Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 149 : Pergi Setelah Meraih Kemenangan


Leng Shui memandang Zhou Fan, pria yang telah menyelamatkannya. Ia tidak menyangka jika pria ini yang datang saat nyawanya berada dalam bahaya.


"Jangan diam saja," ucap Zhou Fan membuat Leng Shui tersadar, kemudian langsung mencari keberadaan pedangnya.


Melihat pedang tergeletak beberapa langkah di belakang, ia pun mencoba meraihnya.


Kasim Jun menyipitkan mata melihat Zhou Fan, pandangannya kemudian beralih ke tempat tuannya. Kelopak mata seketika terbuka melihat tuan besar keluarga Chen terduduk dengan luka di tubuhnya, bahkan pedang telah hancur di bawah kakinya.


"Tuan besar!" Tanpa panjang lebar Kasim Jun melesat menuju ke tempat Chen Yang.


"Apakah kau tak apa, tuan besar?" Kasim Jun berusaha memapah Chen Yang.


Chen Yang mengangguk. "Aku tak apa," ucapnya sambil berusaha berdiri sendiri.


"Aku akan membantumu."


Zhou Fan menoleh ke sampingnya, Leng Shui telah berdiri dengan pedang di tangannya. "Kau bantu seniormu saja, mereka berdua biar aku yang hadapi."


Leng Shui melirik ke tempat Bing Roxue, nampak seniornya itu tengah berhadapan dengan salah seorang tetua. Pertarungan mereka seimbang, sama-sama luka sama-sama tak bisa menang.


Kemudian ia beralih memandang dua pria tua yang nampak tidak lemah. Ia tidak tahu bagaimana cara Zhou Fan menghadapi mereka.


Belum sempat ia berkata, Zhou Fan telah melesat menyerang Chen Yang serta Kasim Jun.


Leng Shui menggertakkan gigi, memandang punggung Zhou Fan yang terus bergerak. Ia pun tidak ada pilihan lain selain menuju ke tempat Bing Roxue.


"Bajingan, kau terlalu percaya diri menghadapi dua orang sekaligus. Meski aku tak bisa mengalahkanmu, jangan pikir kau dapat mengalahkanku!" Chen Yang mengeluarkan pedang lain dari cincin penyimpanannya. Pedang itu memancarkan hawa panas yang membuat air menguap ketika saling bersentuhan.


"Kasim Jun, kita serang bersama!" Chen Yang bersiap mengeluarkan serangan.


Kasim Jun mengangguk. "Baik tuan besar," jawab pria tua itu sembari menggerakkan pedangnya.


"Pengguncang semesta!"


"Pedang cahaya!"


Dua jurus diarahkan bersama, Zhou Fan yang tengah melesat sontak menghentikan langkahnya, mengeluarkan 'jurus penebas awan'


Siluet tebasan laksana bulan sabit bergerak menghantam dua jurus yang bergerak berdampingan. Ledakan dahsyat terdengar, kilatan samar menghiasi pemandangan malam.


Zhou Fan masih belum selesai, berputar menebas mulai mengeluarkan gerakan teknik dewa pedang.


"Hati-hati, teknik pedangnya sangat berbahaya." Chen Yang mengingatkan Kasim Jun, pria tua itu mengangguk tanpa banyak berkata.


Dua lawan satu, tapi Zhou Fan sama sekali tidak gentar. Bahkan perlahan jalan pertarungan mulai dapat ia kuasai, Chen Yang yang telah mendapatkan luka pada pertukaran sebelumnya tak lagi bisa membendung rundungan serangan yang terus ia keluarkan.


Kasim Jun juga tak mampu, ia yang secara nyata kalah dalam kultivasi tentu tak bisa berbuat banyak. Luka sayatan satu persatu bersarang di tubuhnya, pakaian pun mulai nampak tak beraturan.


Sreg!


"Arg!" Jeritan ngeri terdengar dari mulut Chen Yang saat pedang darah malam menggores lengannya.


Pedang itu hampir saja menebas tangan kanan Chen Yang jika tidak dengan cepat sang empunya menarik tangannya menghindar.


Kasim Jun yang melihat Chen Yang mendapatkan luka pun langsung mendekat, tapi ia lupa jika di depannya masih berdiri Zhou Fan yang siap melancarkan serangan.


"Pak tua, kemana kau akan pergi?" Zhou Fan mengayunkan tangan, meninju perut Kasim Jun hingga pria tua itu terlempar.


Dua pria tua tumbang berjajaran, kondisi keduanya tak jauh berbeda.


Zhou Fan melihat sebuah cincin yang tergeletak di bawah kakinya, ia memgambilnya dan langsung memeriksa apa yang ada di dalamnya.


