
Dua pria tua yang mendengar ucapan Zhou Fan seketika menajamkan pandangan. "Ini bukan urusanmu, yang dapat kau lakukan adalah bayar biaya sewa dan tempati ruangannya. Masalah kami bukan kuasamu untuk mencampurinya."
Zhou Fan tersenyum samar, dia pun mengeluarkan sejumlah uang yang telah disebutkan.
Wajah dua pria paruh baya tersenyum puas, sempat berpikir tiga pria yang datang akan mengacaukan tempat mereka. Namun ternyata, hanya pecundang tak punya keberanian.
Satu dari mereka maju, berniat meraih uang pemberian Zhou Fan. Namun begitu tangan terulur, Zhou Fan melempar uang kertas tersebut ke belakang.
Kening pria paruh baya mengerut, matanya pun perlahan memandang Zhou Fan dengan lekat. "Apa maksudmu?!"
"Tidak salah lagi, orang bodoh seperti kalian memang hanya sanggup menggertak anak kecil." Zhou Fan mencibir, membuat pria yang berada tepat di depannya mengepalkan tangan.
"Apa kau tak mau membayarnya?" tanya pria paruh baya sambil merapatkan gigi, nampak jelas ekspresi marah dalam wajahnya.
Zhou Fan tak menjawab walau itu hanya sebuah gelengan, membuat air muka pria paruh baya semakin kelam.
"Bangsat, aku akan memberimu pelajaran!"
Satu tinju melayang hendak menempeleng kepala Zhou Fan. Namun kecepatan serta kekuatan pria paruh baya terlalu rendah, hanya dengan mengangkat tangan Zhou Fan mampu menahannya.
Pria paruh baya terkejut, tak menyangka pukulan terkuatnya dapat dengan mudah dihalau. Dia pun berusaha melepaskan cekalan Zhou Fan, tapi genggaman itu terlalu kuat baginya.
Erg...
Pria paruh baya berusaha dengan kuat, ia pun mencoba mendaratkan serangan dengan tangan lainnya.
Netra hitam milik Zhou Fan bergerak, menangkap gerakan tangan yang hendak menyasar telinga bagian kanan. Namun sungguh, serangan itu terlalu lambat.
Zhou Fan mengangkat tangan kanan, kembali mencengkeram tinju pria paruh baya.
Melihat temannya tak lagi bisa bergerak, pria paruh baya lain mengeluarkan pedang. "Lepaskan dia!"
Lepaskan?
"Seperti katamu, aku kembalikan temanmu." Zhou Fan memiting tangan pria paruh baya, memutar tubuhnya dan melempar pria paruh baya.
Melihat temannya melesat berlawanan darinya, pria yang memegang pedang membelalakkan mata. Dengan cepat ia berusaha menahan langkahmu kaki, tapi sangat disayangkan sebelum sempat menghindar sang teman menghantamnya dengan keras.
Tubuh keduanya terlempar, menghancurkan pintu penginapan yang memang sudah lapuk tak layak dipasang.
Dua pria paruh baya bangkit, mata mereka nampak penuh dendam kesumat yang mungkin tak akan pernah padam.
"Bajingan, tunggu sampai menyampaikan hal ini kepada ketua. Kau akan menyesalinya."
Houk... Houk...
Sambil memegang dada mereka pergi, tapi sebelum genap sepuluh langkah Zhou Fan berkata. "Siapa yang mengizinkan kalian pergi, urusan di sini masih belum selesai."
Dengan ragu mereka membalikkan badan. "A-apa yang kau inginkan, jangan macam-macam! Kami adalah anggota faksi serigala timur, ketua kami berada di tingkat petarung suci bintang tiga."
Zhou Fan terdiam, bukan takut tapi tak percaya dengan ucapan pria paruh baya.
Bukankah hanya petarung suci bintang tiga, ia juga petarung suci, bahkan petarung suci bintang empat. Selain itu jangan lupa akan fakta bahwa dirinya pernah membunuh leluhur keluarga Chen yang juga merupakan petarung suci bintang empat.
Namun, kedua pria paruh baya menyalah artikan sikap diam Zhou Fan. "Jika kau takut, maka pergilah dari sini. Anggap saja kami berbelas kasihan kepadamu."
Mereka berpikir Zhou Fan takut terhadap identitas ketua faksi, sehingga diam dan tak lagi berani bersuara. Sangat disayangkan, mereka keliru.
Zhou Fan tersenyum, membuat dua pria paruh baya sangat heran. "Apa yang kau tertawakan, cepat pergi atau kami akan memanggil ketua faksi."
