Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 190 : Meninggalkan Kota Huang


"Cepat kembalikan serigala nya!" Chu Xiang tak bisa membayangkan akan seperti apa Klan Chu bila menyinggung gedung alkemis. Bukan hanya dirinya, tapi masa depan klan dipastikan suram mengingat gedung alkemis merupakan pusat para alkemis Kekaisaran Han berkumpul.


Chu Tian menggertakkan gigi, pipi yang ditampar masih terasa panas dan menyakitkan. Meski begitu ia tak punya pilihan lain selain membawa serigala itu keluar.


Melihat kepergian sang putra, Chu Xiang merubah ekspresinya, tersenyum seperti menunjukkan kesan perdamaian. Namun tak satu pun menanggapi, dia sudah seperti orang kebingungan.


Tak lama Chu Tian kembali dengan Zhou Jim, lehernya terikat rantai sementara tubuh penuh luka. Mata Zhou Fan berangsur kelam, menatap dengan sorot mata tajam.


Chu Tian melepas rantai, Zhou Jim berjalan ke tempat Zhou Fan dengan kaki terluka. Darah yang menghiasi bulu masih begitu segar, pertanda bahwa baru saja mendapat siksaan.


"Siapa yang melakukannya?!" tanya Zhou Fan mengelus Zhou Jim, memberikan pill pemulihan untuk menyembuhkan luka.


Semua anggota Klan Chu terdiam, tak satupun berani mengangkat tangan. Zhou Fan maju, pedang darah malam memancarkan sinar samar. "Katakan siapa yang membantumu!" Sambil menempelkan pedang di antara leher, Zhou Fan menatap mata Chu Tian.


Chu Tian meneguk ludah merasakan aura mencekam, dia melirik sang ayah mencoba meminta pertolongan tapi Chu Xiang malah menundukkan kepala. "Katakan, siapa yang membantumu."


Chu Tian menarik nafas begitu dalam, kemudian menunjuk kepada tetua klan yang ada di belakang sang ayah. "Tetua kedua, tetua ketiga dan keempat. Mereka bertiga yang membantu ku. Mereka yang mengalahkan serigala itu dan membawanya kembali ke kediaman."


Wajaj ketiga pria tua yang disebut sontak berubah pucat, mereka tak mengira telah mencari masalah dengan orang yang salah. Seharusnya mereka tak ikut campur dalam masalah Chu Tian, sekarang malah terkena sendiri akibatnya.


Zhou Fan mengedarkan pandangan kepada tetua Klan Chu. "Maju, tunjukkan diri kalian!" Dengan suara lantang Zhou Fan mengeluarkan tatapan mengerikan.


Tiga pria tua maju, mereka sama-sama berada di tingkat petarung suci bintang dua. Pantas saja Zhou Jim tak bisa melepaskan diri sedang yang menyerang ada tiga orang.


"Patahkan tangan kalian!" Perkataan Zhou Fan yang sangat tiba-tiba membuat tiga pria tua terkejut, bahkan Chu Xiang yang berdiri di belakang membelalakkan mata.


"Tunggu, ini berlebihan. Bukankah dia hanya seekor beast, kau tak bisa melakukan ini." Bagaimana mungkin Chu Xiang membiarkan tiga tetua mematahkan tangan sendiri, bukan hanya melemahkan kekuatan klan, tapi juga merupakan penghinaan karena dilakukan di depan mata kepalanya.


Zhou Fan menautkan kedua alisnya, memandang dengan tidak suka. "Mungkin kau berpikir dia hanya seekor beast serigala tingkat delapan, tapi bagiku dia adalah rekan, saudara yang takkan pernah tergantikan. Mereka menangkap dan menyiksanya, mematahkan lengan cukup ringan dibandingkan kematian. Jika kau tak suka, maka hentikan jika bisa.


"Arg ... "


Tepat setelah itu Zhou Fan melesat, mengayunkan pedang mematahkan tangan ketiga pria tua. Mereka tak sempat menghindar, hanya bisa berteriak begitu merasakan tangan sudah patah menghadap ke belakang.


Chu Xiang diam terpaku melihat tiga tetua di depan matanya. Sementara Chu Tian merasakan kaki tangan mulai gemetar. Ia tidak pernah mengira kekuatan Zhou Fan sangatlah kuat. Bahkan tiga petarung suci bintang tiga tak mampu menghadapinya.


