Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 195 : Di Lereng Bukit


Hari berganti dan Han Li'er bangun dengan perasaan kesal. Suasana hatinya benar-benar kacau setelah kembali ke kediaman.


Pertemuan dengan perdana menteri membuatnya tahu bahwa identitas pria yang telah menolongnya adalah Zhou Fan. Bukan Ciu San ataupun lainnya. Untuk pertama kalinya ia merasa dipermainkan, sungguh ingin memangsa orang.


Mengapa harus berbohong, bukankah merupakan suatu keberuntungan karena seorang putri sepertinya tertarik kepadanya. Han Li'er melangkah dengan cepat, menuju kediaman perdana menteri. Namun setibanya di sana, ia tak menemukan keberadaan Zhou Fan.


"Apakah dia sudah pergi, sejak kapan?"


Perdana menteri hanya menggaruk tengkuk kepala, "Dia sudah pergi sejak pagi hari, jika tuan putri datang lebih awal mungkin dapat bertemu dengannya."


Han Li'er mengepalkan tangan, perasaannya semakin buruk mendengar kepergian Zhou Fan.


Meninggalkan istana kekaisaran, Zhou Fan yang telah mengantongi informasi keberadaan Klan Sian pun menuju ke Kota Lu. Menurut cerita dari Tetua Sian Hei--perdana menteri, Klan Sian tidak berada di wilayah Kekaisaran Han. Terdapat sebuah domain yang secara khusus ditempati oleh beberapa klan kuno.


Memang Sian Hei tak menjelaskan secara rinci tentang domain tersebut, tapi yang jelas pintu gerbang menuju dunia tersebut berada di ujung timur Kota Lu.


Perjalanan panjang dilalui Zhou Fan, beberapa kali dia bersinggah di sebuah desa sekedar meredakan dahaga. Seperti yang dilakukannya saat ini, berempat dengan Dua Kapal Kembar dan juga Zhou Jim duduk di kedai menikmati arak.


Desa Ciao, desa yang berada di perbatasan antara Kota Huang dengan Kota Lu memang kerap kali dijadikan persinggahan bagi para penjelajah kota. Tempat yang strategis dengan begitu banyak kedai membuat orang betah berlama-lama di sana.


"Tuan muda?" Ciu San memanggil sambil melirik ke salah satu tempat duduk.


Zhou Fan yang masih menikmati arak mengalihkan perhatian ke tempat duduk yang dimaksud. Dengan mata kepalanya ia melihat dua pria tua yang memperhatikan mereka.


Dua pria itu memiliki rambut keriting, kulit sawo matang dengan postur tubuh cungkring. Mereka pergi setelah Zhou Fan memandang, cukup aneh tapi Zhou Fan tak mau mengambil tanggapan atas sikap dua pria tua.


"Kekuatan mereka tidak lemah, satu di antara mereka merupakan petarung suci bintang lima, sedang satu lainnya berada di tingkat petarung suci bintang tiga." Zhou Fan kembali mendekatkan cangkir ke mulutnya, sementara Ciu San dan juga Zhi Long terkejut mendengar pemaparan sang tuan muda.


Memang Kota Lu dijuluki pusat kekuatan Kekaisaran Han, meski bukan Ibukota Kekaisaran, terdapat banyak kekuatan besar yang tersembunyi di kota ini.


"Tuan muda, apakah kita akan langsung menuju Desa Niu?"


Zhou Fan diam sejenak, setelah meneguk arak dia mengangguk. "Kita akan langsung ke sana."


...


Dua hari berlalu saat ini Zhou Fan telah berada di wilayah Desa Niu. Setelah tiba di sana ia langsung mencari keberadaan portal yang menjadi gerbang menuju dunia tempat Klan Sian berada.


Berbekal petunjuk Sian Hei, Zhou Fan mencari ke seluruh penjuru Desa Niu. Namun tidak mudah untuk menemukannya, karena keberadaan portal sendiri tidak banyak yang mengetahuinya.


"Tuan muda, mungkinkah perdana menteri telah menipu kita?" Perkataan Ciu San tidak asal lontar begitu saja, mencari begitu lama tapi tidak juga menemukan keberadaannya.


Meski Zhou Fan juga sempat memiliki pemikiran serupa, tapi dia mengingat ekspresi Sian Hei saat menerima surat dari sang guru--Sian Lou. Bahkan masih mengingat jelas keterkejutan pria tua itu saat menerima gulungan berisi silsilah Klan Sian, bagaimana mana mungkin bisa ia menipu.


