
Tuan Kota menghadapi satu beast harimau, dia nampak kesulitan dan luka di tubuhnya semakin menyulitkan dirinya.
Namun, pria tua itu enggan mengakui kekalahan karena masa depan kota yang menjadi taruhan. Jika dia menyerah, maka kehancuran dapat dipastikan menghampiri Kota Zi.
Dengan pedang di tangannya ia terus berusaha menorehkan luka di tubuh harimau. Namun kulit harimau sangat tebal, bahkan senjata rank mitick pun tak mampu berbuat banyak.
Selain itu cakar yang tajam melebihi pedang dengan mudah mengoyak pakaiannya. Satu persatu cakaran mulai membekas di kulitnya.
Roar!
Harimau menerjang sambil mengangkat kaki depan, tuan kota membentangkan pedang dan menahan serangan. Dalam kesempatan ini Tuan Kota menarik tubuhnya ke belakang, kemudian mengeluarkan serangan andalan.
"Terima ini kucing bodoh!"
Blar!
Serangan menghantam muka beast harimau, tapi sama sekali tak berdampak walau hanya luka goresan.
Tuan Kota termenung, harimau mengibaskan tangan menghempas Tuan Kota. Tubuh tua itu menghantam sebuah pohon dan tumbang seketika.
Harimau melompat, hentak menerkam.
Tuan Kota yang dalam keadaan terdesak memejamkan matanya sekilas, bayangan kematian seolah mulai berputar dalam kepalanya.
Harimau menunjukkan gigi taringnya, membuka mulut yang sudah penuh darah.
Tuan Kota memejamkan mata, hanya bisa menerima kegagalannya dalam menjaga kota.
Di saat ia telah pasrah akan kematian, sesosok bayangan hitam melesat menebas harimau.
Roar!
Harimau melompat menjauh dengan darah menetes dari tubuhnya.
Tuan Kota yang merasakan tangan serta kaki masih dapat digunakan perlahan membuka mata. Ia melihat seorang pria muda berdiri membelakanginya, memandang pedang merah gelap yang ada di antara jemari tangan kanannya.
Ia menyadari jika harimau telah terluka, serangan sekuat apa yang telah dikeluarkan sampai mampu melukai tubuh samping harimau. Bahkan dengan kekuatannya sendiri, ia tak mampu memberikan luka goresan walau hanya satu.
Tuan Kota tak tahu identitas pemuda ini, tapi yang jelas ia sangat berterima kasih lantaran telah menyelamatkan nyawanya dari terkaman harimau.
"Tuan Kota, engkau pulihkan diri terlebih dahulu. Beast ini biar aku yang urus." Zhou Fan berkata tanpa mengalihkan pandangannya, tetap fokus dengan beast harimau.
Tuan Kota termenung, memandang dengan tatapan tak terbaca. "Sebenarnya siapa pria muda ini?" batin pria tua itu dalam benaknya.
Setelah diam beberapa saat, Tuan Kota menepi dan memulihkan diri dengan menelan beberapa pill pemulihan.
Harimau yang baru saja mendapat serangan melesat dengan penuh kemarahan. Langkah kaki begitu cepat dan kuat, hingga tanah yang dipijak meninggalkan bekas yang nyata.
Zhou Fan menempatkan pedang darah malam di tangannya, ketika harimau tingkat delapan ini mengayunkan cakar dengan cepat ia menahan.
Trank!
Percikan yang ditimbulkan bak kembang api, cakar yang runcing itu benar-benar kuat.
Zhou Fan mendorong pedangnya, harimau itu terpelanting ke belakang. Namun dengan cepat ia bangun, kembali menyerang. Kaki, mulut, bahkan ekor digunakan untuk menyerang, nampak sekali ***** membunuhnya sangat tinggi.
Zhou Fan terus berkelit, tak satupun serangan harimau mengenai tubuhnya.
Akan tetapi serangan belum berakhir, harimau sekali lagi melakukan serangan dan ini dilakukan dengan dua kaki belakang. Sambil berputar mendorong kaki menghantam perut Zhou Fan.
Beruntung Zhou Fan spontan membentangkan pedang darah malam, menyambut hentakan kaki yang ukurannya sama sekali tidak kecil.
