
Di sebuah kedai, Zhou Fan menikmati hasil rampasannya. Membeli arak kualitas terbaik dengan makanan termahal. Hartanya tak akan berkurang karena cincin milik Jing Tian mencapai ratusan ribu, sungguh kekayaan yang tak normal.
Setelah berhenti sejenak mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota Dianlan. Zhou Fan tak perlu lagi memikirkan persediaan uang kertas, hanya dengan mengayunkam tangan semua bisa dibayar.
Sekarang ia mempunyai kakayaan sekitar lima ratus ribu uang kertas, itu termasuk kekayaan milik Heng Biyen yang telah ia pindahkan ke dalam cincin miliknya. Jika diakumulasi menjadi koin emas sudah setara dengan lima ratus juta, sungguh jumlah yang fantastis. Bahkan gudang istana Kekaisaran Wei pun tidak mencapai angka tersebut.
Membicarakan Kekaisaran Wei, di Kota Batu Hitam seorang wanita duduk sambil menggendong seorang bayi laki-laki. Dia tertidur dengan lelap dalam dekapan sang ibu, wajahnya begitu teduh, sangat tampan.
Dilihat dari dekat, nampak bayi itu belum genap berusia delapan bulan.
Di sampingnya terdapat seorang anak perempuan berusia satu tahun lebih, hampir dua tahun. Meksi masih kecil, wajahnya begitu cantik. Saat besar pasti menjadi idaman semua pria.
"Lin'er, mengapa kau duduk di luar?" Seorang wanita berusia lima puluhan tahun duduk tanpa menunggu dipersilakan.
"Nenek," ucap anak perempuan itu yang langsung memeluk wanita paruh baya, dia adalah Zhou Qian.
"Xia'er, ada apa? Bukankah hanya beberapa saat ditinggal, apakah sudah rindu dengan nenek?" Zhou Qian tersenyum, memeluk cucu perempuannya.
"Tidak apa ibu, hanya saja aku mendengar jika cahaya matahari sangat baik untuk pertumbuhan bayi." Wei Guanlin melirik putranya, memandang dengan kelembutan.
"Xia'er, turun ya? Nenek ingin menggendong adikmu." Zhou Xia mengangguk, dia adalah anak perempuan yang patuh.
Wei Guanlin menyerahkan Zhou Ya--putranya kepada Zhou Qian. Sebenarnya ia bingung saat memilih nama untuk sang putra, dan akhirnya memilih nama Zhou Ya atas saran Zhou Hu serta yang lain.
"Xia'er, kau tetaplah di sini bersama nenek. Ibu akan memasak," ucapnya kepada Zhou Xia sambil mengelus puncak kepalanya.
Zhou Xia yang semula duduk langsung bangkit. "Ibu, aku ikut." Dengan wajah memelas dia menarik pakaian Wei Guanlin, meminta untuk ikut.
Wei Guanlin menghela nafas, kemudian menyetarakan tinggi dengan putri kecilnya. "Xia'er ingin ikut memasak? Baiklah, Xia'er iku ibu."
Sambil berkata, Wei Guanlin menggendong Zhou Xia menuju dapur. Meninggalkan Zhou Qian yang masih berjemur di halaman depan.
Saat memasak Zhou Xia begitu bersemangat, ia memperhatikan sang ibu dan sesekali berceloteh. Wei Guanlin memperhatikan wajah putri kecilnya ini, mata yang indah itu mengingatkannya pada Zhou Fan.
Entah bagaimana kabar suaminya yang pergi ke daratan Tian Hu, dia hanya berharap Zhou Fan kembali dengan selamat, tentu saja serta membawakan obat bagi Qing Yuwei yang belum sadar dari tidurnya.
Setelah memasak beberapa hidangan, Wei Guanlin membawa Zhou Xia menuju ruangan Qing Yuwei. Mereka duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan Qing Yuwei yang tak menyadari keberadaan mereka.
"Ibu, ibu kapan bangun?" Zhou Xia menggoyangkan lengan Qing Yuwei.
Wei Guanlin mengelus puncak kepala Zhou Xia. "Xia'er, ibu yakin ibumu akan bangun. Hanya saja saat ini ibumu tengah membangun sebuah mimpi, jadi ia tak bisa bangun saat ini."
Zhou Xia menengadahkan kepala, memandang Wei Guanlin. "Kalau ayah, dia kemana bu?"
Wei Guanlin merapatkan mulutnya, memasuki usia seperti sekarang Zhou Xia sangat aktif bertanya, ia tak tahu harus sampai kapan memberikan jawaban jawaban palsu untuk membuat putrinya diam.
