
Zhou Fan melesat sambil mengacungkan pedang, melakukan tebasan dan mengeluarkan serangan.
Jurus Penebas Awan!
Sebuah siluet tebasan laksana bulan sabit bergerak cepat menghujam beast kelabang. Tak ada kesempatan bagi beast tingkat delapan itu untuk menghindar, dentuman keras pun terdengar ketika tubuhnya yang besar menghantam pilar aula utama sampai merobohkannya.
Tak sampai di sana, dengan pedang menodong ke depan Zhou Fan melesat seperti anak panah yang diluncurkan. "Inilah ajalmu!" Pedang darah malam diselimuti api yang membara, menusuk tepat di antara muka beast kelabang.
Blam!
Daya tolak yang kuat membuat tubuh beast kelabang terhempas dan sekali lagi menghancurkan pilar yang bisa dikatakan sangat besar. Namun dihantam tubuh kelabang yang terkena serangan Zhou Fan, pilar itu hancur berkeping-keping.
Beast kelabang sempat terbalik, tapi memanfaatkan reruntuhan pilar untuk membalikkan tubuhnya. Darah nampak jelas berwarna kehijauan yang menunjukkan racun yang tak bisa diremehkan.
Sekilas mata memandang luka yang ada di lengan, warna hijau sangat jelas dalam pandangannya. "Racun kelabang ini mungkin tak bereaksi karena pill yang aku telan sebelumnya," gumam Zhou Fan sambil mengingat pill pemberian Leng Shui.
Akh!
Teriakan itu membuat Zhou Fan seketika menoleh, melihat Zhou Jim dan juga Leng Shui yang kini berada dalam kepungan puluhan kelabang. Mata Zhou Fan berubah tajam, tak mengira akan ada lagi beast kelabang yang datang.
"Aku harus menyelesaikan pemimpinnya terlebih dahulu." Zhou Fan mengeratkan pedang darah malam, bergerak melancarkan serangan teknik dewa pedang.
Api berkobar besar, menyala-nyala seolah menarik semua yang ada di sana. Kelabang sepanjang lima belas kaki itu berusaha menghindar dan mundur seolah tak berani mendekat. Namun Zhou Fan yang tak mempunyai banyak waktu, mendaratkan luka yang semakin lama semakin banyak tercipta.
Suara kesakitan dari beast kelabang tingkat delapan terdengar begitu kacau. Sambil terus bergerak beast kelabang berusaha menolak kematian, tapi apapun usaha yang dikerahkan tak mampu menyelamatkannya dari kematian.
Puncaknya, Zhou Fan mengeluarkan jurus tebasan ganda untuk mengakhiri riwayat beast kelabang. Serangan yang hebat tak bisa ditahan walau dengan cangkang kulit yang tebal. Hancur, bahkan daging berhamburan dengan cairan merah kehijauan yang mengeluarkan aroma busuk.
Zhou Fan beralih kepada Leng Shui dan juga Zhou Jim. Mereka masih berada di dalam kepungan dua puluhan beast kelabang dengan kekuatan tidak kurang dari tingkat delapan. Leng Shui bertahan total, dari belakang dua ekor beast kelabang melesat hendak menerkam. Melihat hal ini Zhou Fan tak tunggu waktu lama langsung bergerak menyambar menghempaskan mereka.
Blar!
Beast kelabang yang setara dengan petarung suci bintang satu hancur menjadi bubur, sementara satu lainnya mati dengan tengkorak kepala retak.
Leng Shui terkejut dengan kemunculan Zhou Fan, lebih terkejut lagi dengan dua mayat beast yang ada di hadapannya. Leng Shui terdiam tak bisa mengeluarkan satu pun kata, ternyata kekuatan Zhou Fan sangat jauh di atasnya.
"Jangan bengong, masih tersisa banyak beast kelabang yang perlu disingkirkan." Perkataan Zhou Fan membuat Leng Shui tersadar, wanita cantik dengan rambut hitam panjang itu langsung beralih memunggungi Zhou Fan.
"Aku tahu, kau tak perlu memberitahu." Leng Shui bersiap dengan pedangnya, mengeluarkan teknik aura dewi es dan menghadapi beast kelabang yang berada dalam jangkauannya.
Zhou Fan mencari keberadaan Zhou Jim, melihat serigala itu berada tak jauh darinya ia memberikan sebuah tanda.
Auk!
Zhou Jim menyalak sambil melompat, menarik perhatian sebagian besar kelabang. Memanfaatkan situasi ini Zhou Fan dengan pedang darah malam melaksanakan bagiannya.
Brash...
Crash...
Dalam waktu singkat pedang darah malam telah berhasil memisahkan belasan tubuh beast kelabang.
