
Hem!
"Sangat angkuh, aku harap kau tidak mengecewakan ku." Pria tua itu membalikkan badan, kemudian melesat. "Ikuti aku," ucapnya tegas penuh penekanan.
"Ayahku adalah petarung senior bintang sembilan, bahkan ia sudah hampir menerobos petarung suci bintang satu. Kau malah menantangnya, ini sama saja mencari masalah." Heng Biyu memandang dengan khawatir.
Namun Zhou Fan menanggapi dengan santai. "Karena aku berkata akan melawannya, maka aku telah memikirkan masalahnya. Juga dengan bertarung adalah cara paling tepat untuk mendapatkan kepercayaan."
Mendengar ini Heng Biyu termenung, yang dikatakan Zhou Fan memang tidak salah. Namun itu jika menang, bagaimana jika kalah?
"Hati-hati," Hanya dua kata itu yang dapat ia ucapkan, memandang kepergian Zhou Fan.
Ini bukan masalah perasaan, tapi berkaitan erat dengan masa depan. Jika Zhou Fan kalah, maka ayahnya akan memaksa ia untuk menikah dan itu adalah hal yang tidak dia inginkan terjadi walau dalam pikiran sekalipun.
Zhou Fan melesat mengikuti Heng Biyen, pandangannya sekilas menatap ke belakang.
Bukankah hanya petarung senior?
Bukan Zhou Fan memandang rendah lawan, hanya saja untuk ia yang berada di tingkat petarung suci, mengalahkan petarung senior bukan hal yang mustahil. Bahkan malah terlihat tidak wajar jika ia keluar sebagai pecundang.
Mengikuti Heng Biyen, ternyata pria tua itu membawanya ke sebuah altar pertarungan. Di sana masih ada beberapa orang tengah berlatih tanding. Namun melihat kedatangan Heng Biyen--tetua kedua Klan Heng semua orang langsung menghindar.
"Kalian dapat melanjutkan latihan besok pagi, atau juga menunggu sampai aku mengalahkan dia." Heng Biyen menunjuk ke depan, tapi ia hanya berdiri sendiri, membuat semua mata merasakan aneh dan heran.
Akan tetapi tak berselang lama seorang pria muda menapakkan kaki di atas altar pertarungan.
"Ingat, keluar altar pertarungan dinyatakan kalah. Ini juga karena aku tak mau melukaimu." Heng Biyen dengan percaya diri mengeluarkan dua pedang pendek berwarna hitam.
"Itu lebih baik," ucap Zhou Fan pelan dengan senyum menyebalkan.
Tentu saja itu hanya dalam pandangan Heng Biyen yang langsung mendengus dan kembali berkata. "Jika kau kalah segera pergi dari sini dan jangan kembali, aku akan memberimu sepuluh ribu uang kertas sebagai kompensasi."
Woah...
Zhou Fan tak menyangka jika pria tua ini sangat royal, andai kata tidak memiliki kesepakatan ia mungkin akan menerimanya. Namun sayang, kristal beast tingkat kedelapan elemen es jauh lebih berharga baginya.
"Jika kau menang, aku akan memberimu cincin ini dan semua yang ada di dalamnya menjadi milikmu." Heng Biyen menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya. Bisa dilihat jika pria tua itu memiliki sepuluh cincin yang menghiasi setiap jemarinya.
"Tetua sangat dermawan, junior sangat berterima kasih." Zhou Fan menangkup kan kedua tangan, kemudian mengeluarkan pedang.
"Tak perlu berterima kasih, ak -- " Heng Biyen tiba-tiba diam berpikir, beberapa saat dia sadar akan maksud kata terima kasih tersebut.
"Sialan, aku tak akan kalah dari mu! Jadi tak perlu berterima kasih." Heng Biyen sangat marah sampai wajahnya memerah. Berani sekali pria muda ini mempermainkannya dengan kalimat kalimat yang rumit, kini ia terlihat bodoh di hadapan anggota Klan Heng yang menyaksikan.
Zhou Fan terkekeh menahan tawa, ia mengangkat kedua bahu dan kembali berkata. "Apakah kita hanya akan diam dan berbincang, mengapa tidak menyediakan kursi panjang dan beberapa makanan ringan?"
"Siapa pemuda itu, mengapa ia begitu berani dengan menantang tetua kedua? Tidak tahukah dia bahwa tetua kedua merupakan orang terkuat kedua bersama dengan tetua pertama setelah patriark?"
