
Leng Shui yang berjalan beberapa langkah di depan tiba-tiba menoleh sambil bertanya. "Apakah kau masuk ke dalam altar peninggalan seorang diri saja?"
"Tidak,"
Leng Shui berhenti, perlahan membalikkan badan. "Dengan siapa, apakah kau terpisah dengannya?"
"Tidak, dia berada di sini. Kau baru saja bertarung bersama dengannya."
Mendapat jawaban Zhou Fan, Leng Shui menyipitkan mata. Pandangan mengarah pada seekor serigala yang tak jauh dari tempatnya. "Aku serius!"
Zhou Fan tersenyum, "Aku tak bercanda,"
Leng Shui menghela nafas panjang, tak lagi bertanya dan diam melanjutkan perjalanan. Sementara Zhou Fan masih tersenyum, tentu saja dia tahu maksud Leng Shui.
Mereka berjalan cukup lama, tak terhitung jumlah persimpangan yang telah mereka lalui. Namun keadaan terasa hening karena Leng Shui tak bicara, sementara Zhou Fan terlalu malas mencari topik untuk bercengkrama.
Waktu terus berjalan, lorong yang panjang kini nampak jelas ujungnya. Sebuah pintu besar berukiran naga berdiri kokoh di hadapan mereka. Leng Shui mencoba mendorong pintu besar itu, tapi bahkan dengan kekuatannya ia tak mampu membuat pintu bergetar.
Zhou Fan mendekatkan telinga di pintu, mencoba merasakan ketebalan pintu dengan mengetuknya beberapa kali.
Suara hampir tak terdengar, itu jelas mengungkapkan betapa tebal pintu naga di hadapan mereka. "Mungkin ada suatu mekanisme untuk membuka pintu ini." Zhou Fan mencari di sekitar, siapa tahu menemukan 'kunci' untuk membukanya.
Leng Shui tak hanya diam, ikut mencari dan tak segan mengangkat bongkahan batu yang berserakan di sudut ruangan. Namun, sampai lelah juga tak menemukan satupun petunjuk.
"Jika pintu ini tak bisa dibuka, lebih baik kita kembali dan mengambil jalan di persimpangan sebelumnya." Leng Shui setuju dengan ucapan Zhou Fan, terlalu lama di sini juga merupakan kerugian bagi mereka.
Langkah demi langkah mereka mulai menjauh, tak lagi berharap menemukan 'kunci' untuk membuka pintu naga.
Jglek!
Langkah kaki Zhou Fan terhenti mendengar suara dari bawah, sementara Leng Shui berekspresi cemas karena telah menginjak sesuatu yang berkemungkinan buruk baginya.
Ngiiikkkk...
Suara itu membuat keduanya membalikkan badan, ekspresi terkejut semakin nyata kala melihat pintu besar mulai terbuka.
Zhou Fan kembali memandang lantai tempat Leng Shui berdiri. "Ternyata 'kunci' pintu itu berada di sini, pantas saja tak bisa menemukannya di sana."
Leng Shui tersenyum kecut, dia sendiri tak menyangka bila kakinya menginjak lantai yang menjadi kunci pintu naga.
Zhou Fan masuk ke dalam, begitupun dengan Leng Shui. Mata mereka terpana akan pemandangan yang ada di dalam ruangan.
Emas, kilauan koin emas membuat mata silau saat memandang. Selain itu ada beberapa botol pill yang tergeletak di sudut ruangan. Leng Shui menuju ke tempat botol pill berada, sementara Zhou Fan masih di ambang pintu menelisik keadaan bila ada bahaya mengancam.
"Sepertinya tak ada jebakan atau penunggu dalam ruangan ini." Zhou Fan tak mendapatkan suatu yang janggal, berjalan sambil melansir pandangannya. Tak sengaja pandangan mengarah ke sebuah kotak kayu tua yang berada di antara tunpukan koin emas.
Tangan bergerak mengambil kotak kayu itu dan memeriksa apa isi di dalamnya. Ketika kotak terbuka kening Zhou Fan mengerut, melihat plakat segitiga yang cukup membuat penasaran.
"Apa yang kau temukan?" Leng Shui sudah berada di samping Zhou Fan, memegang beberapa botol pill di tangan kanan.
"Tak tahu, yang jelas aku merasa plakat ini tidak biasa." Zhou Fan menunjukkan plakat tersebut kepada Leng Shui dan dia dengan serius memperhatikan.
