Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 173 : Teratai Api Tujuh Warna


Zhou Fan mengangkat tangan, bersiap menghabisi pemimpin bandit. Namun tangannya berhenti di udara, merasakan permukaan pasir masih bergerak.


Padahal ia tak melakukan serangan, tapi mengapa seolah terguncang dengan sesuatu yang besar.


Kening Zhou Fan mengerut, mengedarkan pandangan memeriksa keadaan. Tapi ia tak menemukan apapun di sekitarnya.


Aneh!


Zhou Fan kembali fokus dengan pria tua yang meringkuk di bawah kakinya. Sekali lagi permukaan pasir terguncang dan kali ini semakin terasa.


"Tuan muda!"


Teriakan Ciu San membuat Zhou Fan seketika berpaling, melihat pria bertubuh gempal itu mengarahkan tangan ke bawah ia sontak menurunkan pandangan.


Permukaan pasir tersedot, amblas mencakup ukuran yang luas.


Zhou Fan tak sempat bereaksi, menyilangkan tangan sebagai upaya perlindungan. Namun tidak ada yang terjadi, hanya saja permukaan padang pasir amblas tiga sampai empat kaki.


Mata Zhou Fan berpendar, mendapati pemimpin bandit yang juga ikut terjerumus bersamanya.


Ciu San berlari mendekat, dari atas dia memanggil Zhou Fan. "Tuan Muda, apakah kau tak apa?"


Zhou Fan menengadahkan kepala, kemudian beralih ke sebuah goa yang ada di depan matanya. "Aku tak apa, mungkin keberadaan teratai api tujuh warna memang benar adanya."


Auk!


Zhou Jim melompat ke bawah, Zhi Long serta Ciu San pun ikut melompat.


"Tuan muda, aura dari dalam goa sangat kuat. Mungkinkah ada sesosok penunggu yang ada di dalam?" Ciu San menelisik kedalaman goa, tapi tak ia tak mendapatkan apapun selain kegelapan.


Uh...


Meski dengan tubuh penuh luka, pemimpin bandit berusaha untuk bangkit. "Ini adalah kesempatan," batinnya yang sangat berambisi melarikan diri.


Namun baru satu langkah kaki melangkah, sebuah kerikil menembus punggung tepat mengenai jantung. Dia tergeletak dan memandang samar sosok Zhou Fan yang berdiri membelakanginya.


"Sudah ku katakan, jangan berpikir untuk lari." Zhou Fan hanya elirik sekilas, kemudian kembali fokus dengan goa di hadapannya.


Perlahan kaki melangkah, tanpa ragu dia maju.


Ciu San dan juga Zhi Long saling pandang, pada akhirnya mengikuti dari belakang. Bagaimana mungkin mereka hanya diam, melihat tuan muda serta Zhou Jim masuk ke dalam.


Memasuki goa hawa mencekam terasa, semakin ke dalam Zhou Fan merasa ada yang mengintai, memgamatai gerak-gerik mereka dalam goa. Namun setelah mencari dengan mengedarkan indra spiritual, ia tak merasakan apapun kecuali kehadiran mereka berempat.


"Goa ini cukup lembab," Zhou Fan tak henti hentinya memandang ke sekitar mengamati keadaan.


Sangat aneh, padahal mereka berada di tengah padang pasir, tempat yang seharusnya panas dan kering. Namun hal itu tidak berlaku di dalam goa, permukaan goa yang lembab, serta dinding yang dingin.


Meski terdapat pertanyaan besar dalam dirinya, Zhou Fan terus masuk ke dalam.


"Tidak bisakah kau menjauh. Goa ini sudah cukup kecil, jangan mendekapku seperti itu." Ciu San menghempaskan sesuatu yang menempel di pundaknya, berpikir itu adalah tangan Zhi Long.


Zhi Long menoleh dengan pandangan heran, dia sama sekali tidak berada di dekat Ciu San. "Buka matamu lebar lebar, aku berada di sampingmu, siapa yang kau maksud?"


Mendengar ini Ciu San membalikkan badan, memandang sesuatu yang telah dia lemparkan. "Ini -- " Matanya menyipit ketika melihat sepenggal daging berwarna hitam berkulit kasar dengan corak seperti bintang.


Ketika meletakkan di atas telapak tangan, darahnya tiba tiba terhisap dan terus terhisap sampai gumpalan daging berwarna hitam itu mengembang semakin besar.


