Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 87 : Jangan Meremehkan Lawan!


"Ini -- "


Mata Zhou Fan sedikit melebar ketika menjumpai begitu banyak bangunan hancur, dan juga mayat yang berserakan. Dari pakaian dia bisa memastikan jika mereka bukanlah pasukan pangeran pertama ataupun pasukannya, melainkan penduduk desa setempat.


"Tuan muda, ini pasti adalah ulah pasukan pangeran pertama." Ciu San berkata sambil mengamati keadaan sekitar.


"Ada yang mendekat, dari depan ... Tidak, ada juga di belakang ...." Zhou Fan menyipitkan mata, hanya sekilas ekspresinya berganti dengan senyum penuh makna. "Hem... Ternyata ini adalah pancingan."


"Ternyata hanya tiga orang, entah cara licik seperti apa yang mereka terapkan sampai menghabisi satu kelompok pasukan."


Seorang pria paruh baya menunjukkan wajahnya. Di samping kanan kirinya terdapat belasan orang dengan membawa pedang dan juga parang.


Tidak hanya dari satu arah, dari belakang kanan dan juga kiri dalam satu waktu muncul kelompok lain dengan jumlah hampir sama.


"Hanya petarung senior bintang lima, apakah perlu sampai mengerahkan empat kelompok pasukan. Aku sendiri sudah lebih dari cukup." Pria kurus bersenjatakan pedang ganda berjalan maju, dia merupakan ketua kelompok dari arah belakang.


"Kalian berdua hati hati, dia berada di tingkat petarung senior bintang enam." Zhou Fan berkata dengan suara pelan, bahkan mungkin hanya dia dan Dua Kapak Kembar yang mendengar.


Ciu San mengangguk, tatapan matanya sudah tak bisa lepas sejak perkataan pria kurus yang secara langsung meremehkannya.


"Kalian berdua, maju sekalian! Aku tak punya banyak waktu untuk orang lemah seperti kalian." Pria kurus meletakkan satu tangan di depan dada dengan pedang mengarah ke bawah, sementara tangan lainnya menodongkan pedang ke depan.


Ciu San mendengus, kemudian melirik Zhi Long. "Adik, ayo kita tunjukkan ilmu kapak kembar kepada pria dungu ini."


"Sepertinya yang kau katakan!" Zhi Long tak basa basi, dia langsung melesat sambil menebaskan kapak.


Ciu San menyerang beriringan dengan gerakan Zhi Long, keduanya bergerak menghadapi serangan pedang ganda yang terus mengincar tubuh mereka.


Pria kurus tersenyum percaya diri, dengan tingkat kultivasi yang lebih tinggi, dia sepenuhnya yakin dapat mengalahkan lawan meski harus melawan dua orang.


Prang!


Pedang ganda itu menahan dua kapak secara bersamaan, ketika Ciu San menarik serangan, Zhi Long memberikan ruang untuk saudaranya kembali menyerang .


Keduanya saling mengerti, seolah ada saluran yang menghubungkan kepala mereka.


"Rasakan ini!" Ciu San melesatkan tebasan kuat, tenaga dalam yang dia kumpulkan beberapa saat, langsung disalurkan untuk memperkuat serangan.


Buruk!


Pria kurus berwajah pucat, dia masih harus menghadapi serangan kepak yang masih bertahan, sementara kapak lain mengincar tubuhnya dengan kekuatan begitu besar.


Tak mau mengambil resiko dia terpaksa menahan dengan satu tangan.


Trank!


Pedang yang digunakan untuk terasa bergetar, bahkan percikan api di sekitarnya sangat jelas terlihat. Ciu San masih belum puas, dia kembali menarik kapak, mendaratkan tebasan untuk kedua kalinya.


Bersamaan dengan itu Zhi Long menarik kapaknya, bergerak maju sambil mengangkat kaki.


Bugk!


Perut yang sudah terbuka dengan begitu mudah dihantam dengan kaki kanan, sementara kapak yang masih melayang begitu tertahan oleh pedang tubuh pria kurus terpental.


Blar!


Bangunan yang sudah luluh lantah semakin berantakan akibat hantaman tubuh pria kurus.


Melihat rekan mereka dikalahkan, ketiga ketua kelompok memandang dengan tatapan tidak percaya. Meski pria kurus bukan yang terkuat di antara mereka, kekuatan sari dengan yang lain tidak jauh berbeda.


