkap sebuah botol yang melayang ke arahnya, "Apa ini?"
"Itu adalah pill anti racun. Kita tidak tahu hal berbahaya apa yang ada di dalam reruntuhan. Alangkah baiknya jika dapat berjaga-jaga. Pill itu dapat menangkal racun apapun dalam kurun waktu dua hari." Leng Shui mengeluarkan botol pill serupa, menelan pill berwarna biru tua.
Namun Zhou Fan hanya memandang pill yang memiliki hawa dingin tersebut. "Apakah sekarang kau sudah menghilangkan dendammu?" Jika diingat Leng Shui ini sangat dongkol kepadanya, beberapa pertemuan selalu mengungkit dendam yang bahkan tak tahu sejak kapan telah ada.
Mata Leng Shui menyipit. "Kau jangan salah paham, dendamku kepadamu masih ada. Aku akan membalasnya. Jika kau kenapa-napa di dalam reruntuhan ini aku tak bisa membalas dendam ku, jadi jangan salah paham."
Zhou Fan tersenyum kecut, tak disangka wanita ini lebih pendendam dari pada gajah. Gajah mengingat musuhnya bertahun-tahun, mungkin Leng Shui ini akan mengingat selama dendam belum terbalaskan. Padahal Zhou Fan tak merasa pernah berbuat salah terhadapnya, tapi dia selalu mengungkit balas membalas.
Mereka memasuki pintu istana, aula utama istana yang luas terasa mencekam dengan aura kematian. Di kursi takhta terlihat jubah besar menggantung dengan aksen emas yang masih tersisa.
Zhou Fan berjalan dengan hati-hati, mungkin ada jebakan yang dapat mengancam keselamatan. Namun, sampai beberapa langkah masih aman-aman saja.
Auk! Auk!
Suara Zhou Jim mengejutkan Zhou Fan dan juga Leng Shui, keduanya mengalihkan pandangan menuju ke beberapa penjuru ruangan.
Auk... Auk...
Zhou Jim menyalak beberapa kali, kali ini suaranya semakin nyaring. Zhou Fan merasakan pergerakan, Leng Shui sudah mengeluarkan pedang. Nampaknya dia juga merasakan pergerakan dari salah satu lorong istana.
Suara langkah kaki semakin jelas terdengar, tak lama seekor beast tingkat delapan muncul. "Kelabang!" Leng Shui membelalakkan mata melihat beast tingkat delapan di hadapannya. Namun bukan itu masalah yang utama, melainkan beast kelabang sangat suka berkoloni dan jumlahnya paling sedikit mencapai dua puluhan ekor.
Shh...
Benar saja, baru juga mulut menutup, keluar puluhan beast kelabang dari tempat lain. Sekarang mereka bertiga dikepung dari berbagai sisi oleh beast kelabang. Yang lebih mengkhawatirkan kebanyakan dari mereka merupakan beast tingkat delapan, mungkin lebih dari sepuluh beast termasuk beast kelabang yang paling besar.
Beast kelabang tak memberikan musuh waktu berpikir, langsung menyerang dengan koloninya. Zhou Fan mengeluarkan pedang darah malam, tanpa banyak berkata mengeluarlan tebasan.
Namun beast kelabang paling besar memiliki kekuatan setara dengan petarung suci bintang lima, serangan dapat dipatahkan. Leng Shui mengeluarkan teknik bertarung miliknya, tak segan menyebar aura dewi es yang telah dikuasainya.
Gerakan kelabang menjadi lebih lambat karena udara yang dingin membekukan ujung kaki mereka. "Menari bersama bulan!" Leng Shui mulai melancarkan gerakan teknik pedangnya, dengan aura dingin yang memancar ia berhasil menahan beberapa beast sekaligus.
Zhou Jim bertarung bersama Leng Shui, dia mencabik dengan cakar, mengoyak menggunakan taringnya yang tajam. Satu persatu beast kelabang tingkat tujuh dapat dikalahkan dan tersisa beast tingkat delapan.
Leng Shui tak langsung menyerang, dia memutar pedang sambil menelisik besst kelabang yang tersisa. Setidaknya ada sebelas beast tingkat delapan, tidak termasuk pemimpin koloni yang tengah dihadapi oleh Zhou Fan.
"Namamu Jim, bukan? Bantu aku menghadapi mereka," ucap Leng Shui.
Auk!
Zhou Jim seolah paham, dia mengikuti perkataan Leng Shui dan melesat menerjang salah satu beast tingkat delapan. Leng Shui mengakui jika serigala milik Zhou Fan cukup dapat diandalkan, ini adalah saat baginya untuk memberi serangan telak kepada mereka.
Leng Shui menyatukan tangan, pedang mengarah ke atas sedang mata terpejam. "Teknik aura dewi es!" gumamnya pelan.
Seketika energi dingin meluap dari tubuhnya, menghempas beberapa beast yang ada di sekitar. Namun terlalu mudah jika beast tingkat delapan langsung dapat dikalahkan, mereka bangkit meski nampak luka di sekujur tubuh mulai dari kaki hingga kepala.
Shas...
Suara beast kelabang terdengar sangat nyaring, membuat beberapa pilar di dalam aula utama bergetar. Zhou Fan yang masih dihadapkan dengan pemimpin beast kelabang tanpa sengaja mengarahkan pandangan menuju Zhou Jim yang begitu patuh mengikuti perkataan Leng Shui.
Itu sangat aneh, karena Zhou Jim tak pernah mau mengikuti perintah orang lain bahkan Ciu San atau Zhi Long sekalipun. Namun sekarang ia mengikuti perkataan Leng Shui, apa yang sebenarnya terjadi.
Trank!
Dengan kakinya yang berjumlah puluhan, beast kelabang menusuk Zhou Fan saat ia tak berada dalam keadaan siaga. Hampir saja kaki setajam tombak itu menembus tubuh jika tidak cepat dihalau dengan pedang darah malam.
Zhou Fan melompat mundur, sudah cukup main-mainnya. Sekarang adalah waktu untuk menyelesaikannya!