Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 148 : Satu Lawan Satu


Mata Chen Yang menyipit, memandang dengan terkejut. Serangan jurus miliknya sangatlah kuat, tapi pria muda ini dapat menahannya.


Bukan hanya kepala keluarga Chen itu yang tak percaya, tapi juga Kasim Jun serta pria tua di sampingnya.


"Serang mereka, jangan hanya diam!" Kasim Jun meneriaki pasukan yang seolah diam menyaksikan, sama sekali tak berniat terlibat dalam pertarungan.


Mereka bergerak bersama, menyerang belasan orang lainnya.


Leng Shui memegang pedangnya dengan erat, mulutnya bergumam pelan. "Menari Bersama Bulan!"


Puluhan orang mengelilinginya, tapi dengan teknik bertarung miliknya serta aura dewi es ia berputar terus menebas menjatuhkan satu persatu lawan.


Di sisi lain Ciu San serta Zhi Long juga menghadapi puluhan orang, sementara belasan orang lainnya berusaha bertahan dengan kultivasi yang hanya petarung kaisar atau bahkan raja.


Zhou Fan telah mengeluarkan teknik dewa pedang, bergerak menari berusaha mendaratkan luka di tubuh Chen Yang.


Chen Yang sama sekali bukan lawan yang gampang, dengan kultivasi petarung suci bintang dua ia mampu mengimbangi serangan Zhou Fan.


"Kau sangat kuat, tapi tidak cukup kuat untuk mengalahkan ku." Chen Yang mengatakannya dengan sangat percaya diri, seolah ia memang tak terkalahkan.


Namun Zhou Fan yang telah bersiap mengeluarkan serangan terkuatnya pun hanya mendengus. "Mampu atau tidak, kau akan mengetahuinya setelah ini."


Perlahan pedang darah malam terselimuti api, kobaran menyambar nyambar dan bertahap semakin besar.


Air muka kepala keluarga Chen itu berubah, keningnya mengerut sedang matanya menyipit. Ia bisa merasakan sebuah kekuatan tersimpan dalam pedang tersebut.


Chen Yang mengambil sikap siaga, ia tak lagi memandang Zhou Fan sebelah mata. Jelas kekuatan sang lawan tidak berada di bawahnya, mungkin setara, atau bahkan di atasnya.


Zhou Fan memang masih berada di tingkat petarung suci bintang satu, tapi ia hampir menerobos ke tingkat dua dan dengan kekuatan pedang darah malam kekuatan serangannya mampu menghadapi seorang petarung suci bintang tiga.


"Pengguncang semesta!" Pria tua itu berteriak, mengeluarkan jurus yang menjadi kebanggaannya.


Namun, Zhou Fan masih diam tak melakukan gerakan. Wajah Chen Yang terlihat senang, ia berpikir Zhou Fan akan terkena serangannya dan pertarungan berakhir dengan kemenangan.


Blar!


Sebelum siluet tebasan itu menghantam tubuh Zhou Fan, dua siluet tebasan yang bergerak dari arah berlawanan menghancurkan jurus milik Chen Yang.


Wajah tuan besar keluarga Chen itu seketika berubah suram, dan ekspresinya semakin buruk saat melihat dua tebasan mengarah ke tempatnya.


"Ah... Tidak mungkin!" Chen Yang berteriak frustasi, membentangkan pedang menahan serangan Zhou Fan.


Namun karena sempat meremehkan Zhou Fan ia harus mendapat ganjaran setimpal, tubuhnya terlempar dan menghantam sebuah batu besar yang berada tepat di belakang.


Houk... Houk...


Chen Yang menepuk dadanya yang sedikit terasa sesak, mencoba bangkit tapi pedang di tangannya tak lagi dapat dirasakan keberadaannya. Mata tua itu menyipit, segera mengalihkan pandangan ke tangan kanannya.


"I - ini!" Pedang miliknya hancur berkeping-keping, tersisa gagang yang bahkan sudah retak tak bisa digunakan.


Chen Yang memandang Zhou Fan dengan rumit, tak tahu sebenarnya terbuat dari apa pria muda ini. Begitu muda tapi kekuatannya melebihi dirinya yang seorang perarung suci bintang dua.


Di sisi lain Bing Roxue serta Leng Shui begitu dominan, hanya dalam satu gerakan mampu mengalahkan dua tiga orang pasukan keluarga Chen.


Kasim Jun yang mengawasi pergerakan keduanya merasakan ancaman jika mereka terus dibiarkan. "Tetua, kau urus wanita itu, sementara aku akan menghadapi yang satunya." Tangannya menunjuk Bing Roxue.


Tetua Chen Shen mengangguk, melesat menuju ke tempat Bing Roxue.