Woah!


Isi cincin ini lebih banyak dibandingkan dengan kekayaan Jing Tian, bahkan ada beberapa tanaman yang cukup langka. Ini sungguh merupakan keberuntungan besar baginya.


Jder!


Jder!


Tiba-tiba kilat menyambar, gemuruh angin pun bertiup kencang.


Ia tak tahu apa yang akan terjadi, dia melirik ke sekitar, nampak pertarungan masih berlangsung. Entah mengapa ia merasa sesuatu akan terjadi.


Karena tak mau mengambil resiko, Zhou Fan menyimpan cincin di tangannya, melesat menghampiri Ciu San, Zhi Long, serta yang lain kemudian mengajak mereka semua pergi.


"Kita pergi sekarang!" Zhou Fan menghabisi pasukan keluarga Chen begitu mudah, dalam satu tebasan dua kepala terlempar.


"Tuan muda, apa yang terjadi?" tanya Ciu San dengan heran.


"Ada apa?" Bukan hanya Ciu San tapi juga Leng Shui, Yin Cun, Miao Ling bahkan Bing Roxue.


"Akan ada sesuatu yang buruk, sebaiknya kita pergi." Mata mereka terbelalak mendengar jawaban Zhou Fan, tanpa basa basi menghabisi lawan dan pergi mengikuti Zhou Fan.


"Shuuit... !"


Leng Shui tak tahu apa yang dilakukan Zhou Fan, "Apa yang kau lakukan?"


Zhou Fan hanya menoleh sekilas, tanpa memberikan jawaban bahkan hanya satu kata pun.


Tak lama seekor serigala melesat dari belakang, bergerak mengikuti mereka. Ketika sudah berada di samping Zhou Fan ia melambatkan kecepatannya, menyetarakan kecepatan dengan rombongan.


Mata Leng Shui berkedut, "Kau juga membawanya?" Dia ingat jika serigala ini yang membantu mereka dalam menemukan keberadaan musuh saat dalam perang kekuasaan Kekaisaran Shao.


Hem...


"Dia jauh lebih bisa diandalkan dari pada kau." Zhou Fan kemudian menoleh kepada Zhou Jim dan serigala itu seolah mengetahui maksud sang tuan.


Auk...


...


Sementara di tempat pertarungam sebelumnya...


"Yang'er!"


"Ayah!"


Dua pria berbeda usia melesat mendekat ke tempat Chen Yang. Mereka adalah Chen Beixian, serta lekuhur keluarga Chen--Chen Long Tao.


"Kakek, ayah?" Chen Beixian memeriksa keadaan sang ayah, mendapati pria tua itu dalam keadaan lemah seketika wajahnya berubah kelam.


Perlahan ia mengedarkan pandangan, melihat ratusan orang tergeletak dan tak banyak dari mereka yang selamat. Kemudian ia berakih ke Kasim Jun yang juga dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Xian'er, biar aku periksa mereka."


Mendengar perkataan sang kakek, Chen Beixian menyingkir dan memberikan ruang bagi Chen Long Tao memeriksa keadaan ayahnya serta Kasim Jun.


"Luka yang sangat serius, ini jelas adalah serangan petarung suci. Bisa membuat ayahmu serta Kasim Jun tak berdaya jelas ia bukan orang biasa."


Ia?


"Kakek, maksudmu?" Chen Beixian menoleh dengan terkejut.


"Ya, mereka dikukai oleh orang yang sama. Meski luka di tubuh mereka berbeda. Ayahmu terluka oleh pedang, sementara Kasim Jun menggunakan tinju, tapi sangat jelas kemiripannya."


"Kakek, apakah kau bisa membangunkan ayah?"


Chen Long Tao mengeluarkan pill pemulihan, kemudian mengalirkan tenaga dalam untuk membantu proses penyembuhan.


Houk... Houk...


Tak berapa lama Chen Yang memuntahkan darah dari mulutnya, cairan busuk keluar dan membasahi pakaiannya. "Ayah, Xian'er?"


Chen Yang bangkit dan mendudukkan tubuhnya, tapi luka yang cukup parah tidak bisa sembuh begitu saja. Ia harus hati-hati ketika bergerak.


"Yang'er, siapa yang melakukannya?" tanya Chen Long Tao dengan amarah yang sudah meluap-luap.


Chen Yang menggelengkan kepala, "Aku tak tahu siapa mereka ayah, yang jelas kekuatannya setara dengan petarung suci bintang tiga."


Chen Long Tao mengepalkan tangannya, "Siapapun itu, karena telah mengusik keluarga Chen, aku tak akan melepaskannya!"