
Ciu San bergidik ngeri. Hanya dengan satu serangan ringan tuan mudanya mampu menghempaskan macan kumbang yang jelas memiliki kekuatan setara dengan tingkat petarung senior bintang tujuh.
Andai itu dirinya, bukankah akan berakhir sama dengan macan kumbang itu?
Zhi Long yang menyadari ekspresi aneh sang kakak pun bertanya. "Kau kenapa?"
Namun Ciu San tidak mungkin mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, terpaksa ia harus berbohong dengan menggelengkan kepala.
Zhi Long memalingkan pandangan, mendengus pelan.
Di sisi lain Zhou Jim mengumpulkan mayat macan kumbang yang tiada di bawah cakar kakinya. Menggeret satu persatu dan mengumpulkan mereka di depan Zhou Fan.
Zhou Fan hanya pasrah saat Zhou Jim seolah ingin ia menyimpan mayat-mayat macan kumbang. Lagi pula dengan adanya pasokan daging ia tak perlu repot memikirkan kebutuhan Zhou Jim, bahkan jika dia menginginkan daging pun hanya perlu mengayunkan tangan.
"Tuan muda, nampaknya suatu yang besar akan datang." Zhi Long memusatkan pendengaran, memandang ke depan seolah menanti kedatangan seseorang.
Zhou Fan mengikuti kemana Zhi Long memandang, tak lama setelah itu kakinya merasakan tanah bergetar dan batu kecil mulai berlarian di atas permukaan.
Blam... Blam... Blam...
Hentakan kaki begitu kuat, bahkan mampu mengguncang seluruh Desa Wen.
Zhou Fan menelesik dengan cermat, tapi tak kunjung menemukan apapun ia memutuskan untuk melompat ke sebuah bangunan. Meski telah hancur juga masih dapat dijadikan tempat berpijak.
Blam... Blam... Blam...
Makhluk berbulu putih setinggi lima belas kaki berjalan dengan mata merah, tangan menjuntai panjang mengepal sebagai alat bantu keseimbangan. Kedua kakinya tidak pendek, tapi juga tidak panjang.
Zhou Fan memandang beast ini dengan serius. Dia merasa terkejut dengan tingkatan beast ini yang mungkin setara dengan petarung suci bintang empat. Namun, di sisi lain mata Zhou tanpak berbinar dengan ekspresi berseri.
"Tuan muda, sebenarnya apa itu sampai membuat tanah bergetar?" Ciu San naik ke tempat Zhou Fan, berdiri sejajar dengan tuan mudanya.
Melihat beast yang ada di depan matanya, kedua mata terbuka lebar.
"Ew ... Dia besar." Ciu San menggaruk kepala, meski dia memiliki tubuh yang gempal, dibandingkan dengan beast ini ia sama sekali tidak berarti.
"Ciu San, Zhi Long, menjauhlah. Gorila kristal perak akan menjadi lawanku." Zhou Fan mengeluarkan tombak, ***** membunuh mulai nampak jelas dalam matanya.
"Tuan muda, gorila kristal perak merupakan beast tipe es. Melihat dari kekuatan ia merupakan beast tingkat delapan. Kemunculannya sangat kebetulan."
Zhou Fan mengangguk, melirik ke arah Zhi Long. "Aku tahu itu, dan ini memang kebetulan. Kebetulan yang sangat kuharapkan!"
Tepat setelah berkata tombak telah dialiri tenaga dalam, membentuk sebuah pusaran angin yang sangat dahsyat.
Gorila kristal perak yang merasakan dinding pusaran langsung mengangkat tangan menghantam, mencoba menghancurkan. Namun ketika kepalan tangan besar itu menyentuh teknik tombak angin, seketika tangannya terluka.
GROAR!!
Raungan gorila kristal perak sangat keras, mungkin terdengar sampai ke luar desa.
Zhou Fan menghentikan putaran tombaknya, melihat celah melesat mendorong tombak mengeluarkan Jurus Tombak Naga.
Siluet kepala naga memburu dengan mulut terbuka. Akan tetapi, sebelum jurus itu mengenai tubuh gorila kristal perak. Dengan cepat menempatkan dua tangan sebagai pertahanan.
Blar!
Dentuman terdengar memekakkan, tapi gorila kristal perak masih berdiri dengan gagah. Bahkan serangan seolah tak mampu mendaratkan luka berarti pada dirinya.
Gorila kristal perak memandang dengan murka dan keinginan membunuh. Ketika mata menangkap Zhou Fan yang berdiri di hadapannya, gorila kristal perak memburu dengan kedua tangan kakinya.
Blar!