"A-apa yang akan kau lakukan?" Chu Tian seketika mundur melihat Zhou Fan berjalan ke arahnya.


"Bisakah kau melepaskan kakakku? Dia memang keterlaluan, biar kami--Klan Chu yang memberinya hukuman."


Langkah kaki Zhou Fan terhenti, beberapa saat hanya diam sambil memandang wanita di hadapannya. "Jangan ikut campur," ucapnya dengan nada dingin.


Chu Xingying tetap bergeming, sama sekali tak menghiraukan. Zhou Fan mendengus, mengayunkan tangan kiri menghempaskan tubuh Chu Xingying. "Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk memberi pelajaran kepadanya."


Chu Tian melihat Chu Xingying tak berhasil menahan Zhou Fan berdecak kesal, dia kembali mundur dengan kaki gemetar. "Jangan mendekat!" teriaknya histeris.


Namun naas, Zhou Fan melesat cepat dan langsung mematahkan kedua tangannya. Tidak sampai di sana, serangan masih berlangsung dan memaksa Chu Tian harus merasakan tulang kaki juga patah.


Putra sulung patriark klan Chu itu meraung kesakitan, berguling di atas tanah tanpa bisa menggerakkan tangan atau kaki. Sangat menyedihkan.


Chu Xiang hanya bisa memalingkan pandangan melihat Chu Tian--sang putra yang dipatahkan kaki tangannya oleh Zhou Fan. Dia tak bisa melakukan apapun, karena bertindak sedikit saja nasib klan menjadi taruhan. Ini juga semua karena kesalahannya yang tak bisa mendidik Chu Tian dengan benar, menjadikan putranya arogan dan bersikap semena.


Zhou Fan membalikkan badan, pergi tanpa mengucap satu patah kata pun. Zhou Jim berubah menjadi kecil, dia masuk ke dalam saku jubah.


Ciu San, Zhi Long, Huo Yu serta yang lain mengikuti Zhou Fan pergi, meninggalkan wilayah Klan Chu.


Chu Xiang dengan cepat mendekat ke tempat putranya, tanpa basa-basi menggendongnya kembali ke kediaman. Tetua yang lain ikut kembali, ini adalah hari yang panjang bagi mereka.


Chu Xingyin bangkit dari tempatnya, memandang punggung Zhou Fan yang semakin menghilang. Sebelum ini ia telah merubah sikapnya kepada Zhou Fan, berharap dapat menjalin hubungan dengannya yang mana akan mendekatkan Klan Chu dengan gedung alkemis. Namun semua usaha yang dia lakukan hancur karena tindakan kakaknya, semakin menjauhkan hubungan dengan gedung alkemis.


Penduduk yang ada di sekitar ikut membubarkan diri, mereka bersikap seolah tak melihat apapun dan berperilaku seperti biasa. Mengomentari hal ini malah akan mengancam keselamatan mereka.


Sementara di sisi lain Zhou Fan telah kembali ke penginapan, duduk bersama Ciu San, Zhi Long serta Huo Yu. "Junior, apakah kau benar akan pergi? Jika bisa kau gantikan posisi ketua gedung alkemis. Dibandingkan siapapun kau yang paling pantas."


Zhou Fan memandang sekilas, kemudian menyandarkan tubuh ke belakang. "Senior, tawaranmu cukup membuatku tertarik. Tapi ada suatu hal yang harus aku lakukan. Dan itu jauh lebih penting dari pada apapun."


Huo Yu yang mendengar Zhou Fan mengatakan suatu hal penting pun mengerutkan kening. Tak tahu hal sepenting apa sampai membuatnya menolak posisi ketua alkemis yang memiliki keberadaan tinggi di mata semua orang.


Namun yang tidak pria tua itu ketahui, bagi Zhou Fan kepentingan utama adalah keluarga. Mendapatkan kristal beast tingkat delapan untuk menyelamatkan Qing Yuwei--istrinya.


Huo Yu tak mampu menahan Zhou Fan agar tetap bertahan, hanya bisa membiarkan sosok panutannya pergi meninggalkan Kota Huang.