Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 46 : Keberhasilan


Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah sepuluh hari berlalu. Dalam kurun waktu tersebut Zhou Fan tidak berhenti menerapkan 'Teknik Tombak Angin', bahkan dia hanya beristirahat untuk makan ataupun minum.


"Tersisa dua hari, kau tidak perlu memaksakan diri. Lebih baik lupakan taruhan dan berlatih pelan pelan." Zen Yoan melambaikan tangan sambil melenggang pergi, keluar mencari buah seperti yang dia lakukan sebelumnya.


Zhou Fan yang tengah berlatih mendadak berhenti, dia kemudian melihat pakaiannya sendiri yang sudah kotor dan basah karena keringat.


"Sebaiknya aku keluar goa, mungkin dengan berendam di danau bisa membuat pikiranku menjadi lebih jernih." Zhou Fan menyimpan tombak serta kitab ke dalam cincin penyimpanan.


Beberapa saat kemudian Zhou Fan sudah berada di dekat danau yang sebelum ini menarik perhatiannya dari atas goa.


Tanpa basa basi Zhou Fan masuk ke dalam air, begitu masuk dia dapat merasakan sebuah sensasi dingin merasuk ke dalam tubuhnya.


Menyegarkan!


Mungkin kata itu yang dapat Zhou Fan katakan untuk menggambarkan betapa nyamannya dia sekarang.


Zhou Fan mengeluarkan Kitab Tombak Angin, sambil bersandar pada salah satu batu, dia membuka kitab dan membacanya.


Halaman demi halaman dia balik bergantian, dia mencari tahu, sebenarnya apa yang kurang dari latihannya, kenapa begitu sulit untuk menguasainya? Zhou Fan menengadahkan kepala memandang cerahnya langit di atasnya.


"Pencipta teknik ini melakukannya pada saat dia terpojok, itu sangat mengagumkan ketika dia dapat menciptakan sebuah teknik yang mengerikan." Zhou Fan menghela nafas, tapi sesaat kemudian bola matanya tiba tiba bersinar.


"Ah... Jika teknik itu diciptakan saat situasi tengah terpojok, apakah aku harus mengalami situasi tersebut untuk menguasainya?" Zhou Fan mengelus dagu sambil membaca sejarah Teknik Tombak Angin.


"Meski ini masuk akal, aku rasa hal ini kurang lengkap. Jika harus dalam posisi terdesak untuk menggunakan teknik ini, teknik ini akan sangat jarang dipakai."


Zhou Fan terus memutar otaknya, dia berusaha memecahkan misteri yang tersimpan di dalam Teknik Tombak Angin.


Haih...


Sekali lagi Zhou Fan menghembuskan nafas, pemuda itu semakin berpikir semakin pusing kepalanya.


Perlahan Zhou Fan mendekati air terjun, dia berada tepat di bawah air yang terus berjatuhan dengan jumlah besar.


"Air ini benar benar lepas kendali, sangat tidak terkontrol." Kepala Zhou Fan semakin sakit saat air menimpanya semakin deras, seolah tahu ada seseorang di bawahnya.


Emn...


Tidak terkontrol, lepas kendali?


Zhou Fan berpikir dengan serius, dia seolah telah mendapatkan kata kunci untuk memecahkan misteri di dalam Teknik Tombak Angin.


"Akan aku coba!" Zhou Fan melompat dan langsung mengeluarkan tombak, dia mulai melakukan gerakan seperti yang pernah dia lakukan.


"Berhasil, ini berhasil!" Zhou Fan tak bisa tertawa, mulutnya terbuka tapi tidak bisa tertawa.


"Sekarang mari lihat seberapa dahsyat Teknik Tombak Angin." Sambil mengeratkan tombak di tangan, pemuda itu kembali mengayunkan tangannya.


Ketika di ujung tombak terdapat stimulasi angin yang berputar layaknya tornado, pemuda itu lantas bergerak semakin cepat.


Sebuah tornado besar berputar mengelilingi tubuh Zhou Fan, seolah tubuhnya terperangkap di dalamnya.


Kecepatan angin benar benar di luar nalar, bahkan air terjun seolah tersedot ke dalam pusaran.


Pemuda itu tidak tahu jika teknik itu telah menghancurkan lingkungan sekitarnya, entah itu pohon atau danau semua terkena imbas tekniknya.


"Hentikan!"


Dari jauh tiba tiba terdengar sebuah teriakan, Zhou Fan sangat kenal dengan suara itu.


"Hentikan!"