"Simpan saja, mungkin suatu waktu dapat mengetahui apa kegunaannya." Leng Shui kemudian menyodorkan tangan menyerahkan botol pill kepada Zhou Fan.
"Ada begitu banyak pill, di antaranya ada lima belas pill kuktivasi tingkat sembilan. Aku akan mengambil tujuh, kau sisanya."
"Kau ambil saja semua," ucap Zhou Fan sembari mengembalikan botol pill di tangannya.
Ucapan itu sontak membuat Leng Shui terkejut. "Kau yakin?" tanyanya dengan sedikit nada tidak percaya.
Namun, anggukan Zhou Fan membuatnya menyimpan pill untuk dirinya sendiri. Dengan lima belas pill tingkat sembilan ia akan naik tingkat bahkan mungkin dua bintang sekaligus, bagaimana mungkin ia menolak kesempatan ini.
Zhou Fan masih sibuk dengan plakat di tangannya, mencoba mengingat pun ia rasa tidak ada catatan mengenai plakat berbentuk segitiga dalam buku sejarah yang pernah ia baca.
Karena tak mendapatkan jawaban, ia pun menyimpan plakat beserta kotak kayu ke dalam cincin penyimpanan. Seperti kata Leng Shui, mungkin suatu waktu akan mengetahui kegunaannya.
"Koin emas ini untukmu saja, aku sudah mendapat untung dari pill-pill barusan. Lagi pula koin emas sudah tidak digunakan sebagai alat pembayaran, menyimpannya hanya akan memenuhi ruang dalam cincin penyimpanan." Leng Shui telah menyita habis botol pill yang ada di dalam ruangan, semua lenyap dibuatnya.
Zhou Fan tak banyak berkata, langsung menghisap jutaan koin emas yang ada di sana. Mungkin koin emas tidak lagi berlaku di daratan Tian Hu, tapi di daratan Tian Lei masih menjadi alat pembayaran utama.
Auk... Auk...
Suara Zhou Jim membuat Zhou Fan serta Leng Shui seketika mengalihkan pandangan, melihat Zhou Jim tengah mendorong batu setinggi tiga kaki.
"Jim, apa yang kau lakukan?" Zhou Fan memeriksa batu setinggi tiga kaki tersebut, tapi Zhou Jim masih terus berusaha menggeser batu.
Zhou Fan yang penasaran pun mencoba menggerakkan batu, tapi anehnya batu tak seberapa besar ini memiliki berat di luar nalar. "Sebenarnya batu apa ini sampai begitu berat."
"Aku akan bantu," ucap Leng Shui yang langsung menempelkan tangan di pundak Zhou Fan.
Zhou Fan melirik sekilas, kemudian memusatkan kekuatan mendorong batu yang memiliki lebar hanya tiga jengkal.
Drrtt...
Batu berhasil bergerak, walau hanya beberapa inci. Zhou Fan tak menyerah begitu saja, ia kembali mengerahkan kekuatan dan mendorong dengan sekuat tenaga. Leng Shui mengalirkan tenaga dalam, membantu Zhou Fan dari belakang.
Seperti kata pepatah, usaha tak akan mengkhianati hasil. Meski keringat telah membasahi pakaian, mereka berhasil menyingkirkan batu dan menemukan sebuah jalur di balik tempat batu berdiri.
Huft... Huft...
Nafas masih memburu, keringat menetes di sela wajah.
"Apakah kita akan masuk?" Sambil mengatur nafas Leng Shui melirik Zhou Fan. Sementara pria muda di sampingnya hanya diam memandang jalur yang berbentuk seperti seluncuran.
Masuk, kembali, masuk, kembali ... Zhou Fan masih menimang dengan hati-hati, ia juga tak tahu apa yang ada di ujung jalur ini. Akan baik jika itu adalah keberuntungan, tapi akan buruk jika dihadapkan dengan bahaya.
Drrtt...
Lantai ruangan bergetar, Zhou Fan serta Leng Shui memandang ke luar ruangan.
Blam!
Blam!
Bongkahan batu berjatuhan, getaran semakin jelas dapat dirasakan.
"Pintu keluarnya!" Leng Shui berseru melihat bongkahan batu terus berjatuhan sampai menutup pintu keluar. Sekarang mereka terkurung di dalam ruangan.
Zhou Fan hanya mengedikkan bahu, memandang jalur yang sudah seperti seluncuran. "Nampaknya tak ada jalan lain!"