Hantaman yang kuat, menghancurkan permukaan tanah di tempat Zhou Fan berdiri. Beruntung pemuda itu dapat menghindar tepat sebelum gorila kristal perak mendarat.
Namun serangan belum berakhir, memanfaatkan besar tubuhnya gorila kristal perak menghempaskan tangan menghantam ke tempat Zhou Fan.
Sekali lagi dentuman terdengar, Zhou Fan terus melompat sampai jarak di antara mereka mencapai puluhan langkah. Ia mengamati, gorila kristal perak memiliki pertahanan yang kuat, meski bisa melukai juga hanya sampai kulit luarnya saja tak mampu menembus organ dalamnya.
Zhou Fan sekali lagi memutar tombaknya, teknik tombak angin sebelumnya telah mampu melukai tangan gorila kristal perak. Ia akan melakukan hal serupa dan berharap dapat menorehkan luka lebih dalam.
Namun ketika Zhou Fan mulai menggerakkan tombak gorila kristal perak menjauh, seolah mengetahui bahwa teknik tersebut lah yang telah melukai tangannya.
Zhou Fan dengan terpaksa berhenti, akan percuma jika ia meneruskan teknik tombak angin sementara teknik itu merupakan teknik area, mempunyai batasan jarak.
Tidak menyangka jika gorila kristal perak sangatlah pintar, tapi Zhou Fan yang telah bertekad tentu tidak akan menyerah begitu saja.
Sambil menodongkan tombak Zhou Fan menyerang.
Ketika jarak hanya beberapa langkah, gorila kristal perak mengayunkan tangan hendak menghantam tubuh Zhou Fan. Namun Zhou Fan berkelit, menjatuhkan tubuhnya lalu mendaratkan sebuah tusukan.
Whut...
Trank!
Tombak menusuk perut, tapi suara yang terdengar membuat mata Zhou Fan terbuka lebar. Keningnya pun bertahap mengerut lalu mundur menarik tombaknya.
"Sial, bukan hanya bagian lengan yang berkulit tebal. Bahkan perutnya lebih tebal!" batin Zhou Fan sambil memikirkan cara bagaimana dapat mengalahkan gorila kristal perak.
Groar...
Gorila kristal perak mengangkat tangannya tinggi, kemudian menepuk dada beberapa kali laksana seorang raja.
Zhou Fan melihat kulit pinggang bagian atas bergetar, sontak lengkungan senyum terungkap di antara bibirnya. "Menunjukkan kelemahan sendiri, memang gorila yang 'pintar'."
Tombak terbentang di depan, bersiap menyerang dan menorehkan luka di tubuh gorila kristal perak.
Buk... Buk... Buk...
Gorila kristal perak sekali lagi menepuk dada dengan kedua tangan, melompat tinggi dan menghantam tanah dengan keras.
Blam!
Tanah bergerak seperti ombak, menuju ke tempat Zhou Fan tapi dengan mudah di hindari. Tepat setelah itu Zhou Fan melesat, mendorong tombak mengincar pinggang.
Gorila kristal perak menyadari bahwa Zhou Fan mengincar titik lemahnya, dengan cepat berputar mengibaskan tangan.
Namun gerakan Zhou Fan sangat cepat, tombak menembus pinggang dan menancap hampir setengah dari bagian tombak.
Grah...
Teriakan gorila kristal perak menyiratkan rasa sakit yang ia rasakan, dengan darah yang terus mengalir beast setinggi lima belas kaki itu mencoba lari. Namun Zhou Fan dengan cepat mendorong tombak membuat luka di pinggang semakin dalam.
Groar!
Gorila kristal perak mengaum sekeras-kerasnya, tangan mulai mengibas dan kaki berjingkrak kesakitan.
Tubuh Zhou Fan melayang karena enggan melepas tombak dari tangannya, ia bertahan dengan kekuatan gorila kristal perak yang masih menggebu-gebu.
Beberapa lama Zhou Fan masih terpontang-panting akibat kibasan tubuh gorila kristal perak. Namun setelah penantian yang lumayan lama gorila kristal perak mulai melemah dan tak lagi ganas seperti sebelumnya.
Memanfaatkan kesempatan ini Zhou Fan mencabut tombak dan dalam waktu singkat mengeluarkan serangan jurus tombak naga.
Jurus itu diarahkan tepat mengenai mata, dan menghujam mata sampai tubuh gorila kristal perak terhuyung dan ambruk.
Roar...
Bum!
Kerikil serta batu kecil berhamburan kala tubuh gorila kristal perak yang besar jatuh.
Zhou Fan melompat dan mendarat di dekat tubuh gorila kristal perak. Nampak senyum terukir indah dalam ekspresinya. "Tersisa tiga kristal lagi!"