Melihat Tetua Chen Shen telah bergerak, mata Kasim Jun berpendar dan tanpa basa-basi menerjang dengan perangai yang kejam.


Blar!


Serangan Kasim Jun dapat dihindari, hanya mendarat di bidang kosong.


Leng Shui melompat beberapa langkah ke belakang, pedang terbentang di depan tubuhnya. Ekspresinya sangat dingin, pandangan begitu fokus.


Kasim Jun mendengus, berdiri tegak menggerakkan pedang. "Petarung senior bintang enam, sangat jenius!" puji pria tua itu.


Leng Shui diam bergeming, ia tak bisa melihat tingkatan pria tua di hadapannya. Jelas jika terdapat perbedaan besar di antara mereka.


"Namun sayang sekali, generasi muda sepertimu tidak seharusnya mencari masalah dengan keluarga Chen." Setelah berkata Kasim Jun melesat menyabetkan pedang mengincar pinggang.


Leng Shui menahan dengan pedangnya, tapi tangannya gemetar ketika dua senjata bertemu.


"Inilah perbedaan antara petarung suci dengan petarung senior." Kasim Jun menarik pedangnya, mendaratkan sebuah pukulan tepat mengenai perut Leng Shui.


Leng Shui terhempas, tapi masih berdiri. Dari sudut bibirnya keluar darah segar.


Dari tubuh Leng Shui perlahan memancar aura dingin yang sangat pekat, Kasim Jun merasakan perubahan di sekitarnya, bahkan tubuhnya yang semula hangat menjadi dingin, juga bulu tangannya nampak ada serpihan es di setiap ujung.


"Ka-kau ... Kau berasal dari Sekte Menara Es!" Kasim Jun tentu mengenal teknik ini, sebuah teknik yang telah malang melintang di Kekaisaran Han. Merupakan teknik milik salah satu sekte terbesar di Kekaisaran Han--Sekte Menara Es.


Leng Shui tak menghiraukan, fokus mensirkulasikan tenaga dalam untuk memaksimalkan potensi teknik aura dewi es miliknya.


Ia telah berlatih sejak datang ke Kekaisaran Han, fokus mendalami teknik aura dewi es. Ia ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan Zhou Fan saat itu salah, dan sekarang terbukti, ia dapat melakukannya.


Kasim Jun merapatkan gigi, ia tahu tidak bisa membiarkan wanita ini mengeluarkan tekniknya. Mungkin ia bisa bertahan, tapi bagaimana nasib pasukan di sekitar, pasti terkena imbasnya.


"Jangan harap kau dapat mengeluarkan teknik itu!" Kasim Jun mengangkat tinggi pedangnya, melakukan tebasan diagonal.


Namun sebelum pedang menyentuh tubuh Leng Shui, tubuh Kasim Jun seolah ada yang menghalangi, sebuah tembok yang menahan langkah kakinya.


Pandangan mengedar ke sekitar, sekitar puluhan orang terhempas karena berada dalam jangkauan teknik aura dewi es. "Sial, teknik Sekte Menara Es memang sangat berbahaya. Bahkan dengan kekuatan petarung suci aku masih terkena dampak dari serangan ini."


Kasim Jun memukul tubuhnya sendiri, seketika tubuhnya yang seolah terjebak kembali bisa digerakan.


Nafas Leng Shui sudah tidak teratur, memaksa mengeluarkan teknik aura dewi es menguras delapan puluh persen tenaga dalam di tubuhnya. Namun berkat tekniknya saat ini pasukan keluarga Chen tersisa kurang dari setengahnya.


Kasim Jun menyadari celah ini, dengan pedang di tangan ia melesat hendak menghabisi Leng Shui.


Leng Shui melihat gerakan Kasim Jun, ia berusaha mengelak. Namun kecepatan seorang petarung suci bukan suatu yang dapat ia bayangkan, terlebih dengan kondisinya saat ini.


Pedang Leng Shui terhempas, sekarang wanita itu berdiri tanpa senjata di tangannya.


Kasim Jun tersenyum sinis, tanpa memberi keringanan melesat hendak mengakhiri pertarungan.


Leng Shui tak bisa berbuat banyak ketika pedang mengarah ke lehernya. Di saat rasa frustasi serta keputusasaan menghampiri pikirannya, sebuah pedang datang menangkis serangan Kasim Jun.


Trank!


Tidak sampai di sana, pedang tarus menggempur Kasim Jun dan memaksa pria tua itu mengambil langkah mundur.


Leng Shui menengadahkan kepala, melihat sosok yang baru saja menyelamatkannya.


"..."


Tak ada kata yang dapat diucapkannya, hanya diam seribu bahasa.