Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 91 : Mengakhiri Dendam


Blar!


Zhou Fan tak mampu menahan tangannya untuk tidak menyerang, niat mereka yang ingin membunuhnya sudah cukup baginya untuk mengakhiri riwayat belasan orang tersebut.


Tak peduli apa alasan mereka menyerangnya, tetap mereka terlibat dan ikut andil dalam situasi saat ini.


"Kita tidak akan bisa bertahan jika hanya menghindar, serang dia. Aku tak percaya, dengan kekuatan masing masing tidak lebih lemah dari petarung senior bintang lima tidak bisa mengalahkannya." Seorang pria tua berkata kepada rekannya.


Beberapa orang mengangguk, perlahan mereka yang seperti menghindar secara bertahap mulai berdiri dengan gagah berani.


Zhou Fan menarik senyum sinis di bibirnya. Menghadapi mereka, selama masih ada formasi dunia api, bukanlah mustahil.


Wosh...


Di dalam formasi belasan orang itu mengeluarkan jurus yang bersamaan, perputaran energi yang begitu besar mencoba melepaskan tekanan dari api yang terus berkobar.


Hyat!!


Teriakan mereka terdengar bersamaan, bola energi itu melesat ke tempat Zhou Fan berada.


Zhou Fan mengukir senyum di wajahnya, dia bisa merasakan energi kuat yang tersimpan di dalam bola raksasa gabungan jurus belasan pria tua.


Namun itu bukan masalah, karena kultivasi mereka masihlah terlalu rendah untuk berhadapan dengan seorang petarung suci sepertinya.


Zhou Fan menyiapkan pedang darah malam, dia bersiap mengeluarkan jurus andalannya. "Tebasan Ganda!" Ketika dia berteriak dia tebasan yang terselimuti api bergerak berlawanan dengan bola raksasa.


Ketika dua jurus bertemu, dua tebasan itu dengan begitu mudah membelah bola raksasa. Para pria tua melebarkan mata kepala mereka dengan tidak percaya, padahal itu adalah jurus gabungan mereka, tapi seolah tidak berguna di hadapan dua tebasan tersebut.


Setelah berhasil menebas bola raksasa dua tebasan masih bergerak, ketika menghantam tempat berdiri belasan pria tua, mereka semua tak dapat menghindar karena serangan begitu cepat dan akurat.


Huak!


Beberapa dari belasan pria tua memegang dada dengan mulut mengeluarkan darah, sementara lainnya terlihat lebih baik meski luka di tubuh mereka tidak dapat dikatakan ringan.


Crash... Jleb!


Memanfaatkan keadaan Zhou Fan melesat dan membunuh setiap nyawa yang ada, tak menyisakan bahkan satu orang kecuali dirinya sendiri.


Belasan orang tingkat petarung senior meninggal dalam kurun waktu beberapa menit, itu sungguh mengagumkan bagi seorang pemuda sepertinya.


Perlahan formasi dunia api menghilang, yang pertama kali dia cari adalah keberadaan Song Akoi, ketika melihat bayangan berkelebat menjauh, spontan dia mengejarnya.


"Bajingan, aku tak akan melepaskanmu!" Zhou Fan melesat cepat, perasaannya begitu dongkol sampai dia ingin segara menghabisi pria tua bermarga Song tersebut.


Song Akoi yang merasakan pergerakan melirik ke belakang, melihat Zhou Fan melesat bak pemangsa yang mengincar mangsanya, dia seketika berwajah pucat.


"Sia-sia!" Zhou Fan mendengus ketika Song Akoi mencoba menyerang dengan belati ataupun pisau kecil yang berada di balik pakaiannya.


Serangan seperti sangat mudah dihindari, terlebih serangan yang diarahkan kepadanya benar benar tidak akurat, terlihat jelas jika sedang guguk ataupun khawatir.


"Akan aku akhir dendam di antara kita!" Zhou Fan mengeluarkan tombak, beberapa saat mengumpulkan tenaga dalam dan melempar dengan sekuat tenaga.


Wung...


Ketika Song Akoi kembali melirik ke belakang, matanya perlahan menyipit, memastikan itu adalah sebuah tombak yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal, seketika dia mempercepat langkah dengan panik.


"Aku tak mau mati!" Namun naas, tepat setelah dia berteriak, di bagian punggung kiri menancap sebuah tombak.