"Mungkin memang benar portal itu berada di desa ini, hanya saja kita belum menemukannya." Perkataan Zhou Fan sontak membuat Ciu San diam, mereka pun kembali mencari sambil singgah di beberapa tempat seperti kedai dan juga rumah makan.


Auk...


Zhou Jim yang sejak tadi hanya diam mengendus beberapa kali dan melesat ke suatu tempat.


Dua alis Zhou Fan menyatu, tanpa basa-basi langsung mengikuti serigala nya. "Dia pasti menemukan sesuatu."


Ciu San dan juga Zhi Long saling pandang, mengikuti Zhou Fan dari belakang.


Zhou Fan yang mendengar perkataan Ciu San spontan ikut mengedarkan pandangan. Benar yang dikatakannya, sebelum ini mereka telah meneriksa keseluruhan bukit ini dan tak menemukan apapun. Namun Zhou Jim tidak mungkin bertindak tanpa alasan, lebih baik mengikutinya dan mencari tahu apa ingin ditunjukkan olehnya.


Beberapa saat Zhou Jim berhenti di lereng bukit, membuat Zhou Fan mengedutkan bibir. "Jim apa yang ingin kau tunjukkan?"


Serigala itu mengerti apa yang dikatakan Zhou Fan, beberapa kali mengarahkan moncongnya untuk menunjukkan apa yang dia maksud. Mata Zhou Fan terbelalak melihat noda darah di bawah tempatnya berdiri. Tanpa panjang lebar langsung menunduk dan meneriksa. "Ini belum lama terjadi, pasti telah terjadi pertarungan di sini."


Blar!


Suara ledakan yang keras, sangat tuli jika tidak mendengarnya. "Di sana!" Zhou Fan menunjukkan ke depan, tak berlama-lama langsung melesat.


Tak lama di depan mata terpampang nyata tiga pria yang tengah bertarung, di antara tiga pria dua dari mereka merupakan sosok yang sedikit akrab dengan Zhou Fan.


"Tuan muda, mereka dua pria yang di kedai!" Ciu San sangat mengingat jelas ciri mereka, rambut keriting dengan tubuh cungkring.


Zhou Fan sudah tahu, mengamati lebih dalam situasi yang terjadi. Namun, pertarungan yang tidak seimbang memaksanya turun lebih awal. Sambil menghalau serangan ia menyepak dua pria tua, seketika mereka mundur sambil memegang dada.


"Sialan! Siapa itu!" Dua pria marah bukan kepalang, mata berpendar penuh dendam.


"Siapa kau! Sebaiknya kau pergi sebelum mendapatkan suatu yang buruk terhadapmu." Melihat seorang pria muda salah satu pria tua berkata dengan arogan.


Mereka tak memandang keberadaan Zhou Fan, hanya fokus dengan pria yang telah terluka. Zhou Fan pun diam tanpa memberi tanggapan atas perkataan pria di hadapannya.


Hal itu tentu membuat dua pria tua meradang. Bagaimana bisa petuah mereka tak diindahkan begitu saja. Jelas merupakan penghinaan besar bagi mereka, sungguh mereka tak akan melepaskan begitu saja.


"Kau mencari mati!" Mereka mengatakan dengan suara geram, nampak jelas jika mereka menahan kemarahan.


Zhou Fan masih tak mempedulikan mereka.


"Kau memang cari mati!"


Dua pria tua melesat bersamaan, belati serta pisau kecil mengiring laju mereka.


Zhou Fan mengeluarkan pedang darah malam, begitu dia melihat dua orang semakin mendekat, dia ikut melompat.


Trang...


Pedang darah malam menahan dua senjata yang mencoba menyerangnya, tapi serangan tak sampai di sana, satu orang melompat ke belakang sambil melempar pisau di tangannya.


Shut...


Pisau bergerak cepat mengincar posisinya berada. Tanpa pikir panjang Zhou Fan mengayunkan pedang darah malam, memaksa satu pria tua yang ada di depan menarik senjata.


Setelah itu dia melangkah ke samping sambil memutar pedang menghalangi pisau yang tengah melesat.


Prang...


Pisau itu terpental, kembali dengan kecepatan dua kali lipat. Karena tak mengira akan dibalikkan seperti itu, pria yang melempar pisau tertusuk senjata sendiri. Namun petarung suci bintang tiga bagaimana mungkin kalah begitu saja, dia bangkit dengan wajah memerah padam.


Di sisi lain pria tua yang tengah terluka memandang punggung Zhou Fan yang telah menolongnya. Ia tak bisa melakukan apapun bahkan sekedar membantu, luka di tubuh memaksanya menjadi penonton.