Trank!
Ngik... Ngik...
Dari belakang beberapa beast babi hutan berlari menuju ke arahnya.
Zhou Fan sontak menarik pedang yang menahan serangan beast harimau dan bersiap menghadapi mereka. Namun sebelum hal itu terjadi, seekor serigala berbulu kuning keperakan datang dan menerkam mereka satu persatu.
Awo...
Zhou Fan melengkungkan senyum di bibirnya, kemunculan Zhou Jim sangat tepat, selalu bisa mengandalkannya. Sekarang ia bisa kembali fokus dengan keberadaan beast harimau.
Beast harimau diam di tempatnya, memberikan sorotan mata yang tajam. Geraman kerap kali terdengar dari mulutnya, gigi menggeretak dengan darah mengalir di antara sela-sela nya.
Zhou Fan memusatkan tenaga dalam, memutar pedang bersiap mengeluarkan serangan.
"Penebas awan!" Dalam satu waktu Zhou Fan melesat sambil melakukan tebasan. Siluet tebasan laksana bulan sabit bergerak menghujam tempat harimau berdiri.
Harimau membuka mulut, mengaum dengan keras.
Graor!
Gelombang suara yang dihasilkan menghantam siluet pedang Zhou Fan, ledakan tercipta menghancurkan semua yang ada di sekitar.
Kening Zhou Fan mengerut, tidak mengira jika serangannya mampu diatasi oleh beast harimau.
Namun Zhou Fan tetaplah Zhou Fan, satu cara tak berhasil masih ada ribuan cara lainnya.
Memegang erat gagang pedang darah malam, Zhou Fan mulai mengeluarkan teknik bertarung miliknya, teknik dewa pedang bagian pertama.
Harimau yang melihat Zhou Fan bergerak mendekat kepadanya langsung menerkam dengan gigi taring terbuka.
Pertarungan di antara merasa sangat hebat, dentingan nyaring antara pedang dan juga cakar mengiring setiap gerakan mereka.
Zhou Fan mengakui jika harimau ini lebih tangguh dari pada gorila ktistal perak yang ia kalahkan sebelumnya. Bahkan jika membanding dengan beast pada gelombang sebelumnya, merupakan beast paling tangguh dan merepotkan.
Teknik dewa pedang bagian pertama tak berhasil, mengeluarkan teknik dewa pedang bagian kedua. Dari sini nampak jelas harimau tak lagi bisa bertahan dan perlahan luka tersemat nyata pada tubuhnya.
Kulit yang keras itu sangat sulit ditembus, tapi pedang darah malam berbeda. Mungkin jika menggunakan pedang lain, bahkan tak sanggup memberikan luka yang berarti.
Beast harimau terdesak, suaranya yang seolah berteriak kesakitan menggema dalam area pertarungan.
Tuan Kota yang telah kembali bertarung dan membantu keempat patriark menghadapi tiga harimau lain memandang dengan terkejut. Mereka berlima tak sanggup menghadapi tiga harimau, tapi ia sendiri mampu membuat seekor harimau dalam situasi yang sangat buruk.
Sebenarnya siapa dia, seberapa kuat dirinya?
"Tuan Kota, dari mana engkau mendapatkan bantuan seperti nya?" Patriark Xie memandang kagum sosok Zhou Fan, meski dari kejauhan penglihatannya masih cukup jelas.
Tuan Kota diam tak bisa menjawab. Dari mana? Ia bahkan tak tahu siapa pria muda yang telah menolongnya.
Roar... Roar...
Beast harimau berjingkrak jingkrak menahan lesatan teknik yang teramat dahsyat, rasa sakit nampak jelas dari ukiran luka yang terus bertambah seiring gerakan pedang yang semakin gencar.
Zhou Fan tak berhenti sampai di sana, begitu melihat beast harimau telah melemah ia melesat dan menodongkan pedang ke depan.
Cruesh!
Satu tusukan, pedang darah malam menembus tubuh beast harimau. Beast tingkat delapan itu diam beberapa saat, kemudian jatuh menghantam tanah.
Bum...
Tanah terguncang dengan jatuhnya makhluk berukuran besar tersebut, matanya yang tajam perlahan meredup dan kehilangan cahayanya.