Sementara di sisi lain Leng Shui baru saja mengakhiri pertarungannya dengan tiga ekor beast kelabang. Perlahan ia membalikan badan, melihat seluruh beast kelabang telah dikalahkan.
Leng Shui mengedarkan pandangan, menolak percaya bahwa palaku tersebut adalah Zhou Fan. Namun, di sekitar tak mendapatkan tanda-tanda keberadaan orang lain selain mereka.
"Ti-tidak, tidak ada." Leng Shui menjawab dengan sedikit gugup.
"Sayang sekali tak ada yang bisa dimanfaatkan dari beast ini." Zhou Fan memantik api dan membakar puluhan mayat beast kelabang.
"Sebenarnya ada gunanya, darahnya dapat ekstrak dan dijadikan racun." Mata Leng Shui tak sengaja menangkap luka di lengan Zhou Fan.
"Kau terluka." Leng Shui mengira Zhou Fan belum tahu, tapi melihat ekspresi yang nampak biasa-biasa saja mungkin dia telah mengetahuinya.
Namun jika telah mengetahuinya, mengapa masih dibiarkan. Membiarkan luka seperti itu merupakan suatu hal yang ceroboh, mengingat mereka sekarang berada di tempat yang sewaktu-waktu muncul ancaman bahaya.
Leng Shui mengeluarkan kain dan sebuah botol, kemudian berjalan mendekati Zhou Fan. "Luka seperti ini jangan kau abaikan." Dengan telaten dia mengoleskan cairan kental berwarna hitam, meski memiliki aroma sedikit tidak sedap Zhou Fan tahu jika itu merupakan bahan obat.
"Bukankah kau berkata ingin balas dendam, mengapa malah membantu membalut luka?" Zhou Fan tak mengerti dengan sikap Leng Shui, tapi memang sifat wanita merupakan suatu yang tak bisa diperkirakan.
Leng Shui hanya diam, membalut dengan benar baru kemudian memberi jawaban. "Meski aku melakukannya sekarang juga tak akan berhasil, perbedaan kekuatan di antara kau dan aku terlalu jauh."
Zhou Fan terkekeh, "Beberapa orang sangat sulit untuk menerima kenyataan, aku kagum kepadamu."
Leng Shui mendengus, bangkit dan menjauh. Dia sangat jelas dengan kalimat Zhou Fan, secara tidak langsung mengatakan bahwa ia tidak akan sanggup melakukannya.
...
Di tempat lain masih berada dalam altar peninggalan, dua pria gempal dengan bentuk muka yang sama tengah berhadapan dengan seorang pria tua. Pria tua ini mengenakan pakaian berwarna putih dengan senjata berupa pedang.
"Zhi Long, gunakan teknik yang telah diajarkan tuan muda." Ciu San memutar kapak di tangannya, bersiap melakukan kombinasi serangan.
Mendengar perkataan sang kakak, Zhi Long mengangguk dan tanpa banyak bertanya langsung mengeluarkan gerakan Teknik Kapak Pembelah. "Ini adalah teknik yang tuan muda ajarkan kepada kami, kau akan merasakan kedahsyatannya!"
Pria tua berpakaian putih tersenyum sinis, "Kalian hanya petarung suci bintang satu, apakah mungkin dapat mengalahkan aku yang seorang petarung suci bintang dua?"
Cuih!
"Banyak omong!" Ciu San melompat sambil mengayunkan kapak, serangan kapak memanggil petir yang langsung menyebarkan ke tempat pria tua.
Kejadian ini sungguh membuat mata pria tua terbuka lebar, sontak membentangkan pedang berusaha menahan serangan petir yang nampak menakutkan.
Jder!
Ledakan terdengar kuat, pria tua berhasil menahan serangan Ciu San.
"Hahaha... Apakah hanya ini? Benar-benar sampah!" Tawa terdengar begitu lantang. Namun air muka seketika berubah melihat Zhi Long melakukan gerakan seperti saudara kembarnya.
"Mati kau pak tua!"
JDAR!!
Serangan sangat kuat, tubuh pria tua terlempar terbang melayang.
"Giliranmu!" Zhi Long berseru dan Ciu San langsung melesat dengan kapak di tangannya. "Serahkan kepadaku!"
Pria tua dengan keadaan setengah sadar merasakan seseorang mendekat, dia mencoba menggerakkan tubuh untuk menghindar. Tapi kapak terlebih dahulu melakukan tugasnya. Dengan menyisipkan tenaga dalam yang besar Ciu San mengakhiri hidup sang lawan.
Pria tua mati dalam keadaan enggan, dia kalah di tangan petarung yang jelas berada di bawah tingkatannya. Inilah letak kesalahan yang dia lakukan. Seharusnya ia tak meremehkan lawan, karena kematian akan menjadi dampak paling mengerikan.