Zhou Fan melirik Ciu San dan juga Zhi Long. "Habisi mereka!" ucapnya dingin.
Ciu San langsung mengeluarkan kapak, begitupun dengan Zhi Long yang sudah berdiri di samping sang kakak.
Crash...
Gludak!
"Tidak ada yang peduli siapa ketua kalian," ucap Zhi Long mengibaskan kapak yang sudah dibasahi oleh darah segar.
"Tuan muda, apakah kita akan pergi?" tanya Ciu San setelah menyimpan kapak miliknya.
Zhou Fan sejenak diam, matanya menelisik ke penginapan. Ia pun menghela nafas, "Kalian keluarlah."
Sejurus kemudian puluhan anak berusia delapan sampai lima belas tahun satu persatu keluar. Mereka sedikit takut, tapi juga tak ada pilihan lain selain keluar mengikuti perkataan Zhou Fan.
Dari sekian banyak anak, hanya satu yang bisa bersikap biasa. Bahkan dia dengan berani meyakinkan teman lainnya untuk tidak takut kepada Zhou Fan. Dia adalah gadis kecil yang membawa Zhou Fan kemari.
"Gadis kecil," Zhou Fan mengayunkan jari telunjuknya. Sontak gadis kecil berusia sepuluh tahun itu mendekat.
"Sudah berapa lama kalian mengikuti mereka?" Zhou Fan melirik mayat dua pria paruh baya.
"Sudah dua tahun, tapi ada juga yang baru satu tahun." Saat mengatakannya, gadis itu menundukkan kepala seolah berpikir.
Zhou Fan merasa hidup puluhan anak ini sangat tidak pantas, seharusnya mereka mendapatkan pakaian yang layak, tempat tinggal yang nyaman serta makanan untuk mencegah lapar.
"Tuan tuan, jangan sakiti mereka. Tolong lepaskan mereka!" Seorang wanita paruh baya berlari dari dalam penginapan, nampak tubuhnya penuh luka tapi tetap tak bisa menghalanginya melindungi anak-anak ini.
Zhou Fan merasa kagum.
"Bibi, tuan ini tidak jahat. Mereka tidak melukai kami. Bahkan membantu membunuh dua pria yang selalu menyiksamu."
Mendengar perkataan gadis kecil, wanita paruh baya memandang ke dua mayat yang tergeletak tanpa kepala. Tubuhnya menegang melihat darah yang mengalir hampir mengenai kakinya.
Sejenak wanita paruh baya diam, tapi ekspresinya kembali buruk kala mengingat keberadaan faksi serigala timur.
Zhou Fan seolah tahu kekhawatiran wanita paruh baya. "Masalah faksi serigala timur, kami akan bantu mengatasi mereka. Kau hanya perlu menyediakan tempat yang layak bagi anak-anak ini."
Setelah berkata Zhou Fan mengeluarkan ribuan uang kertas, memberikannya kepada wanita paruh baya. "Pastikan mereka tak kekurangan makanan juga pakaian."
Wanita paruh baya bersujud, berterima kasih kepada Zhou Fan. "Tuan, terima kasih!"
"Kalian jangan hanya diam, berterima kasihlah kepada tuan." Wanita paruh baya berkata dengan lembut kepada puluhan anak, mereka pun dengan patuh mengatakan 'terima kasih'.
Zhou Fan tersenyum, melihat mereka ia merasa seperti melihat keluarganya sendiri.
"Baiklah, kami akan pergi. Masalah faksi serigala timur, kami yang akan menyelesaikannya." Zhou Fan membalikkan badan dan berlalu pergi.
Gadis kecil menghentikannya, memanggil dari belakang. "Tuan, terimalah ini." Sambil menjulurkan tangan ia berjinjit.
Zhou Fan melihat sebuah gelang di telapak tangannya. Meski sederhana, cukup indah dan menarik.
"Memang tidak bagus, tapi itu adalah gelang kesukaanku. Kami sangat berterima kasih kepada tuan."
Zhou Fan meraih gelang itu, menggenggamnya dengan serius. "Ini sangat indah, aku akan memakainya."
Melihat Zhou Fan memakai gelang pemberiannya, gadis kecil itu tersenyum senang.
"Tuan muda, kemana kita akan pergi?" Ciu San bertanya.
Zhou Fan kembali membalikkan badan, berjalan sambil memandang ke depan.
"Mencari keberadaan faksi serigala timur."