"Dua orang itu lumayan tangguh, sebaiknya kita singkirkan pemuda itu dulu, sepertinya dia tidak begitu kuat."


Namun baru saja satu langkah mendekat, sebuah belati menembus kepala mereka yang mendekat.


"Sial, beraninya kau!" Salah satu ketua yang memiliki tingkatan petarung senior bintang enam maju dengan tangan kosong.


Zhou Fan mengeluarkan tombak, dia melesat dan menebas dengan tombaknya.


Crush...


Satu tangan terputus dari tempatnya. "Jangan remehkan lawan. Sudah begitu tua, apakah prinsip dasar seperti itu saja kau tak tahu?"


Pria berambut keriting bahkan tak sempat bereaksi cepat ketika pemuda yang dianggap lemah menyerang dengan sangat cepat. Namun beruntung dia berhasil menarik diri agak ke samping, membuat tubuhnya tetap aman, meski lengan kanan menjadi taruhan.


"Aku hanya terlalu meremehkanmu, sekarang aku akan serius." Pria berambut keriting mengeluarkan sebuah pedang, meski tangannya tersisa satu, tidak membuatnya ragu melawan Zhou Fan.


"Kau masih meremehkanku!" Zhou Fan melesat sambil mendorong tombaknya, ketika tombak akan menembus kepala, sebuah pedang lain menghalau.


Zhou Fan melompat beberapa kali ke belakang. Tatapannya tak lepas dari dua ketua kelompok yang baru saja menahan serangannya.


"Dia sama sekali tidak lemah, mungkin kita tidak bisa melihat tingkatannya karena berada di atas kita." Salah satu ketua kelompok berbisik kepada dua lainnya.


Pria berambut keriting tak percaya, dia masih begitu dendam karena telah menghilangkan satu lengannya.


"Kalian semua, serang!" Seketika semua pasukan menyerang Zhou Fan.


Hanya tersisa dua ketua kelompok serta Dua Kapak Kembar yang berada di luar pertarungan, mereka hanya menyaksikan dan menantikan apa yang terjadi.


"Hei, kalian. Apakah tidak berniat membantu teman kalian?" Salah satu ketua kelompok bertanya dengan suara lantang.


Ciu San tersenyum sinis. "Tuan mudaku sama sekali tak perlu bantuan untuk menghadapi sekumpulan serangga seperti kalian."


Perkataan Ciu San yang begitu percaya diri membuat dia ketua kelompok terheran. Mereka tidak yakin apakah ucapan itu dapat dipercaya atau tidak. Namun beberapa waktu berselang, terlihat tubuh pria berambut keriting terlempar keluar dengan kondisi tak bernyawa.


"Ini -- "


"Mustahil!" Dua ketua kelompok itu kini sudah berdiri dengan kaki gemetar, wajah keduanya terlihat pucat dengan gigi merapat.


Ini jelas adalah pembantaian, puluhan orang diselesaikan dalam beberapa menit, bahkan tak terlihat satupun serangan yang bersarang di tubuhnya.


Perlahan kaki mereka melangkah mundur, tapi baru satu dua langkah, sesuatu melesat dari arah belakang.


Bresh...


Dua orang itu terjungkal ke depan, di atasnya berdiri seekor serigala merah yang memamerkan rentetan gigi runcingnya.


"Ingin melarikan diri? Setelah datang, kenapa harus pergi." Zhou Fan mendekat, satu langkah sudah seperti satu jarum yang menusuk dada mereka, setiap pautan waktu memompa jantung mereka untuk berdetak lebih cepat.


"Tuan, tuan muda, lepaskan kami, kami akan bersumpah setia kepadamu." Salah satu ketua memohon dengan begitu gigih, bahkan berlutut di bawah kaki Zhou Fan.


"Adik, menurutmu apakah tuan muda akan menerima mereka?" Ciu San melirik Zhi Long di sampingnya.


Zhi Long memandang sekilas, kemudian kembali memejamkan mata. "Tidak mungkin, tuan muda tidak akan menerima mereka."


Sedetik kemudian terdengar suara 'crash', membuat Ciu San menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu?"


Zhi Long perlahan membuka mata, kemudian melirik ke tempat dua pria tua yang sudah tak bernyawa.


"Mereka terlalu tua."