Tubuh Song Akoi langsung jatuh ke tanah, darah merembes dengan begitu derasnya, bahkan tak butuh waktu lama cairan merah itu sudah menggenang di bawah sana.


Heh...


Zhou Fan memandang mayat pria tua di bawah tempatnya berdiri, sungguh malang nasibnya, mati di tanah sendiri tapi bukan sebagai pahlawan, melainkan seorang yang berniat merebut kekuasaan.


Mata Zhou Fan tak sengaja mengarah ke sebuah token yang menggantung di pinggang Song Akoi, perlahan tapi pasti token tersebut berpindah tangan kepadanya.


Selain itu ada cincin penyimpanan, sepertinya kedudukan Song Akoi lumayan tinggi, karena tidak semua bisa membawa barang milik sendiri dalam pasukan pangeran pertama.


"Tak ku sangka pria tua ini lumayan kaya." Zhou Fan tersenyum puas, dia mendapatkan ratusan uang kertas pecahan seratus, selain itu ada barang berharga seperti pill dan juga tungku serta tanaman herbal.


Zhou Fan kemudian menyimpan semua itu di dalam cincin penyimpanannya.


"Sepertinya pertarungan di sana sudah selesai." Sambil melangkah menuju tempat kelompok tiga, matanya tak berhenti mengamati keadaan sekitar.


Dari ketinggian dia bisa memastikan jika pertarungan yang sebelumnya masih berlangsung kini sudah berakhir. Itu dapat dipastikan karena tidak ada lagi dentuman ataupun suara yang biasa dihasilkan dalam sebuah pertarungan.


Dan benar saja, sampai di sana Zhou Fan dapat melihat banyak mayat berserakan dengan luka pedang yang sangat rapi, sepertinya ini adalah perbuatan seorang ahli pedang tingkat tinggi.


Namun yang membuat Zhou agan tidak khawatir, kebanyakan mayat adalah pasukan pangeran pertama, entah siapapun itu, yang jelas tidak berada di pihak yang berseberangan dengannya.


"Jendral!" Seorang pria tua berseru dengan semangat, ketika Zhou Fan mengalihkan pandangan, puluhan orang keluar dari sebuah bangunan.


Sekilas terlihat luka di tubuh mereka sudah terbalut rapi, bahkan sepertinya sudah mendapatkan pemulihan.


Pria tua seolah tahu jika ada yang ingin ditanyakan oleh Zhou Fan, dia pun menjelaskan. "Ada seorang petarung yang tak sengaja melintas dan membantu kami, meski kultivasinya berada di tingkat petarung senior bintang lima, dia bisa mengalahkan satu tingkat di atasnya."


"Di mana dia?" Zhou Fan menyipitkan mata, dia ingin melihat siapa telah menolong kelompoknya.


"Dia masih di dalam, biar pria tua ini yang memanggil." Pria tua hendak memanggil, tapi Zhou Fan langsung menghentikan.


"Tidak perlu, dia sudah menolong kalian. Untuk menunjukkan ketulusanku, aku yang harus menemuinya." Zhou Fan melangkah memasuki bangunan yang merupakan satu di antara bangunan yang selamat.


Beberapa langkah memasuki bangunan, Zhou Fan melihat seseorang tengah mengemasi barang barangnya. "Terima kasih karena telah menolong dua kelompok tersebut." Zhou Fan berkata tanpa tahu siapa sosok di hadapannya.


"Ini hanya kebetulan, aku menolong mereka katena memiliki masalah tersendiri terhadap pangeran pertama." Zhou Fan mengangguk, kemudian mendekati sosok di hadapannya yang agaknya adalah seorang pria muda.


Namun ketika dia berbalik dan menunjukkan wajahnya di hadapan Zhou Fan, nampak kerutan semakin jelas di antara alisnya. Sementara pria muda berambut panjang juga menyipitkan mata ketika melihat siapa sosok di hadapannya.


"Tuan, bisakah kau tidak terlalu dekat?" Pria muda mencoba menjauh, mereka terlalu dekat bahkan hanya beberapa jengkal wajah mereka akan bersentuhan.


Zhou Fan menyipitkan mata mendengar ucapan pria muda di hadapannya. Dia sudah merasa curiga dengan identitas pria muda ini, aroma tubuh serta sikapnya barusan semakin menguatkan tebakannya.


Hem...


Namun Zhou Fan bisa menggelengkan kepala. "Wanita ini, dia muncul dengan identitas baru!"