Zhou Fan menghentikan gerakan tekniknya, ketika melihat betapa kacaunya keadaan di sekitar, pemuda itu mengerutkan kening. Dia perlahan mengangkat tangan yang masih memegang tombak.


"Mengagumkan!"


Bukan merasa bersalah, dia masang wajah puas.


"Dasar bocah ceroboh! Apa yang kau lakukan?!" Zen Yoan datang datang langsung memberikan pukulan, membuat Zhou Fan melompat menghindar.


"Kakek Zen, kau ini kenapa? Datang datang langsung pukul." Zhou Fan merapikan pakaian yang berantakan karena tornado buatannya.


"Aku juga bukan sengaja melakukannya, tapi tak perlu khawatir, aku akan membereskannya." Zhou Fan berkata dengan semangat, membuat Zen Yoan mengerutkan kening.


Ada apa dengan pemuda ini, apakah karena terkurung dalam tornado membuat kepalanya bermasalah? Bukan hanya tidak menolak, tapi dia terlihat bersemangat.


Zen Yoan mengelus jenggot putih tipisnya, matanya terus mengamati Zhou Fan yang terlihat merapikan kekacauan yang telah dibuatnya.


"Kakek Zen, kau jangan melupakan apa yang kau janjikan. Aku menunggu kau membayarnya." Zhou Fan tersenyum penuh arti, kemudian kembali melakukan tugasnya.


Zen Yoan menatap datar pemuda itu, ternyata ada maksud lain. Pantas saja dia melakukan ini dengan semangat.


Pria tua itu memandang cincin di jari tengahnya, meski dia telah berjanji, bagaimanapun dia tetap manusia yang bisa merasa menyesal.


"Kenapa dia bisa menguasai teknik ini dengan begitu cepat, jika tahu seperti ini seharusnya aku tidak mengajaknya bertaruh." Zen Yoan bergumam pelan, dia sebelum ini sama sekali tidak khawatir karena merasa yakin jika Zhou Fan tidak akan berhasil, tapi sekarang hasilnya berbeda, dan dia merasa sedikit menyesal.


Beberapa saat kemudian, Zhou Fan menghampiri Zen Yoan yang terlihat sudah memegang cincin penyimpanan di tangan kanannya.


"Kakek Zen, sekarang saatnya kau memberikan hadiahku." Tanpa sungkan Zhou Fan menodongkan telapak tangan, membuat Zen Yoan berdehem.


"Emn... Apakah kau sudah menyingkirkan pohon pohon yang kau tumbangkan?" Zen Yoan mengedarkan pandangannya, tapi dia tidak menemukan satupun pohon tumbang di sekitarnya.


Zhou Fan menaikkan sebelah alis, membuat Zen Yoan kembali berdehem. "Ambillah, aku juga tidak menganggapnya, hanya beberapa saja."


Zhou Fan tersenyum puas, dia memindahkan isi cincin ke dalam cincin miliknya.


"Kakek Zen, kau simpan saja cincin ini. Aku tidak membutuhkannya." Zhou Fan menyerahkan kembali cincin penyimpanan yang sudah kosong itu kepada Zen Yoan.


Zen Yoan termenung, dia menatap cincin di tangannya dan tersenyum.


Hem...


"Mungkin cincin itu adalah peninggalan orang terdekat Kakek Zen." Zhou Fan melirik ke belakang, dia sudah merasakan jika Zen Yoan sangat enggan melepaskan cincin penyimpanannya.


Sebelum ini dia berpikir jika Zen Yoan memikirkan masalah tanaman herbal serta pill yang ada di dalamnya, oleh karena itu Zhou Fan memindahkan isi dalam cincin ke dalam cincin miliknya.


Ternyata tebakannya salah, yang diperhatikan adalah cincin itu sendiri. Dari situ dia berpikir, cincin penyimpanan itu lebih berharga dari semua yang ada di dalamnya, pasti berasal dari seseorang yang berarti baginya.


Tidak semua orang sama, hari ini Zhou Fan menyaksikan tanaman herbal langka itu tidak lebih berharga di mata Zen Yoan dari sebuah cincin penyimpanan.


Zhou Fan melihat gelang di pergelangan tangan kanannya, gelang itu terdapat tiga buah kristal yang masing masing mengukir namanya, dan nama kedua istrinya.


Heh...


"..."


Zhou Fan memandang ke atas, entah apa yang dia pikirkan sekarang, yang jelas pikirannya tengah berlayar ke Kota Batu Hitam.