"Ini adalah lintah mayat hidup!" Zhou Fan menghempaskan lintah itu dari tangannya. Dia tidak mungkin salah, sangat jelas jika yang ada di tangannya adalah lintah mayat hidup.


Ciu San hanya menyipitkan mata, tapi tangannya yang baru saja menyentuh lintah mayat hidup terasa lemas. "Binatang ini sangat menjijikkan!" Pria sangar itu langsung menebaskan kapak membelah lintah yang berbaring tenang di atas permukaan goa.


Zhou Fan hendak menghentikan, tapi kapak itu sudah menebas lintah menjadi dua bagian. "Kau malah memperburuk keadaan."


Bersamaan dengan itu bagian lintah yang terbelah meregenerasi sel tubuh mereka dan membentuk individu baru, sekarang terlihat dua lintah mayat hidup yang mencoba mencari makanan. Yakni darah.


Ciu San melangkah mundur, tapi saat tubuhnya membentur dinding goa, sesuatu mendarat di atas kepalanya. Perlahan tapi pasti, dia meraba dengan tangan kanannya.


Empuk, itu yang dia rasakan.


Glek...


Ciu San kesulitan meneguk ludahnya, air mukanya benar benar berubah. "Sial, kenapa ada begitu banyak daging di sini." Dia berkata sembari menyingkirkan lintah yang menempel di atas kepala.


"Goa yang lembab memang menjadi habitat alami lintah mayat hidup, ada begitu banyak lintah yang masih remaja, memang tidak begitu berbahaya. Namun ...." Zhou Fan memandang ke atas, satu detik setelahnya dia mengeluarkan percikan api.


Wosh...


Untuk sesaat goa yang redup menjadi terang benderang, terlihat beberapa lintah seukuran lengan orang dewasa menempel di langit langit goa.


Ekspresi Ciu San semakin buruk, sementara Zhou Fan tersenyum kecut.


Lintah mayat hidup yang masih muda tidak berbahaya, tapi berbeda dengan lintah yang sudah dewasa. Setiap lendir yang keluar dari tubuh mereka adalah racun, satu tetes saja sudah bisa membuat orang meninggal.


Namun itu jika masuk ke dalam tubuh, jadi selama tidak membiarkan lintah mayat hidup menghisap darah kemungkinan cairan masuk ke dalam tubuh hampir tidak ada.


"Jangan buat kegaduhan, jika tidak lintah mayat hidup akan menyerang." Zhou Fan mematikan api yang muncul di jarinya, ia tak mau memancing perhatian lintah mayat hidup.


Zhou Fan kembali menyusuri lorong goa yang seperti tiada habisnya. Goa itu benar benar dalam. Bahkan setelah berjalan puluhan bahkan ratusan langkah tidak juga menemukan ujungnya.


Namun tak bertahan lama, dari ujung nampak seberkas cahaya dari arah depan. Lengkungan senyum di antara bibirnya perlahan terukir. "Sepertinya perjalanan ini akan segera berakhir."


Ciu San dan juga Zhi Long memandang ke depan, ketika mata mereka melihat cahaya yang semakin lama semakin membesar, keduanya tak sabar ingin segera menghampiri.


Dengan langkah gontai dua pria bertubuh kekar gempal itu mendekati sumber cahaya. Zhou Jim tak mau ketinggalan, berlari mengikuti mereka semua.


Woah!


Ketika sampai di ujung goa, mata Dua Kapak Kembar bahkan Zhou Fan tak bisa lepas dari pemandangan di hadapan mereka. Ini seperti sebuah taman dengan kolam teratai di tengahnya.


Pancaran terang itu ternyata merupakan pantulan dari seberkas cahaya yang menyelinap masuk di antara dinding goa, air di kolam membuat cahaya matahari dapat menerangi setiap inci ruangan yang tak lebih luas dari ruang penginapan.


"Ini -- " Zhou Fan tak bisa berkata-kata, lidah seolah kelu enggan untuk bicara.


Namun, netra matanya tetap berpusat pada setangkai bunga teratai yang ada di tengah kolam. Teratai ini memiliki ukuran sekepalan tangan, mempunyai dua puluh satu kelopak dengan tujuh warna berbeda.


"Akhirnya aku menemukannya, teratai api tujuh warna!"