"Dia tidak sayang nyawanya, mungkin hanya beberapa serangan dia akan tumbang."
Beberapa orang mulai menafsirkan apa yang akan terjadi, tak jarang mereka memandang Zhou Fan--pemuda yang menurut mereka sangat tidak masuk akal.
Wush... Wush...
Dua pedang di tangan Heng Biyen terbalut api, kejadian ini sontak membuat puluhan pasang mata memandang dengan antusias.
Wosh...
Pedang Darah Malam yang berada di tangan Zhou Fan juga terbakar dan perlahan tapi pasti mulai membesar.
Mata semua orang terbelalak, bahkan Heng Biyen pun terkejut. "Kau -- "
"Kau juga bisa menyalurkan ke senjata?"
"Apakah begitu mengejutkan?"
Zhou Fan menggerakkan pedang, api seolah menari mengikuti setiap ayunan tangan.
"Anak muda, ilmumu sangat tinggi. Namun tak cukup untuk mengalahkan pria tua ini."
Setelah berkata demikian Heng Biyen melesat maju menyerang.
Trank...
Melihat serangan dapat dipatahkan dengan mudah, Heng Biyen menarik tangan melancarkan gerakan kedua. Namun lagi dan lagi serangan dapat diatasi.
Heng Biyen tak ingin dipermalukan oleh seorang pemuda, dia mengeluarkan segala jenis teknik bertarung miliknya.
Zhou Fan dapat merasakan jika pergerakan Heng Biyen semakin gencar dan mematikan, energi panas yang terpancar juga semakin kuat.
"Sepertinya dia sudah serius." Zhou Fan juga tak menahan kemampuannya, menghadapi pria tua ini dengan segenap hati.
"Sial! Aku adalah salah satu tokoh hebat dalam Klan Heng, bagaimana mungkin aku kesulitan menghadapi seorang pemuda?!" Heng Biyen berseru dalam benaknya, kini perasannya benar benar tak karuan.
Wosh...
Zhou Fan berkelebat dengan menodongkan pedangnya, Heng Biyen menyiapkan pedang gandanya untuk menahan, tapi siapa sangka jika Zhou Fan menarik tubuhnya terlentang menghadap ke atas. Kemudian sambil melayang dia menebaskan pedang mengincar lengan.
Crash!
Darah menetes dari lengan atas sampai ke siku, goresan panjang itu tercipta karena kelalaiannya. Beruntung dia dapat menarik tangan dan segera melompat, jika tidak, mungkin bukan hanya sayatan yang dia terima.
"Tetua kedua!" Semua orang berseru dengan khawatir, tapi dengan cepat Heng Biyen mengangkat tangan.
"Aku tak apa," ucap pria tua itu sembari berdiri tegak memasang wajah galak.
Beberapa saat Zhou Fan hanya diam di tempatnya, begitupun dengan Heng Biyen. Namun sedetik kemudian mereka saling memburu dan menuntaskan pertarungan yang sempat berhenti beberapa waktu.
Pertarungan berlangsung lama, dua pria berbeda usia itu bertarung dengan segenap kekuatan yang tersimpan di dalam tubuh mereka.
Sret...
Sekalian lagi sayatan di tubuh Heng Biyen tercipta, tetapi tetua kedua Klan Heng itu belum mau menyerah.
"Sekali lagi!"
Zhou Fan hanya bisa menggelengkan kepala, ia sudah memberikan kesempatan untuk Heng Biyen menyerah. Namun pria tua ini tetap bersikukuh dan kembali bangkit menodongkan pedang.
Hyat!
Mata Zhou Fan sedikit mengernyit, ia melihat sebuah cenah besar dalam gerakan Heng Biyen.
Ini adalah kesempatan!
Zhou Fan menarik tubuhnya ke samping, ketika Heng Biyen menebaskan pedang di tangan kanannya, ia menunduk.
Wosh...
Pedang melintas di atas kepala, dalam kurun waktu tersebut Zhou Fan melingkar kaki menyepak Heng Biyen hingga jatuh ke bawah bahkan keluar altar pertarungan. Dengan itu pemenangnya dapat ditentukan!
Kekalahan Heng Biyen membuat wajah semua orang terkejut tak menyangka.
Ini bukan hasil yang mereka pikirkan, seharusnya Heng Biyen dapat mengalahkan pemuda ini. Namun mengapa nampak berbeda, bahkan Heng Biyen mengalami luka.
Sebenarnya siapa pemuda ini, mengapa ada seorang yang begitu menakjubkan sepertinya?