"Ayah tengah melakukan suatu urusan yang sangat penting. Dia akan kembali saat urusan itu selesai. Bukankah kau ingat apa yang ibu ceritakan kepadamu?"
Zhou Xia menaikkan tangannya menyentuh dagu, sudah seperti orang dewasa yang tengah berpikir. Namun pada akhirnya ia menggelengkan kepala karena tidak ingat apapun.
Zhou Xia sangatlah jenius, dia bisa merangkak saat seharusnya ia masih belajar untuk duduk. Dia bisa berjalan saat seharusnya ia belajar merangkak. Sungguh buah tak jatuh jauh dari pohonnya.
Kembali ke daratan Tian Hu, tepatnya Kota Hong.
Zhou Fan yang tengah melakukan perjalanan tiba-tiba dadanya seolah ada jarum yang menusuk. Tapi itu hanya sesaat, kemudian kembali normal. Ia tak tahu apa yang terjadi kepadanya, yang jelas itu sangat aneh.
Zhou Fan meraih liontin yang menggantung di kalungnya, itu adalah barang pemberian Wei Guanlin--istrinya. Setiap malam ia selalu memandangnya, sembari menatap bulan dan juga bintang. Namun entah mengapa hari ini terasa berbeda, seolah ada yang memanggilnya untuk pulang.
Timbul perasaan rindu yang sangat dalam, tapi ia tak bisa melakukannya. Karena kristal yang dibutuhkan belum cukup untuk menyembuhkan Qing Yuwei. Masih membutuhkan empat kristal lagi.
"Tuan muda, kita sudah sampai di Kota Dianlan." Zhi Long memandang ke pesisir, kebetulan jalur yang mereka lalui berada di tepi laut, membuat daratan berpasir terlihat dalam beberapa waktu terakhir.
Zhou Fan memandang sebuah gapura yang berdiri sederhana dengan beberapa penjaga di sana. Tepat setelah gapura terlihat beberapa penjual tengah berjualan di lapak milik mereka, ada juga yang menjajakan barang dagangan dengan menghampiri setiap orang yang baru memasuki kota.
Dermaga nampak lengang, tapi tak bertahan lama sampai sebuah kapal besar datang. Sebuah lonceng terdengar keras, jangkar turun dan pintu kapal terbuka.
Zhou Fan memperhatikan, tapi yang keluar membuat keningnya berkerut heran.
"Lari, lari! Cepat lari!" Para pedagang tak terkecuali pembali langsung kocar-kacir melarikan diri. Mereka pergi tepat setelah melihat kedatangan beberapa pria bertubuh besar dengan topi besi di kepala mereka.
"Itu adalah kelompok bajak siluman!"
Begitulah Zhou Fan mendengar sebutan mereka. Entah mengapa semua orang itu takut begitu melihat siapa yang keluar dari kapal.
Srak srak...
Suara rantai yang menyeret di atas permukaan pasir mengalihkan perhatian Zhou Fan. Meski dari kejauhan ia bisa melihat jelas jika para bandit itu menangkap tawanan, merantai kaki tangan mereka dan menggelandang masuk ke dalam kota.
Namun sebelum masuk lebih ke dalam, beberapa orang datang dan salah satu di antara mereka mengatakan pakaian keluarga bangsawan. "Aku mau beli budak," ucapnya dengan begitu santai, seolah transaksi ini adalah hal biasa baginya.
Zhou Fan yang mendengar samar pembicaraan mereka langsung menyipitkan mata. Perlahan ia mengamati seluruh tawanan yang ada. Kebanyakan dari mereka adalah pria, tapi ada juga wanita meski hanya beberapa.
Mata Zhou Fan menjadi tajam, ia melihat sosok yang dia kenal. "Yin Cun!" Mulutnya tanpa sadar mengeluarkan satu nama.
Ia memperhatikan salah seorang tawanan yang sangat mirip dengan temannya. Namun Zhou Fan ragu, pasalnya Yin Cun berada di Kekaisaran Shi, di Sekte Bulan Sejati.
Akan tetapi semakin memperhatikan wajah itu semakin terlihat sama. Menelisik dari kekuatan pun tak jauh berbeda, berada di tingkat petarung kaisar bintang dua. Memang saat itu Yin Cun masih berada di tingkat petarung raja, tapi dengan bakatnya bukan tidak mungkin telah mencapai petarung kaisar.
Merasa diperhatikan, pria itu membalikkan tubuhnya, terlihat nyata sebuah tongkat yang sangat akrab di matanya.
Bukan khawatir atau semacamnya, Zhou Fan terkekeh sambil menggelengkan kepala. Ternyata memang benar, itu adalah Yin Cun--temannya.
Hem...
"Dia masih tetap bodoh seperti biasa."